
“Pagi, Alice” sapa Irene pada Alice yang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Alice menoleh, ia menghentikan kesibukkannya sejenak lalu tersenyum menatap Irene.
“Pagi, adik tersayangku” ucapnya.
“Bau apa ini, Alice?” tanya Irene sambil menutup hidungnya.
Alice menautkan alisnya bingung, tidak biasanya Irene seperti ini. Lagi pula ini hanya aroma daging yang di tumis dengan bawang
bombai. Alice sempat berpikir, sepertinya Irene hanya sedang bercanda dan menggodanya di pagi hari.
“Jangan bercanda, Irene. Ini hanya aroma daging yang ditumis dengan bawag bombai, lagi pula bukankah ini salah satu makanan favoritmu” ucap Alice.
Irene tidak menghiraukan ucapan Alice, aroma masakan ini sangat menganggu indra penciumannya bahkan kini Irene mulai merasa mual dengan aroma ini. Tiba-tiba Irene langsung menutup mulutnya mencoba untuk menahan rasa mualnya.
Alice yang melihat perubahan reaksi pada Irene pun mulai panik.
“Apa kau baik-baik saja, Irene?” tanya Alice khawatir.
Irene tak menjawab, ia hanya diam dan masih tetap menutup mulutnya mencoba untuk menahan rasa mualnya. Namun kini kepalanya mulai terasa pusing, sepertinya ini efek dari kehamilannya atau karena ia masih mengalami morningsickness.
“Irene, sepertinya kau sakit. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu, karena Kim ada jadwal operasi pagi ini” ucap Alice.
Mendengar itu, Irene langsung panik. Apa yang akan terjadi jika ia diperiksa oleh dokter? Alice pasti akan mengetahui bahwa Irene tengah hamil saat ini. Oh Tuhan, tolong jangan biarkan itu terjadi.
“Jangan, Alice!” pinta Irene.
Alice bingung dengan sikap aneh Irene, tidak biasanya Irene seperti ini.
“Kau terlihat kurang sehat, Irene. Kita harus memanggil dokter untukmu” sergah Alice.
Irene mengehela napas perlahan, susah payah ia mencoba untuk terus menahan rasa mual ini.
“Aku baik-baik saja, Alice” ucap Irene.
Alice mendelik kesal pada Irene. “Tapi kau tidak terlihat baik-baik saja. Jangan keras kepala, Irene”
“Alice, aku—” ucapan Irene terpotong karena ia tidak bisa menahan rasa mualnya.
“Uwekk.... uwekkk....” Irene langsung menuju washtafel.
Dengan segera Alice mengikuti dari belakang, melihat Irene seperti ini kekhawatiran Alice semakin menjadi.
Irene berpegang pada washtafel mencoba untuk menjaga tubuhnya agar tidak ambruk, ia mulai merasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Detik kemudian ia bisa merasakan Alice merangkulnya dan setelah itu ia tidak sadarkan diri, Irene pingsan.
***
Irene mengerjap-ngerjapkan matanya, kesadaran mulai menghampiri dirinya. Perlahan ia membuka mata dan mendapati Alice dan Gerald yang tengah duduk di sofa dengan Alice yang menangis.
“Alice! Gerald!” panggil Irene lemas.
Alice dan Gerald menoleh di saat bersamaan, mereka menatap dingin Irene yang duduk di ranjang. Alice dengan mata sembabnya menatap tajam Irene, sedangkan Gerald dengan wajah dingin dan rahang yang mengeras menatap Irene dengan penuh rasa kecewa.
Melihat perubahan pada raut wajah Alice dan Gerald, Irene paham kemana arah pembicaraan ini nantinya, inilah yang sangat Irene takutkan, inilah kekhawatirannya yang akan terjadi.
“Katakan, Irene!” bentak Gerald yang kini beranjak dari duduknya berjalan mendekati Irene yang duduk lemas di ranjang.
Deg! ini adalah kali pertama Gerald membentaknya, ini adalah kali pertama Gerald terlihat benar-benar marah padanya. Irene hanya menunduk, ia tidak punya keberanian untuk menatap mata Gerald ataupun menatap ke arah Alice yang masih sibuk menyeka air matanya.
“Siapa yang melakukan ini padamu, Irene” ucap Gerald kini dengan nada penuh kekecewaan.
Sakit rasanya, kehamilan Irene benar-benar menyakiti Gerald. Sebagai seorang kakak, Gerald sudah gagal menjaga adiknya, menjaga kehormatan salah satu wanita di hidupnya, adik kandungnya.
Irene memejamkan mata dan seketika bulir air menetes membasahi kedua pipinya.
“Maafkan aku” ucap Irene lirih.
Kini giliran Alice yang beranjak mendekati Irene lalu Alicememeluk Irene, begitu erat, sangat erat.
Alice benar-benar kecewa dan merasa bersalah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Irene dengan baik, ia benar-benar merasa telah gagal.
Irene menggeleng pelan.
“Tidak, Alice” sergah Irene.
Tidak ada yang harus disalahkan, semua ini karena cinta pada waktu yang salah yang terjadi diantara Irene dan Zean.
“Ku mohon katakana, Irene!” pinta Gerald untuk yang kesekian kalinya.
Irene masih diam, enggan untuk mengatakan apa yang terjadi padanya. Tidak mungkin jika ia menceritakan hal bodoh yang ia lakukan dengan Zean. Tuhan, apa yang harus Irene lakukan?
“Katakan, Irene. Ingat, kau tidak boleh egois karena bayi dalam kandunganmu membutuhkan ayahnya” ucap Alice sambil mengelus perut Irene.
Irene menunduk, menatap perutnya lalu tersenyum kecut. Apa yang harus Irene katakana? Tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa ia sedang mengandung anak dari seorang Arzean Lorwerth yang akan menikah dengan Rebecca Hillton beberapa hari lagi, benar-benar gila.
“Dia sedang mengandung anakku” ucap seseorang yang berdiri di ambang pintu, sontak Irene, Alice dan Gerald menoleh.
“Kim” ucap Irene tak percaya, apa yang sedang Kim lakukan? apa dia sudah gila?
Kim berjalan mendekati mereka, entah apa yang ada di pikiran Kim saaat ini yang pasti ia benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Gerald mengeplkan tangan kuat-kuat dan “BUGH!!” satu pukulan tepat mengenai wajah tampan Kim yang membuatnya langsung jatuh tersungkur ke lantai.
“Hentikan, Gerald!!” teriak Alice dengan segera memeluk Gerald untuk menghentikan pria itu.
“Lepaskan aku, Alice!” pinta Gerald, ia tidak ingin menyakiti Alice dengan emosinya yang memuncak saat ini.
Kim berusaha berdiri lalu menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih, sudut bibirnya berdarah akibat hantaman dari Gerald.
“Mianhae” ucap Kim, seolah itu tulus permintaan maaf olehnya.
“Tidak, Kim!” sergah Irene.
Baru saja Kim hendak bicara, Irene sudah mendahuluinya.
“Bukan, Kim. Kau tidak bisa bertindak sesukamu, kau tidak bisa mengambil keputusan gila ini hanya karena ingin melindungiku. Kim berbohong, dia tidak tahu apapun soal kehamilanku” ucap Irene dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Irene benar-benar lemas, ditambah kekacauan yang terjadi di ruangan ini rasanya Irene ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga.
“Aku akan menikahi Irene. Dia benar-benar mengandung anakku, bisa kita hitung usia kandungannya sesuai dengan keberadaannya di Korea” ucap Kim.
Alice menutup mulut tak percaya, kebenaran macam apa ini?
“Apa kalian sudah gila! Kalian bersaudara tapi kalian berani berbuat dosa seperti ini!” bentak Gerald.
Air mata kembali menetes, membasahi pipi Irene yang baru saja kering. Hal gila macam apa yang akan terjadi selanjutnya? Irene serba salah, pikirannya kacau dan hatinya bingung. Tidak mungkin jika ia harus
menikah dengan Kim, sepupunya sendiri. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika ia
harus mengatakan bahwa anak yang ia kandung adalah anak dari Arzean Lorwerth
yang akan menikah beberapa hari lagi. Dunia benar-benar membunuhnya secara
perlahan.
“Aku dan Alice akan mengatur pernikahan kalian, mau tidak mau kalian harus menikah!” titah Gerald lalu beranjak pergi yang diikuti Alice di belakangnya.
Irene menunduk, sudah ribuan kali air mata menetes tanpa henti bahkan ia merasa tidak bisa menangis lagi karena air matanya sudah
kering. Mengapa untuk bertahan dan mencintai Zean harus semenyakitkan ini?
Kim menatap Irene yang masih menunduk, Kim tahu gadis itu sedang menangis jauh di dalam hatinya ada banyak luka yang tiba-tiba basah secara bersamaan.
“Mianhae, Irene. Hanya ini yang bisa aku lakukan” ucap Kim.