Stranger's In Love

Stranger's In Love
38|LOVE IS A JOKE



Zean merobek kasar kartu undangan yang di dalamnya bertuliskan nama Irene Banner dan Kim Tae Young, saat itu juga untuk pertama kalinya Zean merasa bahwa dunianya benar-benar berhenti berputar. Bagaimana bisa gadis yang sangat ia cintai, gadis yang sedang mengandung anaknya  itu menikah dengan pria lain?


Zean sulit mengatur emosinya, ia menghantam apapun yang ada di hadapannya saat ini.


Zean terdiam sejenak, mencoba untuk mengatur napas dan amarahnya saat mengetahui kabar bahwa gadis yang ia cintai akan menikah dengan pria lain beberapa hari lagi. Zean melihat pantulan dirinya di cermin, ia terlihat benar-benar kacau dan berantakan. Apa ini yang Irene rasakan juga saat mengetahui bahwa Zean dan Rebecca akan menikah? Sesakit inikah yang Irene rasakan? Kenapa saat sepasang kekasih yang saling  mencintai justru malah tidak bisa bersatu? Apa pernikahan adalah sebuah permainan? Apa cinta hanyalah lelucon?


“Apa yang sedang terjadi, Irene Banner” teriak Zean lalu menghantam cermin di hadapannya hingga cermin itu pecah dan detik kemudian darah bercucuran dari tangannya.


Zean menatap tangannya yang terluka, bahkan ia tidak bisa merasakan sakit pada tangannya karena sakit di hatinya yang terasa lebih sakit.


“Oh my god, Zean!” seru Rebecca panik saat membuka pintu kamar Zean dan melihat luka pada tangan Zean dan banyak darah yang berceceran di lantai serta serpihan-serpihan kaca dengan barang lain yang berantakan.


Dengan segera Rebecca mencari kain lalu menutupi luka di tangan Zean. Zean hanya diam, ia menatap luka di tangannya yang di tutupi kain oleh Rebecca.


“Jangan menyakiti dirimu seperti ini, Zean” ucap Rebecca, ia begitu khawatir dengan Zean saat ini.


Zean tersenyum miris mendengar ucapan Rebecca. Bisa-bisanya wanita itu berkata seperti itu sedangkan semua hal sulit yang Zean alami adalah karena Rebecca yang tiba-tiba mengaku hamil dan memaksa untuk menikah dengan Zean.


“Bukankah kau  sendiri yang sedang menyakitiku saat ini, Rebecca?” sindir Zean.


Rebecca mendelik, ucapan Zean membuatnya kesal. “Jaga ucapanmu, Zean!” bentak Rebecca.


Baru saja Zean hendak bicara tapi Rebecca sudah mendahuluinya. “Bahkan dalam keadaan terluka seperti ini kau masih saja menyalahkanku. Harusnya kau sadar, Zean. Wanita yang kau cintai itu tidaklah benar-benar mencintaimu, kau lihat bahkan saat ini dia akan segera menikah dengan pria lain” ucap Rebecca seolah-olah memancing api amarah Zean terhadap gadis itu.


Zean mengepalkan tangan kuat-kuat ingin rasanya ia menghantam wajah cantik Rebecca lalu merobet mulut wanita itu. Bagaimana bisa seorang Rebecca Hillton berbicara soal cinta sedangkan dia saja tidak tahu arti cinta yang sesungguhnya, bahkan Zean ragu jika ada seorang pria yang mencintai wanita iblis seperti Rebecca.


“Sudahlah” ucap Rebecca memeluk Zean.


“Kau memang tercipta untukku, Arzean Lorwerth” bisiknya.


Cukup sudah, Zean benar-benar muak dengan semua permainan gila ini. Sudah cukup hatinya tersakiti, sudah cukup untuk semua rasa rindu yang menjalar liar masuk menyiksanya karena terus merindukan Irene Banner.


Zean mendorong Rebecca untuk bisa lepas dari pelukan wanita itu. Zean benar-benar mengeluarkan energinya hingga Rebecca jatuh tersungkur di lantai.


“Aaww” pekik Rebecca menahan sakit.


“Kenapa kau kasar sekali, Zean!” bentak Rebecca.


Zean menatapnya tajam, pria itu sama sekali tidak peduli.


“Kau tidak akan pernah tahu arti dari cinta yang sesungguhnya karena kau tidak pernah benar-benar  jatuh cinta” ucap Zean.


Rebecca berusaha berdiri lalu ia menatap mata Zean, kemudian tertawa lirih.


“Ya, kau benar! Aku tidak tahu artinya cinta karena pria yang aku cintai tidak mencintaiku seperti aku yang gila karena mencintainya” lirih Rebecca, detik kemudian air mata mengalir membasahi pipinya.


Zean hanya diam, dengan wajah datarnya ia sabar menyaksikan melodrama dari seorang Rebecca Hillton.


Rebecca menyeka air matanya lalu kembali menatap Zean dengan sisa tenanga yang ia miliki. Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita itu sangat menyakitkan. Jujur, Rebecca sendiri tidak tahu, ia benar-benar mencintai Zean atau ini hanya obsesinya saja.


“Tatap mataku, Zean” pinta Rebecca.


Zean enggan menatap wanita di hadapannya ini.


“Ku mohon, Zean. Sekali ini saja, tatap aku sebagai wanitamu” pinta Rebecca lagi, namun Zean masih enggan untuk menatap wanita itu.


Tangan Rebecca tergerak menyentuh kedua pipi Zean agar ia bisa menatapnya. Akhirnya Zean mengalah ia tak mengelak kali ini, untuk pertama kalinya mereka saling bertatapan, begitu dalam.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Rebecca?” Tanya Zean lembut.


Deg! Rebecca meluruh mendengar untuk pertama kalinya pria yang ia cintai berbicara lembut padanya.


“Zean” panggil Rebecca seolah menginginkan Zean benar-benar mendengarnya.


“Tidak bisakah kau melihat ketulusanku?” Tanya Rebecca memberi jeda pada ucapannya.


“Tidak bisakah kau menerimaku untuk menjadi wanitamu?” lirihnya, sambil menyeka air mata yang kembali menetes.


“Dan tidak bisakah kau mencintaiku seperti kau mencintai gadismu itu?” semua tanya Rebecca dengan sisa tenaga yang ia miliki, dengan sisa dari rasa cinta yang seluruhnya telah ia tunjukan.


Zean bergeming masih menatap wanita di hadapannya ini. Rebecca memang terlihat tulus dengan perasaannya, namun cara yang wanita pilih untuk bisa memenangkan hati Zean yang salah. Semua kegilaan, hal bodoh dan


cerita cinta yang rumit ini karena obsesi dari seorang Rebecca Hillton karena rasa cintanya pada Zean yang bertepuk sebelah tangan.


“Rebecca, dengar” ucap Zean lembut lalu mendekatkan dahinya dengan dahi wanita itu hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan bahkan mereka bisa saling merasakan deru napas yang menerpa wajah masing-masing.


Deg! Jantung Rebecca berdetak tak karuan, ini kali pertama Zean memperlakukannya seolah Rebecca adalah wanitanya. Rebecca berharap dengan semua ketulusan yang telah ia tunjukkan, mampu membuat Zean membuka mata dan hatinya bahwa ada seorang wanita di sini, di sisinya yang amat sangat mencintainya.


“Mungkin kau memang benar mencintaiku, mungkin semua yang kau katakana adalah ketulusan. Tapi, satu hal yang harus kau mengerti, bukan cinta namanya jika hanya kau yang merasakan ini sendirian. Jangan jatuh cinta padaku karena aku tidak ingin menyakitimu, Rebecca” ucap Zean lalu beranjak pergi meninggalkan Rebecca di ruangan itu, entah sudah berapa kali Zean memberi pengertian ini kepada Rebecca tapi wanita itu tidak pernah mengerti sedikit pun.


Rebecca memejamkan mata lalu bulir air kembali jatuh, sesak, sakit rasanya untuk yang kesekian kalinya ia harus menerima penolakan dari seorang Arzean Lorwerth.


“Kenapa kau harus terlahir ke dunia dan kenapa aku harus jatuh cinta padamu, Arzean Lorwerth!” teriak Rebecca histeris di sela-sela tangisnya.