Stranger's In Love

Stranger's In Love
83|TOMORROW'S SURPRISE



Irene tiba di Mansion, ia melihat mobil Zean sudah terparkir di halaman. Ia melirik arloji yang kini menunjukkan pukul delapan malam.


“Ah, sial. Zean tiba lebih dulu,” keluh Irene. Ia khawatir jika nantinya Zean akan bertanya yang aneh-aneh padanya.


Irene menggeleng berusaha menepis pikiran negatifnya, ia mulai melangkah masuk.


“Dari mana saja kau seharian ini, Irene?” tanya Zean saat Irene berada di kamar.


Zean duduk di bibir ranjang masih menggunakan kemeja putihnya dengan dua kancing teratas yang dibuka dan rambutnya yang acak-acakan, dia terlihat nampak lelah.


Irene mendekati Zean lalu duduk dipangkuan suaminya itu.


“Haruskan aku menjawabmu?” tanya Irene seraya mengalungkan tangannya di leher Zean.


Zean menaikkan sebelah alisnya melihat tingkat istrinya ini. “Apa kau mencoba menggodaku?”


Irene terkekeh karena sepertinya Zean sangat peka dan menyadari tingkah laku Irene yang sedang menggodanya agar selamat dari interogasi suaminya itu.


“Hei, sayang! Tanpa aku melapor pun kau pasti tahu seharian ini aku pergi ke mana, iya kan?” tanya Irene, ia yakin sopir itu pasti sudah melaporkan ke mana saja tujuan mereka hari ini.


Zean tersenyum lalu tangannya bergerak menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Irene.


“Seharian ini kau menghabiskan waktu bersama Cassandra. Kau pergi ke apartemen Cassandra lalu kalian pergi ke apartemen lainnya. Siapa yang kalian kunjungi di sana?” tanya Zean curiga.


“Cassandra mengenalkanku pada temannya yang baru beberapa hari ini pindah ke Praha. Cassandra khawatir aku akan kesepian di sini jika dia sudah sibuk mengurus bisnisnya, jadi dia mengenalkanku pada temannya agar ada yang menemaniku jika Cassandra sibuk,” jawab Irene berbohong.


Zean memicingkan matanya. “Benarkah?”


“Benar, suamiku tercinta,” jawab Irene mantap.


Zean hanya mengangguk-ngangguk sebagai jawaban.


“Sudahlah, aku mau mandi,” ucap Irene hendak beranjak dari pangkuan Zean, tapi dengan segera Zean menariknya.


Irene kembali jatuh ke pangkuan Zean, kini Zean melingkarkan tangannya di pinggang Irene.


“Zean,” ucap Irene saat menyadari dirinya terkunci dalam pangkuan suaminya itu.


“Hm” gumam Zean.


“Lepaskan, aku mau mandi,” pinta Irene.


Zean menggeleng seraya menatap Irene intens, perlahan tatapannya turun pada bibir ranum wanita itu. Zean mulai mendekatkan wajahnya dengan Irene, detik kemudian ia mencium wanitanya itu. Zean memperdalam ciumannya, tangan Irene bergerak membuka semua kancing kemeja Zean membuatnya bertelanjang dada. Mereka berhenti sesaat mengatur napas yang mulai terengah-engah.


“Zean,”


“Kau pasti lelah,” ucap Irene khawatir seraya menyentuh wajah tampan Zean.


Zean tersenyum sambil menggeleng pelan.


“Aku menginginkanmu, Irene,” bisiknya lalu Zean kembali mencium Irene, perlahan ciumannya turun menjelajahi tubuh indah istrinya.


Hingga beberapa saat, mereka berakhir toples tidur di ranjang. Mereka tidur dengan posisi Zean yang memeluk Irene dari belakang.


“Apa kau lelah?” tanya Zean lalu mengecup punggung Irene.


Irene berbalik, kini ia menatap Zean sambil tersenyum. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, Zean.”


“Aku baik-baik saja, Irene,” ucap Zean lalu dia beranjak dari tidurnya.


“Aku lapar, mau memasak sesuatu untukku, Irene?” tanya Zean kemudian.


Irene mengangguk sebagai jawaban. “Baiklah aku akan memasak untukmu, tapi kau harus mandi ya.”


Zean langsung beranjak lalu mengecup singkat bibir Irene. “I'm going to take a shower, baby.”


“Hahaha… clean bath my big baby boy!”


...***...


“Hm… Kenapa sulit sekali menentukan menu makanan?” gumam Irene seraya mengintip bahan makanan di kulkas.


Di kulkas ada daging ikan salmon yang terlihat masih sangat segar, ia memutuskan untuk membuat Salmon Steak with Lemon Butter Sauce. Irene mulai mencuci daging salmon lalu ia mengeringkannya dengan meletakan daging salmon di atas tisu khusus masak, tak lupa ia juga menaburi garam dan lada hitam kemudian mendiamkannya selama tiga puluh menit.


Sembari menunggu, Irene mulai sibuk membuat sauce dengan memadukan lemon, butter dan bumbu dari resep rahasianya. Setelah sauce siap, Irene kembali melirik daging salmonnya kemudian ia mem-pan fried salmon dengan olesan olive oil hingga setengah matang.


“Selesai,” ucap Irene setelah ia selesai menghidangkan dua piring Salmon Steak with Lemon Butter Sauce buatannya.


“Humm… Aku mencium aroma lezat,” ucap Zean sambil berjalan mendekati Irene.


“Waktunya sangat tepat. Kau selesai mandi dan aku selesai masak, luar biasa kau sangat beruntung, Mr.Lorwerth.”


Zean terkekeh mendengar ucapan Irene yang terdengar seperti sindiran itu. “Apa kau sedang menyindirku yang berlagak seperti bos yang memiliki koki secantik dirimu?”


Irene menaikan sebelah alisnya, sambil tersenyum jahil. “Hei… apa maksudmu, Zean? Aku tulus mengatakannya.”


Zean menggeleng dan melangkah lebih dekat hingga Irene mundur dua langkah sampai dirinya terpojokan.


“Jangan bermain-main denganku, Mrs.Lorwerth,” Zean langsung mencium istrinya itu.


Tangan Irene tergerak mendorong dada Zean agar menjauh darinya. “Zean, kita harus makan. Berhenti menciumku.”


Zean cemberut. “Apa kau tidak merindukanku, Irene?”


“Oh… Ayolah, Zean. Kau terlihat seperti bayi besar yang merengek sekarang,” ledek Irene.


Zean terkekeh. “Baiklah-baiklah. Ayo kita makan,” putus Zean akhirnya mengalah.


Mereka sangat menikmati makan malam buatan Irene. Zean yang sibuk dengan makanannya sesekali menyempatkan diri untuk menatap Irene yang duduk di hadapannya itu. Irene yang juga sibuk dengan makanannya pun tidak begitu menghiraukan Zean. Ditatap saat makan seperti ini oleh Zean sudah bukan hal yang asing bagi Irene. Jika diingat pada masa lalu makan malam pertama mereka adalah ketika Zean memaksa Irene menandatangani kontrak pekerjaan di sebuah restoran yang malam itu dibooking khusus oleh Zean.


“Irene,” panggil Zean.


“Hm.”


“Bagaimana bisa kau tetap terlihat cantik meski sedang makan seperti ini?” goda Zean.


“Uhuk… huk…” Irene tersedak.


“Irene, kau baik-baik saja?” panik Zean dengan segera menyodorkan segelas air untuk istrinya.


Irene langsung meneguk air itu hingga tandas.


“Zean, berhenti menggodaku,” rengek Irene dengan wajah memerahnya akibat tersedak tadi.


Zean tertawa lalu melanjutkan makannya. “Maafkan aku, Irene. Haha…”


Irene mendelik kesal dan kembali melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan, Irene dan Zean mencuci piring bersama. Benar-benar kisah cinta yang klasik. Sebenarnya Zean sangat lelah setelah seharian bekerja, tetapi jika sudah menghabiskan waktu bersama Irene rasanya lelah itu pun hilang.


“Selesai,” seru Irene saat mereka selesai mencuci semua piring dan perabotan kotor.


Zean langsung menarik Irene ke dalam pelukannya. “Kau mau langsung tidur atau mau bermain dulu?”


“Zean,” ucap Irene seolah meminta Zean berhenti untuk menggodanya.


Zean terkekeh lalu perlahan merangkul Irene melangkah keluar dapur.


“Apa kau ada rencana besok?” tanya Zean di sela-sela langkah mereka menuju kamar.


Irene menggeleng sebagai jawaban.


“Bagus. Aku ada kejutan untukmu besok.”


Irene menghentikan langkahnya lalu menatap Zean. “Kejutan apa?”


“Besok kau akan tahu.”