
Tae-O berhasil meretas ponsel milik Cassandra. Tidak banyak yang ia temukan di ponsel itu, hanya ada satu hal yang mengejutkan pada riwayat panggilannya. Cassandra juga mendapat telepon masuk dari nomor dengan kode Negara Hongkong yang merupakan nomor yang sama dengan nomor yang sering menghubungi Gerald. Namun, Cassandra hanya mendapat panggilan itu sesekali, jika dilihat dari riwayatnya Cassandra hanya mendapat panggilan itu setiap akhir bulan.
“Siapa sebenarnya pemilik nomor dengan kode Negara Hongkong ini?” pikir Tae-O lalu menyeruput secangkir coffee latte-nya.
Tae-O berhenti meretas ponsel milik Cassandra karena tidak ada hal yang bisa diselidiki dari sana. Kini Tae-O berpikir bagaimana caranya agar ia bisa meretas nomor dengan kode Negara Hongkong ini. Dari segi jarak sudah sangat tidak memungkinkan untuk bisa meretasnya, ia hanya mampu melacak keberadaan dari sinyal nomor itu.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Irene to the point saat ia tiba di cafe.
Tae-O beralih menatap Irene lalu menggeleng lemah. “Mereka sangat bersih, Noona. Hanya saja Cassandra juga mendapat panggilan dari nomor dengan kode Negara Hongkong itu, tapi hanya setiap akhir bulan.”
Irene menarik kursi lalu duduk di hadapan Tae-O, ia memijat kepala frustrasi. Kenapa banyak sekali masalah yang ia temui. Irene mengkhawatirkan Alice, tapi tidak bisa menghubunginya. Irene mencurigai Gerald, tapi tidak bisa menemukan bukti apa pun. Irene juga sedang pusing memikirkan rumah tangganya dan ultimatum keluarga Lorwerth, benar-benar memusingkan.
“Apa yang akan kita lakukan, Noona? Kita sudah kehilangan jejak Gerald dan tidak menemukan apa pun di ponsel Cassandra,” ucap Tae-O terdengar putus asa.
“Haruskah kita bertanya langsung pada Cassandra?” tanya Irene sontak membuat Tae-O membulatkan mata penuh.
“Noona! Apa kau gila? Apa yang akan kau tanyakan pada Cassandra? Bahkan aku rasa pertanyaanmu itu nantinya hanya akan mengintimidasi dirinya lalu dia pasti akan melapor pada seseorang yang ada di balik semua ini dan setelah itu tamat riwayat kita, Noona,” protes Tae-O yang tidak setuju dengan ide gila Irene.
“Tae-O,” panggil Irene mencoba menenangkan kekhawatiran Tae-O.
“Tidakkah kau berpikir mungkin saja Cassandra memang tidak mengetahui apa pun. Bisa saja bisnis yang ia jalankan di Lee Da Museum bukanlah bisnis yang ia ketahui betul seluk beluknya,” ungkap Irene.
Tae-O menggaruk kepalanya yang terasa gatal. “Jadi maksudmu ada kemungkinan Cassandra hanya sekadar berbisnis tanpa tahu bisnis apa yang sebenarnya dia jalankan?”
Irene menggeleng. “Entahlah, hanya Cassandra yang bisa menjawab.”
Tae-O berdecak sebal. “Lalu bagaimana jika Cassandra juga terlibat dalam bisnis gelap ini? Bagaimana jika kita bertanya dan dia merasa terintimidasi lalu dia melapor pada seseorang yang ada dibalik semua ini dan sudah pasti endingnya kita akan kiamat, Noona. Sungguh aku tidak mau mati muda dengan cara konyol seperti ini. Kita bahkan tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi-”
“Hentikan, Tae-O!” seru Irene memotong pembicaraan Tae-O.
“Kau tidak usah khawatir, aku yang akan bicara dengan Cassandra. Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalah ini,” lanjut Irene.
“Tapi, Noona. Ini terlalu berbahaya, bukannya kau sendiri juga sudah melihat bisnis gelap apa yang dijalankan Gerald,” larang Tae-O, ia sangat mengkhawatirkan Irene.
Irene beranjak dari duduknya, ia hendak bergegas pergi. Namun, dengan segera Tae-O menahannya.
“Jangan keras kepala, Noona!” cegah Tae-O.
Irene meraih tangan Tae-O yang mencekal kuat lengannya. “Lepaskan aku, Tae-O. Aku akan baik-baik saja jangan terlalu khawatir. Aku berjanji akan mengabarimu nanti setelah aku berbicara dengan Cassandra.”
Tae-O menghela napas panjang, sulit memang jika Irene sudah keras kepala begini. Tae-O akhirnya mengalah, ia membiarkan Irene pergi begitu saja.
***
Irene tiba di Mansion. Irene langsung mencari Cassandra, tapi tidak menemukannya di mana pun. Irene bertanya pada pelayan, tidak satu pun yang tahu di mana keberadaan Cassandra.
“Di mana dia?” pikir Irene, ia langsung mengambil ponselnya hendak menghubungi Cassandra.
“Hallo,” ucap Irene saat sambungan itu terhubung.
Terdengar isak tangis di seberang telepon. “Aku takut, Irene,” lirih Cassandra di sela-sela isak tangisnya.
“Beritahu aku, kau dimana?” tanya Irene khawatir, tapi tidak ada jawaban hanya isak tangis yang terdengar.
“Tenangkan dirimu dulu, Cassandra. Jangan khawatir, aku akan menemuimu sekarang,” ucap Irene lalu memutus sambungan itu.
Irene langsung bergegas pergi dan menghubungi Tae-O memintanya untuk melacak keberadaan Cassandra. Tak butuh waktu lama Tae-O berhasil menemukan keberadaan wanita itu. Irene langsung meminta supirnya menuju alamat yang dikirimkan Tae-O.
Beberapa menit kemudian Irene sampai di sebuah apartemen, tanpa menunggu lagi ia langsung masuk dan menuju lantai dua puluh kamar nomor lima ratus dua belas. Irene menekan smart doorbell di pintu apartemen itu.
“Ini aku Irene,” ucapnya detik kemudian pintu apartemen itu terbuka.
Irene langsung masuk dan mendapati ruangan itu gelap, ia meraba-raba sekeliling berusaha menemukan saklar.
“Cassandra!” seru Irene kaget ketika ia berhasil menghidupkan lampu di ruangan itu.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” bisik Irene mencoba menenangkan.
Cassandra membalas pelukan Irene dan menangis dalam pelukannya. “Hiks…. Aku takut, sangat takut, hiksss….”
Irene mengelus kepala Cassandra. “Kau bisa cerita padaku, kau bisa percaya padaku,” ucap Irene.
Sudah hampir lima belas menit Cassandra tidak mengatakan apa pun lagi, mereka hanya diam dan masih saling berpelukan. Dengan sabar Irene menunggu dan mencoba terus menciptakan situasi nyaman untuk Cassandra.
“Apa kau lapar?” tanya Irene tiba-tiba karena sepertinya dia baru saja mendengar suara perut yang lapar.
Perlahan Cassandra menguraikan pelukannya, tangannya yang gemetar bergerak menggenggam tangan Irene seolah meminta Irene untuk membantunya bertahan.
“Aku takut, jangan tinggalkan aku,” lirih Cassandra akhirnya dia bersuara lagi.
Irene menatap Cassandra seraya menghapus jejak air di pipi wanita itu. “Ada aku di sini, jangan takut. Kau bisa cerita padaku agar merasa lebih baik.”
Cassandra mulai menatap Irene dengan mata sembabnya. “Aku tidak tahu dari mana semua ini berawal. Aku tidak bermaksud melakukan hal jahat, sungguh aku tidak tahu, Irene. Hiks…”
Irene mengerutkan dahi bingung, ia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Cassandra. “Tenangkan dirimu, Cassandra. Kau bisa cerita secara perlahan, katakan, ada apa?”
Cassandra menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia mencoba menenangkan dirinya.
“Irene,” panggil Cassandra pelan.
Irene menatap Cassandra sebagai tanggapan, ia memilih diam dan menunggu Cassandra menceritakan semuanya.
“Kemarin Allan datang padaku,” ucap Cassandra dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Irene mengelus bahu Cassandra berusaha menguatkan wanita itu.
“Allan mengatakan hal yang tidak masuk akal padaku. Allan mengomentari bisnisku, dia bilang Le Da Museum adalah bisnis yang berbahaya, hiks…” tangis Cassandra, ia tidak tahan membendung air matanya.
“Tapi ada hal yang lebih menyakitiku, Allan mengatakan aku telah membunuh seseorang,” lanjutnya lalu Cassandra memeluk Irene, gemetar.
“Tenang, Cassandra,” ucap Irene mengelus punggung wanita itu.
Cassandra terisak dalam tangisnya yang kian menjadi.
“Katakan, Irene! Bagaimana aku bisa tenang setelah apa yang dikatakan Allan adalah kebenaran. Aku telah membunuh seseorang, aku membunuh penerjemah itu, aku membunuh wanita itu, aku membunuh Akhifa Naila Sabha,” histeris Cassandra.
Deg! Seketika Irene membeku bahkan mulutnya mendadak terkunci. Irene tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, ia benar-benar syok mendengar apa yang diucapkan Cassandra. Benarkah itu?