
Irene penat setelah melakukan panggilan video bersama Alice sekitar hampir tiga setengah jam. Dalam panggilan itu Alice terus meyerang Irene dengan puluhan pertanyaan tiap detiknya karena Gerald telah kembali ke Boston dan langsung menemui Alice untuk memberitahukan bahwa Gerald dan Irene bersaudara. Irene adalah Caroline Ricardo, adik kandung Geraldine yang hilang tujuh tahun yang lalu. Awalnya Alice sama sekali tidak percaya karena ini terdengar sedikit gila, sungguh dunia ini benar-benar sempit. Hingga akhirnya Gerald menceritakan semuanya kepada Alice barulah Alice percaya, ia langsung menghubungi Irene untuk memperjelas semuanya.
Hari ini Kim tidak pergi ke rumah sakit, ia sedang libur karena ini hari minggu. Biasanya di hari minggu pun Kim memilih untuk tetap pergi ke rumah sakit tapi tidak kali ini, karena ia ingin lebih mengenal Irene. Kim adalah sepupu jauhnya Gerald otomatis ia juga adalah sepupu jauhnya Irene. Kim berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah, ia mendapati Irene yang duduk di sofa sambil memijit kepala seperti orang jenuh lalu Kim langsung menawarkan gadis itu untuk pergi ke pantai.
“Bagaimana? Apa kau menyukai pantai ini?” tanya Kim saat mereka sudah tiba di pantai.
Irene memejamkan mata lalu mendongakkan kepala menghadap langit sore dengar suara debur ombak yang menenangkan itu. Bisa ia rasakan semilir angin yang menerpa wajah cantiknya dan aroma laut yang khas ini.
“Indah. Aku menyukai pantai ini” jawab Irene perlahan membuka matanya.
Kim duduk di pasir putih itu sambil melihat ombak yang berkejaran menuju pesisir, Irene pun beralih ikut duduk di samping Kim.
“Caroline” ucap Kim.
“Hmm, maaf, maksudku Irene” ralatnya.
“Mwo?” tanya Irene. (mwo dalam bahasa korea artinya “apa”)
Kim mengalihkan tatapannya, kini ia beralih menatap gadis di sampingnya itu.
“Apa kau mengingatku?” tanya Kim.
Kim penasaran apa sepupunya itu mengingatnya atau tidak, karena sewaktu kecil dulu ia sering bermain bersama Irene jika ibunya bertugas di Boston, Kim kecil pasti akan dititipkan di rumah keluarga Ricardo. Irene menoleh kini menatap Kim lalu tersenyum dan terkekeh kecil mendengar pertanyaan Kim itu.
“Tentu aku mengingatmu, bodoh!” Irene tertawa.
Kim hanya diam, tidak mengerti dengan apa yang ditertawakan oleh Irene, baginya tidak ada yang lucu dari pertanyaannya itu.
“Kau adalah makhluk di bumi yang paling menyebalkan saat menyembunyikan cokelatku. Karena kau selalu berpura-pura menjadi seorang dokter gigi yang mengatakan akan mencabut gigiku jika aku terus makan cokelat” ucap Irene mengingat masa lalunya, kemudian mereka tertawa bersama.
“Bagus jika kau mengingatku” ucap Kim.
“Tapi kau hebat, kau benar-benar menjadi dokter sekarang walau bukan seorang dokter gigi” puji Irene.
Ya, benar. Kim adalah seorang dokter bedah sama seperti ibunya, sejak kecil Kim memang sudah tertarik dengan dunia kedokteran. Bahkan waktu kecil Kim selalu mengajak Irene untuk bermain dokter-dokteran hingga gadis itu muak dengan permainan itu.
“Aku tidak hebat, aku hanya mengikuti naluriku ingin menjadi seorang dokter bedah sama seperti eomma” ucapnya.
Irene hanya mengangguk dengan bibirnya yang ia bentuk seolah berkata O.
“Jujur, aku tidak mengenalimu saat pertama kali melihatmu, Irene. Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik tidak seperti Caroline kecilku yang penuh dengan cokelat di wajahnya” goda Kim.
“Aku serius” ucap Kim.
Hening, setelah percakapan itu mereka kembali diam menikmati indahnya pantai di sore hari yang sebentar lagi akan menampakan warna temaram senja yang siap mendatangkan malam. Tiba-tiba ponsel Kim berdering, ia melihat ponselnya lalu menjawab panggilan itu.
“Yeboseyo” Kim menjawab panggilan. (dalam bahasa korea “yeboseyo” adalah sapaan ketika berbicara di telepon)
“Persiapkan ruangan dua jam lagi, aku akan segera ke sana” ucapnya lagi lalu memutus sambungn telepon itu.
Irene hanya diam melihat Kim yang sedikit panik, sepertinya itu panggilan darurat dari rumah sakit. Kim menatap Irene dengan tatapan seperti tatapan bersalah.
“Mianhae, Irene. Aku harus ke rumah sakit sekarang ada operasi mendadak yang harus aku tangani” Kim menyentuh pundah gadis itu. (dalam bahasa korea “mianhae” artinya maaf)
Irene tersenyum, tidak seharusnya Kim meminta maaf padanya. Irene sudah mengerti dan paham dengan profesi sepupunya itu.
“Gwenchana, Kim. Kau harus pergi sekarang, pasien sedang membutuhkanmu. Aku masih ingin di sini menunggu senja” ucap Irene. (dalam bahasa korea “gwenchana” artinya tidak apa-apa)
Kim mengangguk. “Aku akan mengirim supir untuk menjemputmu nanti” ucap Kim beranjak pergi.
“Nee” ucap Irene menatap punggu Kim yang perlahan menjauh.
Irene menghela napas perlahan, ia kembali memikirkan untuk apa ia berada di Korea saat ini. Keinginannya untuk bertemu dengan mom kini sedikit berkurang karena ucapan Gerald yang mengatakan jika mom benar-benar pergi meninggalkan anak-anaknya. Ada apa dengan mom? Apa benar mom seperti itu?
Irene mencoba kembali menikmati keindahan pantai ini, ia menepis pikiran buruknya tentang ibunya. Kini berganti, giliran Zean yang masuk kembali memenuhi ruang pikirannya. Pria itu, apa yang sedang ia lakukan? Irene bahkan tidak bisa menepis Zean dari pikirannya mesti sudah berulang kali ia mencoba. Pikirannya bersekongkol dengan rindu yang diam-diam masuk tanpa ijin menyiksa gadis itu pada kenangannya bersama Zean.
Irene tersenyum kecut mengingat pria yang ia rindukan saat ini. Irene beranjak berjalan menuju pesisir, kakinya ingin merasakan dinginnya air laut di pantai ini. Irene memejamkan mata lalu merentangkan tangannya seolah membiarkan alam memeluk tubuhnya. Bisa ia rasakan udara semakin dingin menyelimutinya, debur ombak silih berganti menyentuh kakinya yang masih terdiam tegak di pesisir. Tiba-tiba ia meraskan sepasang tangan yang melingkar di perutnya, ia sempat berpikir jika Kim kembali datang dan tiba-tiba memeluknya seperti ini, tapi tidak. Irene mencium aroma maskulin dari seseorang yang tidak asing baginya. Aroma yang selalu menjadi favoritnya, aroma yang sangat ia rindukan. Irene masih memejamkan mata, ia enggan membuka mata karena ia juga berpikir bahwa ini hanyalah ilusi karena ia terlalu merindu. Biarlah seperti ini, jika ini hanya ilusi maka Irene tidak ingin kembali ke dunia nyata karena dengan ilusi ini ia bisa merasakan kehadiran pria yang ia cintai.
“I found you. Please, don’t leave me again” bisik pria itu lalu mencium lekuk leher Irene.
Deg! Jantung Irene seperti berhenti berdetak, ini bukan Kim yang memeluknya dan ini bukan ilusi semata, ini nyata. Pria itu ada di sini, memeluknya erat sambil berbisik mengatakan bahwa dia merindukannya. Irene membuka matanya dan perlahan menoleh untuk melihat siapa orang yang tengah memeluknya ini. Ia terkejut, sangat terkejut ternyata benar orang itu adalah Arzean Lorwerth, pria yang ia cintai dan selalu ia rindukan.
“Zean–” ucapan Irene terpotong karena Zean menciumnya. Zean mencium gadisnya itu tanpa ampun, ia meluapkan semua kerinduan sialan yang selama ini merasukinya hingga ia benar-benar gila karena merindukan Irene. Irene sempat mengelak mencoba mendorong tubuh Zean namun pria itu begitu kuat, sepertinya kali ini Zean tidak akan membiarkannya pergi lagi. Zean memperdalam ciumannya hingga akhirnya Irene membalas ciuman Zean lalu perlahan menyentuh rambut Zean. Zean tersenyum di sela-sela ciuman itu, ia senang karena Irene membalas ciumannya. Mereka terhenti sesaat mencoba mengatur napas masing-masing dengan hidung yang saling bersentuhan.
“I miss you so bad and you make me crazy, Irene Banner!” ucap Zean lalu kembali mencium gadisnya itu.