Stranger's In Love

Stranger's In Love
65|MINI PARTY



Mobil Zean memasuki basemant Mansion yang mendadak dipenuhin beberapa mobil mewah. Zean terlihat biasa saja, ia masih mencari-cari celah kosong untuk memarkirkan mobilnya. Sedangkan Irene tercengang melihat satu persatu mobil mewah yang terparkir rapi ini.


"Kenapa ada banyak mobil, Zean?" tanya Irene pada Zean saat mereka keluar dari mobil.


Zean menyunggingkan seulas senyum. "Kau akan lebih kaget lagi saat melihat kekacauan di dalam."


Irene mengernyitkan dahi tidak mengerti dengan maksud Zean, ia memilih tetap diam saja dan mengikuti langkah Zean masuk ke Mansion. Saat pintu dibuka, Irene benar-benar tertegun. Bau alkohol mendominasi ruangan ini. Di hadapannya kini ada sekitar puluhan orang yang asik bercumbu seraya menari dengan iringan musik EDM dari seorang DJ cantik di sudut ruangan.


"Zean, kenapa..." Irene tidak bisa melanjutkan ucapannya, entah apa yang harus ia katakan melihat kekacauan di hadapannya ini.


“Hei, welcome back Mr. and Mrs.Lorwerth,” sambut Cassandra berjalan gontai mendekati Irene dan Zean.


Zean langsung menghadang Cassandra yang hendak menarik Irene untuk ikut berpesta bersamanya. Cassandra bahkan mengumpat kata-kata kasar pada Zean yang terus menghalanginya mengajak Irene untuk bergabung dalam pestanya itu. Cassandra benar-benar mabuk.


“Dasar bodoh! Menyingkirlah, Zean! Biarkan kami berpesta bersama,” Cassandra berusaha mendorong Zean agar menjauh dari hadapannya.


“Sadarlah, Cassandra! Kau benar-benar mabuk!” Zean mengguncang-guncangkan bahu wanita itu.


Cassandra terkekeh. “Hihihi... Kau yang mabuk, bodoh!”


Zean menghela napas perlahan, ia mulai depresi menghadapi Cassandra yang sudah mabuk berat ini.


Zean sedikit mendekatkan wajahnya dengan wanita itu.


“Dia tidak akan senang jika melihatmu seperti ini, jangan rusak dirimu, Cassandra,” bisik Zean.


Cassandra langsung meluruh di lantai. Ia menunduk, apa yang diucapkan Zean sedikit membuka mata kesadarannya.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Irene yang mulai beranjak hendak mendekati Cassandra. Namun, dengan segera Zean langsung menarik tangan Irene tanpa persetujuan dari wanita itu, Zean membawa Irene menuju kamar mereka. Zean sudah biasa melihat kekacauan yang selalu Cassandra buat. Bagi Zean pesta dadakan ini hanyalah sebagian kecil dari kekacauan yang bisa dibuat oleh wanita itu.


"Apa yang Cassandra lakukan, Zean?" tanya Irene saat mereka sudah berada di kamar.


Zean menghempaskan dirinya, duduk di sisi ranjang seraya menatap Irene yang berdiri di hadapannya.


"Jangan pikirkan dia. Biarkan saja dia bermain," ucap Zean menarik Irene duduk di pangkuannya.


"Tapi, Zean. Apa tidak apa-apa kita membiarkannya begitu saja?" tanya Irene khawatir mengingat apa yang ia lihat tadi. Banyak pria yang silih berganti menciumi beberapa wanita yang sama.


"Itulah Cassandra. Dia bersikap seperti itu untuk mencari kesenangannya saja," ucap Zean.


Irene mengernyitkan dahi, ia bingung ke mana arah pembicaraan ini.


"Mencari kesenangan?" tanya Irene meyakinkan ucapan Zean tadi.


Zean menatap Irene lalu menyelipkan anak rambut wanita itu yang menghalangi wajah cantiknya. Deg! Jantung Irene berdetak kencang saat mata mereka saling bertatapan. Zean mendekatkan wajahnya dengan Irene lalu mengecup singkat bibir wanita itu.


“Kumohon, jangan pikirkan orang lain selain kita malam ini. Bisakah kita fokus pada aku dan dirimu saja?” tanya Zean sukses membuat Irene merinding.


"Aku menginginkanmu, Mrs.Lorwerth," bisik Zean kemudian, lalu kembali mencium wanita itu, tangannya tergerak meraba punggung Irene dan perlahan melepas gaun wanita itu.


Irene menegang, sentuhan tangan Zean membuatnya seluruh tubuhnya memanas. Irene mengalungkan kedua tangannya di leher Zean, sesekali ia mengelus lembut rambut bagian belakang pria itu. Mereka bercumbu mesrah menghabiskan malam panjang yang panas ini.


Di sisi lain, Cassandra masih merenung duduk di sofa menatap nanar pesta dadakan yang ia buat ini. Ia mengundang beberapa teman dan orang-orang random dari situs perkumpulan pecinta mini party. Keseruan dan kegaduhan yang berhasil ia ciptakan ini sama sekali tidak membuat hatinya senang. Ia justru merasa lelah, mencari cara menemukan bahagia yang seperti apa lagi. Baginya hanya ada satu hal yang membuatnya bahagia, duduk bersama dan bertukar cerita dengan seseorang yang ia cintai, seseorang yang selalu ia rindukan tiga tahun belakangan ini.


Cassandra menyeka bulir bening yang sudah menetes tanpa aba-aba membasahi pipinya. Dia terlihat begitu menyedihkan. Cassandra bangkit dari duduknya, ia mencari ponselnya lalu mencari-cari kontak seseorang dan langsung menghubungi orang tersebut.


“Allan,” ucapnya saat panggilan itu terhubung.


“Kenapa hanya aku yang merasakan ini sendirian?” tanya Cassandra kemudian.


Terdengar helaan napas Allan dari seberang telepon.


“Kau di mana sekarang?” Allan melontarkan pertanyaan balik, bukannya menjawab pertanyaan wanita itu.


Cassandra tertawa. “Hahaha... Aku masih di sini, Allan. Di dunia yang aku sendiri sudah tidak bisa menemukannya.”


“Cassandra, kau mabuk?” Allan mulai khawatir mendengar suara Cassandra di telepon yang sepertinya meracau.


Cassandra kembali berjalan gontai menuju kerumunan orang yang asik menari di dekat DJ cantik yang masih memainkan musik EDM dengan alunan yang menyihir orang-orang. Cassandra masih menempelkan ponselnya di telinga.


“Entahlah. Aku hanya sedikit minum, aku bahkan memanggil beberapa pria tampan untuk minum bersama. Tapi tidak ada pria yang—” sambungan telepon itu terputus saat seorang pria tiba-tiba merangkul Cassandra dan langsung mencium wanita itu.


Cassandra yang mabuk itu pun terbuai dan membalas ciuman pria asing yang menciumnya itu. Perlahan mereka mundur hingga ambruk di sofa dan kembali melanjutkan aksi mereka tadi.


***


“Halo! Halo, Cassandra!” panik Allan saat panggilan itu tiba-tiba terputus.


Allan langsung menelepon bawahannya, ia memerintah untuk segera melacak nomor Cassandra untuk mengetahui di mana keberadaan wanita itu. Tak lama kemudian Allan mendapat kabar, posisi Cassandra saat ini ada di sebuah Mansion yang alamatnya ternyata alamat Mansion Zean.


Dengan segera Allan mendekat, ia menarik kasar pria itu lalu memberinya bogem mentah berkali-kali tiada ampun hingga wajah pria itu babak belur. Semua orang berteriak panik dan berlarian keluar, mereka takut dengan aksi Allan itu.


“Pergi kau sebelum aku membunuhmu!” tegas Allan pada pria yang tengah meringis menahan sakit, pria itu langsung berlari keluar.


Cassandra perlahan duduk lalu menatap Allan dengan tatapan nanarnya. Allan mendekati wanita itu lalu menaikan lengan gaunnya yang sedikit turun tadi. Cassandra hanya diam kemudian ia terisak, ia kembali menangis.


“Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucap Allan.


Cassandra mencoba berdiri tepat di hadapan Allan dan selanjutnya tiba-tiba Cassandra melayangkan satu tamparan yang mendarat tepat pipi kiri Allan.


“Kenapa kau mengacaukan pestaku, Allan?” bentak Cassandra.


Allan mengepalkan tangan kuat-kuat, kesal dan tidak mengerti dengan bagaimana perasaan wanita yang sebenarnya. Jelas-jelas tadi Cassandra yang meneleponnya dengan keadaan mabuk, tentu itu membuat Allan khawatir terlebih Allan ingat bahwa Cassandra itu biang pembuat kekacauan.


“Kau menganggu kesenanganku, bodoh!” Cassandra memukul-mukul dada bidang Allan dengan tangan kosongnya.


Allan hanya diam menerima pukulan itu, biarkan saja wanita ini. Cassandra sudah cukup terlalu rapuh selama tiga tahun ini. Dan ini sudah entah yang keberapa kalinya dia menampar bahkan memukul Allan seperti ini. Tiap kali Cassandra mabuk, dia selalu menelepon Allan, setiap kali dia membuat kekacauan pasti Zean yang membereskannya, benar-benar hubungan pertemanan yang parasitisme. Namun, mau bagaimana lagi Cassandra sedang butuh seseorang sebagai tempatnya berbagi kepedihan yang ia pendam sendiri selama ini.


Keesokan harinya. Semua orang berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Irene terkejut saat mendapati Allan yang ikut bergabung dengan mereka.


“Kemarin Allan menginap di sini, sayang,” ucap Zean yang melihat reaksi kaget dan bingung di wajah Irene.


“Selamat pagi, istri Zean,” goda Allan seraya mengoleskan nutella pada lembar rotinya.


“Pagi, Allan,” sahut Irene.


“Di mana Cassandra? Apa dia belum bangun?” tanya Irene kemudian.


Allan langsung melempar pisau yang ia gunakan untuk mengoleskan selai tadi, Irene spontan menatapnya heran.


“Sepertinya dia sedang merangkai kata permintaan maaf untukku,” ucap Allan.


Zean yang sedang minum susu itu pun mendadak tersedak. Irene menepuk-nepuk punggung Zean lalu memberinya segelas air.


“Apa dia memukulimu lagi?” tanya Zean diiringi tawa lepasnya.


Irene tumben sekali melihat Zean seperti ini, Zean nampak bahagia dengan teman-temannya ini. Kemudian fokus Irene kembali menatap Allan.


“Apa yang terjadi?” tanya Irene, ia merasa hanya dirinya satu-satu orang yang tidak paham pembicaraan ini.


Akhirnya Allan menceritakan semua yang terajadi semalam. Zean tak henti-hentinya tertawa, sedangkan Irene malah prihatin pada Allan yang jadi sasaran amarah Cassandra kemarin.


“Seharusnya kau tidak usah datang, Allan. Kalau dia berada di Mansionku itu artinya dia sudah pasti aman karena aku sudah memerintahkan orang untuk mengawasi pesta kemarin,” ucap Zean masih menetralkan diri dari tawa lepasnya saat mendengar cerita Allan tadi.


“Seluruh sudut di Mansion ini ada kamera tersembunyi, kecuali di kamarku. Lagi pula kemarin Cassandra hanya bercumbu dengan pria itu, dan sepertinya dia juga sangat menikmatinya,” lanjut Zean.


Irene melotot kaget dengan ucapan Zean. Itu berarti saat mereka makan malam di taman belakang juga terekam kamera, astaga. Irene menutup mata lalu menunduk pasrah mengingat apa saja yang mereka lakukan di taman belakang kala itu.


“Allan memang seperti itu! Dia selalu saja mengacaukan semuanya,” sinis Cassandra yang tiba-tiba muncul lalu duduk di hadapan Allan.


Allan menaikkan sebelah alisnya menatap Cassandra kesal. “Aku tidak akan datang jika kau tidak meneleponku, ya!”


“Aku meneleponmu hanya untuk curhat! Kenapa kau malah datang? Dasar bodoh!” ucap Cassandra lalu dengan cepat ia mencuri roti selai milik Allan dan langsung memakannya.


“Hei, itu rotiku!” seru Allan frustrasi.


Cassandra menatap bagian roti yang masih utuh, ia membulak-balikan roti itu lalu menatap Allan sejenak. “Di roti ini tidak ada tulisan tuh, kalau ini roti milikmu!”


Allan menyentuh dadanya yang terasa panas, pagi ini Cassandra sukses menaikkan darah tingginya.


Zean terkekeh dengan tingkah dua sahabatnya ini, kemudian Zean beranjak dari duduknya setelah selesai sarapan. Irene pun langsung menatap pria itu yang sepertinya sudah siap untuk pergi ke kantor.


“Kau pergi sekarang?” tanya Irene.


Hari ini Irene tidak pergi menemani Zean karena ia ingin menemani Cassandra saja di Mansion, sepertinya wanita itu sedang butuh seseorang. Mungkin nanti Cassandra mau sedikit bercerita dengan Irene. Lagi pula pertemuan Zean hari ini hanya tanda tangan kontrak dengan klien baru yang kemarin setuju dengan program yang telah ditentukan.


“Iya. Tunggulah aku pulang. Kalau kau bosan dan ingin ke luar, aku sudah menyiapkan mobil dan supir untukmu. Selalu kabari aku ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan, mengerti, Mrs.Lorwerth?”


Irene tersenyum lalu mengangguk paham kemudian Zean mencium kening wanita itu.


“Uwekkk! Sungguh aku ingin muntah,” ucap Allan tiba-tiba.


“Aku juga ingin muntah! Kenapa mereka berakting seolah-olah tidak ada orang di ruangan ini,” sindir Cassandra.


Irene dan Zean pun tertawa mendengar itu. Lalu Zean berangkat pergi meninggalkan Irene, Cassandra dan Allan yang masih sarapan bersama di ruang makan.