
Tae-O menanti kedatangan Irene di apartemennya. Setelah semalaman Tae-O menyelami ponsel Gerald dengan meretas semua datanya. Memang benar ada banyak data di ponsel Gerald, tapi smeua data itu hanya data-data mengenai bisnis. Namun, setelah dipikir lagi, ia menemukan ada dua keanehan. Pertama, Tae-O sama sekali tidak dapat menemukan panggilan masuk ataupun pesan antara Gerald dan Alice. Kenapa mereka tidak saling mengabari padahal mereka adalah pasangan suami istri? Kedua, siapa sebenarnya orang dengan kode nomor Negara Hongkong itu? Kenapa Gerald memalsukan nama nomor itu menjadi nama sekretaris pribadinya, Mr.Nam?
“Bagaimana? Apa kau bisa melacak nomor Hongkong itu?” tanya Irene saat tiba di apartemen.
“Entahlah. Signal dari nomor dengan kode Negara Hongkong itu tidak stabil, selalu berubah-ubah. Signalnya memang masih tetap di Hongkong, tetapi seringkali muncul di daerah kota yang berbeda. Kemarin signal itu terdeteksi di SoHo, Central. Sebelumnya aku sempat mengecek tadi signalnya terdeteksi di Wan Chai, dan saat ini signalnya terdeteksi muncul di Kennedy Town,” ungkap Tae-O dari hasil pengamatannya.
Irene nampak berpikir seraya memijit kepalanya yang pusing. “Siapa pun pemilik nomor dengan kode Negara Hongkong ini pasti seorang nomaden yang hidup berpindah-pindah, tapi jika dia seorang nomaden kenapa berpindah tempat dalam waktu singkat? Bahkan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam sesuai dengan hasil pengamatanmu dia sudah berpindah ke tiga tempat. Bukankah ini sangat aneh?”
Hening. Mereka berdua benar-benar berpikir keras. Mereka sudah mati penasaran dengan Gerald dan orang dibalik nomor dengan kode Negara Hongkong yang diberi nama kontak Mr.Nam itu.
“Gawat, Noona! Kau harus lihat ini!” Tae-O menarik Irene untuk melihat layar komputernya.
Di layar kompuetr Tae-O menampilkan posisi signal dari ponsel Gerald yang bergerak menuju Bandara dan detik kemudian signal itu hilang karena sepertinya Gerald telah menganti menonaktifkan ponselnya atau bahkan mungkin saja Gerald sudah mengganti nomornya, maka ini berarti Gerald akan meninggalkan Praha. Seketika pikiran Irene tentang Mr.Nam pun buyar dan mendadak panik karena takut kehilangan jejak Gerald.
“Tae-O segera cek riwayat rekeningnya karena dia pasti membeli tiket pesawat,” perintah Irene.
Tae-O segera mengecek riwayat rekening Gerald, tapi hasilnya nihil. Riwayatnya hanya berisi transaksi reservasi di beberapa restoran dan transaksi belanja di beberapa pusat perbelanjaan. Tunggu, tunggu dulu, ada yang aneh. Jika dilihat dari tanggal-tanggal transaksinya, semua transaksi ini terjadi beberapa minggu lalu dan hampir semua transaksinya dilakukan di Boston. Itu berarti selama di Praha Gerald tidak menggunakan rekeningnya.
“Apa dia diam-diam pergi ke Praha?” pikir Tae-O.
“Sejauh ini coba pikirkan, ini artinya Gerald memang benar menyembunyikan sesuatu. Karena dia adalah orang yang memiliki rahasia besar tentu saja dia akan menjaga dirinya dengan baik. Lihat saja dari data-data di ponselnya, ponselnya sangat bersih hanya ada satu kecurigaan kita pada nomor dengan kode Negara Hongkong yang diberi nama kontak Mr.Nam. Selain itu tidak ada data apa pun yang bersifat rahasia. Dan Gerald sangat berhati-hati, dia bahkan tidak menggunakan rekeningnya agar tidak meninggalkan bukti atau pun jejak nantinya,” simpulan Irene.
Tae-O mengacak rambutnya frustrasi. “Lalu bagaimana, Noona?”
Irene menghela napas sejenak lalu duduk di sofa dengan wajah murungnya. Irene dan Tae-O bahkan belum berhasil menemukan sesuatu yang bisa menjadi bukti kuat jika Gerald memang benar dalang dibalik situs gelap yang memperjual belikan barang ilegal, tetapi Gerald sangat sulit diselidiki bahkan saat ini pun pria itu sudah pergi entah ke mana.
“Noona! Kita harus melakukan sesuatu,” rengek Tae-O yang selama ini juga sangat mencurigai Gerald. Tae-O ingin tahu apakah kecurigaannya benar atau salah.
Irene mengangguk pelan seraya menatap Tae-O yang begitu memelas padanya.
“Kau benar, Tae-O. Kita harus melakukan sesuatu, jika kita tidak bisa menemukan kepalanya maka ayo kita tangkap ekornya lebih dulu,” ucap Irene antusias.
Irene beranjak dari duduknya mendekati Tae-O yang masih pada posisinya. Tae-O menatap Irene dengan raut wajah bingung karena dirinya sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikiran wanita itu.
“Apa kau menemukan cara, Noona?” tanya Tae-O.
Tiba-tiba Irene merangkul Tae-O seraya tersenyum lebar. “Kau ingat dengan Cassandra Lee Damora?”
Tae-O mengangguk, tetapi ia belum sepenuhnya paham.
“Kita akan mencaritahu lewat Cassandra. Kau ingatkan pernah menyelidiki tentang wanita itu dan menemukan sebuah museum barang antik bernama ‘Lee Da Museum’? Aku yakin akan lebih mduah menyelidiki Cassandra,” jelas Irene.
Tae-O tertawa renyah dengan penjelasan Irene itu, kenapa tidak dari awal saja mereka memikirkan hal itu?
“Kenapa kau malah tertawa?” tanya Irene yang merasa aneh dengan reaksi Tae-O.
“Aku menertawakan kebodohan kita, kenapa tidak sejak awal saja. Kita malah repot-repot menyelidiki Gerald dengan proteksi yang sulit ditembus,ck ck ck.”
“Sudahlah,” ucap Irene menepuk pundak Tae-O.
“Sekarang berikan aku kode untuk meretas ponsel Cassandra, aku akan menemuinya sebelum makan malam bersama Zean.”
“Siap, Noona!” Tae-O langsung membuat kode untuk meretas ponsel Cassandra.
...***...
Irene tiba di Mansion, ia melihat ada mobil Allan yang terparkir di depan. Pasti akan sulit mengambil ponsel Cassandra karena ada Allan di sana. Irene memasuki Mansion sambil masih memikrikan cara bagaimana ia akan memasukan kode untuk meretas ponsel Cassandra. Langkahnya mendadak terhenti saat melewati ruang tengah, di sana ia melihat ada dua buah ponsel yang tergeletak di atas meja selain itu di sana juga ada remote TV dan beberapa cemilan.
“Di mana mereka?” pikir Irene lalu ia pergi untuk mengecek sekeliling memastikan situasi aman untuk meretas ponsel Cassandra selagi ponselnya tergeletak begitu saja di meja.
Irene naik ke lantai atas, ia melihat pintu kamar Cassandra sedikit terbuka. Irene mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka itu, ia melihat Cassandra dan Allan tengah adu mulut sepertinya mereka berdebat karena suatu hal. Tak lama lagi Irene pun segera kembali turun ke ruang tengah untuk meretas ponsel Cassandra.
“Yang mana kira-kira ponselnya?” gumam Irene, selama ini Irene tidak pernah memperhatikan ponsel milik Cassandra.
Irene akhirnya menekan tombol aktifkan layar untuk melihat yang mana kira-kira ponsel milik Cassandra. Irene bersyukur bisa menemukan ponsel Cassandra dengan mudah karena wanita itu menggunakan wallpaper foto dirinya saat berfoto di Kastil Praha. Irene langsung membuka ponsel yang terkunci sandi itu dengan mudah sesuai dengan teknik yang sempat diajarkan Tae-O waktu itu. Setelah berhasil membuka sandi ponsel Cassandra, Irene pun segera mengklik pengaturan ponsel dan memasukan kode khusus yang diberikan Tae-O untuk meretas ponsel itu.
“Selesai,” ucap Irene kemudian meletakan kembali ponsel itu.
Irene segera ke kamarnya untuk bersiap pergi makan malam dengan Zean nanti. Di sisi lain Cassandra dan Allan masih sibuk berdebat tentang perasaan mereka masing-masing.
“Aku mencintaimu, Cassandra,” ucap Allan untuk yang kesekian kalinya.
Cassandra menghela napas sejenak, ia benar-benar frustrasi menghadapi sikap Allan ini.
Allan yang awalnya berdiri beralih bersimpuh di hadapan Cassandra yang saat ini duduk di bibit ranjang. Allan meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya lembut.
“Aku memikirkan hal ini semalaman. Kau dan aku sama-sama pernah kehilangan seseorang karena maut yang memisahkan. Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi karena kita tidak pernah tahu kapan waktu terakhir kita bersama,” ucap Allan lalu mencium punggung tangan Cassandra.
Cassandra mengerutkan dahi bingung, ia sama sekali tidak tahu jika Allan juga pernah kehilangan seseorang.
“Siapa orang itu?” tanya Cassandra ragu, ia tidak yakin Allan akan memberitahunya.
“Naila, namanya Akhifa Naila Sabha. Satu tahun yang lalu aku dijodohkan dengan seorang wanita keturunan Arab dan dia adalah seorang penerjemah sekaligus ahli bahasa yang sudah sangat terkenal di dunia bisnis. Mungkin kau tidak tahu jika aku dijodohkan, tapi aku yakin kau sangat mengenal Naila,” jawab Allan menatap Cassandra lekat-lekat.
Cassandra mendadak pucat, ia gemetar dengan tatapan Allan. Kini Allan beranjak dari posisinya beralih duduk di samping Cassandra. Allan menyunggingkan seulas senyum dan Cassandra menatapnya aneh.
“Ada apa, Allan?” tanya Cassandra saat menyadari ada yang aneh dari reaksi Allan.
Allan tertawa renyah. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa, Cassandra?” tanya Allan yang menyadari wajah pucat wanita itu.
“Allan, aku lelah. Aku ingin istirahat,” ucap Cassandra tiba-tiba lalu ia beranjak dari duduknya. Namun, dengan cepat Allan menarik wanita itu hingga tubuhnya jatuh ke ranjang. Cassandra kembali bangkit, tapi Allan mencenggram lengannya.
“Lepaskan aku, Allan!” seru Cassandra, tapi Allan masih enggan melepas wanita itu.
“Aku lelah berpura-pura mendekatimu. Awalnya aku ingin membuatmu jatuh cinta dan itu akan memudahkanku untuk mengendalikanmu. Aku pikir kau akan sangat mudah untuk ditaklukan, ternyata aku salah. Cinta memang bukan hal yang bisa dipermainkan,” ucap Allan.
“Apa maksudmu, Allan?” tanya Cassandra membulatkan mata penuh mendengar ucapan Allan tadi.
“Kita sudah berteman dari lama. Namun, entah kenapa sejak kematian Bram Scoot, kau bukan lagi Cassandra Lee Damora yang aku kenal. Siapa kau sebenarnya, Cassandra?” Allan balik bertanya.
Cassandra tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Allan ini. “Aku benar-benar tidak mengerti, Allan.”
Allan mengepalkan tangan kuat-kuat, ia mengambil bantal lalu melempar bantal itu ke meja rias dan membuat semua barang di meja itu jatuh hingga ada beberapa wadah kosmetik yang terbuat dari kaca pun pecah. Cassandra tercengang, ia gemetar takut karena sepertinya Allan tengah diselimuti emosi.
“Lee Da Museum, bisnis apa yang kau jalankan di sana?” tanya Allan dengan nada tinggi.
Seketika Cassandra membeku, ia tidak dapat bereaksi apapun.
“Satu tahun yang lalu, tepat ketika hari pertunanganku dengan Naila. Naila memberitahuku, dia mendapat undangan sebegai penerjemah di salah satu museum. Sejak awal aku sudah curiga karena dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku, dia tidak terbuka seperti biasanya. Dan akhirnya aku menemukan sebuah kartu undangan private dari Lee Da Museum, aku langsung mencari informasi tapi hasilnya nihil, tidak ada satu pun informasi tentang museum itu yang dimuat di sumber mana pun,” Allan menghela napas sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“Hari itu perasaanku tidak tenang, sampai malam pertunangan kita tiba. Setelah selesai acara kami makan bersama. Saat makan Naila mendadak sesak napas, aku pikir karena dia tersedak atau alergi pada salah satu makanan. Semua orang panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dan apa kau tahu apa yang terajadi padanya?” tanya Allan melempar tatapan dingin pada Cassandra.
Cassandra hanya diam seraya menggeleng pelan dan menunggu Allan melanjutkan ucapannya.
“Seseorang meracuni makanannya, Naila mati keracunan,” lirih Allan.
Cassandra spontan menutup mulut kaget, ia benar-benar tidak tahu jika Allan mengalami hal sulit seperti ini.
“Apa kau benar-benar tidak tahu atau kau hanya berpura-pura tidak tahu?” seru Allan.
Cassandra bisa merasakan matanya mulai memanas, ia merasa tidak melakukan apa pun. Cassandra mulai merasa Alla memojokannya dengan tuduhan ini.
“Kenapa kau menuduhku seperti ini, Allan?” tanya Cassandra yang kini sudah menitikan air mata.
“Apa benar Lee Da Museum adalah bisnis milikmu?” Allan balik bertanya.
“Iya, benar,” jawab Cassandra jujur.
Allan langsung menarik Cassandra dan memojokan wanita itu di dingding. Allan menatap Cassandra dengan tatapan tajam yang menusuk.
“Kumohon, Allan. Jangan seperti ini,” lirih Cassandra yang kesakitan.
“Apa hubungannya Lee Da Museum dan kematian wanita itu?” tanya Cassandra yang memang masih tidak mengerti dengan situasi ini.
Allan tertawa renyah. “Jangan berpura-pura bodoh, Cassandra!”
“Aku benar-benar tidak mengerti, Allan!” seru Cassandra frustrasi meyakinkan Allan jika dirinya memang benar tidak mengerti apa pun.
Allan mengangguk sambil menyunggingkan seulas senyum. “Baiklah, baiklah, aku akan memebritahumu dengan jelas.”
“Naila mendapat undangan private dari Lee Da Museum sebagai penerjemah dan hari itu juga Naila mati diracuni, itu sudah pasti karena dia menerjemahakan sesuatu dari bisnis yang bersifat rahasia, dia mengertahui sebuah rahasia besar. Karena itu kau membunuhnya!”
Cassandra menggeleng, bulir air kembali menetes dari matanya. Ia ingat sekarang, satu tahun yang lalu memang benar ada sebuah pertemuan bisnis dengan klien asal Arab. Saat itu Cassandra meminta asistennya untuk mencari seorang penerjemah yang bisa bahasa Arab. Cassandra ingat sekarang, penerjemah itu bernama Akhifa Naila Sabha. Jadi wanita itu adalah tunangan Allan?