Stranger's In Love

Stranger's In Love
6|SHIT MORNING!



Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)


Visual :


James Lorwerth



.


.


.


Irene memoles wajahnya dengan make up natural, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Oh sungguh Irene yang malang. Ini adalah hari pertama penderitaannya akan dimulai, entah kenapa ia memiliki firasat buruk tentang Zean. Apa yang Zean inginkan dari seorang Irene Banner?


"Jadi, ini adalah hari pertamamu bekerja"


Irene hampir melompat kaget, ia begitu larut dalam lamunanya hingga tak menyadari kehadiran Alice.


"Kau diterima di Lorwerth Corporation tapi kau tidak memberitahuku?" tanya Alice dengan raut wajah kesal.


“Bisakah kau mengetuk pintu dahulu—“


“Jawab pertanyaanku, Irene” potong Alice tak sabaran.


Irene menghela nafas, lalu ia menatap Alice.


“Ya, aku diterima bekerja di Lorwerth Corporation” ucap Irene malas.


Alice melotot tak percaya, detik kemudian senyum lebar menggembang di wajahnya, dia sangat senang sekali.


“Apa pria yang semalam itu adalah putra sulung dari pemilik Lorwerth Corporation?” tanya Alice penasaran.


"Hm"


“Apakah dia Arzean Lorwerth?” tanya Alice lagi.


“Hm”


“Jadi, bisaku simpulkan semalam kau kencan piyama dengannya kan” goda Alice.


Wajah Irene memerah, oh sungguh saat ini ia benar-benar malu. Pasti semalam Alice mengintip dari atas balkon dan Irene yakin kakaknya itu pasti tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang hanya mengenakan piyama tidur dengan rambut seperti sarang burung.


Jadi semalam tanpa Irene sadari, ternyata Alice mengintipnya dari atas balkon. Jujur, Alice malas meladeni orang yang bertamu di malam hari. Alice enggan membuka pintu, namun ia penasaran siapa yang bertamu malam begini. Dan ternyata orang yang datang semalam bukan datang untuk bertemu Alice melainkan Irene. Dari atas balkon Alice tertawa geli melihat bahkan mendengar semua percakapan Irene dan Zean semalam.


“Apa yang kau bicarakan, Alice” ucap Irene dengan wajah yang berusaha menyembunyikan rasa malunya itu.


Alice terkekeh geli melihat reaksi Irene.


“Kita harus merayakan hari pertamamu, Irene. Kita akan dinner sekaligus aku akan memperkenalkan calon tunanganku padamu malam ini. Jadi, ku mohon kenakan gaun terbaikmu jangan kenakan baju piyama tidurmu, monster coklat” ledek Alice diiringi tawa kecilnya, lalu ia berjalan keluar kamar.


“Terserah katamu, aku tidak peduli!!” teriak Irene menatap tajam punggung Alice.


Alice berbalik menatap Irene. “Apa kau dengar sesuatu?” tanya Alice kali ini serius.


“Ya, klakson mobil” jawab Irene enteng.


Tunggu, tunggu dulu. Apa barusan? Klakson mobil?


Alice berlari menuju balkon, diikuti oleh Irene dibelakangnya. Mereka melihat sebuah mobil sport Bugatti Chiron  keluaran terbaru itu terparkir di depan gerbang rumahnya dan detik kemudian seorang pria keluar dari mobil itu. Siapa lagi pria itu jika bukan…….


Arzean Lorwerth.


“Shit morning!” keluh Irene kesal.


Alice menatap adiknya dengan tatapan jahil.


“Wahhhh….. sepertinya kau benar-benar kecan piyama semalam” goda Alice.


“Tetaplah di sini, jangan keluar dan jangan katakan apapun. Aku akan menemuimu malam nanti untuk bertemu dengan calon tunanganmu” ucap Irene lalu berlalu pergi.


Dengan langkah seribu Irene menuruni tangga dan berjalan keluar menghampiri Zean yang berdiri bersandar di dekat mobil sport itu.


“Kenapa kau lama sekali, Irene?” tanya Zean.


Irene tak menghiraukan pertanyaan Zean, ia malah melontarkan pertanyaan balik.


“Apa yg kau lakukan di sini, Stranger?” tanya Irene.


Zean mendelik lalu mata cokelat pria itu menatap Irene.


“Apa kau tidak tahu cara mengucapkan salam selamat pagi atau bertegur sapa? Beginikah caramu memperlakukan atasanmu, Ms.Banner?"goda Zean.


Irene menghela nafas kasar lalu menatap Zean dengan tatajam tajam yang menusuk, Zean benar-benar membangkitkan api emosinya pagi ini.


“Maafkan aku, Mr.Lorweth. Tapi bisakah kau mengatakan padaku apa yang kau lakukan pagi-pagi di rumah sekretaris pribadimu?” tanya Irene dengan penekanan pada kata ‘sekretaris pribadimu’


Zean mengangkat sebelah alisnya sambil menatap gadis di depannya yang sudah terbakar oleh emosi pagi ini.


“Kenapa kau jadi begitu formal denganku, Irene?” tanya zean dengan mata berkilat-kilat jahil.


Irene mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin sekali ia menonjok wajah tampan pria dihadapannya ini. Kenapa pria asing gila yang brengsek dan menyebalkan ini selalu mengganggunya? Tuhan, tolonglah Irene.


“Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini? Apa kau ingin memastikan aku datang ke kantormu? Apa kau meragukanku? Jangan khawatir, lihatlah aku sudah berpaikan serapi ini untuk pergi ke kantormu dan—“ ucapan Irene terpotong oleh Zean yg tiba-tiba mendekatkan wajahnya tepat di wajah Irene, hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas yang saling menerpa wajah mereka.


“Hentikan itu, Irene. Kau membuatku gila hanya dengan melihatmu mengoceh” ucap Zean dengan nada rendah seperti berbisik.


“Kau—“ ucapan Irene terpotong karena Zean mengecup bibirnya.


“Morning kiss, beautiful” bisik Zean.


Irene bisa merasakan bibir hangat Zean yang menempel singkat di bibir pinknya. Deg! Hanya sebuah kecupan mampu membuat Irene membeku tak bernapas, rasanya ia mulai lupa caranya bernapas dengan normal.


“Bernapaslah! Kau bisa mati jika menahan napas seperti ini” sindir Zean pada Irene masih sibuk dengan alam pikirannya.


Irene menghembuskan napas dari mulutnya, benar saja ia memang tidak bernapas tadinya. Dasar bodoh! Ciuman macam apa itu?


Zean membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Irene masuk, lalu Zean duduk di balik kemudi.


“Seat belt, please” ucap Zean lalu melajukan mobilnya.


“Apa kita akan ke kantor?” tanya Irene sambil menatap Zean yang fokus menyetir.


“Tentu!” jeda Zean.


“Kau pikir apa? Aku menjemputmu untuk camping, Ms.Banner?” sambungnya tertawa kecil.


Irene memutar bola mata malas. Kenapa dia tertawa? Apa ini lucu? Dasar pria gila!


"Mr.Lorwerth" panggil Irene sambil menatap Zean yang sedang menyetir.


“Bukankah ini berlebihan, kau tidak seharusnya melakukan ini. Untuk apa kau menjemput sekretarismu atau kau punya hobi menjemput semua karyawanmu atau hanya karyawan baru atau—“


“Karena aku menyukaimu, Irene” potong Zean cepat, menatap Irene sekejap lalu kembali menatap jalan.


Zean benci melihat gadis ini mengoceh karena itu dapat membuatnya gila untuk menutup mulut Irene dengan ciumannya. Hentikan ocehan itu, Irene. Kau membuatnya benar-benar gila sekarang.


🍂🍂🍂


Hening.


Irene tak mampu berkata apapun setelah Zean mengatakan bahwa dia menyukai Irene. Irene yakin orang asing ini hanya ingin bermain-main dengannya, mustahil pria brengsek seperti Zean benar-benar menyukai seorang wanita.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di area parkir VIP gedung pencakar langit yang bertuliskan 'Lorwerth Corporation'. Zean turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Irene keluar. Banyak yang memperhatikan adegan langka itu, seorang Arzean Lorwerth datang ke kantor bersama seorang wanita di mobilnya? Ini akan menjadi sejarah yang mendunia.


"Siapa wanita itu?"


"Ini kali pertama aku melihatnya bersama seorang wanita"


"Mungkinkah itu kekasihnya?"


"Sejak kapan dia dekat dengan wanita?"


"Dia memang tampan dan bukan pemain wanita"


"Apa ini yg dinamakan akhir dunia? Melihat Arzean Lorwerth bersama seorang wanita?"


Celetuk-celetukan orang disekitar yang melihat Irene dan Zean begitu jelas terdengar di telinga mereka. Tapi Zean terlihat cuek saja bahkan tidak peduli, sedangkan Irene sering kali menangkap basah beberapa pasang mata yang menatapnya tak suka.


"Kenapa mereka membicarakan mu?" tanya Irene sedikit berbisik.


"Karna aku sedang bersamamu, Irene" jawab Zean enteng, ia menggenggam tangan Irene lalu berjalan masuk ke gedung.


Irene tersentak kaget karena tiba-tiba Zean menggenggam tanganya begitu erat hingga ia tak mampu mengelak.


"Lepaskan, Mr.Lorwerth!" pinta Irene.


"Karyawan lain pasti akan mengira aku adalah salah satu gadismu" sambungnya.


"Tak akan" seru Zean sambil menekan tombol lift menuju ruangannya yg berada di lantai paling atas.


"Ku mohon jangan mempersulit hari-hariku untuk bekerja di sini, karyawanmu pasti akan bergosip yang tidak-tidak tentang-" ucapan Irene terpotong oleh Zean yang mengecup bibirnya.


"Jangan mengoceh, atau aku akan menciummu lagi" jeda Zean.


Irene mengepal kedua tangannya kuat kuat, ingin sekali rasanya ia hantam wajah pria yang tengah bersamanya saat ini.


"Mereka bergosip tentangku, kau adalah wanita pertama yang pernah mereka lihat bersamaku. Aku bukan seorang pemain, Irene" sambungnya terdengar tulus.


Benarkah? Oh, astaga! Irene meleleh mendengar itu.


'ting!' pintu lift terbuka.


"Dimana kau mengutip kalimat tadi" sinis Irene tak percaya pada Zean.


"Aku serius, Ms.Banner" ucap Zean.


Mereka tiba di ruangan Zean. Irene bingung, harusnya Zean mengantarnya ke ruangan kerja Irene tapi kenapa Zean malah membawa Irene ke ruangannya.


"Jadi, dimana ruanganku, Mr.Lorwerth?" tanya Irene.


"Di sini. Di dalam ruanganku adalah ruanganmu" jawab Zean sambil duduk di sofa kulit berwarna coklat tua itu.


Apa? Oh tuhan, sepertinya pria asing ini benar-benar sudah gila.


"Jangan bercanda, Mr.Lorwerth" seru Irene lalu beranjak pergi namun dengan cepat Zean menarik tangan Irene hingga dia jatuh ke pangkuan Zean.


"Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?" tanya Irene was-was.


Zean tersenyum hangat lalu menyelipkan rambut cokelat Irene ke belakang kupingnya.


"Karna aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu" jawab Zean menatap mata gadis di pangkuannya itu.


"Kau baru mengenalku, Mr. Lorwerth. Apa mungkin secepat ini kau bisa langsung mengatakan bahwa kau menyukaiku? Dan, ya, bahkan sejak pertama kali kau melihatku? Kau bercanda, tolong hentikan lelucon konyolmu ini" jeda Irene menghela napas.


"Kenapa kau membuatku kesal lalu kau membuatku merasa istimewa lalu kau membuatku kesal lagi lalu merasa istimewa lagi lalu-"


"Berhenti mengoceh atau aku akan menciummu" potong Zean sambil mendekatkan wajahnya dengan Irene.


Deg! Irene menelan ludah susah payah, kenapa pria asing ini selalu membuatnya berdebar seperti menaiki rollercoaster.


'brakk!'


Tiba-tiba pintu terbuka. Irene dan Zean menoleh bersamaan lalu dengan cepat Irene bangun dari pangkuan Zean. Ohhhhh benar-benar memalukan! Pasti orang di pintu akan berpikir yang tidak-tidak.


"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu, James" omel Zean menatap tajam pria yang berdiri seperti orang bodoh di depan pintu dengan mata melotot dan mulut terbuka.


Ya, bagaimana tidak? Pria itu James, James Lorwerth yang sempat syok melihat kakaknya, Arzean Lorwerth sedang bersama seorang wanita-cantik.


James tersenyum jahil lalu mengetuk pintu.


Dasar pria aneh! Dimana dia mendapat ajaran membuka pintu lebih dulu baru mengetuk?


"Apa benar kau seorang wanita?" tanya James berjalan mendekati Irene.


Irene menatap James dengan tatapan bingung. Apa pria ini tidak waras? Kenapa dia bertanya hal bodoh seperti itu?


"Jangan mengganggunya, James" sela Zean memperingati.


James menatap aneh Zean dengan wajah 'are u kidding me?' Sebelumnya Zean tidak pernah peduli jika James menggoda wanita manapun tapi sekarang? James hanya bertanya pada Irene dan Zean langsung mengatakan 'Jangan mengganggunya'


"Hmm.." James nampak berpikir.


"Baiklah, Zean. Tapi sungguh ini momen langka, akhirnya kau membuktikan bahwa aku memiliki saudara yang normal" jeda James.


"Jadi, bolehkah aku memperkenalkan diri?" tanya James.


Baru saja James hendak bicara, Zean sudah mendahuluinya. Dan tidak memberi James kesempatan bicara.


"Dia adalah James, James Lorwerth. James adalah adikku dia memang tidak sopan dan suka seenaknya. Dan James, ini adalah Irene Banner. Dia adalah sekretaris pribadi yang akan mengurusi perjalanan bisnisku" ucap Zean memperkenalkan keduanya.


Oh jadi pria aneh ini adalah adiknya si pria asing? Wahh benar-benar kakak adik yang sama gilanya.


Irene tersenyum kaku pada James, sedangkan James membalas senyuman itu dengan satu kedipan mata.


"C'mon, Zean! Aku ingin berkenalan secara resmi dengannya" ucap James lalu mengulurkan tangannya.


"James" ucapnya memperkenalkan diri sambil menatap Irene dengan senyum yang mengembang begitu ramah.


Dengan kaku Irene menjabat tangan James.


"Irene" ucapnya.


Lalu detik kemudian James langsung mencium punggung tangan Irene sontak itu membuatnya tersentak kaget. Zean melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan adiknya itu.


Irene langsung menarik tangannya dan melempar tatapan tajam pada James.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sadar?Kenapa kau mencium tanganku bahkan kita baru saja kenal, apa kau sedang mabuk? Kau baru mengenalku! Aku bukan wanita yang bisa kau perlakukan seenaknya! Aku tidak peduli walaupun kau adalah adik dari atasanku ak-"


"James! Bisakah kau keluar dari ruanganku" sela Zean menghentikan ocehan Irene.


James menatap Zean heran, tidak biasanya seorang Arzean Lorwerth menghalangi aksinya menggoda wanita manapun yang James inginkan.


"Kau wanita langka, nona. Jika aku melakukan itu pada wanita lain, mereka pasti akan senang dan bersedia tidur denganku tapi ada apa denganmu?" ucap James menatap Irene sambil mengangkat sebelah alisnya.


Irene menatap James kesal sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin sekali ia mencakar wajah James yang kurang ajar ini. Kakak dan adik sama sama menyebalkan dan brengsek!


"Hentikan, James!" seru Zean.


"Ohhh, baiklah, baiklah, Zean. Kau tidak perlu marah padaku, my cute brother" James mencoba mencairkan susasana.


"Aku akan pergi sekarang. Tapi jika kau bosan dengan sekretaris cantikmu ini, kau bisa menghubungiku, Zean" ucap James dengan tatapan yang tak beralih sedikitpun dari Irene yang membalas tatapan James dengan tajam dan menusuk, dasar pria menyebalkan.


James berjalan keluar, Zean menatap tajam punggung James. Zean sudah terbiasa dengan James yang sering menggoda wanita di depannya tapi entah kenapa kali ini Zean benar-benar kesal melihat adiknya itu menggoda Irene. Ingin rasanya Zean menonjok James hingga babak belur dan tak peduli jika James adalah adiknya sendiri.


"Maafkan James, Irene" ucap Zean yang kini menatap Irene.


Irene tak peduli, rasanya ia ingin menghilang dari pandangan Zean atau jika bisa ia ingin menghilang selamanya dari hidup Zean.


Zean menarik Irene dalam pelukannya tapi Irene menahan tubuhnya dengan mendorong dada Zean.


"Apa yang ingin kau lakukan sekarang, Mr.Lorwerth? Apa kau ingin aku memaafkan adikmu?" jeda Irene. Zean hanya diam menunggu Irene melanjutkan ucapannya.


"Tidak akan, kecuali dia yang meminta maaf dengan tulus" lanjut Irene melemparkan tatapan kesal.


Zean melingkarkan tangannya di pinggang kecil Irene, matanya menatap Irene yang terus mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak menatap Zean yang kini tengah menatapnya lembut.


"Aku tidak peduli tentang James, kau mau membencinya selamanya pun aku tidak peduli" jeda Zean.


"Aku hanya ingin kau menatapku sekarang" pinta Zean dengan suara rendah.


Irene memejamkan mata sejenak lalu mengalihkan pandangannya menatap Zean. Dua pasang mata itu seolah saling bicara dalam diam, saling bersautan tanpa henti. Detik kemudian, Zean mengelus pipi Irene.


"Jangan mengoceh di hadapan pria lain, jangan tersenyum pada pria lain. Dan jangan menatap pria lain seperti kau sedang menatapku saat ini" ucap Zean lalu mengecup singkat bibir Irene.