
Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)
.
.
.
Alice baru saja tiba di rumah pukul sembilan malam, ia melewati ruang tengah dan mendapati Irene yang sedang duduk sambil memakan cokelat dengan beberapa bungkus cokelat yang terlihat berserakan di atas meja, di dekat sofa bahkan hingga ke lantai. Alice bisa menebak adiknya itu sedang mengalami stres.
"Ada apa denganmu, monster cokelat?" ledek Alice.
Irene tak menghiraukan kedatangan Alice, ia tetap sibuk memakan kedua cokelat ditangan kanan dan kirinya. Irene bahkan enggan menatap Alice.
Alice menggeram kesal lalu merampas cokelat yang ada di tangan Irene.
"Apa kau ditolak bekerja di Lorwerth Corporation?" tanya Alice serius.
Irene menatap Alice dengan tatapan malas lalu mengambil kembali cokelat yang dirampas Alice.
"Entahlah" ucap Irene sambil memakan cokelatnya.
"Ayolahh, Irene! Ceritakan padaku" pinta Alice, namun Irene hanya diam sibuk memakan cokelatnya.
'TING....NONG....TING....NONG....'
Terdengar suara bel. Alice dan Irene saling menatap. Siapa yang datang bertamu, bahkan mereka baru saja pindah ke Boston kemarin.
Alice menatap arloji yang melingkah ditangan kirinya. "Siapa yang bertamu malam begini?"
"Aku tak memiliki teman di kota ini. Itu sudah pasti temanmu, Alice" sahut Irene dengan cokelat yang memenuhi mulutnya.
Alice menatap Irene sekilas lalu menatap layar ponselnya.
"Kalau begitu, aku sedang malas menerima tamu. Jadi bisakah kau membuka pintu itu, lalu katakan pada tamuku untuk segera pergi?" pinta Alice dengan suara manja lalu ia berjalan menuju kamarnya.
Irene memutar bola mata malas. Enggan beradu dengan Alice, ia mengalah lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Irene mengintip dari lubang pintu, oh ghost! Seorang pria dengan kemeja putih dan jas yg disampirkan di tangan kirinya pria itu berdiri membelakangi pintu.
Dilihat dari cara berpakaiannya Irene yakin, pria itu adalah rekan kerja Alice. Dengan malas Irene membuka pintu itu.
"Maaf, tuan. Siapapun kau, Alice bilang dia sedang malas menerima tamu" ucap Irene to the point pada pria yang masih membelakanginya itu.
Pria itu berbalik, tersenyum dan mata cokelat yang indah milik pria itu kini menatap Irene dengan intens.
Irene terdiam sedikit kaget, ia menatap pria di hadapannya itu dengan penuh rasa bingung.
"Aku ke sini untuk menemuimu, Ms.Banner" ucap Zean yang seolah tau arti dari tatapan bingung gadis itu.
Oh pria ini lagi, kenapa dia selalu mengganggu Irene. Apa yang dia inginkan dari Irene?
"Kau? Darimana kau tau alamatku?" tanya Irene.
Ah sungguh pertanyaan bodoh, jelas Zean tau di e-mail itu pasti memuat semua tentang dirinya, pasti tercantum alamat rumah ini.
Zean menaikkan sebelah alisnya.
"Apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu, Ms.Banner"
"Hentikan omong kosongmu, stranger! Kenapa kau menemuiku?" tanya Irene.
Zean menarik pinggang Irene hingga tubuh mereka berdekatan.
"Aku merindukanmu" bisik Zean.
Tubuh Irene menegang, jantungnya berdebar kencang hanya karna Zean mengucapkan 'aku merindukanmu' ? Oh sepertinya Irene sudah sedikit gila karena orang asing ini. Irene kembali sadar pada dunia nyata, lalu ia mendorong Zean agar menjauh darinya.
"Dengar ya, stranger! Kemarin kau menciumku, tadi kau memelukku dan sekarang kau menggodaku. Dasar brengsek!" ucap Irene penuh emosi lalu dengan segera ia menutup pintu. Namun tangan kekar Zean menghalanginya.
Oh, sungguh menyebalkan!
"Ikutlah denganku, aku ingin kita bicara. Ini soal pekerjaan--"
"Ini sudah malam, besok saja" potong Irene.
"Ku mohon, Irene" pinta Zean dengan nada rendah.
Oh god! Kenapa Irene meleleh mendengar Zean memanggil nama depannya. Sungguh orang asing ini, lama lama bisa membuat Irene gila.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Irene, kini mereka berada di mobil Zean.
Irene rishi dengan tatapan Zean yg terlihat aneh, tatapannya terlihat seperti menahan tawa. Oh ya, hampir saja lupa. Siapa yang tidak menahan tawa jika melihat penampilan Irene saat ini, ia hanya mengenakan piyama tidur dengan rambut yang berantakan.
Irene sengaja tidak mengganti pakaiannya dan langsung menurut ketika Zean meminta keluar bersama, ini ia lakukan agar Zean merasa ilfeel dengan penampilannya. Kita lihat saja, Zean akan memintanya turun atau akan melajukan mobilnya.
"Sepertinya kau harus makan sambil bercermin, Irene" ledek Zean, lalu tangannya tergerak menyentuh sudut bibir Irene yang terdapat sisa cokelat di sana.
Deg! Irama jantung Irene berdetak tak beraturan. Oh god!! Sungguh pria ini membuat Irene benar-benar gila sekarang.
Pandangan Zean jatuh pada bibir ranum gadis itu, hanya dengan melihatnya saja mampu membuat Zean ketagihan untuk menciumnya. Zean mencondongkan tubuhnya, sontak membuat Irene langsung menutup mulutnya.
"Jangan coba-coba menciumku lagi, idiot stranger!" ucap Irene masih menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Zean menggeleng diiringi smirk khasnya.
"Kau bersikap seperti perawan yang takut dinodai, Ms.Banner" ledek Zean.
"Atau jangan-jangan kau memang belum pernah dicium pria manapun selain diriku ya?" sambungnya.
Ya, Zean memang benar, dia adalah satu-satunya pria yg pernah menikmati bibir Irene, oke lebih tepatnya Zean adalah pria pertama yang menciumnya. Oh ghost! He's the first kiss! Damn it!
Irene mengepalkan tangannya kuat-kuat, beraninya pria asing ini meledeknya, detik kemudian Irene melingkarkan tangannya di leher Zean lalu menciumnya dengan panas. Zean tersentak dengan apa yang dilakukan Irene sungguh diluar dugaannya. Zean membalas ciuman Irene, sungguh bibir gadis ini sangat memabukkan.
Mereka melepas ciumannya dan berusaha mengatur napas. Entah kenapa Irene mulai menyukai ini 'ciuman' , bodohnya ia mencium pria asing dan brengsek ini. Padahal dalam ekspektasinya, ciuman pertamanya akan diambil oleh pria yang ia cintai, tampan dan baik hati yang juga mencintainya sepenuh hati. Tapi nyatanya? Ciuman pertamanya diambil oleh pria asing gila yang brengsek dan seperti iblis.
Malam ini, Irene mengutuk perbuatannya mencium Zean hanya demi pembuktian, ledekan Zean benar-benar api yang menyulut emosinya.
"Semua ucapanmu tentang diriku salah! Aku bahkan sangat ahli dalam hal ini. Dan ya, satu lagi, kau bukan satu-satunya pria yang menciumku, bahkan ada lebih dari 1000 pria yang pernah menciumku!!" ucap Irene terdengar serius.
Zean menatap Irene sejenak lalu mengindikkan bahu "Aku tidak peduli!" ucap Zean lalu melajukan mobilnya.
"Brengsek, kau!"