Stranger's In Love

Stranger's In Love
77|SUSPICIOUS



Praha 02.45 p.m


Irene dan Tae-O tiba di Praha mereka langsung menuju ke apartemen yang sudah Irene sewa lewat situs online. Irene tidak bisa membawa Tae-O ke Mansion karena itu akan membuat yang lain curiga. Irene tidak ingin melibatkan Zean, Cassandra dan Allan dalam hal ini karena Irene sendiri masih harus membuktikan apa benar ada yang salah dengan Geraldine, mengingat Gerald adalah kakak kandungnya, Irene tidak bisa asal gegabah begitu saja.


“Aku akan menemui Gerald malam ini juga. Kau tetaplah di sini, kau cukup memberi intruksi padaku lewat telepon saja,” ucap Irene, ia tidak ingin Tae-O ikut dengannya karena bisa saja itu berbahaya.


Tae-O mengangguk paham. “Noona, nanti yang harus kau lakukan adalah mengambil ponsel Gerald kemudian masuk ke pengaturan ponselnya dan ketikan kode angka ini maka aku akan langsung bisa meretas ponsel miliknya,” ucap Tae-O memberi secarik kertas yang berisi catatan.


Irene menatap seksama secarik kertas itu, ia mencoba menghapal angka-angka yang tertulis di sana.


“Bawa ini juga, sembunyikan dengan baik alat ini agar aku bisa menyadap pembicaraan kalian dari sini,” ucap Tae-O lagi, kali ini ia memberi Irene alat penyadap suara.


“Oke, baiklah,” ucap Irene kemudian ia berlalu pergi.


Irene kembali menuju bandara, sebelumnya Irene mengabari Zean bahwa dirinya sudah kembali dari Korea dan Zean ingin menjemput Irene di bandara karena itulah Irene harus segera kembali ke bandara agar Zean tidak curiga dengannya.


“Welcome back, honey!” sapa Zean saat menghampiri Irene lalu memeluk istrinya itu.


“I miss you so bad, Zean!” ucap Irene memeluk Zean erat.


Zean menguraikan pelukannya lalu menatap mata wanita yang sangat ia rindukan itu. “I miss you too, Mrs.Lorwerth.”


Mereka langsung menuju mobil hendak kembali ke Mansion. Sepanjang perjalanan Irene hanya diam seraya menatap ke luar jendela, ia sedang memikirkan sesuatu. Jauh di lubuk hatinya ada hal yang sangat ia khawatirkan tentang Gerald. Semua pikiran negatfinya tertuju pada kakak kandungnya itu, kemungkina-kemungkinan terburuk mungkin akan terungkat setelah Irene berhasil menyadap ponsel milik Gerald. Akankah Irene siap menghadapi situasi itu nantinya?


“Hei, sayang,” panggil Zean seraya mengelus pipi Irene.


“Bangun, kita sudah sampai,” ucap Zean lagi masih mengelus pipi wanitanya itu.


Irene mengerjapkan mata lalu tersenyum melihat Zean yang begitu dekat dengannya.


“Oh, aku ketiduran ya.”


“Kau pasti lelah, Irene. Ayo, masuk. Kau bisa tidur lagi nanti,” ucap Zean melepas seatbelt di kursi Irene lalu mereka keluar dari mobil.


Irene bergelayut manja di lengan Zean sambil berjalan masuk ke Mansion. Di ruang tengah ada Cassandra dan Allan yang sedang menonton TV.


“Irene!” sambut Cassandra saat melihat Irene.


Irene langsung menghampiri Cassandra yang masih pada posisinya duduk di sofa, Cassandra terlalu lemah untuk bangkit lalu berlari memeluk Irene karena luka tembaknya masih belum sembuh total.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Irene.


“Aku sudah membaik. Sepertinya Allan berhasil merawatku, haha...” jawab Cassandra.


Allan menyunggingkan seulas senyuman bangga. “Aku ini memang berbakat.”


“Kau memang berbakat atau kau ini senang bisa merawat Cassandra?” goda Zean.


Allan langsung menatap Zean. “Ya, aku memang menyukainya.”


Cassandra melotot tak percaya, Allan mengatakannya di depan Irene dan Zean.


“Apa yang kau bicarakan, bodoh!”


Allan beranjak dari duduknya, ia menatap nanar Cassandra yang masih terduduk di sofa sambil menatapnya juga.


“Apa mencintai seseorang adalah suatu kebodohan?” tanya Allan terdengar sangat serius.


Hening. Tak ada satu pun yang menjawab Allan. Cassandra pun hanya bisa tertunduk seraya memikirkan perasaanya, mungkinkan ia juga menyukai Allan?


“Aku rasa kalian butuh privasi untuk membicarakan ini,” ucap Zean akhirnya lalu ia menarik Irene untuk ikut pergi ke lantai atas bersamanya.


Allan dan Cassandra menatap kepergian mereka, kemudian fokus Allan kembali menatap Cassandra.


“Jangan dijawab jika kau masih belum bisa menjawabnya,” ucap Allan, ia hendak pergi dari sana. Namun, tiba-tiba Cassandra menahannya.


“Apa kau benar-benar mencintaiku, Allan?” tanya Cassandra.


Allan menatapnya dalam, dari sorot matanya jelas menunjukkan sebuah ketulusan.


“Haruskah aku mengatakannya berulang kali bahwa aku mencintaimu, Cassandra Lee Damora?”


Seolah terhipnotis, Cassandra sama sekali tidak bisa mengedipkan kedua matanya, ia terus menatap mata Allan yang terlihat benar-benar tulus itu.


Namun, tiba-tiba Cassandra tertawa renyah. “Hahaha… jangan terlalu seserius ini, kita sudah berteman lama, Allan.”


Cassandra menatap nanar kepergian Allan. Jujur, Cassandra sendiri tidak tahu bagaimana perasaanya untuk Allan. Cassandra memang menyukai Allan, tapi entah rasa suka itu hanya sebatas teman atau memang benar rasa suka itu lebih dari teman.


...***...


Irene sudah rapi dengan dress casualnya, ia hendak mengunjungi Gerald di penthousenya. Sebelumnya ia sudah meminta ijin pada Zean, awalnya Zean menolak membiarkan Irene pergi sendiri. Namun, karena hal mendesak juga yang mengharuskan Zean menemuin kliennya jadi Zean membiarkan Irene pergi sendiri menemui Gerald. Zean berpikir toh Irene pergi untuk menemui kakaknya, jadi tidak masalah jika membiarkannya pergi sendiri. Namun Zean tetap meminta Irene untuk pergi dengan diantar supirnya.


Tiba-tiba ponsel Irene berdering, tertera satu panggilan masuk dari Zean.


“Yes, honey,” ucap Irene saat sambungan itu terhubung.


“Kau sudah berangkat?” tanya Zean di seberang telepon.


“Sekarang aku akan berangkat, Zean.”


“Oke. Hati-hati dan ingat selalu kabari aku, ya,” pesan Zean.


“Tentu, sayang,” sahut Irene lalu memutus sambungan itu.


Irene langsung bergegas turun karena di luar sudah ad asupir yang menanti siap untuk mengantarnya menuju kediaman Gerald.


“Sudah siap, Mrs.Lorwerth?” tanya supir itu sopan.


Irene mengangguk seraya tersenyum ramah. “Ayo.”


Kemudian supir itu membuka pintu belakang untuk Irene lalu masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil itu. Hingga empat puluh lima menit berlalu akhirnya mereka sampai di kediaman Gerald, sebuah penthouse megah bergaya minimalis yang klasik nan elegan. Tanpa ragu, Irene pun segera menuju ke penthouse milik Gerald itu.


“Oh, kau datang,” sapa Gerald menyambut adiknya itu sesaat setelah membuka pintu.


“Apa kau sudah menyiapkan banyak hidangan lezat?” goda Irene lalu mereka masuk.


Gerald terkekeh. “Apa kau pikir ini pesta penyambutan?”


Irene tertawa renyah seraya duduk di sofa, begitu Gerald yang kini duduk di hadapannya. Fokus Irene beralih melihat ponsel Gerald yang tergeletak di atas meja, Irene sedang memikirkan cara agar bisa menyadap ponsle milik kakaknya itu.


“Aw!” pekik Irene seraya menyentuh perutnya.


“Kenapa, Irene? Kau baik-baik saja?” Gerald khawatir lalu beranjak mendekati adiknya itu.


“Aw! Perutku mendadak sakit sekali,” lirih Irene masih menyentuh perutnya dengan dramatis.


Raut wajah Gerald berubah pucat pasi, ia sangat khawatir. “Tunggu, tunggu, akan aku panggilkan dokter.”


Irene langsung menahan Gerald. “Jangan. Sepertinya aku kram perut karena haid, aku hanya butuh obat pereda nyeri.”


“Baiklah, tunggu di sini. Aku akan mencarikan obat itu untukmu,” pesan Gerald lalu pria itu pergi.


Dengan segera Irene langsung mengambil ponsel Gerald untuk memasukan kode agar bisa meretas ponselnya. Sebelumnya, Tae-O sudah mengajari Irene cara untuk membuka ponsel yang terkunci sandi dengan mudah. Setelah berhasil membuka sandi ponsel Gerald, Irene pun segera mengklik pengaturan ponsel dan memasukan kode khusus yang diberikan Tae-O untuk meretas ponsel itu.


“Berhasil,” ucap Irene.


Tiba-tiba Irene mendengar suara, seperti Gerald sudah kembali. Namun, kenapa dia kembali begitu cepat? Irene langsung menaruh ponsel Gerald pada posisi semula, agar pria itu tidak curiga dengannya.


“Kau mendapatkan obatnya?” lirih Irene seraya menyentuh perutnya.


Gerald menggelek lalu mengerutkan alisnya, ia bingung merasa seperti ada yang aneh.


“Irene,” panggil Gerald hati-hati.


“Bukannya kau sudah tidak punya rahim, apa mungkin kau masih mengalami siklus haid?” tanya Gerald curiga.


Deg! Seketika Irene membeku. Ia mulai sedikit gemetar, takut karena seperinya Gerald menyadari sesuatu.


“Ah, itu. Aku pikir kram perut ini karena haid, tapi sepertinya mungkin karena aku belum makan malam. Aduh, aw, sakit sekali.”


Gerald memicingkan mata menatap curiga Irene. “Kau sedang mengerjaiku, ya?”


Irene menatap Gerald lalu tertawa renyah. “Hahaha…. Iya, aku mengerjaimu! Haha… lucu sekali, wajahmu sangat pucat. Sepertinya kau sangat mengkhawatirkan adikmu ini, ya.”


Sepertinya Gerald mengira Irene berbohong karena sedang bercanda dengannya, bukan berbohong karena ada sesuatu yang disembunyikan.


Irene beranjak dari duduknya lalu bergelayut manja di lengan Gerald. “Ayo, makan!”


Kemudian mereka menuju ruang makan dan makan bersama. Dua bersaudara itu menghabiskan malam panjang bersama, saling bertukar cerita dan menumpahkan kerinduannya masing-masing. Meski saat ini Irene merasa sedikit was-was dan memiliki rasa curiga yang tinggi terhadap Gerald.