
Heyoo my lovely reader's
Karna banyak sekali yang sudah membaca karya ini dan ada beberapa yang masih merindukan Irene dan Zean. Author memutuskan untuk melanjutkan cerita ini, sembari Author menyiapkan karya kedua.
So, Happy reading yaaaaa
.
.
.
Irene mengerjapkan mata saat sinar mentari masuk menerobos melalui celah jendela kamarnya. Bisa ia rasakan hangat pelukan Zean yang tidur di sampingnya. Masih terasa maya, setelah banyak rintangan yang dilalui akhirnya cinta Irene berlabuh pada Zean.
Irene menatap Zean yang masih tertidur, tangannya tergerak menyentuh wajah tampan Zean.
"Kau terlihat seperti anak kucing," gumamnya terkekeh melihat rambut Zean yang berantakan.
Tiba-tiba Zean tersenyum dan membuka kedua matanya, sepertinya ia sudah bangun sekarang. Zean menatap Irene yang langsung memalingkan wajahnya, malu.
"Hei, kenapa malu-malu begitu?"
"Tidak, aku tidak malu. Aku harus bergegas menyiapkan sarapan untukmu," Irene beranjak. Namun, dengan segera Zean menariknya kembali dalam pelukannya.
"Zean," pekik Irene.
Zean tak melepas pelukannya, ia malah mendenkatkan wajahnya dengan Irene lalu mencium wanita itu.
"Morning kiss, beautiful," ucap Zean lalu beranjak ke kamar mandi.
Blush! Pipi Irene memerah karena perlakuan Zean tadi, pria itu tau cara membuat Irene memerah. Irene langsung bangun dan segera menyiapkan sarapan untuk Zean.
"Pagi, Nyonya," sapa asisten rumah tangga yang ternyata sudah selesai menyiapkan sarapan pagi.
"Bik, kan aku sudah bilang panggil aku Irene. Aku jadi canggung jadinya, hehe.." protes Irene pada Bik Asih.
Bik Asih tersenyum. "Tidak bisa, Nyonya. Anda tetaplah Nyonya saya, saya harus tau batasan."
Baiklah, Irene tidak terlalu mempermasalahkan itu.
"Sepertinya aku kalah cepat, ya. Bik Asih sudah selesai menyiapkan sarapan pagi," ucap Irene seraya menatap dua porsi roti bakar dan susu di atas meja.
"Iya, Nyonya."
Irene kembali ke kamar untuk mengecek apakah Zean sudah siap atau belum. Irene membuka pintu dan mendapati Zean sedang mengenakan kemeja putihnya, pakaiannya terlihat sangat formal.
"Kau ada acara penting hari ini?" tanya Irene.
Zean menganggu mantap. "Aku akan mengajakmu ke sebuah pertemuan bisnis," sahutnya.
Irene membulatkan mata penuh, ia kaget karena Zean tidak memberitahukan apa-apa sebelumnya.
Zean mendekati wanita itu lalu memeluknya dan mencium pucuk kepalanya.
"Maka dari itu cepat bersiaplah. Apa perlu aku turun tangan untuk memandikanmu, Mrs.Lorwerth?" goda Zean lalu meremas bokong Irene.
Sontak Irene langsung mencubit lengan Zean.
"Hentikan, Zean!" ucap Irene lalu berlari ke kamat mandi.
Zean terkekeh melihat tingkah wanitanya itu, ia kembali menyelesaikan pakaiannya.
Tiga puluh menit berlalu, Irene sudah siap dengan balutan gaun formal yang senada dengan heelsnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia benar-benar terlihat cantik dengan polesan make up natural.
Irene langsung turun dan di sana sudah ada Zean yang menunggunya di meja makan.
"Ayo, saranpan dulu," ajaknya.
Irene langsung duduk di hadapan Zean dan mereka mulai sarapan bersama.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Irene basa-basi karena merasa canggung.
Zean menatap Irene seraya memasukan roti ke mulutnya kemudian mengunyahnya beberapa saat.
"Tentu. Tidurku nyenyak, bahkan sangat nyenyak. Seorang wanita cantik tidur bersamaku, tentu jadi semakin nyenyak," jawabnya.
Dasar, sejak kapan Zean berubah jadi pria gombal seperti ini? Apa ini memang sisi lain yang sebenarnya pada diri Zean?
"Berhentikan menggodaku, Zean."
Zean terkekeh, mereka kembali melanjutkan makannya.
"Selesai," seru Irene setelah selesai meneguk habis susunya.
Zean melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sekarang masih pukul delapan pagi, mereka harus berangkat ke bandara sekitar pukul sembilan nanti.
"Kita masih punya waktu satu jam," ucap Zean.
"Kenapa tidak berangkat lebih awal saja?" tanya Irene yang mengira pertemuan ini penting jadi tidak seharusnya datang terlambat.
"Tidak bisa, Irene."
Irene mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Karena pesawat kita pukul sepuluh," sahutnya.
Pesawat? Irene terbelalak mendengar itu.
"Kita mau pergi ke mana, Zean?" tanya Irene.
"Ke Praha, Republik Ceko."