Stranger's In Love

Stranger's In Love
40|WE'LL SEE LATER



Rebecca hampir meloncat kaget, mendapati seseorang pria di kamarnya dengan setelan jas yang berantakan. Pria itu menatap menatap datar ke arah Rebecca yang masih mematung dengan herannya.


“Apa kau terkejut?” tanya pria itu.


Rebecca menghela napas gusar lalu beranjak mendekati pria itu lalu mentapnya dengan tajam.


“Bisakah kau berhenti menggangguku, James Lorwerth?” tanya Rebecca seperti sudah muak dengan pria di hadapannya itu.


James tersenyum lalu menyentuh wajah cantik Rebecca, namun dengan segera Rebecca menepis tangan James dari wajahnya.


“Jangan menyentuhku, James!” Rebecca memperingati James untuk tidak menyentuhnya.


James menaikkan sebelah alisnya lalu ia menarik pinggang Rebecca hingga tubuh mereka saling bersentuhan.


“James!” seru Rebecca.


“Kenapa kau bertingkah seperti seorang perawan yang takut dinodai, Rebecca?” sindir James.


Rebecca berusaha keras mendorong James agar menjauh darinya, namun sia-sia. James tidak mau melepaskannya.


“Jangan macam-macam denganku, James. Aku ini adalah calon istri seorang Arzean Lorwerth, kakakmu sendiri” ancam Rebecca.


James tertawa kecil, menggelikan rasanya mendengar Rebecca mengucapkan hal itu. Bagaimana bisa wanita itu mengancamnya dengan kata-kata menggelikan seperti itu.


“Kau sangat menyedihkan, Rebecca” ucap James pada Rebecca yang kini menatapnya dengan penuh amarah.


Apa yang sebenarnya diinginkan oleh James?


Baru saja Rebecca hendak bicara tiba-tiba James mengecup bibirnya.


Deg! Perasaan apa ini, jantungnya berdebar dan tubuhnya melemas hanya karena James mengecup bibirnya.


“Kenapa kau mencium—”


James mencium Rebecca begitu lembut, ia melingkarkan tangannya di pinggang kecil wanita itu. Rebecca berusaha keras untuk menghentikan James, namun James terlalu kuat untuk dihentikan. Rebecca menyerah, ia mulai menikmati ciuman itu.


James melepas ciumannya, memberi Rebecca kesempatan untuk mengatur kembali napasnya. James menatap dengan penuh ketulusan wanita di hadapannya ini.


“Bisakah kau hentikan semua kegilaan ini?” tanya James tiba-tiba.


Rebecca menautkan alisnya. “Apa maksudmu?”


James meraih kedua tangan Rebecca lalu mengelusnya dan menatap sekilas wanita itu kemudian mengecup punggung tangannya.


“Menikahlah denganku, Rebecca Hillton” ucap James tulus.


Rebecca menutup mulut tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh James, detik kemudian ia tertawa.


“Apa kau mabuk, James?” tanya Rebecca diiringi tawanya.


James hanya diam dengan ekpresi datarnya melihat tawa wanita itu.


“Apa aku terlihat mabuk?” jeda James.


“Apa kau pikir, aku sedang bergurau saat ini?” lanjutnya.


Deg! Rebecca menelan ludah susah payah. Ada apa dengan James?


“Mungkin ini terdengar gila. Tapi aku rasa, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa merasakan seperti saat bersamamu, ketika aku bersama wanita lain. Ada rasa yang berbeda saat aku bersamamu” ucap James tulus.


“Tapi aku tidak mencintaimu, James” sergah Rebecca.


“Tapi kau sedang mengandung anakku, Rebecca” James menatap perut Rebecca yang masih terlihat datar.


“Dengar, James” Jeda Rebecca, ia memijit kepalanya yang tak pusing.


“Memang benar kita pernah tidur bersama, tapi itu terjadi karena kita sedang mabuk. Kita melakukannya secara tidak sadar, bukan karena cinta atau rasa sejenisnya” lanjut Rebecca.


James menatap Rebecca lalu mengalihkan pandangannya. Rebecca benar-benar tidak waras, wanita ini sakit jiwa.


“Kau benar-benar gila, Rebecca. Dan kenapa aku harus jatuh cinta pada wanita gila sepertimu” James benar-benar frustasi, ternyata cinta tidak semudah itu.


“Aku tidak pernah memintamu untuk jatuh cinta padaku, bahkan aku juga tidak memintamu untuk bertanggungjawab atas kehamilanku karena kau bukan ayah dari anak ini” ucap Rebecca.


“Apa kau yakin akan bahagia jika menikah dengan Zean, orang yang jelas-jelas tidak mencintaimu?” tanya James.


Deg! Pertanyaan James mampu membuat Rebecca diam membeku.


James mendekatkan wajahnya dengan Rebecca. “Kau sangat liar, Rebecca” bisik James.


Rebecca hanya diam, menunggu James melanjutkan ucapannya.


“Apa kau tau? Apa yang harus dilakukan untuk menjinakkan anjing liar?” tanya James.


Rebecca mengepalkan tangan kuat-kuat, rasanya ia ingin menghantam mulut besar James yang mengatakannya liar dan menyindirnya dengan seekor anjing.


“Yang harus kau lakukan adalah, memasukannya ke kandang dan membiarkannya terus menggonggong” jawab James.


PLAK!!.... satu tamparan mendarat mulus di pipi James. Rebecca benar-benar sudah muak dengan pria dihadapannya ini.


“Jaga ucapanmu, James!!”


James menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan Rebecca.


“Lihat saja nanti, aku akan menjinakan anjing liar itu, Rebecca Hillton” ucap James dengan penuh penekanan di setiap kata.


“Jangan mengancamku dan jangan coba-coba mengacaukan rencanaku, James!” Rebecca memperingati James.


James tersenyum penuh kemenangan, ia berhasil membuat Rebecca merasa terancam.


“We’ll see later, Rebecca Hillton” ucap James beranjak pergi.


“Sialan kau, James!!!” teriak Rebecca.


.


.


.


***Hai reader's....


Dukung terus ya Author tercinta kalian ini, hehe...


Jejak Author bisa ditemukan di instagram @eldiian_


Jangan ragu untuk follow, kalian tinggal dm saja nanti Author pasti follback. Dari sana kalian bisa lihat karya-karya novel Author lainnya, salam hangat 💖***