
Irene berjalan di lobby menuju lift, namun seseorang menghentikan langkahnya.
"Ms.Banner" panggilnya.
Irene menoleh, orang itu adalah karyawan pria yang mengarahkannya saat pertama kali menginjakan kaki di Lorwerth Corporation.
"Perkenalkan namaku Benny. Aku akan mengantarmu menuju ruang kerjamu, Ms.Banner" jelas Benny.
Benny berjalan mendahuli dengan Irene yang mengikutinya di belakang.
"Benny" panggil Irene, Benny menoleh ketika pria itu sudah menekan tombol lift.
"Jangan memanggilku dengan 'Ms.Banner'. Kau bisa memanggilku Irene saja" ucap Irene.
Benny tersenyum lalu pintu lift terbuka di lantai paling atas, lantai yang sama dengan letak ruangan Zean. Mereka berjalan menuju ruangan yang berada tepat di sebelah ruangan Zean.
"Baiklah Irene saja, ini adalah ruang kerjamu" ucap Benny sambil membuka pintu.
"Namaku Irene, bukan Irene saja" Irene terkekeh.
Benny tersenyum lalu mengangguk.
"Silahkan masuk, semangat pagi dan selamat bekerja" ucap Benny.
"Terimakasih, Benny"
Benny berlalu pergi meninggalkan Irene yang kini sudah memasuki ruang kerjanya. Irene mengedarkan pandangan menyapu seisi ruangan itu, luas, bersih dan nyaman. Irene memperhatikan setiap sudut ruangannya yang bernuansa putih itu, di ruangan itu juga ada jendela besar yang menampakkan indah pemandangan kota Boston.
Ponsel Irene bergetar, terdapat satu pesan masuk dari Stranger, Arzean Lorwerth.
"Hari ini aku tidak datang ke kantor, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai" isi pesan dari Zean.
Irene memilih untuk tidak membalas pesan itu, ia menlock ponselnya lalu memasukannya ke dalam tas.
"Aku tidak peduli" ucap Irene pada diri sendiri.
Irene duduk di kursi kerjanya lalu menghidupkan iMac dan mulai membuka berkas atau dokumen yang ada di meja. Irene membaca dan mencerna setiap isi dari berkas dokumen itu dan mulai bekerja. Tidak sulit, Irene hanya perlu mengatur atau mencocokan jadwal perjalanan bisnis Zean dan mengecek keperluan data, berkas dan dokumen apa saja yang diperlukan.
Irene bisa menghela napas lega, akhirnya pria asing itu mengerti jika yang diinginkan Irene hanyalah hidup normal dan bekerja sesuai kemampuannya. Sebenarnya Irene selalu memikirkan ucapan Zean yang mengatakan bahwa dia mencintai Irene. Namun sekeras mungkin Irene selalu menepis pikiran itu dan menetralkan hatinya, gadis itu tidak percaya akan yang namanya cinta. Irene berusaha fokus dengan pekerjaannya saat ini, namun tetap saja pikirannya kembali mengingat pria itu, Zean telah memenuhi seluruh ruang di otaknya.
πππ
Hari ini Zean tidak datang ke kantor karena dia harus menemui Rihanna Lorwerth, ibunya. Sebelum itu, Zean sempat mengirimkan pesan kepada Irene, tapi gadis itu tak kunjung membalas. Zean berjanji setelah urusannya dengan Rihanna selesai, ia akan menemui gadisnya itu.
Zean berjalan masuk ke ruang keluarga, di sana sedang berdiri seseorang dengan jas putihnya yang tengah memeriksa detak jantung Rihanna yang duduk di kursi roda. Seseorang dengan jas putih itu adalah Ainsley Lathecia, dokter pribadi keluarga Lorwerth. Rihanna sudah hampir lima tahun menghabiskan waktu duduk di kursi roda itu, karena kecelakaan mobil yang ia alami bersama Zean. Di hari peristiwa itu, Zean mengutuk dirinya karena menjadi penyebab dari lumpuhnya Rihanna hingga saat ini. Peristiwa itu terjadi ketika Zean menjemput Rihanna di bandara dan mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan akibat rem blong yang sepertinya sudah disabotase. Sejak saat itu hingga kini Zean merasa bersalah, bahkan ia harus melihat ibunya hanya bisa duduk di kursi roda.
"Zean" panggil Rihanna melihat putranya yang berdiri di dekat pintu, Dokter Ainsley menoleh lalu tersenyum pada Zean.
"Sepertinya aku harus kembali" ucap dokter Ainsley yang paham dengan situasi ini, karena sepertinya Rihanna dan Zean akan membicarakan hal serius.
Rihanna mengangguk dan tersenyum kepada dokter Ainsley yang mulai sibuk memasukan stetoskopnya ke dalam tas dokternya.
"Sampai bertemu besok, Dokter Ainsley" ucap Rihanna.
"Sampai bertemu besok" ucap Dokter Ainsley tersenyum kepada Rihanna dan Zean, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga itu.
"Jadi, apa kau merindukan putra tampanmu ini, bu?" goda Zean.
Rihanna terkekeh dengan sikap putra semata wayangnya ini.
"Tentu, tentu ibu merindukanmu" jeda Rihanna.
Zean hanya diam, menunggu Rihanna melanjutkan ucapannya.
"Kau adalah putra ibu yang paling sibuk sedunia, hingga jarang sekali bahkan tak sempat menemui ibu, jika tidak ibu yang memintamu untuk datang menemui ibu" lanjutnya.
Rihanna benar, Zean sangat jarang menemui ibunya karena Zean tinggal di penthouse tidak di rumah ini, tidak bersama Rihanna, Grissham dan James. Kenapa?
Karena Zean tidak kuat harus melihat Rihanna yang duduk di kursi roda, mengingat ini semua karena Zean. Rihanna selalu mengatakan pada putranya itu untuk tidak terlalu memikirnya dirinya karena ini bukan sepenuhnya salah Zean, Rihanna juga mengatakan ia lumpuh saat ini mungkin sudah takdir Tuhan, tapi Zean tetap saja selalu menyalahkan dirinya.
"Aku sekarang datang menemui ibu, jangan menyindirku seperti itu lagi" ucap Zean lalu memeluk Rihanna yang duduk di kursi roda.
Rihanna tersenyum dalam pelukan putranya.
"Zean, kau sudah dewasa. Usiamu sudah dua puluh tujuh tahun" ucap Rihanna.
Zean menguraikan pelukkannya lalu menatap Rihanna dengan tatapan bingung.
"Bersiaplah" ucap Rihanna kali ini terdengar tegas dan serius.
Zean menautkan alisnya bingung. "Bersiap untuk apa?"
"Bersiap untuk acara di hari itu" jawab Rihanna.
Zean hanya diam, mencerna setiap kata yang diucapan Rihanna. Detik kemudian Zean teringat akan sesuatu.
"Acara pertunanganmu dan Rebecca akan berlangsung minggu depan" ucap Rihanna menyadarkan ingatan Zean akan itu.
Deg! Jantung Zean seolah tak berdetak, mengingat acara pertunangan itu membuatnya teringat juga pada gadis yang ia cintai, Irene Banner. Zean benar-benar lupa jika dulu, tepatnya setahun yang lalu Rihanna pernah mengenalkannya pada anak dari sabahat Rihanna yaitu Rebecca dari keluarga Hillton.
Zean tidak mencintainya bahkan Zean tidak menyukainya. Lalu apa yang bisa Zean lakukan saat ini? Tidak mungkin menetang keinginan Rihanna, karena dengan mengingat alasan Rihana lumpuh saat ini sudah cukup membuatnya menderita. Zean tak pernah menentang keingin Rihanna, pria itu selalu berusaha membuat ibunya bahagia. Lalu apa yang akan terjadi? Apa untuk pertama kalinya Zean akan menentang keinginan Rihanna yang menginginkan Zean untuk bertunangan dengan putri sahabatnya yaitu Rebecca Hillton? Atau Zean akan meninggalkan Irene dan mengorbarkan cintanya pada gadis itu?