
Rihanna khawatir melihat kondisi Zean yang akhir-akhir ini terlihat begitu lelah. Tubuh Zean semakin kurus, ia jarang makan dan lebih menghabiskan waktunya untuk lembur. Sebelumnya Zean tidak pernah seperti ini, ia selalu pintar membagi waktu mana waktu untuk bekerja, mana waktu untuk bersantai, bermain bahkan liburan. Rihanna dibantu oleh seorang perawat yang mendorong kursi rodanya mendekati Zean. Zean yang menyadari kehadiran Rihanna sejenak menghentikan kesibukannya lalu melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, sekarang pukul 23.45.
"Kenapa menemuiku larut malam begini, ibu?" tanya Zean pada Rihanna yang masih diam menatap meja kerja Zean yang berantakan.
"Kau harus pulang dan istirahat, bu. Jaga kondisimu-"
"Kau seharusnya mengatakan itu pada dirimu sendiri, Zean" potong Rihanna.
Rihanna tahu jika putranya itu sedang tidak baik-baik saja.
Zean menghembuskan napas perlahan, lalu beranjak dari duduknya berjalan menuju jendela besar yang menampakkan pemandangan indah Kota Boston malam ini. Zean lelah menahan kerinduan ini, sudah hampir sebulan ia masih belum bisa menemukan Irene.
"Aku kehilangannya, bu" ucap Zean tiba-tiba.
Rihanna memerintahkan perawat itu untuk keluar dari ruangan. Lalu Rihanna mendorong roda pada kursinya agar bergerak mendekati Zean. Rihanna tahu kemana arah pembicaraan ini nantinya. Sepertinya putranya telah benar-benar jatuh cinta pada wanita yang ia tidak tahu siapa.
"Zean, lihat ibu" perintah Rihana.
Zean menoleh, menatap ibunya. Sorot mata Rihanna jelas menampakan kekhawatiran padanya.
"Apa wanita itu, yang membuatmu seperti ini?" tanya Rihanna. Entah kenapa Rihanna sangat yakin jika wanita yang Zean cintailah yang menjadi sumber kekacauan putranya ini.
Deg! Jantung Zean seolah berhenti ketika ibunya bertanya soal Irene. Zean sendiri tidak yakin jika Irenelah penyebab dari kekacauan pada dirinya. Tapi yang Zean tahu, saat ini ia sangat merindukan gadisnya itu.
Rihanna tersenyum miris, Zean tak menjawab membuat Rihanna semakin yakin jika ini semua adalah karena wanita yang dicintai oleh putranya itu.
Zean bergeming, mendengar Rihanna terus menanyakan Irene membuat hatinya menjerit menginginkan gadisnya itu. Rindu ini semakin liar menjalar pada diri Zean. Di sisi lain, Zean sadar telah melukai perasaan ibunya karena ia tidak bisa mencintai Rebecca sebagai tunangannya.
"Maafkan aku, ibu" ucap Zean lalu memeluk Rihanna.
Rihanna memejamkan mata lalu bulir air menetes tanpa aba-aba, jujur ia sedih melihat putranya seperti sekarang ini. Zean dengan tubuh kurusnya, wajah kusam dengan rambut dan kemeja yang berantakan, seperti bukan Zean yang ia kenal dulu.
Rihanna terlalu khawatir dengan kesendirian Zean, bahkan putranya itu belum pernah mengenalkan satupun wanita padanya. Inilah yang menjadi kekhawatiran Rihanna oleh karena itu ibunya memutuskan untuk menjodohkannya dengan Rebecca karena Rebecca adalah anak dari sahabatnya yang merupakan anak dari keluarga baik-baik, namun inilah yang terjadi sekarang, ternyata Zean telah memiliki seorang wanita yang ia cintai.
"Kejar dia" ucap Rihanna tiba-tiba.
Zean menguraikan pelukannya, ia kaget melihat wajah sembab Rihanna, ibunya menangis.
"Kejar wanita itu jika kau memang benar-benar mencintainya" ucap Rihanna lagi.
Baru saja Zean ingin bicara sudah didahului oleh ibunya. "Maafkan ibu yang sudah menyakitimu dengan pertunangan ini. Maafkan ibu yang terlalu memaksakanmu, Zean" Rihanna kembali menangis.
Tangan Zean bergerak menghapus jejak air mata di pipi ibunya. Zean ikut merasakan kesedihan ibunya karena ia tahu saat ini Rihanna benar-benar kecewa tapi rasa sayangnya lebih besar dari pada kekecewaan yang Zean berikan. Rihanna mengalah, ia memberi kebebasan pada Zean untuk memilih cintanya.
"Aku menyanyangimu, ibu" ucap Zean lalu mengecup kening ibunya.
Zean tahu ia telah benar-benar menyakiti perasaan Rihanna begitu juga mengecewakannya. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan, hatinya telah jatuh pada seorang gadis yang bernama Irene Banner.