Stranger's In Love

Stranger's In Love
26|STAY WITH ME



"Kau menculikku, Zean!" Irene menatap tajam Zean.


Saat ini mereka berada di apartemen Zean, pria itu berhasil membawa paksa Irene dengan penuh perlawanan dari gadis itu.


"Kau tidak boleh meninggalkanku, lagi" ucap Zean.


Irene mendengus kesal, Zean benar-benar menyebalkan. Irene menatap layar ponselnya yang menyala, di sana tertera sebuah panggilan masuk dari Kim. Astaga, Irene lupa mengabari Kim, pasti Kim sangat khawatir sekarang apa lagi Gerald sudah menitip tanggung jawab untuk menjaganya. Irene akan meraih ponselnya namun Zean mendahuluinya lalu mengangkat tangannya yang memegang ponsel agar Irene tidak bisa meraihnya.


"Kembalikan ponselku, Zean!" Irene benar-benar kesal ia berdiri menjinjit agar bisa meraih ponselnya namun percuma, karena Zean jauh lebih tinggi darinya.


Zean menggeleng menatap Irene sekilas lalu menatap layar ponsel Irene. "Siapa itu Kim?" tanya Zean.


"Calon suamiku" jawab Irene berbohong.


Terserah Zean akan percaya atau tidak yang pasti di pikiran Irene ingin agar ia jauh-jauh dari pria yang sudah bertunangan ini, namun tidak dengan hatinya. Hatinya justru menginginkannya untuk selalu dekat dengan Zean.


Zean penasaran lalu menjawab panggilan itu dan menspeakernya agar Irene bisa mendengar.


"Yeboseyo" ucap Kim diseberang telepon.


Zean mengerutkan dahi mendengar ucapan dan aksen khas korea dari Kim.


"Yeboseyo! Kim! Kim calon suamiku tolong aku, aku-" ucapan Irene terpotong karena Zean membekap mulutnya dengan tangan.


"Apa kau calon suami Irene?" tanya Zean dengan nada dingin dan tidak bersahabat.


"Jangan menyakiti Irene atau kau akan tahu akibatnya" ancam Kim dari seberang telepon.


Zean tersenyum lalu menggeleng dan kemudian menatap Irene yang terus meronta berusaha melepaskan tangan Zean yang masih membekap mulutnya.


"Aku mencintainya, tidak mungkin aku menyakitinya" ucap Zean lalu memutus sambungan itu.


Zean kembali menatap Irene, lalu menyingkirkan tangannya dari mulut Irene agar gadis itu bisa bicara.


"Berikan ponselku! Kim pasti akan sangat khawatir padaku" pinta Irene namun Zean masih enggan memberikan ponsel Irene.


Ponsel Irene kembali berdering, sebuah panggilan dari Kim lagi. Namun, dengan segera Zean membuka ponsel Irene untuk mengambil sim cardnya lalu mematahkan card itu.


"Kau sudah benar-benar gila, Arzean Lorwerth!" bentak Irene.


Zean tidak peduli lalu menarik tangan Irene hingga tubuh mereka bersentuhan. Irene mendorong dada Zean mencoba untuk menjauh, namun Zean malah melingkarkan tangannya di pinggang kecil Irene lalu mengecup singkat bibir pink gadis itu.


"Zean!" bentak Irene seolah menunjukkan kekesalannya karena Zean kembali dengan lancang menciumnya tanpa ijin.


Zean tersenyum, ia senang membuat Irene marah seperti saat ini. "Iya, kau benar" Zean memberi jeda pada ucapannya.


Irene memilih diam menunggu Zean melanjutkan ucapannya sambil masih terus berusaha mendorong dada Zean untuk sedikit menjauh darinya.


Irene mencoba sekeras mungkin untuk menahan diri, ia sama sekali tidak membalas ciuman Zean. Zean terus memperdalam ciumanya namun gadis itu masih enggan membalas Zean. Sesaat Zean berhenti, kini menatap Irene yang mengalihkan tatapnnya dari mata Zean.


"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Zean.


"Iya" jawab Irene tanpa pikir panjang.


Zean menarik dagu Irene agar ia bisa menatapnya, namun Irene mengelak ia selalu mengalihkan pandangannya kemana saja asal tidak menatap Zean. Jika sampai ia menatap mata pria itu, luluh sudah hati dan perasaan ini.


"Tatap aku, Irene" pinta Zean.


Irene bergeming masih enggan menatap Zean.


Melihat reaksi Irene membuat Zean hampir putus asa lalu ia mencoba untuk kembali mencium Irene, namun dengan segera gadis itu menutup mulutnya. Tapi Zean tetap menciumnya, mencium kening gadis itu.


"Jangan seperti ini, aku tau kau masih mencintaiku" bisik Zean.


Deg! Irene menelan ludah susah payah, apa yang dikatakan Zean adalah benar. Irene mencintainya, masih mencintainya dan sangat mencintainya. Tapi, tidak dengan cara seperti ini. Zean sudah bertunangan, dia milik Rebecca Hilton.


"Jangan sok tahu kau" bantah Irene mendorong dada Zean dan berhasil menciptakan jarak yang membuat Zean sedikit menjauh darinya.


Dengan segera Zean menggenggam tangan Irene, ia tidak ingin kehilangan gadis ini lagi.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu, Ms.Banner?" tanya Zean mencoba meyakinkan.


Irene berusaha menatap mata Zean agar ia terlihat lebih serius dan bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.


"Sangat yakin" ucapnya.


Zean menatap Irene mencoba mencari kebenaran dari ucapan gadis itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menikahi Rebecca. Karena gadis yang berdiri di hadapanku saat ini, gadis yang aku cintai sudah tidak mencintaiku lagi" ucap Zean.


Saat itu juga dunia Irene seolah berhenti berputar, mendengar Zean melontarkan kalimat itu rasanya ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. Irene tidak bisa terus berpura-pura seperti ini, ia benar-benar mencintai Zean, ia tidak rela jika Zean menjadi milik orang lain. Irene berkutat mati-matian dengan hati dan pikirannya, mencoba mencari jalan yang benar untuk perasaannya ini. Di sisi lain Irene tidak boleh egois karena Zean sudah bertunangan, tapi di sisi lainnya ia tidak rela dan sangat mencintai Zean begitu sebaliknya Zean juga mencintai Irene.


Irene kembali mendekatkan dirinya dengan Zean, berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher pria itu lalu mengecup singkat bibirnya.


"Aku mencintaimu, masih mencintaimu, dan sangat mencintaimu, Arzean Lorwerth" ucap Irene.


Zean tersenyum mendengar itu, perasaannya berbalas mereka masih saling mencintai.


Perasaan cinta itu memang aneh, datang tiba-tiba dan entah dengan siapa. Zean semakin yakin untuk memperjuangkan Irene karena Rihanna telah memberinya lampu hijau untuk menentukan pilihan hatinya.


"Stay with me, please" ucap Zean.


Tangan Zean tergerak menyentuh wajah gadis yang ia cintai itu, perlahan pandangnnya turun ke bibir pink yang memabukkan itu, bibir pink yang seperti candu baginya karena Zean tidak pernah bosan dan selalu menginginkan bibir itu. Detik kemudian Zean mencium Irene lalu melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Irene membalas ciuman Zean, mereka memperdalam ciumannya dan perlahan bergerak menuju ranjang. Persetan dengan semua perasaan aneh yang bernama cinta ini, malam ini adalah milik mereka.