Stranger's In Love

Stranger's In Love
75|GRD GALLERY



Hari ini Cassandra diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah mengalami peningkatan dan mulai membaik. Allan yang terus menemani Cassandra selama tiga hari belakangan ini, kini ia akan mengantar Cassandra kembali ke Mansion.


“Terima kasih, Allan. Kau sudah merawat dan menemaniku selama ini, terima kasih juga karena tidak mengabari keluargaku karena jika mereka tahu bisa-bisa aku tidak diijinkan lagi mengembara ke sana ke mari, hehe…” ungkap Cassandra tulus.


Allan menatap Cassandra sejenak kemudian kembali fokus mentap jalan di depannya, mereka berada di dalam mobil yang melaju menuju Mansion.


“Bertahun-tahun kita berteman ini kali pertama aku mendengarmu mengucapkan terima kasih dengan tulus padaku,” sahut Allan seraya terkekeh.


Cassandra mencubit pelan lengan Allan. “Sialan, kau!”


“Jangan banyak bergerak, kau masih belum pulih benar,” tegur Allan.


Cassandra tertawa. “Jangan banyak bergerak atau kau takut aku mencubitmu dengan tenaga penuh? Haha…”


“Aku serius, Cassandra.” Nada bicara Allan terdengar berbeda kali ini.


Cassandra mendadak diam dan mengangguk canggung, hingga akhirnya mereka pun sampai di Mansion. Allan membukakan pintu mobil untuk Cassandra lalu memapah wanita itu masuk ke Mansion.


“Aku bisa sendiri, Allan,” ucap Cassandra yang merasa tidak nyaman dengan sikap baik Allan ini, tidak baisanya Allan seperti ini meski Cassandra tahu kebaikan Allan ini karena dia khawatir sebagai seorang teman.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Zean saat melihat Allan memapah Cassandra masuk ke kamar tamu.


Zean baru saja tiba di Praha sekitar pukul sepuluh pagi dan sejak hari pemebakan itu Allan dan Cassandra masih belum memberitahu Zean karena mereka tidak ingin Zean khawatir. Mereka berniat memberitahu Zean saat pria itu sudah kembali.


Allan membantu Cassandra duduk di bibir ranjang, sedangkan Zean masih terus menatap khawatir temannya itu.


“Cassandra ditembak oleh orang yang tidak dikenal,” jawab Allan akhirnya.


“Apa?” Raut wajah Zean mendadak berubah, ia nampak marah.


“Sudahlah, Zean. Aku baik-baik saja,” ucap Cassandra mencoba membuat suasana tidak terlalu tegang.


“Siapa pelakunya?” tanya Zean.


Allan menggeleng, ia juga masih belum tahu sampai saat ini dan masih belum ada kabar dari Irene sepertinya wanita itu belum sampai di Korea.


“Aku sudah mengerahkan orang-orangku untuk mencaritahu, tapi sejauh ini masih belum ada kabar. Yang pasti si pelaku ini sepertinya orang yang mahir,” ungkap Allan lalu ia menjelaskan secara detil hasil dari penyelidikan polisi dan orang suruhannya.


Zean mengepalkan tangan kuat-kuat, siapa kira-kira yang berani berbuat seperti ini pada Cassandra.


“Aku akan memerintahkan orang kepercayaanku untuk mengulas kasus ini. Untuk sementara tetaplah di Mansion, aku juga akan memperketat penjagaan di sini karena mungkin saja orang itu masih mengincarmu,” ucap Zean lalu ia seperti mengirimkan pesan pada seseorang lewat ponselnya.


Kemudian Zean menatap Allan. “Allan, jagalah Cassandra. Jangan biarkan dia sendiri,” pesan Zean sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Allan dan Cassandra hanya mengangguk patuh pada perintah Zean.


***


Irene tiba di Korea dan langsung menemui Tae-O. Mereka janji bertemu di sebuah Penthouse yang sudah di sewa Irene sebagai tempat rahasia untuk Tae-O.


“Wahh.. Daebak, Noona! Penthouse ini keren sekali!” Tae-O takjub melihat Penthouse mewah ini. (“Wahh.. Daebak, Noona!” artinya “Wahh.. Keren, Kak!”)


Tae-O menghempaskan tubuhnya di sofa, ia nampak bersantai ria menikmati suasana di sini. Padahal ini masih di Korea, rasanya seperti menginap di hotel luar negeri.


“Hei, Tae-O! Rumahmu kan mewah juga, kau ini orang kaya tapi kenapa heboh sekali saat tiba di sini?” tanya Irene heran melihat reaksi Tae-O.


“Hehe… Jangan terlalu serius, Noona. Kadang kita harus berdramatis,” jawabnya terkekeh, ternyata dia hanya bercanda. Sial.


Irene memutar bola mata malas. “Kau sudah makan?” tanya Irene kemudian.


Tae-O mengerutkan dahi bingung, sebenarnya tujuan Irene menemuinya ini untuk meminta bantuan atau memberinya tour lokal di negara kelahirannya sendiri sih?


“Noona, sebenarnya apa yang harus aku lakukan? Kenapa kau malah menjamuku seolah kita sedang berlibur?” Tae-O mengutaran kebingungannya.


Irene tersenyum. “Aku harus memberimu pelayanan sebelum kau menjalankan misi rahasia dariku.”


“Misi rahasia? Misi apa? Cepat beritahu aku,” Tae-O antusias sekali.


Selama ini Tae-O ingin sekali bisa melakukan sesuatu dengan bakat hackernya, ia bahkan punya cita-cita menjadi seorang agen CIA. Walau ia tahu itu sangat mustahil karena tidak ada satu pun di keluarganya yang mendukung Tae-O karena itu adalah pekerjaan yang sangat berbahaya.


Tae-O beranjak dari tidurnya beralih jadi posisi duduk di sofa itu.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Tae-O serius.


Irene mendekati pria itu lalu duduk di hadapannya. “Aku mau kau mencari informasi tentang seseorang.”


Tae-O tertawa lepas. “Hahahaha…. Hanya mencari informasi? Itu hal yang sepele dan sangat mudah bagiku, Noona. Kau tidak perlu sampai seperti ini.”


Irene tersenyum miring seraya menggeleng dan menatap Tae-O dingin. “Bukan sekedar informasi, Tae-O. Aku ingin kau mencari informasi histori perjalanan, transaksi rekening, data-data pribadi hingga menyadap seseorang.”


Tae-O spontan berdiri dengan mata yang membulat penuh, ia benar-benar kaget. “Benarkah, Noona? Kau ingin aku melakukan semua itu?”


Irene hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Yass! Uhuyy! Akhirnya aku mendapat misi khusus,” ucap Tae-O kegirangan, ia senang bisa membantu dengan kemampuan hacker yang ia miliki.


Namun, tiba-tiba senyum girang di wajah Tae-O memudar. “Tapi, tunggu dulu! Noona, bukankah semua itu ilegal? Itu berarti aku sama saja dengan cyber crime.”


Irene menghela napas sejenak. “Sejak kapan ada hacker yang memikirkan cyber crime?”


Tae-O kembali tertawa. “Hahaha.. Tentu saja tidak ada hacker yang peduli dengan itu. Aku hanya sedikit khawatir, hm.”


“Tapi siapa yang kau targetkan, Noona?” tanya Tae-O kemudian.


“Kakak kandungku yang merupakan sepupu jauhmu,” jawab Irene.


Tae-O langsung menggeleng tidak percaya. “Geraldine Ricardo?”


“Iya.”


“Kenapa, Noona. Ada apa dengan hyung?” tanya Tae-O nampak raut khawatir di wajahnya. (Hyung adalah pangilan adik laki-laki untuk kakak laki-lakinya)


Irene beranjak berjalan menuju balkon Penthouse yang menyuguhkan pemandangan indah Kota Seoul. Tae-O pun mengikuti wanita itu dari belakang.


“Noona,” panggil Tae-O seolah meminta jawaban.


Irene menatap Tae-O sejenak lalu kembali menatap indah pemandangan di depannya. “Entahlah, aku sendiri tidak tahu ada apa dengannya. Karena itu lah aku meintamu untuk mencaritahu.”


Tae-O mengangguk-ngangguk paham. “Oke, kalau begitu hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari beberapa informasi yang bisa diakses lalu perlahan kita akan mendekatinya kemudian mulai menyadap ponsel hingga melacak dan mengawasinya.”


“Wah! Sepertinya kau sangat bisa diandalkan,” ucap Irene merangkul adik sepupunya itu.


Mereka pun mulai mencari informasi terkait tentang Gerald. Tae-O sibuk menatap layar komputernya seraya berusaha mengakses beberapa situs gelap hingga berhasil menyelami dark web.



“Noona!” panggil Tae-O pada Irene yang sibuk mengetik pesan di ponselnya, ia berkirim pesan dengan Zean.


“Sepertinya aku menemukan sesuatu,” ucap Tae-O lagi.


Irene memasukan ponselnya lalu fokusnya beralih melihat layar komputer Tae-O. Di layar itu menampakan sebuah laman misterius, laman ini diakses Tae-O di sebuah situs internet gelap atau yang disebut dengan dark web. Dark web merupakan komponen web dalam yang menggambarkan luasnya konten yang tidak muncul melalui aktivitas penelusuran Internet biasa. Sisi kelam dari dark web bisa membuat seseorang membeli data diri seseorang, nomor credit card (CC), obat-obatan, bahkan meng-hack computer milik seseorang. Namun tidak semuanya ilegal, dark web juga memiliki sisi legal.


“GRD Gallery,” ucap Irene membaca judul laman tersebut.


“GRD Gallery, mungkin itu inisial untul Geraldine Gallery?” tebak Tae-O menerka-nerka.


“Bisa jadi,” sahut Irene.


Tae-O mencoba mengakses lebih lanjut terkait lama misterius itu, tapi tidak bisa karena proteksinya cukup kuat. Tae-o sulit menembus akses itu.


“Aku perlu menginstal beberapa proteksi lain yang lebih kuat untuk menerobos situs ini, Noona,” ungkap Tae-O.


Beberapa menit kemudian Tae-O akhirnya berhasil mengakses lebih dalam lagi hingga meretas seluruh keamanan dark web itu. Mereka menemukan sebuah katalog online seperti foto produk atau barang dagangan di GRD Gallery.


“Tidak mungkin!” seru Irene dan Tae-O bersamaan.