Stranger's In Love

Stranger's In Love
84|SINGAPORE



Irene menyipitkan matanya silau, ia melihat pemandangan langit biru dengan awan putih yang cantik dari luar jendela bulat. Ia juga bisa merasakan posisi tidurnya yang duduk sambil menyender ke samping tepat di bahu seseorang. Rasanya seperti mimpi yang begitu nyata.


"Kau sudah bangun?" ucap seseorang di sebelahnya.


Suara orang itu terdengar seperti suara Zean, sangat jelas dan nyata. Irene kembali memejamkan matanya sambil tersenyum. Indra penciumannya mulai mencium aroma parfum favorit Zean. Irene langsung membuka lebar kedua matanya, ia mengumpulkan kesadarannya.


"Ini bukan mimpi!" seru Irene sontak membenahi posisinya menjadi duduk tegak.


"Hey, calm down honey," ucap Zean mencoba menenangkan Irene yang nampak kaget.


Tentu Irene sangat terkejut. Siapa yang tidak terkejut saat tiba-tiba terbangun di kursi penumpang pesawat. Seingat Irene kemarin dirinya tertidur pulas di Penthouse.


"Ke mana kita akan pergi, Zean?"


"Singapore, honey," jawab Zean dengan santainya.


Irene membulatkan mata penuh. Zean benar-benar tidak terduga. Kenapa tiba-tiba sekali pergi ke Singapore tanpa membicarakannya lebih dulu? Irene merasa kesal terlebih lagi dirinya masih mempunyai urusan yang belum selesai di Praha. Bagaimana dengan Tae-O? Bagaimana dengan teka-teki museum milik Cassandra? Dan bagaimana dengan kelanjutan mengulas latar belakang bisnis Geraldine?


"Kau tidak boleh seperti ini, Zean. Tindakanmu terlalu tiba-tiba, aku ini istrimu bukan boneka yang bisa kau bawa sesukamu tanpa bertanya lebih dulu padaku," ungkap Irene kesal.


"Kau marah padaku, Irene?"


"Ya, aku marah. Bagaimana bisa kau mengesampingkan diriku? Kau selalu bertindak secara sepihak, kau tidak pernah bertanya atau meminta pendapatku. Memang kita sudah menikah, aku istrimu dan kau suamiku, tapi aku juga berhak atas diriku, Zean."


Baru saja Zean hendak bicara, tapi Irene sudah mendahuluinya.


"Aku tahu kau adalah orang yang sibuk, kau selalu mencuri-curi waktu agar kita bisa menikmati waktu berdua atau pergi berlibur. Tapi aku juga punya kehidupanku sendiri dan saat ini aku masih punya urusan yang belum selesai di Praha."


Zean langsung mengerutkan dahi saat Irene melontarkan kalimat terakhirnya.


"Urusan apa? Apa ada yang kau sembunyikan, Irene?" tanya Zean curiga.


Deg! Bodohnya, Irene tidak bisa mengontrol emosi dan sepertinya ia baru saja membocorkan misinya sendiri. Irene mendadak gugup, otaknya berpikir keras bagaimana agar bisa mengelak dari pertanyaan Zean ini.


"Hm... Maksudku, Cassandra. Bagaimana bisa aku meninggalkan dia di Praha setelah kejadian penembakan itu. Cassandra sangat baik padaku, jadi aku rasa aku harus mengurusnya hingga mentalnya benar-benar pulih. Aku rasa dia masih memiliki sedikit rasa trauma pasca kejadian itu."


Zean belum bereaksi, ia masih menatap istrinya lekat-lekat.


"Kenapa menatapku begitu, Zean?"


"Kau sangat mengkhawatirkan Cassandra, ya?"


Irene langsung mengangguk mantap. "Iya, aku sangat khawatir padanya."


Tangan Zean bergerak mengelus pucuk kepala istrinya.


"Jangan khawatir. Setelah urusan kita selesai di Singapore, aku berjanji akan membawamu kembali ke Praha." Zean menarik Irene ke pelukannya.


"Maafkan aku karena telah menyinggungmu. Maaf telah membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak bermaksud mengambil keputusan sepihak. Aku hanya ingin memberimu sebuah kejutan."


Irene membalas pelukan Zean. Rasanya begitu tenang setelah mendengar permintaan maaf yang tulus dari suaminya itu.


"Maafkan aku juga, Zean. Aku terlalu terbawa emosi."


Zean menguraikan pelukannya. "Tidak, Irene. Tidak perlu meminta maaf. Kau benar, aku mungkin terlalu egois dan selalu mengesampingkan dirimu. Aku bahkan tidak pernah meminta pendapatmu."


Irene tersenyum dengan mata nanarnya. "Ohh.. Ayolah, Zean. Kenapa kita jadi melodramatis seperti ini."


Zean terkekeh. "Beri aku satu ciuman agar situasi berubah menjadi lebih bergairah," bisik Zean.


Irene langsung mencubit lengan kekar Zean. "Dasar mesum!"


"Hei, kau tidak boleh mengatakan suamimu mesum, Mrs. Lorwerth," ucap Zean cemberut.


"Aku bicara fakta, Mr. Lorwerth."


"Apa faktanya seperti ini?" ucap Zean lalu mengecup singkat bibir istrinya itu.


"Zean," keluh Irene.


Cup! Satu kecupan lagi mendarat di bibir ranum Irene.


"Please Stop it, Zean!" Irene menutup bibirnya dengan kedua tangan.


"Why, honey?"


Irene menggeleng.


"Apa kau malu? Apa kita harus melanjutkannya saat tiba di hotel nanti?" goda Zean.


"Zean!!!!"


Tak lama kemudian mereka tiba di Changi Airport, Singapore. Di lobi sudah ada dua orang kepercayaan Zean yang menanti kedatangan mereka.


"Welcome to Singapore, Mr and Mrs Lorwerth," sambut dua orang itu pada Zean dan Irene.


Irene tersenyum dan mengangguk ramah sebagai tanggapan.


"Semua sudah siap?" tanya Zean pada dua orang itu.


"Sudah, Mr.Lorwerth. Kami akan mengantar tuan dan nyonya menuju hotel dulu untuk beristirahat," sahut salah satu dari dua orang kepercayaan Zean itu.


Zean dan Irene memasuki mobil dan mobil itu mulai melaju menuju hotel. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah hotel mewah yang bertuliskan Raffles Hotel. Hotel elegan dengan bangunan bergaya Kolonial sekitar tahun 1887 dengan taman indah ini berjarak 2 km dari kasino di Marina Bay Sands dan 8 km dari Sentosa Island. Benar-benar menakjubkan meski belum masuk ke dalam hotel itu.


"Oh my God! Are you kidding me, Zean? It such a beautiful hotel i ever see." takjub Irene saat mereka sudah berada di kamar hotel dengan pemandangan kebun yang luar biasa indah dan desain interior bergaya kolonial yang khas.


"Aku senang jika kau menyukai hotel pilihanku ini," ucap Zean seraya memeluk Irene dari belakang.


"Thank you, Zean. Kau selalu berhasil membuatku merasa layaknya seorang Ratu yang hidup bahagia seperti di Negeri Dongeng."


Zean tertawa lepas. "Hahahaha... Bukankah kata-katamu terlalu hiperbola, honey?"


Irene langsung mencubit Zean. "Aku sungguh-sungguh, kau malah meledekku!"


"Baiklah-baiklah, maafkan aku ibunda ratu." goda Zean.


Irene mendelik sebal lalu melepaskan diri dari pelukan Zean. "Kau menyebalkan!"


"Sudahlah. Persiapkan dirimu, Irene. Sebentar lagi kita akan bertemu seseorang."


"Siapa, honey?" tanya Irene penasaran.


"Nanti juga kau akan tahu," ucap Zean dengan segera kabur menuju bathroom.


"Zean, jawab aku!!!" seru Irene yang langsung menyusul Zean tapi pria itu sudah lebih dulu mengunci pintu bathroom.


Irene mengetuk-ngetuk pintunya.


"Zean, open the door!"


"Zean, open the door!"


Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara air sepertinya Zean langsung mandi dan memang enggan memberitahu Irene.


"Dasar, menyebalkan!" umpat Irene kesal.


Tiba-tiba fokus Irene teralihkan menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang king size itu, tertera satu panggilan masuk dari Tae-O.


"Tae-O." ucap Irene menjawab panggilan itu.


"Noona. Aku baru bisa menghubungiku, kau ke mana saja?" sambar Tae-O to the point yang sudah frustrasi karena sulit menghubungi Irene tadi.


"Maaf, Tae. Tadi aku dalam penerbangan menuju Singapore. Zean tiba-tiba membawaku ke mari, ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan padaku. Maaf tidak sempat mengabarimu," jelas Irene


Terdengar helaan napas diseberang telepon, sepertinya Tae-O merasa lega setelah mendengar kapan dari Irene karena sebelumnya pria itu sempat khawatir apabila terjadi sesuatu pada Irene.


"Kapan kau akan kembali, Noona?"


"Secepatnya, setelah urusanku di sini selesai. Untuk sementara kau bisa menyusun rencana dengan Cassandra atau mulai mengumpulkan petunjuk-petunjuk lainnya."


"Jangan khawatir, Noona. Aku akan mengurus hal ini selagi kau pergi. Lagi pula Cassandra juga sudah tidak meragukanku."


"Baiklah, sampai nanti Tae."


"Bye, Noona."


"Kau bicara dengan siapa di telpon, honey?" tanya Zean yang tiba-tiba muncul di belakang.


Irene hampir melompat kaget. "Oh My God, kau mengagetkanku, Zean."


"Kau sudah beres mandi, Zean?"


"Aku mendengar kau menyebutkan nama Cassandra dan Tae-O," sambar Zean tanpa menghiraukan pertanyaan Irene padanya.


Irene menegang entah kenapa ia merasa seperti tertangkap basah oleh Zean.


"Hm... Iya benar, itu Tae-O menghubungiku dia bilang akan pergi liburan ke Praha. Jadi aku katakan padanya untuk menghubungi nomor Cassandra atau Allan karena aku sedang tidak di Praha. Aku khawatir Tae-O merasa kesepian sendiri di sana. Aku juga mengatakan untuk menginap saja di Mansion mu, kuharap kau tidak keberatan, honey?" jelas Irene mengarang cerita.


"Oh, tentu. Silahkan, beri dia apa pun yang dia perlukan. Aku akan meminta Cassandra dan Allan untuk menjaganya."


"Tidak, Zean. Hm... Maksudku tidak perlu menghubungi Cassandra dan Allan lagi. Tadi aku sudah menitip pesan pada mereka. Ayolah jangan khawatirkan Tae-O, dia sudah besar. Mari fokus pada tujuan kita di sini," ucap Irene berusaha meyakinkan Zean.


Zean mengangguk patuh tanpa curiga sedikitpun.


"Baiklah. Kalau begitu kau harus mandi sekarang, Irene. Sebentar lagi kita akan berangkat."


"Tentu, suamiku," ucap Irene lalu mengecup pipi Zean dan bergegas menuju bathroom.


...***...


Di sinilah Irene dan Zean saat ini, di sebuah ruangan konsultasi di rumah sakit ternama di Singapore. Sebelumnya Zean mengajak Irene makan malam di restoran hotel setelah itu Zean langsung membawa Irene ke mari. Awalnya Irene pikir rencana Zean untuk mengikuti program bayi tabung dengan meminjam ibu pengganti hanyalah rencana belakang yang masih dipersiapkan. Namun, ternyata rencana Zean benar-benar matang, suaminya itu telah merencanakannya dengan sempurna.


“Jadi ini kejutan yang kau maksud, Zean?” tanya Irene.


“Yes, honey. Surprise!” jawab Zean antusias, tapi Irene masih terlalu kaget untuk menerima kejutan ini.


“Selamat malam, Mr and Mrs Lorwerth,” sapa seorang dokter wanita yang kira-kira berusia empat puluh tahunan.


“Honey, perkenalkan ini Dokter Kelly Lord. Dokter yang sempat aku ceritakan padamu tentang program bayi tabungnya,” ucap Zean memperkenalkan dokter itu pada istrinya.


“Halo, Dokter Kelly. Senang bertemu denganmu, aku Irene,” ucap Irene sedikit canggung.


Dokter Kelly tersenyum seraya mengulurkan tangannya, kemudian Irene pun menjabat tangan Dokter Kelly.


“Senang bertemu denganmu juga, Mrs. Lorwerth.”


“Ah, kau bisa memanggilku Irene saja, Dokter Kelly,” ucap Irene dengan senyum ramahnya.


Dokter Kelly mengangguk, mengalah. “Baiklah, Irene.”


Mereka bertiga duduk di ruangan itu, tapi masih belum memulai pembicaraan.


“Zean,” panggil Irene dengan nada kecil hampir terdengar seperti bisikan.


Zean langsung mendekatkan dirinya dengan Irene. “Yes, honey.”


“Kenapa kita hanya diam saja?” tanya Irene ragu-ragu. Ia merasa tidak nyaman jika hanya diam dan Dokter Kelly sibuk membaca sebuah dokumen yang seperti itu rekam medis seseorang.


Zean meraih kedua tangan Irene dan menggenggamnya erat. “Jangan gugup, Irene. Bersabarlah, kita sedang menanti seseorang.”


“Siapa?” tanya Irene.


Tok! Tok! Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan tak lama kemudian pintu itu terbuka menampakan seorang wanita muda yang kira-kira berusia sekitar dua puluh tahunan. Wanita mendekat dan langsung duduk di samping Dokter Kelly, seperti tidak ada rasa canggung dalam diri wanita muda itu. Nampaknya dia sudah cukup dekat dengan Dokter Kelly.


“Maaf aku terlambat,” ucap wanita muda itu.


“Tidak masalah, Mia,” ucap Dokter Kelly lalu pandangannya yang sibuk menatap dokumen tadi kini beralih menatap Irene dan Zean.


“Mr and Mrs Lorwerth perkenalkan ini Mia Harper. Mia Harper adalah wanita yang bersedia meminjamkan rahimnya sebagai ibu pengganti untuk program bayi tabung kalian. Mia Harper seorang wanita muda yang sehat, usianya masih sembilan belas tahun dan sebentar lagi akan menginjak dua puluh tahun bulan desember mendatang. Mia seorang pekerja paruh waktu di kedai coffee, dia bersedia meminjamkan rahimnya dengan sukarela sesuai dengan kontrak yang sudah ditentukan,” jelas Dokter Kelly.


Zean langsung mengulurkan tangannya dan Mia menjabatnya. “Perkenalkan aku Arzean Lorwerth dan ini istriku Irene. Mohon kerja sama dan bantuanmu untuk program ini, Ms.Harper.”


“Senang bisa membantu anda Mr and Mrs Lorwerth,” ucap Mia lalu ia beralih hendak mengulurkan tangan kepada Irene, tapi tiba-tiba Irene beranjak dari duduknya.


Zean spontan menatap Irene yang bertindak tidak sopan ini. “Ada apa, honey?”


“Zean, kita perlu bicara,” ucap Irene lalu pandangannya beralih menatap Dokter Kelly dan Mia yang sudah lebih dulu menatap aneh Irene.


“Maaf, Dokter Kelly dan Ms.Herper. Aku perlu bicara dengan suamiku sebentar,” jelasnya lalu Irene mendahului pergi.


Zean pun beranjak dari duduknya. “Permisi sebentar, aku harap kau mengerti Dokter Kelly dan maaf atas sikap istriku Ms.Herper.”


Mia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


“Tentu, silahkan bicara. Sepertinya kalian masih perlu waktu privasi untuk membahas tuntas program ini,” ucap Dokter Kelly.


Zean hanya mengangguk sebagai tanggapan dan kemudian pergi menyusul Irene.


“Kenapa kau bersikap seperti itu, Irene?” tanya Zean to the point, kini mereka berada di rooftop rumah sakit.


“Zean,” Irene menatap Zean lekat-lekat.


“Apa kita akan memanfaatkan gadis muda itu? Apa kita akan membayar jasa gadis itu untuk mengandung selama sembilan bulan? Apa itu hal yang benar-benar ingin dilakukan oleh gadis itu? Apa dia sudah pernah hamil sebelumnya?”


Zean menyentuh pundak istrinya, mencoba untuk menenangkan Irene. Zean tahu sekarang apa alasan sikap tidak sopan istrinya itu. Irene hanya terlalu mengkhawatirkan Mia, dia tidak ingin program ini merusak masa depan Mia terlebih Irene yakin mungkin program ini akan menjadi kehamilan pertama bagi gadis muda itu.


“Tidakkah dia terlalu muda untuk menjadi ibu pengganti, Zean?”


“Tolong tenangkan dirimu, sayang.”


“Bagaimana aku bisa tenang, Zean. Kita akan mempertaruhkan masa depan seseorang terlebih orang itu akan mengandung di usia muda.”


“Irene dengar,” Zean menatap Irene dalam.


“Program ini saling menguntungkan, kita akan bisa memiliki keturunan dan aku bersedia membayar gadis itu bahkan aku memberi kebebasan pada Mia Herper menulis berapapun nominal yang dia inginkan,” jelas Zean.


“Tapi, Zean,”


“Pikirkan Irene, bukan hanya kita yang membutuhkan tapi gadis itu yang lebih membutuhkan. Jika kita setuju menggunakan jasanya sebagai ibu pengganti bukankah kita sudah sangat membantunya mungkin saja dia sedang memiliki masalah keuangan yang mengharuskan dia berusaha hingga bersedia meminjamkan rahimnya.”


Irene menghela napas sejenak, ia merasa sudah kehabisan kata. Irene tidak bisa mengelak semua perkataan Zean ada benarnya. Lagi pula bukan mereka yang memaksakan gadis itu untuk menjadi ibu pengganti, tapi gadis itu sendiri yang sukarela dan sepertinya memang sangat membutuhkan uang.


“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi dan aku juga tidak tahu apakah tindakan kita ini sudah benar atau salah.”


Zean menarik Irene ke dalam pelukannya. “Kumohon percayalah, Irene. Kita bisa menghadapi ini, aku sangat mencintaimu.”


“Aku juga mencintaimu, Zean.”


Zean masih memeluk istrinya itu seraya mengelus punggungnya berusaha menenangkan Irene.


“Aku ingin kau percaya, Irene. Kita harus saling percaya dan semua pasti akan berjalan sesuai rencana.”


Irene hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Ayo, kita harus kembali untuk membahas hal ini bersama Dokter Kelly dan Ms. Harper.”


Mereka pun kembali ke ruangan konsultasi itu.


“Apa semua baik-baik saja?” tanya Dokter Kelly saat mereka kembali duduk.


“Tentu,” jawab Zean seraya merangkul istrinya.


“Maafkan sikapku tadi, Dokter Kelly dan Ms.Harper,” ucap Irene yang merasa tidak enak dengan sikapnya tadi.


“Tidak masalah, Mrs.Lorwerth,” ucap Dokter Kelly.


“Kau mungkin terkejut mendengarku, Mrs.Lorwerth,” ucap Mia yang merasa jika Irene agak sedikit terganggu dengan latar belakangnya.


Mereka kembali ke topik yang seharusnya dibahas sejak tadi yaitu mengenai program bayi tabung dengan ibu pengganti. Dokter Kelly menjelaskan pada program ini, pembuahan yang terjadi antara sel telur ibu dan ****** ayah, dilakukan di luar rahim. Setelah pembuahan tersebut berhasil membentuk embrio, kemudian calon janin tersebut ditanamkan di rahim lain. Karena itu, berbeda dari pilihan yang tradisional, ibu yang dititipkan bukanlah ibu kandung dari bayi.


Setelah menjelaskan itu, Dokter Kelly mengeluarkan sebuah map yang berisi kontrak perjanjian yang di dalamnya menyebutkan bahwa Mia Harper bersedia menjadi ibu pengganti dan meminjamkan rahimnya selama satu periode kehamilan hingga melahirkan nanti. Di kontrak perjanjian itu juga tertulis seluruh keperluan dan biaya hidup Mia Harper akan menjadi tanggung jawab Arzean Lorwerth maka dari itu Mia Harper diminta untuk tinggal bersama Zean dan Irene sampai masa kontrak ini berakhir. Sebagai pihak kedua, Mia Harper mendapat keuntungan pribadi dan berhak atas selembar cek yang nominalnya bisa ia tuliskan sesuai keinginan dan cek tersebut akan ia dapatkan di akhir kontrak ini.


“Bagaimana Mr and Mrs Lorwerth, apa kalian setuju dengan isi dari perjanjian kontrak ini?” tanya Dokter Kelly pada pasangan pasutri itu.


“Kami setuju,” jawab Zean sedangkan Irene hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Dokter Kelly beralih menatap Mia. “Bagaimana Ms.Harper, apa anda setuju dengan isi dari perjanjian kontrak ini?”


“Ya, tentu. Aku setuju.”