Stranger's In Love

Stranger's In Love
74|EVERYTHING IS FINE



Hei reader's happu reading yaaa


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak berupa vote, like dan komennya ya agar author lebih semangat dan rajin updatenyađź’–


.


.


.


Irene kembali ke rumah sakit untuk membawakan beberapa barang dan keperluan Cassandra selama di sini. Sebelumnya Irene sudah memesan tiket penerbangan ke Korea setelah mendapat ijin dari Zean, tapi sebenarnya Irene merasa ada hal aneh tumben sekali Zean langsung memberinya ijin dengan mudah biasanya sangat sulit sekali untuk mendapatkan ijin dari Zean apa lag ijin untuk bepergian sendiri seperti ini. Ah, sudahlah Irene tidak mau ambil pusing yang terpenting ia sudah mendapat ijin.


“Kau sudah sadar, Cassandra?” tanya Irene saat memasuki ruang rawat inap wanita itu seraya meletakan barang bawaannya.


“Iya, Irene. Terima kasih, Irene. Karena kau aku selamat, kalau saja kau tidak menyadari mungki jantungku sudah tertembak dan mati di tempat,” ungkap Cassandra.


“Berhenti membicarakan kematian, Cassandra!” seru Allan yang muak sekali sedari tadi menjaga Cassandra yang terus saja membicarakan soal kematian.


Irene terkekeh mencoba mencairkan suasana. “Sudahlah, jangan bertengkar.”


“Oh, iya. Aku sudah melakukan penyelidikan, aku meminta orang suruhanku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat Cassandra ditembak. Aneh, orang suruhanku sama sekali tidak bisa menemukan bukti apa pun bahkan seluruh kamera CCTV di sekitar sana tidak berfungsi. Kita juga tidak bisa mengandalkan kamera dashcam karena parkir mobil yang membelakangi inside itu. Kalau dipikir insiden penembakan Cassandra ini sepertinya sudah diatur oleh orang yang sangat mahir, seperti orang yang sudah tahu celah-celah yang tepat agar tidak menimbulkan kekacauan dan sama sekali tidak meninggalkan jejak, ” jelas Allan.


Cassandra nampak berpikir. “Seingatku, aku tidak pernah punya musuh atau seseorang yang cekcok denganku. Aku selalu berteman dan menjalin hubungan baik dengan banyak orang.”


“Mungkin ada seuatu yang diincar darimu,” tebak Allan.


Irene menghelas napas sejenak, ia juga pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari penembakan Cassandra ini. Apa ada hubungannya dengan pria di masa lalu Irene yang juga pernah menembaknya?


“Zean dalam perjalanan menuju Praha, kalian bisa berdikusi dan meminta bantuan Zean untuk memecahkan hal ini. Saat ini aku harus ke Korea, aku perlu menemui seseorang di sana. Dan, tolong rahasiakan dari Zean tentang hari pemebakan ini. Kumohon jangan katakan kalau aku bersama Cassandra karena itu akan membuat Zean khawatir denganku,” jelas Irene.


Allan dan Cassandra mengangguk paham, tapi ada sesuatu yang mengganjal di benak Allan.


“Tapi, siapa yang akan kau temui di Korea?” tanya Allan penasaran.


“Aku akan menemui seseorang yang bisa memberi kita informasi, aku telah mencurigai seseorang yang mungkin ada kaitannya dengan penembakan Cassandra. Tapi aku mengatakan pada Zean, aku ke Korea untuk menemui ibuku. Kumohon rahasia ini juga, aku tidak ingin Zean khawatir,” jawab Irene.


“Baiklah, semoga kau menemukan sesuatu di Korea,” ucap Allan setuju.


“Berhati-hatilah, Irene. Dan, terus kabari kami kalau kau menemukan sesuatu,” tambah Cassandra.


Irene hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian ia berlalu pergi.


***


James membuka kedua matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Rebecca yang masih tertidur pulas di sampingnya. Tangan James tergerak mengelus wajah cantik istrinya itu.


“Apa semalam kita bercinta?” tanya James seraya tersenyum mengingat apa yang terjadi semalam.


Tak lama, tiba-tiba senyum lembar di wajah James memudar saat ia mulai mengingat apa saja yang ia lakukan kemarin. James duduk di sebuah bar, ia minum sebanyak hampir dua botol wisky lalu sesorang menyapanya, orang itu adalah Mr.Arizo. James berusaha mengingat lagi, ia menepuk-nepuk kepalanya berusaha untuk terus mengingat.


“Oh, ayolah! Apa saja yang aku lakukan kemarin!” James masih mencoba mengingat.


“Sedang apa kau, bodoh?” tanya Rebecca yang sudah bangun itu seraya menatap aneh James yang menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


“Apa yang terjadi padaku? Apa Mr.Arizo yang mengantarku pulang? Apa Mr.Arizo mengatakan sesuatu atau apa mungkin aku yang mengatakan sesuatu padanya? Apa saja yang terajadi semalam?” James menyerang Rebecca dengan pertanyaan-pertanyaannya.


Rebecca beranjak dari tidurnya, beralih posisi jadi duduk di bibir ranjang.


“Mana kutahu! Ternyata benar ya, kau hanya mabuk. Semua yang kau katakan kemarin mungkin hanya racauan semata. Lihat sekarang, bahkan kau tidak mengingat apa pun!” kesal Rebecca sepertinya karena ia sempat bawa perasaan saat James mengatakan mencintainya, tapi dalam keadaan mabuk.


“Hei, kau mau ke mana, Rebecca! Kau harus memberitahuku! Hei!” seru James karena Rebecca sudah beranjak pergi.


Sepertinya James harus menemui Mr.Arizo untuk memastikan dirinya tidak mengatakan hal-hal aneh. James khawatir jika ia meracau yang tidak-tidak terlebih alasan ia minum kemarin adalah stres karena ultimatum Keluarga Lowerth yang begitu memberatkan. James segera bergegas menyiapkan diri, ia hendak mengunjungi Mr.Arizo untuk memastikan dirinya tidak meracau yang aneh-aneh kemarin.


“James!” seru Rebecca sambil menggendong Jenny, putri kecilnya.


“Ada apa? Aku baru beres mandi,” sahut James yang baru keluar dari kamar mandi.


James menatap Rebecca kemudian menatap Jenny sekilas. “Tidak! Tidak bisa! Aku harus memeriksa hal penting hari ini, lebih penting dari pada janji ke salonmu itu.”


Rebecca membulatkan mata penuh, ia kaget dengan reaksi James. Tumben-tumbennya James seperti ini.


“Hei! Ada apa denganmu? Biasanya kau selalu menurut,” protes Rebecca.


“Tidak kali ini, Rebecca. Ada hal yang benar-benar sangat penting,” ucap James ia berjalan ke wall in closet mencari setelan jasnya hari ini.


Rebecca menaruh Jenny di ranjang kemudian menyusul James ke wall in closet.


“Aku sudah berjanji, James. Tidak bisa dibatalkan begitu saja,” Rebecca masih berusaha agar James mau mengerti.


James menghela napas sejenak, lalu ia menarik Rebecca hingga tubuh mereka saling berdekatan.


“Kumohon, Rebecca. Urusanku kali ini lebih penting dari janji salonmu itu,” ucap James lalu mengecup singkat bibir Rebecca kemudian ia kembali sibuk mengenakan pakaiannya.


Rebecca hanya mematung, ia kesal tapi tidak bisa memaksa James lagi. Putusan pria itu sudah bulat, ia tidak mau menuruti kemauan istrinya.


“Dasar pria menyebalkan!” umpat Rebecca kesal lalu ia kembali mengambil Jenny dan memutuskan untuk mengajak Jenny ikut ke salon dengannya.


James menatap kepergian Rebecca, sudahlah itu tidak penting baginya. Sekarang juga ia harus menemui Mr.Arizo. Setelah siap denagn setelan jasnya ia langsung menuju ke Arizo Group, perusahaan milik Mr.Arizo.


“Selamat datang, Mr.James Lorwerth,” sambut karyawan wanita yang sekarang mengantar James menuju ke ruangan Mr.Arizo.


“Apa jadwal kerja Mr.Arizo cukup padat hari ini?” tanya James basa-basi saat mereka memasuki lift VVIP.


Wanita itu tersenyum lalu menggeleng. “Tidak, tuan. Mr.Arizo sejak tadi ada di ruangannya.”


James hanya mengangguk sebagai tanggapan, kemudian lift terbuka dan mereka pun sampai di dekat ruangan Mr.Arizo.


“Silahkan masuk, Tuan. Mr.Arizo sudah menunggu ada di dalam,” ucap wanita.


James langsung mengetuk dan membuka pintu ruangan itu, di dalam Mr.Arizo sudah duduk di sofa seolah menunggu kedatangan seseorang untuk bertamu.


“Kau sudah datang, James Lorwerth,” sapa Mr.Arizo.


James langsung duduk di hadapan Mr.Arizo.


“Sebelumnya aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku karena Anda telah mengantarku pulang,” ucap James berterima kasih.


Mr. Arizo tersenyum ramah. “Melihat anak muda duduk sendiri di bar dengan keadaan mabuk, aku seperti melihat putraku, Allan. Karena itu aku tidak bisa tinggal diam saat melihatmu kemarin.”


“Sepertinya Anda sangat menyayangi putra Anda, Mr.Arizo.”


Mr.Arizo mengangguk. “Tentu setiap orangtua pasti menyayangi anak-anak mereka meski angkat angkat sekali pun.”


Deg! Ucapan Mr.Arizo ini mengganggu pikiran James. James kembali berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, tapi sungguh ia tidak bisa mengingat banyak hal.


“Anak angkat? Apa maksud Anda, Mr.Arizo?” tanya James polos.


“Hahaha.... ya begitulah maksudnya. Setiap orangtua pasti menyayangi anak-anaknya, tidak peduli anak kandung, anak tiri bahkan anak angkat sekali pun,” jawab Mr.Arizo diiringi tawanya.


James hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Oh, iya, James Lorwerth. Apa ingin bertemu denganku hari ini hanya untuk menyampaikan rasa terima kasihmu saja?” tanya Mr.Arizo was-was, ia khawatir jika James mungkin mengingat setiap ucapan yang ia katakan semalam.


Sebenarnya tujuan James hanya satu, memastikan ingatannya karena mabuk semalam dan memastikan lagi jika dirinya tidak bicara yang aneh-aneh.


“Ah, iya, Mr.Arizo. Aku juga hendak mentraktirmu makan sebagai tanda terima kasihku,” ucap James kemudian.


“Tentu, ayo kita makan bersama.”


James mearsa lega, setelah melihat reaksi Mr.Arizo sepertinya tidak ada hal serius yang terjadi kemarin.


“Sepertinya semua baik-baik saja,” lega James dalam hati.