
“Tinggal bersama kita?”
“Haruskan dia tinggal bersama kita, Zean?” Keluh Irene saat mereka tiba di hotel.
“Zean, kau bahkan sudah memesan dua kamar di hotel ini dan itu berarti kau sudah merencanakan ini dengan matang.”
Irene menghembuskan napas sejenak, ia mencoba mengontrol emosinya yang sejak tadi ingin meledak.
“Kenapa kau selalu begitu, Zean?”
“Kenapa tidak pernah bertanya padaku? Apa pendapatku tidak penting bagimu?” Irene terus menyerang Zean dengan pertanyaan-pertanyaannya.
Zean mendekati Irene yang duduk di sofa di sudut ruangan dekat jendela.
“Bukan begitu, Irene.”
“Lalu bagaimana, Zean. Bagaimana? Coba katakan padaku sekarang?”
Zean hendak bicara, tapi Irene mendahuluinya.
“Apa lagi namanya jika buka egois?”
“Kau sangat egois, Zean.”
Irene menutup wajahnya dengan kedua tangan, perlahan isak tangis mulai terdengar, Irene menangis. Ia kecewa dengan Zean.
“Maafkan aku, Irene.” Zean hendak menyentuh istrinya, tapi wanita itu sudah menghindar lebih dulu.
“Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk hubungan kita. Maaf jika aku terlalu egois dalam hal ini,” jelas Zean meminta maaf.
Zean tidak menyangka jika Irene akan kecewa dengan kejutan yang sudah disiapkannya. Zean tidak mengerti dalam konteks ini dirinya bersalah. Sebelumnya Zean pikir Irene akan merasa senang dengan kejutan ini, tapi ternyata sebaliknya Irene malah kecewa karena Zean tidak meminta pendapat dan bertanya pada istrinya.
“Zean,” lirih Irene dengan mata sembabnya.
Zean berpaling menatap Irene dengan penuh penyesalan.
“Ini bukan sekedar permainan, Zean. Ini merupakan sebuah pilihan besar, tapi kau terlalu berani ambil resiko dalam hal ini. Aku tidak mempermasalahkan tentang program bayi tabung itu, aku hanya sedikit terkejut dengan latar belakang wanita yang bersedia menjadi ibu pengganti untuk program ini. Dan aku lebih terkejut lagi saat mengetahui jika wanita itu akan tinggal bersama kita,” jelas Irene mengungkap seluruh kekhawatirannya.
“Sebenarnya sulit sekali mencari ibu pengganti yang bersedia meminjamkan rahimnya untuk program bayi tabung ini. Dan kebetulan saat aku pertama kali datang ke Singapore untuk berkonsultasi dengan Dokter Kelly, aku bertemu Ms.Harper yang saat itu benar-benar kacau.”
Zean berhenti sejenak, ia menatap Irene yang sedang menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Orang tua Ms.Harper baru saja mengalami kebangkrutan karena itu dia jadi mengambil cuti kuliah untuk bekerja. Dan karena usianya masih cukup muda jadi kami sepakat jika Ms.Harper tinggal bersama kita agar nantinya kita bisa ikut memantau perkembangannya,” jelas Zean.
“Jadi, saat ini bisa dikatakan kalau kita tengah memanfaatkan situasi seorang gadis yang sedang membutuhkan uang, begitu?”
“Kita akan merusak masa depan gadis itu dengan kehamilannya nanti?”
Hening. Zean tak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Irene ada benarnya, tapi ini bukan kemauan sebelah pihak. Di sisi lain Ms.Harper juga ingin membantu program bayi tabung ini karena dia sedang membutuhkan uang dan bukan karena terpaksa.
“Baiklah. Jujur aku tidak mengerti dengan pikiranmu, Irene. Kenapa kau menolak saat kita sudah menemukan titik terang untuk masalah dalam pernikahan kita?”
“Kenapa kau sangat memikirkan Ms.Harper yang jelas-jelas sangat suka rela hendak membantu kita dengan imbalan yang sesuai.”
Zean menggeleng heran. Akhir-akhir ini kerap sekali pemikiran dirinya dan Irene tidak sepaham.
“Kenapa aku sangat memikirkan gadis itu? Karena aku juga seorang wanita, Zean. Jika aku diposisi Ms.Harper mungkin bisa saja aku terlihat seolah-olah sangat ingin membantu program bayi tabung ini, tapi jauh di dalam hatiku aku mungkin enggan melakukannya jika bukan karena masalah uang.”
“Baiklah, terserah padamu. Aku lelah berdebat denganmu, Irene,” ucap Zean lalu pergi meninggalkan Irene di kamar hotel.
Irene menatap kepergian Zean seraya memijat kepalanya yang pusing.
...***...
Irene membuka mata perlahan saat cahaya pagi yang menyilaukan mulai membangunkannya dari tidurnya beberapa jam lalu. Perdebatannya dengan Zean kemarin membuatnya sulit tidur ditambah Zean belum kembali sejak kemarin, entah dimana Zean tidur semalam. Kemarin Irene sangat ingin menghubungi suaminya itu, tetapi ia menahan niatnya. Irene berpikir lagi sebaiknya mereka saling memberi waktu untuk mengerti pikiran masing-masing karena terlalu banyak perdebatan yang membuat mereka tidak pernah sepaham.
Irene bersiap untuk sarapan pagi di restoran hotel. Dengan langkah malas ia mulai bergegas mandi.
“Apa pendapatku salah?” tanya Irene pada dirinya sendiri saat melihat pantulannya di cermin.
Irene memejamkan mata sesaat, penat sekali rasanya jika terus memikirkan hal itu. Irene mulai mengisi bathtub dengan air hangat, ia merendam dirinya seraya menatap langit-langit.
“Andai aku bisa memberinya keturunan, semua pasti akan berjalan dengan sangat mudah. Tidak perlu mengikuti program bayi tabung ini, tidak perlu melibatkan Ms.Harper, dan tentunya tidak menjadi beban untuk Zean.”
Irene menyeka air matanya, tanpa sadar ia sudah menangis dalam diam. Sakit, pedih sekali rasanya di hati wanita itu.
“Maafkan aku, Zean,” lirihnya.
“Aku tidak sempurna, aku telah gagal menjadi seorang istri untukmu, hiks…” tangis Irene pecah, ia tidak sanggup lagi menahannya.
Selesai mandi, Irene berganti mengenakan dress casual mini dengan motif garis polos. Ia duduk di meja rias seraya berdandan natural seperti biasa.
“Kau cantik, Irene. Kau cantik dan sangat beruntung. Beruntung karena Zean benar-benar mencintaimu dengan tulus, beruntung karena Zean masih ada di sisimu meski dia tau betul kekuranganmu,” ucap Irene melihat wajahnya di cermin.
Irene terus bermonolog dengan dirinya, ia merasa salah jika memanfaatkan Ms.Harper. Namun, di sisi lain ia tidak bisa menepis kebenaran jika kemauan Ms.Harper menjadi ibu pengganti sangat dibutuhkan.
“God, I'm so confused,” lirihnya.
Irene bangkit dari duduknya, saat mendengar drop bell kamar hotelnya berbunyi. Irene melihat dari layar intercom Ms.Harper berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ms.Harper,” sapa Irene saat membuka pintu kamar.
Tanpa basa-basi gadis itu langsung memeluk Irene.
“Tolong aku, kumohon,” ucapnya kemudian terdengar isak tangis, gadis itu menangis dalam pelukan Irene.
Irene membawanya masuk dan meminta duduk seraya menenangkan diri.
“Minum air ini,” Irene menyodorkan segelas air untuk gadis itu.
“Terima kasih, Mrs.Lorwerth.”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Irene.
Gadis itu menggeleng.
“Ada apa, Ms.Harper?”
Gadis itu beralih menatap Irene dan langsung meraih kedua tangannya. “Mrs.Lorwerth, kumohon. Biarkan aku tetap menjadi ibu pengganti untuk program bayi tabungmu.”
Irene mengerutkan dahi, bingung.
“Semalam, Mr.Lorwerth meneleponku. Dia mengatakan akan membatalkan kontrak denganku karena aku masih terlalu muda untuk menjadi ibu pengganti katanya,” jelas gadis itu.
“Ms.Harper, maafkan aku. Aku sendiri yang berdebat dengan Zean semalam karena menurutku kau masih cukup muda dan masih memiliki masa depannya yang panjang. Dan jangan khawatir, kami pasti akan memberikan uang kompensasi untukmu,” jelas Irene.
Gadis itu menggeleng. “Tidak, aku tidak mau. Uang kompensasi tidak akan cukup untuk melunasi hutang-hutang orang tuaku ditambah aku masih memiliki dua orang adik yang bersekolah. Aku benar-benar membutuhkan uang yang banyak, Mrs.Lorwerth.”
Gadis itu beranjak dari duduknya, ia tiba-tiba berlutut di hadapan Irene. “Mrs.Lorwerth, kumohon, bantu aku,” lirihnya.
“Bangun, Ms.Harper. Kau tidak seharusnya sampai berlutut begini,” ucap Irene membantu gadis itu berdiri.
“Aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi agar kau dan Mr.Lorwerth tidak membatalkan kontrak itu, hiks….” tangisnya.
Irene merasa kasihan dengan gadis di hadapannya ini, dia terlihat begitu putus asa.
“Apa kau benar-benar akan mengorbankan masa depanmu demi kontrak ini?” tanya Irene mencoba meyakinkan gadis itu.
Gadis itu mengangguk. “Bukan hanya masa depan, tapi aku akan mengorbankan apa pun.”
“Karena aku sudah menaruh harapan besar dan punya rencana untuk membuka usaha setelah kontrak ini berakhir. Aku sudah merencanakan kehidupan dan masa depan yang baik untuk orang tua dan adik-adikku, hiks…” ungkapnya.
Irene menghela napas perlahan. “Baiklah.”
“Ayo kita mulai program bayi tabung ini,” putus Irene akhirnya.