
“Halo, Zean” ucap Hans.
“Irene diculik, Hans. Aku butuh bantuan orang-orangmu untuk mencarinya” Zean to the point.
“Tentu, tentu aku akan membantumu, Zean” ucap Hans dengan santai.
“Hubungi aku jika kau sudah menemukan sesuatu” titah Zean lalu sambungan terputus.
Zean berpikir. Bukankah cukup aneh? Nada bicara Hans terdengar sangat santai, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda khawatir mendengar kabar bahwa Irene diculik. Mungkinkah Hans sedang bersama Irene saat ini? Mungkinkah Hans yang menculik Irene?
Tidak. Tidak mungkin. Zean berkutat dengan pikirannya, entah mengapa feelingnya begitu kuat untuk mencurigai Hans Nicolas. Tapi tidak mungkin, yang Zean tahu Hans dan Irene berteman baik jadi tidak mungkin Hans melakukan hal buruk pada Irene.
Zean menyerah, ia lelah berkutat dengan pikirannya dan memilih untuk memastikan feelingnya lalu ia mencoba menghubungi Rey kembali dan meminta Rey untuk melacak keberadaan Hans.
Beberapa jam kemudian, Zean mendapat panggilan masuk dari Rey. Zean harap Rey memberi kabar baik untuknya.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Zean to the point.
Terdengar desahan pelan dari seberang. Apakah Rey tidak menemukan petunjuk?
"Maafkan aku, tuan muda. Aku sungguh tidak yakin jika kau memintaku untuk melacak Hans Nicolas mengingat dia adalah temanmu, tetapi ini sungguh di luar dugaanku"
"Ck! Jangan bertele-tele, Rey" Zean berdecak kesal, ia tidak sabar mendengar penjelasan Rey.
"Aku rasa kecurigaanmu benar, tuan muda. Aku melacak posisi Hans Nicolas saat ini berada di salah satu apartemen di New Songdo City, Incheon" lanjut Rey lalu Zean memutus sambungan itu.
Zean memejamkan mata sejenak lalu menghantam setir dengan seluruh tenaga dan amarahnya saat ini. Incheon, katanya? Hans berada di Incheon?
Zean ingat betul informasi pertama yang diberikan oleh Rey bahwa mobil yang menculik Irene melaju menuju ke Incheon. Benarkah Hans dibalik semua ini?
Terdengar nada dentingan dari pesan masuk yang berasal dari Rey, dia mengirimkan lokasi Hans saat ini. Dengan segera Zean menuju ke sana.
Zean memarkirkan mobilnya sembarang di dekat apartemen itu, ia tidak peduli lalu bergegas masuk dan menuju ke Receptionist.
"Berikan aku informasi, Hans Nicolas" Zean to the point pada Recepsionist cantik dengan nametag bertuliskan Bella di seragamnya.
"Mohon maaf sebelumnya, Tuan" wanita itu tersenyum ramah pada Zean.
"Kami tidak bisa memberikan informasi tamu kami sembarangan kepada orang luar. Apa anda ingin bertamu, Tuan? Apa sudah membuat janji bertemu sebelumnya, Tuan?" jelas wanita itu dengan sopan.
"Huuftt" Zean menghembuskan napas kasar.
Tidak semudah itu ternyata, sial. Zean nampak berpikir sebentar.
"Begini. Hans Nicolas adalah adikku yang kambur dari rumah. Aku ke sini untuk menjenputnya, bisakah kau membantuku?" Zean mengedipkan sebelah matanya.
Wanita itu langsung menunduk, menyembunyikan rona di pipinya.
"Baiklah, tuan. Aku akan mengeceknya untukmu"
Tanpa Zean sadari, sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya di lobby. Seorang pria yang mengenakan kaos dan topi hitam itupun langsung memasuki lift, pria itu adalah anak buah Hans.
Pria itu langsung menemui Hans di lantai dua puluh tujuh dan menyampaikan kabar bahwa Zean berada di lobby apartemen ini.
"Maaf, tuan. Di daftar kami tidak bisa menemukan seseorang yang bernama Hans Nicolas" ucap wanita itu nampak menyesal.
Tidak mungkin. Apa Rey salah melacak posisi Hans? Mungkinkah Hans menggunakan nama orang lain? Atau apa yang sebenarnya terjadi?
Ponsel Zean bergetar tertera sebuah panggilan dari Rey.
"Apa kau mencoba mempermainkanku, Rey? !!" sambar Zean yang sangat kesal saat ini.
Ini sudah malam Zean tidak bisa membanyangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Irene. Zean masih belum bisa menemukan kekasihnya itu. Rasa rindu, khawatir dan cemas ini begitu kuat, Zean ingin menyerah pada pikirannya yang terus membayangkan hal-hal buruk.
"Cepat bergerak, tuan muda. Sepertinya Hans tahu jika kau sudah berhasil menemukannya. Posisi Hans bergerak baru saja keluar dari apartemen itu, tuan" jelas Rey.
Zean dapat tersenyum sesaat, Irene berada dekat dengannya. Ternyata feelingnya benar, Hans Nicolas dibalik semua ini. Setelah ini, Zean tidak akan pernah bisa memaafkan Hans.
***
Hans menarik paksa Irene keluar dari apartemen itu dan membawanya masuk ke mobil yang terparkir di basement. Hans tidak pernah membayangkan jika Zean akan menemukannya. Tidak mungkin rasanya jika Zean mencurigainya, tapi ternyata dugaan Hans salah. Zean berhasil menemukannya.
Mobil Hans melaju kencang meninggalkan apartemen itu. Hans mengemudi dengan kecepatan penuh. Pikirannya kacau memikirkan kemana ia harus membawa Irene, dimana ia akan menyembunyikan Irene.
"Irene" panggil Hans lembut.
Irene hanya diam, ia enggan menoleh. Saat ini Irene tengah berdoa agar dirinya dan bayi ini selamat.
Hans menatap Irene sekilas lalu kembali menatap jalan. Hans kesal karena Irene tidak menjawabnya bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Kau harus menatapku saat aku bicara padamu!!" bentak Hans.
Irene tersentak kaget karena nada tinggi Hans, tapi ia tidak peduli. Irene lebih memilih menatap ke luar jendela, melihat jalanan aspal yang mulai basah karena hujan turun malam ini.
"Kau tidak bisa mengabaikanku, Irene" Hans mencekal tangan Irene.
"Aww. Sakit, Hans" akhirnya Irene menatap Hans lalu pria itu melepaskan tangan Irene.
Hans tersenyum, matanya masih fokus menatap ke depan.
"Apa aku harus kasar padamu agar kau menurutiku?"
Irene tak menjawab, ia memilih untuk mengalah lalu membenahi posisi duduknya agar bisa menatap Hans.
"Apa kau suka hujan?" Hans bertanya tepat ketika Irene menatapnya.
"Apa kau akan membunuhku saat hujan?" Irene balik bertanya.
Hans menatap Irene sekilas lalu tertawa lepas. Pertanyaan macam apa itu, Irene.
"Apa kau benar-benar ingin mati di tanganku, Irene?" Hans meraih tangan Irene lalu mengenggam lembut tangan gadis itu.
Irene hanya diam dengan sikap Hans ini, ia tidak bisa merasakan apapun. Tidak ada cinta, tidak ada kehangatan pada genggaman tangan Hans. Berbeda jika Zean yang melakukannya, bahkan hanya dengan mendengar suara Zean mampu membuat hatinya berdebar.
"Kemana kita akan pergi, Hans?" tanya Irene mengalihkan pembicaraan Hans tadi.
"Entahlah. Apa kau ingin merekomendasikan suatu tempat" Hans terkekeh.
"Kau menculikku dan meperlakukanku seperti seorang psycho, tapi kau masih bisa bercanda dan tersenyum seperti seorang joker" komentar Irene dengan serius, ia tidak main-main dengan ucapannya.
Hans mempererat genggamannya hingga Irene meringis kesakitan lalu mencium punggung tangan Irene sambil masih fokus menyetir.
Irene sudah lelah menatap Hans dengan ribuan kali tatapan anehnya, ia sungguh tidak bisa memahami Hans. Irene sedih melihat Hans yang selama bertahun-tahun menjadi temannya ternyata memendam rasa padanya hingga Hans bertindak sejauh ini.
Tiba-tiba terdengar klakson mobil seolah meminta mobil Hans untuk berhenti. Irene melihat ke spion, mobil itu tidak asing baginya. Apa ia sedang berhalusinasi? Irene membayangan mobil itu adalah mobil Zean yang mengejarnya untuk menjemputnya kembali. Terdengar suara klakson lagi, tidak, ini bukan delusi, ini nyata.
"Shit!!" umpat Hans kesal lalu ia menambah kecepatannya.
Irene terbelalak dan spontan menutup mulutnya karena kaget bahwa ini nyata, Zean berhasil menemukannya.
"Hentikan mobilnya, Hans!!" pinta Irene, ia memukul-mukul lengan Hans.
"Diam !!" Hans mendorong Irene hingga kepalanya terbentur jendela mobil.
Irene tidak menyerah, ia berusaha mengabaikan sakitnya benturan di kepalanya itu dan kembali memukul Hans.
Hans benar-benar geram, Irene bisa saja mengacaukan konsentrasinya menyetir.
"Berhenti memukulku, Irene!" bentak Hans.
Irene berpikir, Hans terlalu kuat untuk menahan sakit dari pukulannyan. Detik kemudian, tanpa pikir panjang dengan sisa tenaga yang ia miliki Irene menarik setir hingga mobil Hans hilang hendali dan ......