
Zean menatap pantulan dirinya di cermin, ia terlihat begitu tampan dengan balutan jas dan tatanan rambut yang rapi. Zean tersenyum mengingat hari ini akan menjadi hari paling bersejarah baginya. Hari ini masih seperti mimpi baginya, Zean masih tidak percaya akhirnya ia bisa menikah dengan wanita yang ia cintai.
"Kau adalah pria paling beruntung hari ini, Arzean Lorwerth" ucapnya pada diri sendiri.
Jika kembali flashback dari awal Zean bertemu dengan Irene, tentu kisah mereka benar-benar drama percintaan yang melodramatis. Tidak mudah bagi Zean hingga sampai di hari ini, namun sepertinya kebahagian masih akan berpaling dari kisah cinta mereka, Zean belum menyadari bahwa gadisnya itu telah diculik.
Zean kembali menatap penampilannya, ia membenahi kancing kemejanya. Kemudian pandangannya teralihkan pada ponselnya yang berderi, di sana tertera nama Geraldine yang meneleponnya.
"Ada apa, Gerald?" tanya Zean menjawab telepon itu.
Zean bisa mendengar suara bising jalanan dan klakson kendaraan, sepertinya Gerald meneleponnya sambil mengemudi.
"Damn shit! Sepertinya seseorang telah merencanakan sesuatu, Irene diculik. Aku kehilangannya, aku tidak bisa mengejar mobil yang membawanya, sial" panik Gerald di seberang telepon.
Zean bergeming seketika tubuhnya lemas dan pikirannya kacau, baru saja ia membayangkan hal-hal bahagia di hari pernikahannya ini. Tapi ternyata semua berbanding terbalik dari ekspektasi yang Zean harapkan.
"Segera lacak mobil itu dan perintahkan semua orang untuk mencarinya" titah Zean lalu memutus sambungan itu.
Dengan segera Zean menyambar kunci mobilnya dan berusaha untuk menemukan gadisnya itu. Mobil Zean melaju dengan kecepatan penuh, hal-hal buruk terus saja memenuhi isi kepala Zean. Dimana gadisnya itu? Apa yang akan terjadi pada gadisnya? Irene tidak boleh terluka, begitu juga dengan anak yang dikandungnya, mereka harus selamat, bagaimanapun caranya, Zean harus menemukan mereka.
Zean terfokus, pandangannya lurus ke depan ia memikirkan kemana harus mencari gadisnya itu. Tiba-tiba fokus Zean teralihkan, ia mendapat panggilan masuk dari Gerald.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Zean to the point.
"Tidak. Plat mobil itu tidak terdaftar, ini sudah direncanakan. Kita akan sulit menemukannya" jawab Gerald.
Zean mengacak rambut frustasi lalu menghantam setirnya dan memutus sambungan itu. Ia memikirkan seseorang yang mungkin melalukan semua ini. Zean mencari-cari kontak seseorang lalu meneleponnya.
"F*cking shit you *****! Jangan bermain-main denganku, Rebecca!" sambar Zean ketika sambungan telepon itu terhubung.
Zean bisa mendengar suara tawa Rebecca di seberang telepon. Rasanya saat ini Zean ingin merobek mulut besar Rebecca dengan kedua tangannya.
"Katakan padaku! Dimana Irene?!" bentak Zean.
"Apa kau pikir aku tidak muak dengan semua ini, Zean?" ucap Rebecca diseberang telepon.
Zean mempererat pegangannya pada setir, rasanya Zean ingin menghantam apapun yanh ada di hadapannya.
"Hentikan omong kosongmu dan cepat katakan dimana Irene!" Zean semakin kesal.
"Kenapa kau menuduhku tanpa bukti, Zean? Aku sudah tidak peduli lagi denganmu karena aku sudah hidup bahagia bersama James. Dan untuk wanitamu itu, semoga saja kau masih bisa bertemu dengannya entah dalam kondisi hidup atau mati, aku harap kalian tetap bisa bertemu. Dan satu lagi, jangan menghubungiku dan jangan mengganggu, Zean" ucap Rebecca lalu memutus sambungan itu.
"Shit!!" umpat Zean kesal.
Zean kembali berpikir, jika bukan Rebecca lalu siapa lagi yang melakukan ini? Apa ini ulah musuh bisnisnya? Tapi siapa?
Zeam kembali mendapat telepon masuk, kali ini dari orang kepercayaannya.
"Jangan meneleponku jika kau belum mendapat kabar apapun, Rey" sambar Zean.
"Aku menemukan petunjuk. Mobil itu terekam cctv menuju ke Incheon, tuan muda" ucap Rey.
Zean diam, ia memikirkan cara tercepat menuju Incheon sebelum terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya itu.
"Sepertinya semua ini telah direncanakan, tuan muda" ucap Rey lagi.
"Cepat arahkan semua orang menuju Incheon dan temukan segera gadisku dengan selamat. Dan selalu informasikan apapun yang kau dapatkan padaku dengan segera!" titah Zean lalu memutus sambungan itu.
Zean menambah kecepatannya, jarak dari Seoul ke Incheon sekitar empat puluh delapan kilo meter. Bagaimana pun caranya ia harus bisa sampai di incheon tepat waktu dan apapun yang terjadi ia harus menemukan gadisnya itu.
Zean masih terus berpikir siapa yang bisa merencanakan penculikan seperti ini di hari pernikahannya. Jika bukan Rebecca lalu siapa? Jika ini adalah ulah musuh bisnisnya, tetapi siapa? Siapa yang menyusun skenario penculikan gila ini?
.
.
.
***Hai reader's....
Dukung terus ya Author tercinta kalian ini, hehe...
Jejak Author bisa ditemukan di instagram @eldiian_
Jangan ragu untuk follow, kalian tinggal dm saja nanti Author pasti follback. Dari sana kalian bisa lihat karya-karya novel Author lainnya, salam hangat ๐***