
Hari ini entah kenapa rasanya waktu berjalan begitu lambat. Detak jantung Irene berdetak tak beraturan, setiap dengkupan terasa menegangkan.
Irene berdiri bak seorang putri dengan balutan gaun pengantin putih yang menyapu lantai ditemani heels senada dan seikat bunga yang digenggamnya gemetar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, begitu sempurna dengan polesan make up pengantin yang menambah kecantikannya hari ini.
Hari ini adalah hari paling bahagia yang dinantikan oleh semua orang tentunya. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Zean, pria yang sangat ia cintai. Semua mimpi buruk dan hal-hal rumit telah mereka lalui hingga akhirnya mereka tiba pada hari ini. Hari dimana janji suci pernikahan akan mereka ucapkan di altar nanti di depan pendeta dan para tamu undangan.
"Lihat putri kita, dia sangat cantikkan, Daniel" ucap Ainsley pada Daniel. Mereka berdiri di belakang Irene.
Irene tersenyum melihat pantulan diri Ainsley dan Daniel dari kaca itu.
Irene berbalik, menatap ayah dn ibunya itu.
"Terimakasih, aku sampai pada hari ini berkat kalian" ucap Irene tulus.
Ainsley mendekati Irene lalu memeluk putrinya itu.
"Kau sudah tumbuh menjadi putri kecil mom yang cantik. Mom minta kepadamu untuk selalu hidup bahagia apapun yang terjadi kau harus bahagia" ucap Ainsley masih memeluk Irene.
Daniel menghela napas perlahan. "Ayolah, kenapa kalian memainkan peran melodrama di hari yang bahagia ini" goda Daniel.
Ainsley menguraikan pelukannya lalu menatap Irene dan mereka tertawa bersama. Daniel benar, ini adalah hari bahagia.
"Nona, mobil sudah siap mengantar anda" ucap pelayan yang berdiri di depan pintu.
"Tentu" sahut Irene.
Lalu pelayan lainnya masuk dan membantu Irene dengan gaunnya agar memudahkan Irene berjalan ke luar.
"Berhati-hatilah nak, kami akan menyusul di belakangmu" pesan Daniel.
Irene hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
Ainsley dan Daniel menatap kepergian Irene, lalu Daniel merangkul Ainsley namun wanita itu malah menjauh darinya.
"Ada apa, Ainsley?" tanya Daniel yang merasa aneh dengan sikap Ainsley.
Ainsley mendelik, jelas sekali terlihat perubahan pada wajahnya.
"Terkadang kita harus pandai berperan di depan anak-anak, Daniel" ucap Ainsley.
Daniel menautkan alisnya bingung sambil menatap Ainsley, ia tidak mengerti maksud dari perkataan Ainsley.
"Apa maksudmu, Ainsley?" tanya Daniel polos.
Ainsley menghela napas perlahan, lalu tersenyum pada Daniel.
"Apa yang kau pikirkan tentang kita, Daniel?" tanya Ainsley.
Daniel hanya diam, ia menunggu Ainsley mengatakan semuanya.
"Apa kau pikir kita akan baik-baik saja setelah malam kemarin?" tanya Ainsley lagi.
"Ainsley" Daniel mulai paham kemana arah pembicaraan ini nantinya.
Pandangan Ainsley mulai muram, hatinya selalu sakit saat mengingat semua yang telah Daniel lakukan padanya.
Daniel menatap Ainsley, ia melihat sorot kekecewaan yang masih sama seperti saat Daniel menatapnya terkhir kali di masa lalu.
"Aku tidak bisa melupakan apa yang telah kau lakukan dulu, aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja dengan sakit dan kecewaku yang masih hingga saat ini, dan satu hal yang perlu kau ketahui untuk kebodohan yang kau lakukan di masa lalu" Ainsley berhenti sebentar untuk menghela napas yang terasa semakin berat karena ia meneteskan air mata tanpa ia sadari.
Daniel merasa bersalah lagi, ia sedih melihat wanitanya menangis seperti ini.
"Kebodohan yang kau lakukan itu sangat menyakitiku dan menghancurkan keluarga kita. Dan untuk kebodohan itu, tidak ada obatnya, Daniel. Mungkin saja kau akan menyakitiku, lagi. Untuk saat ini, aku tidak memaafkanmu tapi aku juga tidak membencimu" lanjut Ainsley lalu beranjak pergi meninggalkan Daniel.
Daniel masih diam mematung dengan semua ucapan Ainsley yang berhasil memenuhi otaknya. Daniel pikir apa yang terjadi semalam akan berlanjut hingga akhir, tetapi tidak, Ainsley hanya berpura-pura, dia benar-benar wanita yang tangguh.
***
Irene duduk di kursi belakang, detak jantungan semakin tak berirama, tangannya terus gemetar menggenggam seikat bunga itu. Irene benar-benar gugup saat membayangkan Zean yang sudah siap menantinya di altar nanti, lalu mereka mengucapkan janji suci pernikahan bersama-sama. Irene memejamkan mata sesaat sambil tersenyum, pikirannya berimajinasi liar hari ini.
Irene beralih, memalingkan wajahnya ke jendela. Tunggu, tunggu dulu. Irene menyadari sesuatu lalu ia menoleh ke belakang dan melihat mobil lain yang mengikuti mobil pengantinnya tertinggal jauh.
"Hey! Kenapa kau mengemudi dengan sangat cepat?! Dan ini bukan jalan menuju Gereja!" Irene mulai panik, ia baru menyadari bahwa sejak tadi supir itu mengemudi dengan sangat cepat.
Supir itu hanya diam, tak menghiraukan ucapan Irene sama sekali.
"Hentikan mobilnya sekarang juga atau aku akan menelepon polisi" ancam Irene, ia semakin panik karena mobil melaju ke arah luar kota.
Irene mencoba mencari ponselnya, ah sial. Irene tidak membawa apapun, ia hanya membawa dirinya dan seikat bunga ini. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?
Irene berpikir lalu mencoba membuka pintu mobil namun pintunya di kunci, apa ia benar-benar dalam bahaya saat ini?
Irene mencondongkan tubuhnya, lalu ia memukul-mukul bahu supir itu dari belakang dengan semua tenaga yang ia mikili.
"Hentikan mobilnya! Hentikan sekarang juga!" perintah Irene namun supir itu tidak menjawab, Irene pasrah.
Supir itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, Irene benar-benar harus melakukan sesuatu. Irene berusaha melepas heelsnya lalu ia mencoba untuk memecahkan kaca mobil dengan heelsnya.
Supir yang menyadari itu pun langsung mengerem mendadak membuat Irene tersentak.
"Wanita gila!" umpat supir itu kesal lalu ia melepas sealtbeltnya, menoleh ke belakang dan menatap Irene dengan penuh emosi.
"Dasar wanita menyebalkan! Tidak bisakah kau hanya duduk tenang dan diam saja!" keluh supir itu.
Irene melotot tak percaya supir itu malah memarahinya. Dengan heels yang masih ia genggam di tangan kanannya, Irene mencoba untuk memukul supir itu namun supir itu berhasil menghindar lalu supir itu mencekal kasar tangan Irene.
"Aawww" pekik Irene yang merasa sakit di ergelangan tangannya.
"Jangan macam-macam denganku, nona!" ancam supir itu.
"Kau yang jangan macam-macam denganku, brengsek!" Irene mulai kesal lalu ia memukul wajah supir itu dengan seikat bunga di tangan kirinya.
"Sialan, kau!"
PLAK!!! Supir itu menampar Irene hingga meninggalkan luka di sudut bibirnya. Irene merasakan perih akibat tamparan itu. Tak cukup sampai di situ, supir itu menjambak rambut Irene dan membenturkan kepalanya ke pintu mobil lalu Irene tidak sadarkan diri.
"Dasar wanita sialan!" supir itu kesal, lalu ia kembali melajukan mobil itu.
Entah apa yang akan terjadi di hari ini. Semua orang berpikir hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Irene dan Zean karena hari ini adalah hari pernikahannya. Namun ternyata, masih begitu banyak ujian untuk cinta mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya?