Stranger's In Love

Stranger's In Love
15|DO WHAT U WANT TO DO



Visual :


Rebecca Hillton



Zean masuk ke dalam lift meninggalkan Hans dan Irene yang masih mematung, lalu ia menekan tombol di dalam lift lalu pintu lift tertutup. Zean merasa enggan berbicara pada Irene, menatap gadis itu pun rasanya ia tak sanggup mengingat ucapan Irene semalam yang mengatakan bahwa dia tidak mencintai Zean.


Kali ini Zean makan siang sendiri di Restauran Asia favoritnya. Tadinya dia dan Hans berencana untuk makan siang bersama namun karena mereka bertemu dengan Irene di lift, mood Zean menjadi kacau. Zean tidak membenci Irene, Zean sendiri tidak mengerti kenapa moodnya menjadi kacau hanya dengan melihat gadis itu. Soal ucapan Irene kemarin, Zean yakin gadis itu berbohong, tapi apa yang ia dengar semalam bahwa Irene tidak mencintainya sukses mengacaukan pikiran dan hati Zean.


"Damn! I lost u right now" ucap Zean pada makanan yang sedari tadi belum ia sentuh sedikit pun.


Zean memejamkan mata sesaat, lalu mengacak rambutnya frustasi. Saat ini, Zean benar-benar kacau. Rasanya ia ingin melampiaskan semua perasaan aneh yang tengah menyelimutinya saat ini. Zean beranjak dari duduknya, ia ingin kembali ke kantor dan melampiaskan semua ini pada pekerjaannya.


Zean tiba di kantor, dengan segera ia menuju ruangannya. Ketika membuka pintu ia tekejut lalu melempar tatapan dingin menatap seorang wanita berambut pirang yang duduk di kursi kerjanya. Ya, wanita itu, Rebecca Hillton.


"Hey, my prince, Arzean Lorwerth" sapa Rebecca melambaikan tangan dengan senyum manis yang menggembang di wajah cantiknya.


Zean bergeming masih dengan tatapan dinginnya. Sedangkan Rebecca beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Zean yang berdiri di dekat sofa.


"Tidak bisakah kau menyapa calon tunanganmu, sayang" ucap Rebecca pada Zean yang beralih duduk di sofa.


Zean mendelik lalu menatap arloji di tangan kirinya. "Kenapa kau ada di sini?"


Rebecca tersenyum, ia senang karena Zean bertanya. Rebecca berjalan mendekati Zean dan kemudian ia duduk di pangkuan Zean. Rebecca sudah tidak peduli dengan harga dirinya, ia juga sudah menyiapkan hati jika Zean menolaknya, seperti biasa Zean selalu menolaknya. Tapi aneh, kali ini Zean hanya diam membiarkan Rebecca duduk di pangkuangnya. Mungkin karena Zean lelah setelah berkutat dengan hati dan pikirannya yang mengacu pada gadis yang ia cintai itu, Irene Banner.


"Aku di sini, karena ada kau di sini" jawab Rebecca lalu melingkarkan tangannya di leher Zean dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.


Rebecca tersenyum penuh kemenangan, hari ini Zean takluk padanya. Rebecca mengahapus jarak dengan mencium Zean, begitu lembut, Zean pun membalas ciuman wanita itu dan memperdalam ciumannya.


Entah apa yang ada di pikiran Zean saat ini, ia hanya ingin melampiaskan semua ini. Zean begitu merindukan gadisnya, ia ingin mencium dan memeluk Irene. Apa yang Zean lakukan dengan Rebecca saat ini, tidak seperti apa yang ia rasakan saat melakukannya dengan Irene. Irene berbeda, gadis itu mampu membuat jantung Zean berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Hanya Irene yang berhasil menyiksanya dengan perasaan rindu, ya, memang benar, Zean telah jatuh terlalu dalam pada gadis itu, Irene Banner.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Irene meninggalkan Hans di kafe, ia terus berusaha menghubungi Zean, tapi nomornya tidak aktif. Irene berjalan menuju ruang kerja Zean, ia mengetuk pintu besar itu lalu memasuki ruangan. Irene tertegun, menelan ludah susah payah bahkan ia bisa merasakan aliran darah yang mengalir, kakinya lemas, di hadapannya kini seorang wanita duduk di atas pangkuang seorang pria yang melingkarkan tangannya di pingang wanita itu, mereka asik bercumbu.


Bisa Irene rasakan ribuan jarum yang menusuk hatinya saat ini, tubuhnya bergetar berusaha menahan tangis agar tidah pecah di ruangan ini. Dengan mata kepalanya sendiri Irene melihat pria yang ia cintai, bahkan baru saja ia sadari perasaannya, kini sedang asik bercumbu dengan wanita berambut pirang yang ia yakini bernama Rebecca itu.


Zean melepas ciumannya dengan wanita itu, ia menyadari kehadiran Irene di ruangannya. Zean menatap Irene dengan tatapan yang sulit diartika, ingin rasanya Zean memeluk dan mencium gadisnya itu. Namun itu tidak akan Zean lakukan lagi, karena yang ia tahu Irene tidak mencintainya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau terlihat seperti orang bodoh!" ucap Zean dingin sedangkan wanita yang masih duduk di pangkuan Zean menatap Irene sinis.


Deg! Detik ini juga rasanya Irene ingin menghilang dari muka bumi, hatinya sakit, benar-benar sakit mendengar ucapan dan sikap Zean yang berbalik seratus delapan puluh derajat.


Irene menguatkan hatinya, berusaha keras menjaga atmosfire di sekitarnya agar tetap tenang, menjaga agar kedua mata ini tidak meneteskan bulir air yang dapat memperlihatkan sisi lemah dan rapuhnya saat ini.


Irene tersenyum kaku. "Maaf telah menganggu waktumu, Mr.Lorwerth" ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan yang beberapa detik lalu telah membakar perasaan Irene terhadap pria itu.


"Siapa wanita yang tidak tahu diri itu?" tanya Rebecca.


"Bukan urusanmu, Rebecca!" sinis Zean, ia kembali pada sifat dinginnya kepada Rebecca karena pada dasarnya pria itu memang tidak menginginkan wanita manapun selain Irene Banner.