Stranger's In Love

Stranger's In Love
73|IMPORTANT INFORMATION



Hei reader's happu reading yaaa


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak berupa vote, like dan komennya ya agar author lebih semangat dan rajin updatenyađź’–


.


.


.


Zean menepikan mobilnya, ia hendak menuju ke bandara. Namun, sulit sekali rasanya memacu laju mobilnya agar segera tiba di sana dan langsung terbang ke Praha menemui Irene untuk membicarakan masalah Ultimatum ini. Zean seperti ingin menghindar, tapi ini merupakan masalah yang harus dihadapi. Cepat atau lambat, mau tidak mau, Zean harus tetap memberitahu Irene. Meski sangat sulit baginya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, tertera satu panggilan masuk dari Irene. Zean sedikit ragu untuk menjawab panggilan itu, ini adalah kali pertamanya merasa gugup saat mendapat panggilan dari Irene. Sungguh Zean masih belum sanggup untuk bicara apa pun pada wanitanya itu. Zean terus berpikir sebelum panggilan itu berubah menjadi satu panggilan tak terjawab, pria itu pun memutuskan untuk menjawab panggilan Irene agar istrinya itu tidak khawatir mengingat mereka yang sedang LDR ini.


“Hei, sayang,” sapa Zean saat panggilan itu terhubung. Zean mencoba untuk bersikap seolah semua baik-baik saja. Ia hendak mengatakan situasinya secara langsung nanti saat ia tiba di Praha.


“Kau masih di Boston?” tanya Irene.


“Iya, tapi kemungkinan hari ini juga aku kembali ke Praha,” jawab Zean.


Terdengar gumaman dari seberang telepon, sepertinya Irene hendak mengatakan sesuatu.


“Ada apa, Irene?” tanya Zean yang menyadari sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan istrinya itu.


“Hm.. Zean... Hm... Bolehkah aku pergi ke Korea? Aku rindu pada Mom, hm... boleh yaaa...”


“Kumohon, Zean. Boleh ya,” pinta Irene memelas di seberang telepon.


Hening, tak ada jawaban sejenak dari Zean. Pria itu sedang berpikir, ada baiknya membiarkan Irene pergi ke Korea untuk sementara selagi ia menyiapkan diri untuk membahas ultimatum ini dengan Irene. Zean benar-benar masih belum siap melihat reaksi istrinya saat mengetahui ultimatum Keluarga Lorwerth ini.


“Hm.. Baiklah. Kau boleh ke Korea, tapi dengan satu syarat. Kau harus selalu mengabariku, ya,” pesan Zean.


“Tentu, sayang. Terima kasih, Zean. Aku mencintaimu,” ucap Irene terdengar sangat senang setelah mendapat ijin dari Zean.


“Aku juga mencintaimu.”


Lalu sambungan itu terputus.


***


Di sisi lain ada James yang duduk di bar di salah satu nightclub ternama di Boston. Ia minum-minum untuk menenangkan dirinya. Sejujurnya James juga merasa tertekan dengan dirinya yang hanya dijadikan boneka di Keluarga Lorwerth untuk menutupi fakta bahwa penerus Keluarga Lorwerth hanyalah Zean karena Zean merupakan anak sematawayang.


“Aku ini menyedihkan sekali, tapi aku juga harus tau balas budi,” gumamnya seraya meneguk sloky wiskynya entah yang keberapa kali. Ia sudah cukup mabuk.


James terus menuangkan minumannya ke dalam sloky dan meneguknya berkali-kali hingga ia hampir menghabiskan dua botol wisky seorang diri, benar-benar peminum yang kuat.


“Hentikan, James,” ucap seorang pria yang kini menahan tangan James yang hendak meneguk wisky di slokynya lagi.


James menatap pria yang berdiri di sampingnya itu dengan pandangan buram dan kepala yang pusing. Dia adalah seorang pria yang kira-kira berusia empat puluh tahunan, wajahnya terlihat familier.


“Ah, iya. Kau Mr.Arizo, ya,” ucap James setengah sadar, tapi benar dugaannya pria itu adalah Mr.Arizo.


Sebelumnya Mr.Arizo berada di Praha untuk sebuah pertemuan bisnis dan sekarang sudah kembali lagi ke Boston karena perusahaannya berlokasi di sini.


“James, kau sangat mabuk. Mari kuantar kau pulang,” Mr.Arizo sudah siap memapah James, ia berniat baik hendak mengantar James pulang.


James tiba-tiba menggeleng dan memberi sedikit perlawanan, ia tidak mau pergi dari sana. James masih ingin menghabiskan waktu di bar ini.


“Kau saja yang pulang! Aku masih ini di sini, lagi pula kenapa juga aku harus pulang denganmu? Memangnya kau ini layanan jasa antar jemput!” racau James, sepertinya dia benar-benar sudah mabuk parah.


Mr.Arizo hanya menggeleng lalu kembali membiarkan James duduk di kursinya. “Baiklah, anak muda. Aku akan meninggalkanmu saja,” ucap Mr.Arizo yang sepertinya tidak akan bisa mengatasi pria mabuk ini.


“Tunggu! Tunggu dulu,” James menahan kepergian Mr.Arizo.


“Aku sangat sedih, aku butuh seseorang.” James memeluk Mr.Arizo.


Mr.Arizo berusaha menjauhan James darinya. “Hei, jangan seperti ini. Kita terlihat seperti pasangan gay.”


James masih memeluk Mr.Arizo sepertinya James sudah mabuk tingkat tinggi.


“Andai aku keturunan asli Keluarga Lorwerth pasti Zean tidak harus memikirkan keturunan lagi, kasian istrinya jika pada akhirnya Zean harus menghamili wanita lain. Menyedihkan sekali, lebih menyedihkan dari hidupku yang menumpang ini,” ungkap James. Kemabukan ini membuatnya terus meracau dengan keadaan tidak sadar dengan semua ucapannya.


Mr.Arizo mencerna setiap racauan James yang sepertinya menyimpan sebuah rahasia besar Keluarga Lorwerth. Mr.Arizo terus mendengar dan memancing James agar mengatakan semua isi hatinya hingga akhirnya Mr.Arizo paham tentang ultimatum Keluarga Lorwerth, ia juga tahu bahwa James adalah anak angkan dan Zean merupakan anak satu-satunya penerus Keluarga Lorwerth yang sekarang sedang menghadapi masalah besar karena istrinya tidak bisa memiliki keturunan.


“Benar-benar menarik,” gumam Mr.Arizo. Ia jadi memiliki rencana untuk menghancurkan Keluarga Lorwerth karena selama ini perusahaannya bersaing ketat dengan Lorwerth Corporation. Kalau ia berhasil menghancurkan keluarga itu maka akan banyak sekali pihak yang diuntungkan.


“Haruskah aku menyebar luaskan berita besar ini?” pikir Mr.Arizo.


“Uwek!” James muntah dan mengenai jas Mr.Arizo.


“Ah shit! Kau memuntahiku, sial!” Mr.Arizo langsung menjauhkan James darinya, ia merasa jijik dan tiba-tiba mual juga karena mencium bau muntahan ini.


“Lega,” ungkap James setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Mr.Arizo berdecak sebal, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap mengantar James pulang karena bagaimana pun si James secara tidak langsung sudah memberi sebuah informasi penting untuknya.


“Kau beruntung, James. Aku masih berbaik hati mengantarmu pulang,” ucap Mr.Arizo saat sudah bersama James di mobilnya lalu ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah James.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah James. Mr.Arizo langsung memapah pria itu memasuki rumahnya.


“Astaga, bodoh! Kenapa dia bisa semabuk ini?” sambut Rebecca saat mereka memasuki rumah.


Mr.Arizo membaringkan James di sofa lalu ia membenahi kemejanya yang kusut. “Sepertinya dia sedang stres, dia minum hampir dua botol misky sendirian di bar,” jelas Mr.Arizo.


Rebecca menatap sekilas James yang terkapar lemas di sofa lalu menatap Mr.Arizo.


“Terima kasih sudah mengantarnya pulang, tapi lain kali jika melihatnya mabuk lagi lebih baik biarkan saja dia, Mr.Arizo. Dia hanya akan merepotkanku sekarang,” keluh Rebecca.


Mr.Arizo tertawa.


“Jangan seperti itu, dia kan suamimu. Sudahlah, atasi kemabukannya ini. Aku akan pamit pulang,” ucap Mr.Arizo kemudian berlalu pergi.


Rebecca menatap kepergian Mr.Arizo setelah itu fokusnya kembali melihat James yang benar-benar mabuk berat ini. Rebecca bersikap bodo amat dan tidak peduli, ia beranjak ke lantai atas meninggalkan James begitu saja di sofa. Rebecca masuk ke kamar bayi untuk mengecek keadaan putri kecilnya yang masih tertidur pulas. Pikirannya kembali mengkhawatirkan James yang ia tinggal begitu saja. Pikiran ini sangat menganggunya dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali melihat James.


“Lihatlah, dia hanya bisa merepotkan saja,” sini Rebecca saat ia tiba di lantai satu menatap kesal James yang masih terkapar lemas dengan bau alkohol yang melekat pada dirinya.


Perlahan Rebecca memapah James ke kamar, ia berusaha keras membawa pria itu. Saat tiba di kamar Rebecca langsung menjatuhkan James di kasurnya, ia pun duduk lemas di sisi ranjang. Lelah sekali rasanya.


“Kenapa kau berat sekali, James!” keluh Rebecca.


Tiba-tiba tangan James tergerak dan langsung menarik Rebecca hingga wanita itu jatuh menimpang tubuh James yang masih terbaring itu.


“Lepaskan, James! Kau bau alkohol, sial!” Rebecca berusaha bangkit, tapi James terlalu kuat menahan tubuh Rebecca untuk tetap pada posisinya.


“Sebentar saja, kumohon,” ucap James seperti berbisik nyaris tak terdengar.


Rebecca masih terus berusaha bangkit, tapi tetap saja sia-sia. Akhirnya ia pun mengalah dan tetap pada posisinya.


“Apa yang kau inginkan, James?” tanya Rebecca frustrasi.


James nampak menyunggingkan seulas senyum dengan mata yang terpejam.


“Kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh?” komentar Rebecca yang merasa aneh dengan sikap James.


“Aku senang kita bisa sedekat ini,” ucap James.


Rebecca langsung memukul dada pria itu, tapi James hanya tertawa.


“Lepaskan aku, bodoh! Aku benci kita sedekat ini!”


James menggeleng masih sambil tersenyum. “Tidak akan kulepas.”


“Apa sih yang kau inginkan?” tanya Rebecca lagi.


“Cintailah aku, Rebecca. Cintailah aku seperti kau pernah mencintai seseorang sebelumnya,” pinta James suaranya terdengar bergetar.


Deg! Entah kenapa tiba-tiba perasaan aneh muncul di benak Rebecca, jujur ia sangat tersentuh dengan ucapan James ini. Sepertinya selama ini James memang benar tulus mencintai Rebecca, tapi wanita itu justru sibuk mengejar pria lain yang jelas-jelas tidak mencintainya. Oh, bodohnya Rebecca.


“Jangan meracau, James. Kau hanya mabuk,” ucap Rebecca, ia sendiri ragu dengan perasaan di hatinya jadi ia berusaha menepis pikirannya tentang James.


James membuka matanya lalu menatap Rebecca dalam. “Aku memang mabuk, tapi mencintaimu adalah ketulusan bukan karena rasa mabuk.”


Rebecca benar-benar tersentuh terlebih melihat tatapan tulus James ini, ia jadi merasa bersalah selama ini selalu bersikap kasar dan tidak pernah mencintai James seperti James yang selalu mencintainya.


“Aku ini wanita jahat, James. Jangan jatuh cinta padaku,” bantah Rebecca.


James menggeleng. “Aku mencintaimu sebagai Rebecca, ibu dari putri cantiku. Jangan pernah mengatakan dirimu jahat, kau hanya tidak tahu bagaimana cara mencintai dirimu.”


“James, aku—” ucapan Rebecca terpotong karena James menciumnya.


James tidak mau mendengar apa pun lagi, ia hanya ingin wanita ini sadar dan bisa mencintainya seperti dia yang tulus mencintai Rebecca. Mereka menghabiskan malam panjang ini bersama, entah apa yang akan terjadi di esok hari. Mungkin Rebecca akan tetap sama, masih dingin dan cuek dengan James. Namun, apa pun dan bagaimana pun Rebecca, James masih tetap mencintainya.