
Sudah enam bulan berlalu sejak kecelakaan tragis yang Zean saksikan dengan mata kepalanya sendiri, di dalam mobil yang merosot jatuh ke jurang itu ada wanita yang sangat ia cintai. Hingga saat ini, setiap kali Zean memejamkan mata, bayang-bayang kejadian tragis itu masih sering terlihat.
Banyak yang berubah selama enam bulan ini. Semua orang mulai menemukan kebahagaiaannya masing-masing. Alice dan Gerald sudah menikah dan saat ini Alice tengah mengandung dua bulan. Rebecca dan James hidup bahagia, beberapa bulan lagi anak mereka akan lahir. Sedangkan Kim, Kim baru saja bertunangan dengan seorang dokter cantik yang merupakan rekan kerjanya.
Zean tersenyum kecut mengingat betapa mulusnya kehidupan orang-orang di sekitarnya setelah mengalami masa-masa sulit. Tapi tidak dengan dirinya, Zean terus menerus berhadapan dengan kepedihan. Zean selalu berusaha untuk tetap tegar dan tidak mengeluh untuk apa yang harus ia hadapi saat ini, tapi jujur ini begitu sulit baginya.
Zean berbaring di sofa putih panjang seraya mengeluarkan sekotak bludru merah lalu membuka kotak itu, isinya sepasang cincin berlian yang terlihat simple nan elegan. Zean menatap sepasang cincin yang seharusnya ia dan Irene pakai di hari pernikahan itu. Saat ini Zean sangat merindukan Irene. Zean rindu mendengar suara wanita itu, Zean rindu pada setiap ocehannya, Zean rindu menatap mata indah miliknya, Zean rindu melihat senyum yang menggembang di wajah cantiknya, Zean merindukan semua tentang Irene.
Tak henti-hentinya ingatan Zean terus memutar memori saat-saat bersama Irene. Sulit sekali untuk hidup normal bersama kenangan dengan wanitanya itu, Zean sangat tersiksa. Selama enam bulan ini, entah sudah berapa ratus kali Zean datang ke Gereja untuk memanjatkan doa yang sama berulang-ulang kali. Tapi nihil, tidak ada hasil, tidak ada yang berubah dari hidupnya. Sepertinya Tuhan masih enggan untuk mengabulkan doanya atau Tuhan sudah memiliki rencana lain untuknya.
"Aku harus berhenti berdoa, atau terus menunggu keajaiban dari-Mu?" tanya Zean menatap ke atas dengan tatapan nanarnya.
***
"*Hey. Putri kecilku yang cantik" Irene menimang bayi munggil itu dengan mata berbinar.
Zean melongokan kepala ke kamar bayi, ia tersenyum hangat melihat Irene menggendong putrinya.
Irene menoleh saat menyadari Zean hanya diam di ambang pintu. "Kemarilah, Zean"
Zean beranjak mendekati Irene.
"Lihatlah, Zean. Dia sangat mirip denganku, cantik sekali" Irene membanggakan bayi perempuan yang sangat mirip dengannya.
Zean menatap bayi yang di gendong Irene lalu meraih tangan kecil bayi itu.
"Dia cantik, sangat cantik, seperti ibunya. Kalian adalah wanitaku yang paling cantik yang aku miliki" ucap Zean tulus lalu mencium kening Irene kemudian mengecup singkat bayi itu.
Zean merangkul Irene yang masih menggendong bayinya. Irene terlihat sangat bahagia, Zean merasa keluarganya sudah lengkap, kebahagiaan ini saja sudah cukup baginya.
"Aku rasa dia butuh seorang adik untuk jadi teman bermainnya" saran Zean.
Irene nampak berpikir sejenak. "B**enarkah**?"
"Tentu, aku rasa begitu" Zean mantap dengan ucapannya.
Irene mendelik lalu mencubit lengan Zean hingga Zean meringis kesakitan.
"Kita harus membesarkannya terlebih dahulu, akan sulit mengurus dua bayi sekaligus" protes Irene.
"Bagaimana jika kita menyewa babysiter?" tawar Zean.
"Apa kau mau aku pukul dengan mainan ini?!!" ancam Irene meraih mainan boneka kayu yang ada di dekat nakas.
Zean terkekeh, kenapa Irene menanggapinya begitu serius padahal niat Zean hanya bergurau.
"Aku hanya bercanda, sayang" Zean memeluk Irene.
Irene masih fokus memandangi bayi mungil dalam dekapannya itu. Memandangi setiap inchi wajah bayi perempuannya yang begitu mirip dengannya. Jika diperhatikan mata bayi itu lebih mirip dengan mata Zean, dia mewarisi mata indah milik Zean.
"Ayo!"
Mereka berjalan-jalan di tanam sambil mendorong kereta bayi bersama. Irene dan Zean sesekali menangkap basah buah hatinya menguap, mereka sangat senang melihat betapa lucu ekspresi ketika bayi itu membuka mulut kecilnya sambil memejamkan mata.
"Kenapa dia lucu sekali" Irene gemas lalu mencubit lengan Zean.
Zean terkekeh. "Kenapa kau mencubitku" protesnya.
Irene mendelik.
"Karena tidak mungkin jika aku mencubit putri kecilku. Dia sangat menggemaskan, jadi ku putuskan untuk melampiaskannya padamu" Irene menunjukkan sederet gigi putihnya.
Zean tersenyum lalu menyentuh pipi Irene kemudian mengecup singkat bibirnya.
"Kalau begitu. Putri kecilku sangat menggemaskan, jadi ku putuskan untuk mencium ibunya saja" goda Zean.
Blushhh.. Pipi Irene merona, sial. Zean selalu bisa membuatnya tersipu.
Irene memeluk Zean, erat, sangat erat.
"Ada apa, Irene?" tanya Zean seraya menepuk-nepuk punggung Irene.
Irene tidak menjawab, ia malah terisak dalam pelukan itu. Irene menangis.
Zean panik, ada apa dengan Irene? Kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?
"Irene" Zean mencoba melepas pelukannya namun Irene memeluknya begitu erat. Untuk beberapa saat Irene tidak beraksi apapun, ia hanya diam menangis dalam pelukan Zean.
"Sebentar saja" ucap Irene akhirnya.
Zean memilih diam, menunggu Irene melanjutkan ucapannya.
"Biarkan kita seperti ini, aku ingin memelukmu. Aku ingin memelukmu hingga kita menua bersama, aku ingin tidur dalam pelukanmu, aku ingin menangis dalam pelukanmu, aku hanya menginginkan dirimu. Jangan pernah meninggalkan aku, Zean" Irene bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Zean tertegun saat Irene mengatakan hal itu, dadanya terasa sesak.
"Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu, Irene Banner" ucap Zean lalu tiba-tiba Irene menggilang begitu saja dalam pelukannya*.
"Irene!" seru Zean spontan membuka mata.
Zean mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mengatur napasnya. Semua itu hanya mimpi, semuanya tidak nyata. Apa arti dari mimpi ini?
Apa mimpi ini berarti bahwa Irene akan benar-benar pergi untuk selamanya? Apakah Irene tidak akan pernah kembali? Apakah Zean benar-benar harus mengikhlaskan wanita yang sangat ia cintai itu?
Zean tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Irene. Bahkan semua orang di dunia ini pun tidak bisa membayangkan bagaimana jika seseorang yang mereka cintai benar-benar pergi untuk selamanya.