Stranger's In Love

Stranger's In Love
64|CHARLES BRIDGE



Zean menggandeng tangan Irene seraya berjalan santai di sepanjang Charles Bridge di antara gemerlap lampu di bawah cahaya bulan sabit yang hampir terlihat sempurna, sekarang sudah hampir pukul tujuh malam. Mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan meninggalkan Cassandra yang masih setia berdiam diri di ruang tengah menguasai hampir sebagian sofa dan televisi, dia bertingkah sudah seperti Mansion miliknya sendiri.


Charles Bridge adalah jembatan panjang yang menghubungkan distrik Old Town dan Lesser Town, pembangunan jembatan ini dimulai pada 1357 di bawah naungan Raja Charles IV dan selesai pada awal abad ke-15. Jembatan ini dihiasi patung para santo di kedua sisinya memberi nuansa mistis, tapi juga indah dan romantis.


“Aku suka tempat ini, cantik,” ucap Irene menghentikan langkah sejenak menatap sekeliling sera menghirup udara segar di sini.


“Iya, kau benar, cantik,” ucap Zean seraya menatap wanitanya itu seolah berkatanya dialah yang cantik, cantiknya melebihi tempat ini.


“Aku bicara soal tempat ini, Zean. Kenapa kau malah menatapku begitu,” Irene menepis wajah Zean agar dia tidak menatapnya.


Zean langsung menarik wanitanya itu ke dalam peluknya. “Tidak ada tempat yang indah dan nyaman selain berada di pelukanmu, Irene.”


Irene menguraikan pelukannya, lalu menatap Zean sambil tersenyum kemudian senyumnya memudar mengingat sesuatu yang terus menganggu pikirannya. Irene ingin sekali mengatakannya pada Zean, tapi ia takut mengacaukan momen indah ini.


“Ada apa, sayang?” tanya Zean yang menyadari perubahan pada Irene.


“Sampai kapan kamu akan terus bersikap bodoh seperti ini, Zean?” Irene malah balik bertanya.


Zean mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan istrinya itu. Zean hanya diam menunggu Irene melanjutkan ucapannya. Kini Irene tengah menunduk seraya mengusap kedua pipinya sepertinya ia menangis.


“Irene,” Zean menarik lembut dagu Irene agar ia bisa menatapnya, tapi dengan segera Irene mengalihkan pandangannya.


“Kumohon, Zean. Hentikan sikap bodohmu ini,” lirihnya. Irene tidak tahan lagi, setiap ia ingin berucap rasanya seperti ada pisau yang menancap semakin dalam di hatinya.


“Berhentilah bersikap bodoh karena terus saja mempertahankan wanita yang bahkan tidak bisa memberimu keturunan, Zean,” ucap Irene lagi, kali ini benar-benar membuat jiwanya mengerang.


Zean mengerti sekarang ke mana arah pembicaraan ini. Irene kembali memikirkan kekurangan pada dirinya. Tentu ini hal yang wajar, wanita itu khawatir dengan masa depan Zean. Irene memikirkan garis keturunan Zean nantinya, ia tidak ingin jadi penghalang bagi Zean untuk memperoleh keturunan. Irene tidak bisa diam saja dan hidup seolah-olah semua berjalan dengan baik padahal faktanya sangat mengiris hati keduanya.


“Apa mencintaimu adalah sebuah kebodohan?” Zean menatap Irene lekat-lekat, ia mencoba menunjukkan betapa tulus perasaan cintanya pada Irene.


Irene mengalihkan pandangannya, tapi dengan segera Zean menangkup wajah wanita itu agar tetap menatapnya. “Jangan menghindari tatapanku, Irene.”


Irene tak bisa mengelak lagi, ia terpaksa menatap mata Zean.


“Sadarlah, Zean. Tidak ada yang bisa kau harapkan dariku, dari seorang wanita yang bahkan rahimnya sudah diangkat. Aku benar-benar tidak bisa memberimu keturunan,” Irene berusaha tegar saat mengatakan hal ini, dia harus terlihat kuat untuk Zean. Berharap pria itu mau memikirkan hal ini.


Selama ini Irene merasa bahwa ia menipu perasaannya sendiri. Meskipun Zean selalu ada untuknya dan sama sekali tidak pernah menyinggung atau pun mempermasalahkan tentang itu. Namun, khekawatiran ini tidak bisa ditepis begitu saja, ini adalah hal penting yang menyangkut masa depan Zean nantinya.


“Lalu katakan padaku. Bagaimana caranya aku bisa memikirkan keturunan sedangkan aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu, pada wanita yang tidak bisa memberiku keturunan ini. Katakan, Irene. Bagaimana cara aku berhenti mencintaimu!” Zean tidak tahan lagi, emosinya memanas. Ia benci melihat Irene yang seperti ini.


Irene kembali terisak, ini kali pertama Zean bicara dengan nada tinggi padanya. Irene jadi merasa bersalah telah memulai perdebatan ini, tapi masalah ini memang layak untuk diperdebatakan. Bagaimana pun juga Zean harus punya anak untuk melanjutkan garis keturunannya.


“Maafkan aku, Irene,” ucap Zean tiba-tiba lalu memeluk Irene.


“Maaf. Aku tidak bermaksud berteriak padamu, maaf,” Zean mengelus pucuk kepala wanita itu.


“Bukan salahmu, Zean. Kau bahkan berhak marah, kau berhak meneriaki aku yang menganggapmu bodoh karena masih tetap mencintai wanita sepertiku,” Irene mempererat pelukannya.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju sebuah restoran mewah di dekat sana, tepatnya di sebelah jembatan charles. Ruang makan di restoran ini berada di atas ponton yang mengambang di atas air di samping kaki jembatan. Gemerlang lampu remang-remang di sekitar sini dan hidangan makan malam yang diterangi lilin memberi kesan romantis di setiap mejanya, ditambah iringan musik biola dari beberapa orang di music stange membuat siapa saja jadi betah berlama-lama di restoran ini.


“Rasanya aku jadi ingin menetap di Praha,” ucap Irene sesaat setelah mengunyah daging salmon di mulutnya.


“Baiklah, kalau begitu mari kita tinggal di Praha,” sahut Zean tanpa pikir panjang.


Irene langsung melotot kaget, padahal ia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Aku hanya asal bicara, Zean.”


Zean meletakkan pisau dan garpunya lalu menatap Irene dengan tatapan serius.


“Aku akan menuruti semua ucapanmu, Irene. Apa pun yang kau inginkan, apa pun yang membuatmu bahagia, akan aku lakukan.”


Irene menghentikan kesibukan makannya, ia menatap Zean yang terlihat begitu serius dengan ucapannya tadi.


“Apa kau sungguh-sungguh?” tanya Irene. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu untuk memanfaatkan ucapan Zean tadi.


Zean megangguk mantap sebagai jawaban.


“Baiklah. Aku akan meminta sesuatu padamu, suatu hari nanti,” ucap Irene.


Zean memicingkan matanya menatap Irene curiga. “Apa yang kau pikirkan, Irene?”


Irene terkekeh. “Tidak, tidak, aku hanya bercanda. Kenapa kau serius sekali?”


Zean mendengus kesal, Irene selalu saja begitu. Tidak pernah sungguh-sungguh, semua hanya gurauan dan candaan saja. Menyebalkan, tapi Zean tetap mencintai wanita itu. Mereka kembali melanjutkan makan malamnya hingga semua hidangan di meja habis tak tersisa. Makanan di restoran ini benar-benar enak ditambah pemandangan indah jembatan charles yang bersejarah membuat siapa saja akan langsung jatuh hati pada ibu kota Republik Ceko ini.


Setelah makan mereka memutuskan untuk kembali ke Mansion.


"Bagaimana kalau kita mampir sebentar membeli sesuatu untuk Cassandra?" tanya Irene.


Irene merasa tidak enak jika kembali dengan tangan kosong sedangkan di Mansion mereka mempunyai seorang tamu.


"Tidak usah, Irene. Jangan memperlakukan dia seperti tamu. Kau belum mengenal Cassandra sepenuhnya, dia itu menjengkelkan," sahut Zean yang fokus menyetir menatap jalanan.


"Tapi kan tetap saja Cassandra itu temanmu, Zean," keluh Irene yang merasa Zean benar-benar tidak menyukai kehadiran Cassandra padahal wanita itu terlihat baik dan sangat bersahabat.


Zean melirik Irene sejenak lalu kembali menatap jalanan di depan.


"Aku berani taruhan, dia sedang membuat kekacauan di Mansion," ucap Zean menyunggingkan seulas senyum.


Irene mengernyitkan dahi, "Benarkah itu?"


"Lihat saja nanti," ucap Zean menambah kecepatan mobilnya.


Irene jadi penasaran, kekacauan apa yang mungkin Cassandra lakukan?