
Irene membantu Cassandra memilih beberapa tangkai bunga yang hendak dirangkai menjadi satu buket bunga yang indah, kini mereka berada di toko bunga. Selesai sarapan tadi, Cassandra meminta Irene untuk menemaninya. Sedangkan Allan sudah kembali ke apartemennya.
“Apa hari ini adalah hari spesial?” tanya Irene pada Cassandra yang masih sibuk menimang-nimang bunga di tangannya.
“Tidak, aku hanya ingin menyapa seseorang. Aku merasa bersalah atas tindakanku kemarin,” jawab Cassandra.
Irene langsung memikirkan Allan, mungkin Cassandra ingin meminta maaf pada Allan, tapi bukannya tadi pagi mereka sudah bertemu? Dan, mereka sama sekali tidak terlihat akur.
“Menyapa seseorang? Siapa?” tanya Irene akhirnya yang merasa sangat penasaran.
Cassandra menatap Irene lalu tersenyum padanya. “Lihat saja nanti, aku akan mengajakmu bertemu dengannya.”
Setelah mendapat satu buket bunga yang indah mereka mampir sebentar ke toko alkohol yang sangat terkenal di Praha, Alkohol.cz. Saat memasuki toko bau alkohol menyambut kedatangan mereka, di sisi kanan, di sisi kiri bahkan di depan mereka pun terdapat rak yang berisi puluhan botol minuman alkohol berkualitas tinggi.
“Aku suka tempat ini,” ucap Cassandra menghirup aroma alkohol yang memabukan.
“Sepertinya aku harus membeli oleh-oleh untuk Zean,” pikir Irene saat melihat rak-rak yang dipenuhi botol miras itu.
Mereka berkeliling hingga akhirnya menemukan masing-masing satu botol minuman yang mereka beli berdasarkan rekomendasi si kepala toko. Irene membeli sebotol Rummy, adalah rum khas Praha merupakan minumal beralkohol hasil fermentasi dan distilasi dari molase atau air tebu. Sedangkan Cassandra membeli sebotol Palenky, adalah Likeur kha Praha merupakan minuman beralkohol rasa manis dengan perisa buah, herbal, rempah-rempah, bunga, biji, akar, tumbuhan, kulit kayu, dan kadang-kadang krim.
“Zean sangat menyukai rum, semoga dia suka Rummy ini,” ucap Irene seraya menatap sebotol rum di tangannya.
“Aku yakin Zean akan menyukai apa pun yang kau berikan, Irene. Sekali pun kau memberinya racun, dia pasti akan menyukainya juga,” goda Cassandra.
Irene terkekeh. “Jika kuberi dia racun, dia bisa mati, Cassandra.”
Cassandra mendadak diam, senyum di wajahnya memudar. Irene yang menyadari perubahan Cassandra pun langsung merangkul wanita itu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Irene khawatir.
Wajah Cassandra mendadak pucat. “Aku benci kematian,” lirihnya.
Cassandra tiba-tiba menangis, mereka pun langsung bergegas pergi setelah membayar minuman itu. Mereka memutuskan kembali ke Mansion, sepanjang perjalanan pun Cassandra mendadak jadi diam. Irene terus memerhatikan Cassandra. Cassandra menatap ke luar jendela dengan tatapan kosongan, dia sudah berhenti menangis dan nampak menahan perasaan di hatinya.
“Kita sampai,” ucap Irene saat mobil mereka sudah terparkir di basemant.
Cassandra langsung turun, ia membawa buket bunga dan sebotol Palenky yang ia beli tadi. Irene langsung menyusul Cassandra, mengikuti wanita itu berjalan menuju kamar tamu, kamar yang Cassandra tinggali di Mansiom ini.
Cassandra membuka pintu kamarnya. Irene merasa tidak enak jika masuk begitu saja, ditambah perubahan sikap Cassandra ini membuatnya bingung. Akhirnya Irene memutusnya untuk berdiam diri saja di ambang pintu.
“Masuklah, Irene,” ucap Cassandra yang sudah berdiri di sudut ruangan.
Irene pun langsung melangkah masuk, ia melihat ke sekeliling kamar Cassandra yang terlihat sangat berantakan ini. Botol minuman di mana-mana, kulit kacang bahkan bungkus makanan ringan pun berserakan di mana-mana.
“Aku akan meminta pelayan untuk membersihkan kamarmu nanti,” ucap Irene lalu fokusnya menangkap Cassandra yang sudah meletakan buket bunga dan sebotol Palenky tadi di atas meja yang dipenuhi lilin dan sebuah bingkai foto seorang pria tampan yang nampak tersenyum bahagia di foto itu.
“Hai, Bram Scoot. Maaf, aku masih belum bisa mengendalikan diri. Maaf, aku masih labil dengan perasaan ini. Maaf, aku masih belum bisa mencintai pria lain. Maaf,” lirih Cassandra, ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak.
Irene tertegun, ia tidak menyangka seorang Cassandra yang terlihat cuek, sombong dan suka membuat keributan ini ternyata memiliki sisi yang rapuh. Irene jadi merasa bersalah telah salah menilai Cassandra.
“Aku wanita yang sangat menyedihkan,” lirih Cassandra, ia memeluk erat Irene.
Irene menepuk-nepuk pelan punggung Cassandra mencoba menguatkan wanita itu. Kesedihan seseorang itu memang tidak bisa hanya dipendam sendiri, kadang kala kita harus berbagi kesedihan untuk meringankan kesedihan di hati yang kian menggila ini.
“Kau wanita yang kuat, Cassandra,” hibur Irene lalu menguraikan pelukkannya dan menatap mata sembab Cassandra.
Tangan Irene tergerak menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Cassandra. “Kau bisa cerita apa pun padaku, aku akan mendengarkanmu.”
Cassandra memeluk Irene lagi. “Terima kasih, Irene.”
Akhirnya Cassandra pun menceritakan semuanya pada Irene.
Tiga tahun lalu.
Bram Scoot, kekasih Cassandra mengalami kecelakaan di Paris, Perancis. Malam itu cuaca sedang tidak mendukung, tetapi Cassandra mendesak Bram agar segera kembali ke Boston malam itu juga. Cassandra tidak mau tahu, bagaimana pun juga Bram harus segera tiba di Boston sebelum acara peresmian gedung barunya. Cassandra tidak mau tampil seorang diri tanpa kekasihnya itu karena itu lah ia terus mendesak Bram yang kala itu sedang ada urusan bisnis di Paris.
“Kau harus segera kembali, Bram. Kau harus ada di sisiku saat hari peresmian, aku tidak mau seorang diri di hari spesial itu,” keluh Cassandra saat menelepon Bram.
“Kalau kau mencintaiku, kau harus segera kembali malam ini juga,” tegas Cassandra.
Terdengar helaan napas di seberang telepon. “Baiklah, wanitaku tersayang. Aku akan kembali malam ini juga,” ucap Bram di seberang telepon.
“Yes! I love you, Bram Scoot,” seru Cassandra antusian sekali.
“I love you too, sampai bertemu di Boston,” ucap Bram menutup sambungan itu.
Bram langsung meminta orang suruhannya memesan tiket penerbangan ke Boston malam ini juga, tapi semua penerbangan malam ini di tunda keberangkatannya hingga besok siang karena faktor cuaca yang tidak mendukung. Bram memijit kepalanya yang mulai pusing memikirkan cara agar bisa sesegera mungkin kembali ke Boston. Ia melajukan mobilnya melintasi sepanjang jalan di jembatan Pont de l'Alma, Paris, Perancis. Malam ini turun hujan cukup lebat, pandangan di depan pun terlihat samar akibat kabut malam dan derasnya hujan. Bram mencoba menghubungi Cassandra lagi, ia hendak mengatakan bahwa ia benar-benar tidak bisa terbang malam ini ke Boston.
“Sayang, sepertinya aku benar-benar tidak bisa terbang malam ini. Semua penerbangan di sini mendadak ditunda karena cuaca buruk,” jelas Bram.
“Ya sudah lupakan saja! Aku akan berpura-pura seperti tidak punya seorang kekasih!” ketus Cassandra di seberang telepon.
“Mengertilah, Cassandra. Ini aku sedang menuju bandara. Aku akan standby di sana hingga penerbangan dibuka lagi, aku akan langsung mencari tiket terbang saat itu juga,” ungkap Bram.
“Terserah!” Cassandra langsung memutus sambungan itu secara sepihak tanpa mau bicara lagi.
Bram mencoba menghubungi Cassandra lagi, tapi tidak dijawab oleh wanita itu. Bram terus mencoba menghubungi Cassandra, dia tidak mau membuat wanitanya kecewa. Bram kehilangan fokus dan pikirannya, tiba-tiba BRUK!!! Mobil yang ia kendarai menabrak pilar jembatan, tabrakan itu cukup keras hingga membentur kepala Bram. Bram mengalami luka serius, di saat detik-detik terakhirnya itu ia masih memikirkan Cassandra hingga helaan napas terakhirnya Bram tidak tahan lagi. Kala itu tengah malam turun hujan sangat lebat dan jalanan sangat sepi, tidak ada yang tahu kecelakaan malam itu. Hingga esok harinya barulah kecelakaan itu terungkap. Bram meninggal di tempat karena pendarahan hebat di kepalanya. Kecelakaan tunggal itu merenggut nyawa seorang Bram Scoot.
“Aku benci diriku sendiri,” histeris Cassandra mengingat kejadian tiga tahun lalu itu. Selama ini ia selalu menyalahkan dirinya atas kematian Bram.
Irene tidak mampu berkata. Ia bahkan berusaha menahan air mata, sedih mendengar kisah Cassandra terlebih saat wanita itu terus saja menyalahkan dirinya atas kepergian Bram.
“Andai aku tidak memaksanya malam itu, andai aku menjawab teleponnya malam itu, andai aku—” Cassandra kembali terisak, ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Irene kembali memeluk Cassandra, di saat seperti ini tidak ada kata-kata terbaik untuk menghibur. Hanya pelukan ini yang dapat ia berikan sebagai tempat menenangkan diri bagi Cassandra.