Stranger's In Love

Stranger's In Love
13|SHE'S LYING



Malam ini Zean untuk pertama kalinya mengurung diri di penthousenya, ia duduk di sofa ditemani sebotol vodka yang sedari tadi ia tuang ke dalam gelas kecil. Zean menatap nanar gelas ke tujuh vodka itu lalu meminumnya sekali teguk. Zean tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah bertemu Rihanna hari ini, keinginan ibunya kali ini benar-benar bertentangan dengan isi hatinya karena saat ini Zean telah mencintai dan benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita yang mampu membuat perasaannya selalu merindu, yaitu Irene Banner. Saat inipun Zean tengah merindukan gadis itu setelah seharian tidak bertemu, bahkan Zean berjanji untuk menemuinya setelah urusannya dengan Rihanna selesai, tapi ia mengurungkan niatnya. Ada sesuatu yang megganjal pikirannya, tentang keputusan yang harus ia ambil agar tidak menyakiti Rihanna ataupun Irene.


Zean penat, lelah berkutat dengan pikirannya. Rindu ini benar-benar gila, merasuk luas tanpa batas, Zean menyerah, ia tidak mampu menahan kerinduan ini terhadap gadisnya, Irene Banner. Zean yang dalam keadaan setengah mabuk itu menyambar kunci mobil dan bergegas pergi.


***


Alice pergi beberapa hari ke luar kota karena ada urusan bisnis, malam ini Irene berdiri di balkon menatap indah langit malam yang dihiasi banyak bintang. Sesekali ia menatap ponselnya berharap ada telepon atau pesan masuk dari Zean. Tunggu, tunggu  dulu! Apa barusan? Irene berharap Zean mengabarinya? Oh Tuhan, ada apa dengan Irene? Mengapa dia seperti ini?


“Aku bisa gila jika terus memikirkan Zean” ucap Irene pada diri sendiri.


Irene menoleh ke bawah balkon dan melihat ada cahaya mobil yang memasuki gerbang rumahnya, itu mobil Zean. Dengan segera gadis itu bergegas turun membuka pintu untuk menemui Zean.


Ketika Irene membuka pintu, ia terkejut melihat Zean yang masih mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang tak dikancing serta dasi yang menggendor dengan kondisi setengah mabuk berdiri gontai di hadapannya dan detik kemudian pria itu ambruk ke dalam pelukan Irene. Irene berusaha menopang tubuh Zean agar mereka tidak jatuh. Irene memapah pria itu masuk ke dalam menuju ruang tamu dan menjatuhkan pria itu di sofa.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Irene.


“Aku ingin tidur” Zean memijit kepalanya yang sedikit pusing efek dari mabuknya ini.


“Kau bisa tidur di sini” ucap Irene.


Zean menarik pergelangan tangan Irene hingga gadis itu terjatuh ke pangkuang Zean. Bisa Irene rasakan bau aroma vodka dari napas Zean, pria ini terlihat begitu manis dalam keadaan mabuk seperti ini.


“Bawa aku ke kamarmu atau aku akan mencium mu hingga kau kehabisan napas” bisik Zean lalu memajukan wajahnya sedangkan Irene dengan segera menutup mulutnya.


Irene mendengus kesal lalu ia beranjak dan kembali memapah Zean menuju kamarnya, kemudian membaringkan pria itu di atas ranjang king sizenya. Irene melepas sepatu Zean dan kini beralih melepas dasinya, namun Zean mencekal tangan Irene lalu menariknya hingga gadis itu ambruk menimpa tubuh Zean. Deg! Hanya diam dengan posisi seperti ini mampu membuat jantung keduanya berdetak tak menentu, ada perasaan aneh yang mereka rasakan seperti ada aliran listrik yang menyengat setiap kali mereka bersentukan.


"Aku mencintaimu, Irene" ucap Zean tiba-tiba.


“Lepaskan aku, Mr.Lorwer-”


‘cup!’ Zean mengecup singkat bibir gadis itu.


“Sudah aku katakan, panggil aku Zean atau aku akan menghukummu”


Irene menelan ludah susah payah, jujur ia khawatir dengan kondisi Zean yang seperti ini akan sulit dikendalikan.


“Lepaskan aku, Zean” Irene meralat ucapannya tadi.


Zean tersenyum dengan mata tertutup lalu menggeleng pelan. “Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku”


Sial dalam keadaan mabuk seperti ini pun pria ini masih saja menyebalkan.


“Apa lagi?” tanya Irene.


Zean membuka matanya lalu menatap Irene lembut, dan semakin mempererat pelukan tangannya yang melingkar di pinggang gadis itu. Irene mulai panik, ia berusaha menjauhkan diri dari Zean tapi pria itu lebih kuat darinya bahkan dalam keadaan mabuk sekali pun tetap saja.


“Irene” panggil Zean.


“Hm”


Deg! Irene membeku, pertanyaan Zean mampu menghentikan detak jantung Irene. Pertanyaan itulah yang beberapa kali muncul di pikiran Irene tapi dengan segera gadis itu menepis jauh pikirannya tentang itu, atau lebih tepatnya ia bingung, ia bahkan tidak tahu. Seperti inikah cinta? Irene tidak tahu perasaan apa namanya, yang pasti ia sering merasa kesal, marah, khawatir bahkan rindu kepada pria mabuk yang sedang memeluknya dalam posisi tidur ini.


“Jawab aku, Irene” ucap Zean membuyarkan pikiran Irene.


“Tidak” jeda Irene mengalihkan pandangannya kemana saja asal tidak menatap mata Zean.


“Aku tidak mencintaimu” lanjutnya.


Zean mempererat pelukannya hingga Irene meringis sakit akibat Zean yang memeluknya begitu erat.


“Lepaskan, Zean. Kau menyakitiku” ringis Irene.


“Kau lebih menyakitiku, Irene” ucap Zean terdengar putus asa lalu ia mengendorkan pelukannya.


Irene sedikit sedih mendengar nada bicara Zean, sepertinya pria ini benar-benar jatuh hati padanya. Tuhan, apa yang harus Irene lakukan? Di sisi lain gadis ini memang tidak menyadari perasaannya terhadap Zean, ia buta akan cinta.


“Aku sudah menjawabmu, aku tidak mencintaimu dan lepaskan ak-”


Zean mencium Irene dengan lembut, tubuh Irene lemas karena ciuman pria itu. Zean memperdalam ciumannya, Irene hanya diam tak menolak sedikit pun karena ia juga menginginkan Zean tapi sejauh ini gadis itu tidak menyadarinya. Zean menguraikan pelukannya lalu melepas ciumannya dan memberi Irene kesempatan bernapas. Mereka saling mengatur napas mencoba menormalkan kembali pernapasan mereka. Kemudian Zean menarik dagu Irene agar ia bisa menatap matanya.


“Tatap aku, Irene” jeda Zean.


Irene hanya diam menunggu Zean melanjutkan ucapannya lalu membalas tatapan pria itu, mereka saling bertatapan dalam diam.


“Tatap aku. Dan katakan jika kau tidak mencintaiku” pinta Zean pada Irene yang enggan mengalihkan tatapannya namun dengan segera Zean mencegahnya. Zean butuh Irene menatapnya agar ia tahu, karena Zean yakin sebuah tatapan tak akan menipu.


Irene tidak bisa mengelak lagi, ia masih tetap menatap Zean.


“Aa..ku..” ucapnya bergetar.


“Aku–tidak–mencintaimu” lanjutnya dengan susah payah kalimat itu ia ucapkan namun ia merasa seperti sudah membohongi dirinya sendiri dan juga Zean. Entah benar ini yang Irene rasakan atau memang dirinya tidak menyadari apa yang dia katakan.


Zean bergeming namun masih menatap Irene.


“Aku yakin kau berbohong” ucap Zean lalu menguraikan pelukannya.


Irene beranjak dari posisinya yang kini berdiri di bibir ranjang dan Zean beranjak menjadi duduk. Zean berusaha mengumpulkan kesadarannya dari efek minuman yang membuatnya sedikit mabuk, pria itu kembali memijit kepalanya yang pusing.


“Apa kau baik-baik saja?” Irene menyentuh bahu Zean.


Zean menoleh menatap Irene lalu menepis tangan gadis itu dari bahunya. “Tentu, dan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Irene.


Irene menatap punggung Zean yang berjalan menjauh menuju pintu hingga punggung itu menghilang dari pandangannya, Zean telah pergi–meninggalkan Irene dengan semua rasa bersalah dan kebohongannya. Apa yang baru saja terjadi? Apa Zean telah benar-benar pergi meninggalkannya?