
Irene terdiam, duduk sambil menatap nanar jendela apartemen di lantai dua puluh tujuh itu yang menampakan indah gemerlap malam yang dihiasi lampu-lampu di bawah sana. Irene menyentuh perut datarnya lalu mengusapnya lembut.
"Apa kita akan baik-baik saja?" ucapnya putus asa berbicara dengan bayi dalam kandungannya.
Saat ini Irene benar-benar khawatir dan Irene hanya ingin bayinya tetap sehat, bayinya tetap aman dan bayinya bisa selamat. Irene pikir, dia adalah orang yang paling mengenal Hans tapi nyatanya tidak. Irene bahkan tidak pernah berpikir atau bisa membayangkan jika Hans memiliki sisi buruk seperti yang ia lihat saat ini.
Banyak hal yang sudah mereka lalui di Tokyo, banyak waktu yang mereka habiskan sebagai seorang teman dekat yang saling memahami satu sama lain. Irene sangat senang dan merasa nyaman berteman dengan Hans. Tetapi saat ini semua berbanding terbalik, Irene sangat takut bahkan saat Hans menatapnya, tatapan pria itu, berbeda.
"Bagaimana, Irene?" tanya Hans membuyarkan pikiran Irene.
Irene menoleh, ternyata Hans sudah duduk di sampingnya tanpa ia sadari.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Hans?" tanya Irene dengan tatapan nanarnya.
"Sudah ku bilang, jangan menatapku seperti itu. Aku benci melihatnya, Irene !!" bentak Hans.
Irene memejamkan mata sesaat, entah sudah berapa kali Hans membentaknya seperti itu. Irene ingin menangis, sikap Hans sangat kasar padanya.
"Lalu coba katakan apa yang harus aku lakukan saat ini? Katakan, tatapan seperti apa yang kau inginkan? Beritahu aku, Hans. Apa yang salah denganmu? Apa yang menganggumu? Apa yang kau -"
PLAK ! Hans kembali menampar Irene. Hans tidak membenci Irene, Hans marah dan benci pada dirinya sendiri. Hans tidak mengerti, rasanya ia ingin sekali menyakiti Irene tetapi setelah itu ia justru merasa bersalah dan ingin melindungi gadis itu.
Irene menyentuh pipinya yang terasa perih, ia mengatur napasnya dan kembali menatap Hans.
"Apa dengan menamparku kau merasa puas, Hans?" tanya Irene.
Hans mengacak rambut frustasi lalu memalingkan wajahnya sejenak dan kembali menatap Irene.
"Bagaimana jika aku yang memintamu, katakan, Irene" lirih Hans.
Irene terdiam, ia tidak mengerti apa yang sedang Hans bicarakan.
"Katakan, Irene !!" teriak Hans.
Irene menunduk, tubuhnya bergetar ia sangat takut saat ini.
Hans mencekal kasar pipi Irene agar ia bisa menatapnya. Irene meringis kesakitan tapi Hans tidak peduli.
"Kau harus menatap orang yang sedang bicara denganmu" ucap Hans masih mencekal pipi gadis itu.
"Katakan, Irene !!" perintah Hans.
Irene tidak tahan lagi, ia menangis menahan sakit karena sikap kasar Hans.
Sebenarnya Hans sendiri benar-benar frustasi dengan sikap kasarnya terhadap Irene yang entah ia sadari atau tidak. Hans melepas cekalan tangannya yang kini meningkalkan bekas merah pada pipi Irene.
Irene menyentuh kedua pipinya yang terasa sakit.
"Bagaimana sakitnya?" Hans beranjak dari duduknya mendekat ke jendela lalu membuka jendela itu. Hans membiarkan angin malam leluasa masuk ke ruangan itu.
"Hans," panggil Irene lirih.
Hans tidak menjawab tapi ia menatap Irene sebagai tanggapannya.
"Apa aku pernah menyakitimu hingga kau bertindak sejauh ini?" Irene mengangkat wajahnya mencoba untuk tegar menatap mata Hans.
Hans menyunggingkan seulas senyum kecil, detik kemudian ia tertawa lepas.
Irene mengerutkan dahinya bingung, apa ada yang salah dengan pertanyaan Irene tadi?
Hans mendekati Irene lalu merengkuh kedua tangan Irene yang bergetar.
Hans mengalungkan kedua tangan Irene di lehernya dan tangan Hans melingkari pinggang kecil Irene lalu mereka mulai menggerkan kaki ke kanan dan ke kiri lalu maju dan perlahan mundur, mereka berdansa tanpa alunan musik romansa di ruangan dengan jendela yang terbuka itu.
Irene menatap sekeliling ruangan itu dengan perasaan paranoid. Setelah berdansa apakah Hans akan melemparnya dari jendela itu? Mungkin sajakah, mengingat mereka berada di lantai dua puluh tujuh apartemen ini. Jantung Irene langsung berdetak kencang memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja akan Hans lakukan padanya.
"Apa kau mau mendengar cerita dariku, Irene?" tanya Hans membuka suara.
Irene mengganguk pelan sebagai jawaban iya, dan mereka masih tetap berdansa.
"Aku tidak mengerti kenapa aku berpura-pura dan payah dalam mengungkapkan perasaanku padamu" Hans terdengar menyesal dalam ucapannya.
Seketika Irene terdiam, ia enggan untuk berdansa lagi bahkan enggan untuk berbicara saat ini. Jadi selama ini Hans menyukai Irene?
"Tetaplah berdansa denganku, Irene" pinta Hans mengalungkan tangan Irene di lehernya lalu mereka kembali berdansa.
Irene gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya. Irene sangat takut.
"Kenapa kau membuatku jatuh cinta, sedangkan kau sibuk mencintai pria lain?" tanya Hans meyeka air mata Irene.
"Awalnya aku selalu mengabaikan perasaan ini tetapi setiap kali aku melihat Zean berjuang untukmu aku merasa marah, aku merasa benci dan kesal ketika pria lain berusaha untuk meperjuangkan cintamu sedangkan aku berusaha keras untuk mengabaikan perasaan ini karena aku ragu jika perasaan ini adalah cinta" Hans kembali berbicara, membuat perasaan Irene semakin tercabik.
"Katakan, Irene" Hans terdiam, menghentikan dansa mereka.
Irene masih diam, mencoba untuk tetap tenang dan mendengarkan Hans.
"Aku yang jatuh cinta? atau kau yang membuatku jatuh cinta?" Hans tertawa lirih.
Irene memejamkan mata lalu tertunduk. "Maafkan aku, Hans" ucapnya lemah.
Irene bingung, harusnya ia marah dan benci karena Hans telah menyakitinya dan mengacaukan pernikahannya. Ternyata Hans menyukai Irene, dia bertindak sejauh ini karena dia mencintai Irene. Tapi Hans tidak pernah mengatakan apapun, Hans juga tidak pernah menunjukkan jika dia mencintai Irene. Irene merasa bersalah untuk itu, Hans selama ini terluka, tersiksa dengan perasaannya karena dirinya sendiri yang payah dalam mengungkapkan dan ragu akan perasaannya.
"Apa yang harus aku lakukan padamu saat ini, Irene?" tanya Hans seraya menatap ke arah jendela yang terbuka lebar itu.
Irene yang menyadari itu pun segera menjauh dari Hans namun Hans berhasil mencekal tangan Irene lalu menariknya mendekati jendela.
Irene menelan ludah susah payah, tubuhnya kembali bergetar saat melihat ke luar jendela. Jika Irene di dorong dari jendela ini sudah dipastikan ia akan tamat.
"Lihatlah, Irene. Bukankah malam ini berbeda, malam ini begitu indah" bisik Hans lemah.
Irene menggeleng lalu Hans menarik rambut Irene hingga ia meringis kesakitan.
"Aw!! Lepaskan aku, Hans" pinta Irene.
"Aku mengacaukan pernikahanmu dengan cara menculikmu. Kita baru saja memulai permainan tahap kedua tapi kau meminta agar aku melepaskanmu?" Hans memperjelas keadaan membuat Irene semakin takut.
"Coba kau bayangkan, jika aku melepaskanmu di sini, ck! " Hans berdecak sebal saat mendengar bel apartemen berbunyi.
Irene bernapas lega saat Hans melepaskan tangannya dari rambut Irene. Lalu Hans beranjak untuk mengecek siapa yang membunyikan bel apartemennya.
Hans mengecek intercom doorbellnya, di sana terlihat salah satu anak buahnya yang terlihat panik. Lalu dengan segera Hans membuka pintu apartemennya.
"Gawat, bos" sambar anak buah Hans.
Hans mengerutkan dahinya bingung.
"Seseorang bernama Zean sedang mencarimu, sepertinya kau harus bergerak cepat sebelum dia berhasil menemukanmu" jelasnya tergesa-gesa.
Hans memijit kepala yang tiba-tiba pusing.
"Damn, shit !!" umpat Hans kesal, lalu ia bergegas membawa Irene.