
Irene berjalan di dibibir pantai dengan buih ombak yang silih berganti menyentuh kakinya, tangan kirinya menggengam erat flatshoesnya dan tangan kanannya digenggam erat oleh Zean yang berjalan di depannya. Diam-diam Irene menyembunyikan senyumnya dengan mengalihkan wajahnya ke arah laut atau bahkan ke arah manapun asal senyumnya tidak tertangkap oleh Zean.
Irene akhirnya bisa bernapas lega, dengan semua penjelasan dari Zean yang sudah cukup untuk menjawab semua keraguan di hatinya. Zean menjelaskan semuanya, tidak ada satupun yang Zean sembunyikan. Sekarang sudah jelas bahwa Zean bukan ayah dari anak yang Rebecca kandung karena ayah dari anak itu adalah James Lorwerth. Berakhir sudah semua sandiwara drama yang Rebecca mainkan, ternyata selama ini Rebecca dan James sering menghabsikan waktu minum bersama dan sungguh diluar dugaan karena ternyata James menyadari bahwa dia mencintai Rebecca. Bukankah Tuhan begitu adil saat ini?
Tiba-tiba Zean menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap gadisnya itu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Irene yang merasa rishi dengan tatapan Zean.
Zean tersenyum masih menatap gadisnya itu.
Irene mendengus kesal, ada apa dengan Zean? Kenapa menatapnya begitu?
“Berhenti menatapku seperti itu atau aku akan melempar flatshoes ini padamu!!” ancam Irene.
Zean terkekeh kecil, lucu sekali tingkah gadisnya ini.
“Jadi, apa kau sudah memaafkanku?” tanya Zean.
lrene tak menjawab, ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Zean yang masih mematung di posisinya itu. Jujur, Irene sendiri tidak tahu dan sangat bingung dengan perasaannya. Ingatannya terus memutar kepedihan dan rasa sakit ketika Zean jauh darinya dan semua sandiwara Rebecca yang nyaris membuatnya gila. Tetapi, hatinya merasa begitu nyaman ketika ia bisa kembali bersama dengan Zean seperti saat ini.
Zean beralih, pandangannya mencari sosok Irene yang sudah berjalan meninggalkannya, lalu Zean menyusulnya dan langsung memeluk Irene untuk menghentikan langkahnya.
“Kau harus menjawab, ketika ada yang bertanya padamu” bisik Zean saat memeluk gadisnya itu dari belakang.
“Lepaskan aku, Zean” pinta Irene lembut.
“Kau harus menjawabku terlebih dahulu” sergah Zean.
Irene menghela napas perlahan, kenapa Zean begitu menyebalkan?
“Kita harus segera kembali, langit mulai gelap” Irene mengalihkan pembicaraan.
Zean yang masih memeluk Irene menatap arloji yang melingkar ditangan kirinya, saat ini pukul 06.18 pm, lalu ia beralih menatap langit temaram yang begitu indah dengan nuansa jingga yang sedikit mulai gelap.
Zean menguraikan pelukannya dan entah kenapa Irene merasa sedikit kecewa.
“Apa kita akan segera pulang?” tanya Irene. Bukankah Zean tahu jika Irene sangat menyukai langit temaram? Lalu kenapa Zean menurut saat Irene meminta untuk segera kembali?
Zean hanya diam menatap gadisnya itu lalu tangannya tergerak menyelipkan rambut Irene yang terhempas oleh angin.
“Zean” panggil Irene lembut.
Zean tidak menjawab, ia masih sibuk menatap gadisnya itu.
“Zean” panggilnya lagi.
Kali ini Zean tersenyum, hatinya terasa damai mendengar Irene memanggil namanya begitu lembut.
Irene benar-benar bingung dengan tingkah Zean yang mendadak aneh ini.
Zean meraih tangan kanan Irene lalu menggenggamnya lembut.
Zean tak menjawab, sedangkan tangan kirinya sibuk merogoh saku celananya untuk mencari sesuatu yang mungkin ada di sakunya.
Irene hanya diam dan bingung melihat Zean, namun detik kemudian Irene terdiam, pandangannya nanar dan detak jantungnya mulai kacau melihat Zean yang mengeluarkan sekotak kecil bludru warna merah dari saku celananya. Apa yang akan dilakukan Zean?
Zean membuka kotak itu, isinya sebuah cincin berlian dengan desain yang cantik, lalu ia bersimpuh dengan satu kaki di hadapan Irene.
Irene masih tidak percaya, apa Zean akan melamarnya? Di sini? Di sisir pantai dengan nyanyian burung di bawah langit temaram favoritnya?
Zean menghela napas perlahan, lalu menatap Irene dengan semua tenaga dan keberanian yang ia miliki saat ini. Jujur, Zean sangat gugup untuk melamar wanita yang sangat ia cintai selama ini.
“Irene” panggil Zean.
Irene menatap Zean, tapi enggan untuk bicara.
“Ku mohon, jangan menikah dengan pria lain karena aku mencintaimu” pinta Zean.
Irene masih diam.
“Mungkin kau tidak akan pernah bisa memaafkan aku, Irene” jeda Zean sambil mengusap lembut tangan Irene.
“Tapi satu hal yang kita ketahui, bahwa cinta adalah sebuah seni untuk menyakiti diri sendiri. Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan yang mempertemukan kita pada semesta yang mungkin cukup kejam karena cinta kita bukanlah cinta yang mudah. Teruntuk waktu, terimakasih sudah mengajariku arti sabar yang sesungguhnya untuk tidak berhenti berjuang mendapatkan cintaku. Dan teruntuk jarak, terimakasih sudah mengajariku arti rindu yang begitu liar, menyiksa raga yang sangat merindukanmu” lanjut Zean.
Irene bisa merasakan matanya memanas dan detik kemudian air mata menetes, membasahi kedua pipinya. Kali ini bukan kesedihan, Irene terharu dan bahagia melihat ketulusan pria yang ia cintai ini.
“And now, I want to tell you something” ucap Zean.
Irene masih diam, ia memberi Zean kesempatan untuk berbicara.
“You’re my human diary, and you’re the only woman I love and you know that” Zean tulus dengan ucapannya.
“Will you marry me, Ms.Banner?” tanya Zean.
Deg! Detak jantung Irene semakin kacau, Irene memejamkan mata sesaat lalu bulir air kembali menetes, ia sangat bahagia hingga menangis seperti ini. Semua rasa sakit, kecewa dan rapuhnya terbalaskan dengan bahagia yang begitu ia impikan selama ini.
Irene tersenyum dengan mata sembabnya. “Yes, I do, Mr.Lorwerth”
Arzean Lorwerth, dia adalah pria asing, brengsek dan gila yang kini melamar Irene dengan sebuah cincin berlian, di pesisir pantai, di bawah indah langit temaram favoritnya tanpa alunan musik romansa dan tanpa puisi cinta begitu sederhana. Terimakasih Zean.
heyoooo readers....
siapa nih yang selalu menanti-nanti update dari SIL?
gimana chapter ini readers?
kira-kira gimana ya kisah Irene dan Zean selanjutnya?
semangat nunggu updatenya ya readers :))
silahkan mainkan imaji kalian untuk menerka-nerka alur selanjutnya, atau mungkin ada yang ngeimaji sampai ke ending?