
Apakah Zean begitu sibuk dengan pekerjaannya atau Irene memang sudah tidak penting lagi baginya? Berulang kali Irene meminta Zean untuk memeriksakan kandungannya namun Zean menolak, bahkan Irene ingin memanggil dokter pribadi untuk memeriksanya namun Zean tidak mengijinkan. Saat ini Zean sangat sibuk jadi ia tidak bisa menemani Irene atau pun menuruti keinginannya itu. Jujur, Irene kecewa.
"Haruskan aku pergi sendiri?" Irene menatap pantulan dirinya di cermin, ia sudah rapi dengan dress berwarna mocca dan flat shoes hitam yang membungkus kaki putihnya.
"Aku tidak bisa menunggu Zean terlalu lama lagi, aku ingin tahu kondisi bayi ini, apa bayiku baik-baik saja? Apa dia selalu sehat dalam kandunganku?" Irene bermonolog.
Irene sudah memikirkannya matang-matang. Irene memutuskan untuk pergi sendiri memeriksakan kandungannya. Karena menunggu Zean sangat memuakan baginya. Zean terlihat tidak peduli, ia malah sibuk dengan pekerjaannya, menyebalkan.
Irene menyambar kunci mobilnya lalu menuju rumah sakit ternama di kota itu, sebelumnya Irene memang sudah membuat janji dengan Dokter Anna, dokter kandungan yang menangani Irene.
"Selamat pagi, Ms.Banner" sapa Dokter Anna sesaat setelah Irene memasuki ruangannya.
Irene tersenyum ramah pada Dokter Anna lalu duduk berhadapan untuk konseling.
"Pagi, Dokter Anna"
Dokter Anna melihat sekilas perut datar Irene lalu menatap Irene sambil tersenyum ramah.
"Ini pemeriksaan pertama anda, Ms.Banner. Apa ada keluhan sebelumnya?" tanya Dokter Anna memastikan keadaan Irene terlebih dahulu.
Irene menghela napas perlahan, ia tidak begitu yakin tapi entah kenapa ia mempunyai firasat buruk terhadap kandungannya.
"Begini, dok. Akhir-akhir ini aku sudah tidak pernah muntah, mual bahkan pusing. Aku mulai menyadari ini sejak dua minggu terakhir. Aku merasa seperti wanita sehat pada umumnya, bukankah ini aneh bagi seorang wanita hamil?" Irene ragu pada ucapannya.
Dokter Anna nampak berpikir, mencerna keluhan Irene itu.
"Sebenarnya wanita hamil itu berbeda-beda, Mr. Banner. Tergantung pada bayi dalam kandungnnya, mungkin saja selama minggu-minggu ini anda tidak mengalami mual dan pusing tetapi bisa saja minggu berikutnya anda akan mengalami mual dan pusing yang lebih hebat dari biasanya" jelas Dokter Anna.
Irene nampak mengangguk-ngangguk paham dengan penjelasan Dokter Anna.
"Kita tidak tahu jika hanya menerka-nerka seperti ini, untuk lebih jelasnya mari kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut" Dokter Anna beranjak mengarahkan Irene untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dokter Anna melakukan Tes USG untuk memantau kesehatan ibu dan janin, serta mendeteksi ada atau tidaknya kemungkinan komplikasi selama masa kehamilan.
"Ms. Banner" Dokter Anna menatap Irene dengan wajah yang penuh keraguan.
Irene menatapnya sebagai tanggapan.
"Saya akan melakukan tes sekali lagi untuk lebih meyakinkan kita karena saya menemukan kejanggalan. Tapi saya mohon agar anda tetap tenang, Ms. Banner" pinta Dokter Anna.
Irene mulai memikirkn hal-hal paling buruk yang mungkin bisa terjadi. Kejanggalan apa yang dimaksud oleh Dokter Anna?
Dokter Anna kembali ke mejanya sambil terus menatap hasil Tes USG Irene. Irene duduk di hadapan Dokter Anna dengan penuh kebingungan karena melihat raut wajah Dokter Anna yang sulit diartikan.
Melihat raut wajah Dokter Anna saat ini, jelas terlihat jika hasil tesnya pasti mengecewakan bagi Irene. Apa kandungan Irene bermasalah?
"Apa semua baik-baik saja, dok?" tanya Irene, ia tidak sabar mendengar hasil tes itu.
Dokter Anna mengangkat kepala perlahan mencoba untuk menatap Irene sambil tersenyum paksa, jelas terlihat ada penyesalan pada sorot mata Dokter Anna.
Dokter Anna bergeming, masih memikirkan kata-kata untuk menjelaskan hasil tes ini.
"Dokter Anna" panggil Irene, detak jantungnya semakin tak karuan menunggu Dokter Anna menunjukan hasil tesnya.
Dokter Anna menghela napas perlahan, berat baginya sebagai seorang dokter untuk menjelaskan ini.
Irene masih diam menunggu Dokter Anna melanjutkan ucapannya.
"Hasil tes anda menunjukan bahwa tidak ada bayi dalam kandungan anda, bahkan..." Dokter Anna menggantung ucapannya, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Deg! Irene tercekat, ia merasa ribuan jarum menusuk jantungnya secara bersamaan.
"Bahkan apa, dok? Katakan!" Irene mulai panik, jantungnya berdebar sangat cepat. Apa kekhawatiran Irene selama ini benar, jika ada yang salah dengan kandungannya?
"Bahkan tidak ada rahim di perut anda, Ms. Banner" lanjut Dokter Anna.
Irene meluruh, seluruh tubuhnya terasa lemas. Matanya mulai memanas, inikah alasan Zean selalu menolaknya saat Irene meminta untuk memeriksakan kadungannya? Zean sengaja menutupi ini darinya?
"Kau pasti salah, Dokter Anna" sergah Irene, air mata mulai mengalir di wajah cantiknya.
Dokter Anna meraih tangan Irene, mencoba untuk menguatkan wanita itu.
"Maafkan saya, Ms. Banner" ucap Dokter Anna lagi.
Irene menutup mulutnya kuat-kuat, saat ini ia ingin berteriak histeris di sela-sela tangisnya ini.
"Ada hal penting yang perlu anda ketahui, maafkan saya karena harus mengatakan ini sebagai seorang dokter" Dokter Anna mencoba menjelaskan lebih lanjut hasil dari tes ini.
Irene masih menangis dengan pikiran kacau dan rasa sakit di hatinya, ia mencoba untuk tetap kuat mendengar penjelasan Dokter Anna.
"Ms.Banner, anda pernah melakukan operasi histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan rahim" Dokter Anna menjelaskan kembali dengan penuh penyesalan, ia merasa sedih dan kecewa juga sebagai seorang wanita.
Irene semakin sesak, ia kesulitan bernapas. Hasil tes ini berhasil menghancurkan hati Irene. Irene benar-benar lemas, rasanya ia tidak sanggup untuk berdiri saat ini. Irene masih duduk sambil menangis di hadapan Dokter Anna.
"Ini pasti sulit untukmu, Ms.Banner" Dokter Anna tidak sanggup membayangkan betapa hancurnya hati Irene karena wanita itu sendiri tidak tahu jika dia pernah melakukan operasi histerektomi.
"Apa ini artinya aku tidak akan pernah bisa memiliki anak? Aku tidak akan pernah bisa hamil lagi?" Irene mencoba meyakinkan hasil tes itu.
Dokter Anna tidak sanggup untuk membenarkan semua itu, ia merasa sedih dan kecewa juga sebagai sesama wanita.
"Jawab aku, dok!" bentak Irene gemetar.
Dokter Anna mengangguk pelan sebagai jawaban "iya"
Irene mengepalkan tangannya lalu memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak. Air mata terus mengalir tiada henti, selama ini ia telah kehilangan bayinya namun ia tidak tahu bahkan ia sudah tidak memiliki rahim.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Zean menyembunyikan ini darinya?
Irene terdiam, duduk sambil menatap nanar jendela apartemen di lantai dua puluh tujuh itu yang menampakan indah gemerlap malam yang dihiasi lampu-lampu di bawah sana. Irene menyentuh perut datarnya lalu mengusapnya lembut.
"Apa kita akan baik-baik saja?" ucapnya putus asa berbicara dengan bayi dalam kandungannya.
Sekelebat ingatan kembali berputar, Irene merasakan sakit di kepalanya.
"Aw" pekik Irene menyentuh kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Apa kau baik-baik saja, Ms.Banner?" Dokter Anna khawatir, ia menopang tubuh Irene.
Irene tak merespons, ia masih menyentuh kepalanya yang sakit itu. Irene mulai mengingat saat-saat ia hamil dulu. Irene semakin yakin, sesuatu telah terjadi pada dirinya. Entah apa yang terjadi, Irene belum mengetahui pasti. Saat ini, yang Irene rasanya ia seperti terlahir kembali tetapi dengan sebagian ingatannya.