
Irene langsung panik menatap sekeliling, di atas sebuah gedung tinggi terlihat ada seseorang dengan senapan sniper yang sepertinya sedang menargetkan Cassandra. Tanpa ragu Irene langsung menarik Cassandra dan mereka berdua ambruk bersamaan dengan cairan merah kental yang mengalir akibat tembakan dari senapan sniper itu.
“Cassandra,” lirih Irene menangis memeluk Cassandra yang sudah lemas dengan darah yang terus keluar dari luka tembak yang meleset mengenai bahunya.
Semua orang di dekat parkiran pun panik dan langsung menghubungi ambulan. Irene kembali melihat ke atas gedung, tapi orang yang ia curigai tadi telah hilang melarikan diri.
“Bertahanlah, Cassandra,” ucap Irene parau, ia sangat khawatir.
Kemudian ambulans datang dan langsung membawa Cassandra menuju rumah sakit terdekat, Irene pun ikut menemani Cassandra dan segera menghubungi Allan. Irene tidak menghubungi Zean karena takut jika Zean akan khawatir nantinya telebih pria itu sedang berada jauh di Boston.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Allan saat tiba di rumah sakit.
Irene yang duduk lemas di ruang tunggu itu pun menatap Allan nanar. Sedari tadi dokter masih belum keluar dari ruang operasi.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Allan lagi, tapi Irene masih belum bereaksi apa pun.
Allan mengacak rambut frustrasi.
“Jawab aku, Irene,” Allan berlutut di hadapan Irene memohon pada wanita itu agar menjawabnya.
Irene menggeleng lemah. “Aku juga tidak tahu, Allan. Dokter masih belum mengatakan apa pun.”
Allan beralih duduk di samping Irene. “Coba ceritakan bagaimana kronologinya Cassandra bisa tertembak?”
Irene pun menceritakan semuanya. Awalnya mereka datang ke sebuah pesta grand opening Cosmopolitan Hotel lalu bertemu dengan Gerald kemudian mereka menikmati pesta tersebut hingga beberapa jam, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Namun, saat berada di dekat parkiran VVIP Irene menyadari ada seseorang dari kejauhan menargetkan tembakan pada Cassandra, Irene sangat yakin orang itu menggunakan senjata senapan sniper dengan laser khusus yang lebih akurat dalam membidik tepat pada sasarannya. Dan, sepertinya orang itu berniat membunuh Cassandra hanya dengan satu tembakan karena orang itu menargetkan dada bagian kiri yang merupakan letak jantung.
“Tidak mungkin! Cassandra bahkan tidak punya musuh, dia bukan orang seperti itu,” Allan dengan emosi yang memanas beranjak dari duduknya.
“Tenanglah, Allan,” ucap Irene.
Allan nampak berpikir sejenak.
“Tunggu dulu. Gerald? Apa Gerald yang kau maksud adalah Geraldine Ricardo?” tanya Allan was-was berharap bukan.
“Iya, dia Geraldine Ricardo. Apa kau juga mengenalnya?”
Allan langsung mengepalkan tangan kuat-kuat, ia nampak sangat marah sekali kali ini. Irene semakin tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan Gerald? Kenapa Allan terlihat kesal sekali saat tahu Gerald yang dimaksudkan itu adalah Geraldine Ricardo.
“Aku tidak mengenalnya pasti, tapi aku tahu beberapa rumor yang beredar tentangnya,” jawab Allan.
“Rumor? Rumor apa?” tanya Irene ingin tahu lebih lanjut.
Allan diam untuk beberapa saat, sepertinya ia ragu untuk memberitahu Irene.
“Allan,” panggil Irene meminta jawaban dari pria itu.
Allan menghela napas lalu menatap Irene. “Aku juga tidak tahu, ini hanya sebuah rumor. Aku mendengar rumor ini dari ayahku, katanya beberapa dari orang-orang yang pernah berbisnis dengan Geraldine Ricardo tiba-tiba menghilang tanpa jejak begitu saja.”
“Aku tidak mengerti, Allan. Apa arti dari rumor yang beredar itu?Apa hubungan Gerald dengan penembakan Cassandra? Lalu apa ayahmu juga mengenal Gerald?” Irene menyerang Allan dengan pertanyaan-pertanyaannya. Jujur, ia jadi semakin curiga dengan kakaknya itu. Siapa sebenarnya Gerald?
“Aku juga sama bingungnya denganmu, Irene. Tapi yang pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu. Entah kenapa aku berpikiran dia adalah pria yang bebahaya,” ungkap Allan.
“Dilihat dari desain bangunan dan selera interiornya sepertinya temanmu seseorang yang sangat berkelas ya,” ungkap Irene saat mereka masih berjalan menuju Ballroom.
“Kau benar sekali, Irene. Dia adalah pembisnis tampan dengan ide dan modal bisnis yang gila-gilaan sampai terkadang dia harus memalsukan identitas atau meminjam identitas orang lain untuk membangun bisnisnya, eh,” Cassandra spontan menutup mulutnya, sepertinya dia baru saja membeberkan rahasia temannya tanpa sengaja.
Irene ingat perkataan Cassandra saat mereka berjalan menuju Ballrom. Irene jadi berpikir kira-kira dari mana Gerald mendapatkan modal besar untuk setiap usaha bisnis yang ia buka sampai-sampai harus memalsukan identitas atau bahkan meminjam identitas orang lain.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka membuyarkan pikiran Irene, lalu fokus Irene beralih menatap dokter yang baru keluar dari ruang operasi. Begitu pun Allan yang sudah berhadapan dengan dokter itu.
“Bagaimana kondisinya, dok?” tanya Allan pada dokter itu.
“Kondisinya baik, setelah operasi peluru yang sempat bersarang di bahunya sudah berhasil diambil. Nona Damora mungkin membutuhkan dua hingga tiga hari untuk bisa pulih kembali,” jelas dokter itu.
Allan dan Irene bernapas lega, syukurlah Cassandra baik-baik saja. Kemudian dokter dan para suter memindahkan Cassandra ke ruang rawat inap.
“Allan, temanilah Cassandra di sini. Aku harus pergi ke suatu tempat dan aku butuh mobilmu,” ucap Irene kini mereka berada di ruang rawat inap.
“Kau mau ke mana, Irene?” tanya Allan seraya memberi kunci mobilnya pada Irene.
“Aku akan mengambil beberapa keperluan Cassandra di Mansion, seperti skincare dan lain-lain yang mungkin akan dibutuhkan saat Cassandra sadar nanti,” jawab Irene tanpa ragu.
Allan mengangguk. “Ah, iya. Baiklah.”
Irene langsung bergegas pergi, sebenarnya ia hendak memata-matai Gerald. Setelah mendengar tentang rumor yang sempat dibicarakan Allan tadi, itu membuat rasa curiga Irene semakin tinggi ditambah dua orang pria di masa lalunya kembali muncul sebagai penjaga pintu Ballroom di hotel milik Gerald. Semua ini belum cukup menjawab kecurigaan Irene, ia masih butuh lebih banyak penjelasan tentang siapa Gerald sebenarnya.
Irene melajukan mobilnya dengan kecepatan normal seraya mengikuti arahan navigasi menuju Cosmopolitan Hotel, ia hendak bertemu Gerald lagi. Namun, tunggu dulu, apa yang akan dia lakukan saat bertemu Gerald nanti?
“Ah, jangan menemui, Gerald. Aku harus cari informasi dulu tentangnya, tapi bagaimana bisa mencari tahu informasi tentangnya? Dia orang penting dan sangat berpengaruh, tidak akan mudah mendapat info pribadi tentangnya,” pikir Irene.
Irene memutar otak, memikirkan seseorang yang mungkin bisa membantunya dalam mengorek informasi. Kalau bisa informasi ilegal sekali pun itu pasti akan sangat membantu seperti informasi transaksinya, informasi perjalannya, bahkan rasanya Irene sangat ingin menyadap kakaknya itu. Sebenarnya ini mudah saja, jika ia membicarakannya dengan Zean. Zean pasti punya banyak koneksi tersembunyi karena Zean pun setiap harinya hidup dalam bahaya.
Zean adalah satu-satunya pewaris keluarga Lorwerth, banyak yang ingin menjatuhkannya bahkan membunuhnya. Namun, sejauh ini Zean masih baik-baik saja karena dia tahu pergerakan setiap lawannya melalui seorang hacker yang begitu piawai hingga orang-orang dengan keahlian bela diri khusus yang selalu melindunginya dari kejauhan.
“Tidak! Tidak! Aku tidak bisa membicaran ini dengan Zean. Sebelum membuktikan apa pun bisa-bisa sudah menghancurkan hubungan lebih dulu karena rasa curiga. Aku harus menyelidikinya sebelum mencurigainya lebih dalam,” gumam Irenen.
Irene mendadak menepikan mobilnya lalu mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ia ingat ada seseorang yang mungkin memiliki banyak koneksi untuk bisa membantunya.
“Yeoboseoyo, Kim Tae-O,” ucap Irene dalam bahasa korea saat sambungan itu terhubung.
(“Yeoboseoyo, Kim Tae-O,” artinya “Halo, Kim Tae-O,”)
“Wae, nuna?” sahut Tae-O. (“Wae, nuna?” artinya “Kenapa, kak?”)
“Aku butuh bantuanmu. Aku akan ke Korea menemuimu, malam ini juga aku akan terbang ke Korea,” ucap Irene to the point.
“Nee, nuna,” ucap Tae-O lalu Irene memutus sambungan itu.
Irene ingat Kim Tae-O itu adalah seorang hacker amatir, tapi Irene percaya padanya dia pasti bisa membantu Irene. Tae-O adalah adik sepupu Dokter Kim yang merupakan adik sepupu jauhnya juga. Yang harus Irene pikirkan sekarang adalah bagaimana cara meminta ijin pada Zean agar pria itu memperbolehkannya pergi ke Korea?