Stranger's In Love

Stranger's In Love
78|Mr.Nam



“Hati-hati di jalan,” ucap Gerald mengantar Irene sampai di depan mobil yang sudah menunggunya di depan.


“Tentu, Gerald.”


Irene masuk ke mobil lalu menurunkan kaca mobil seraya tersenyum dan melambaikan tangan pada Gerald. “Bye!”


Mobil itu pun melaju meninggalkan penthouse megah itu. Irene langsung merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan langsung menghubungi Tae-O, ia hendak menanyakan apakah Tae-O sudah berhasil meretas ponsel milik Gerald.


“Bagaimana, Tae-O? Berhasil?” sambar Irene setelah panggilan itu terhubung.


“Tentu berhasil. Tidak ada yang mencurigakan dari ponselnya, tapi ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Aku harus membahasnya bersamamu, Noona.”


Hening. Irene sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana caranya bertemu dengan Tae-O? Tidak mungkin jika Irene menemuinya di apartemen karena supir yang tengah mengantarnya ini pasti akan melaporkan ke mana tujuan dan posisi Irene pada Zean.


“Oke, baiklah. Aku akan mengirimimu pesan,” ucap Irene lalu memutus sambungan itu.


Irene langsung mengirimkan pesan singkat pada Tae-O agar pria itu menemuinya di kedai kopi dekat apartemennya.


“Aku ingin ke kedai kopi dekat apartemen Blue Oak, ya,” ucap Irene pada supirnya.


“Baik, Mrs.Lorwerth.”


Tak lama kemudian Irene pun sampai di kedai kopi itu, ia mengedarkan pandangan menyapu seisi tempat dan akhirnya pandangannya jatuh pada seorang pria yang mengenakan hoodie dan topi hitam yang duduk di sudut ruangan. Irene langsung bergegas mendekati pria itu.


“Tae-O,” sapa Irene lalu duduk di hadapan Tae-O.


“Ah, Noona,” sahut Tae-O.


“Mau pesan sesuatu?” tanya Irene.


“Sudah, aku sudah memesan dua coffe latte untuk kita,” jawab Tae-O seraya mengotak-atik laptopnya kemudian dia mengarahkan layar laptopnya pada Irene.


“Lihatlah, Noona.” Tae-O menunjukkan riwayat panggilan masuk dan keluar dari ponsel Gerald.


Irene memicingkan mata, membaca dengan seksama satu persatu nama panggilan itu. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada banyak panggilan masuk, tapi hampir semua panggilan itu dari sekretaris pribadinya, Mr.Nam.


“Tae-O,” panggil Irene menatap Tae-O dengan tatapan serius.


“Bukankah aneh jika Gerald terus menerima telepon dari sekretarisnya saat sedang dinas perjalanan bisnis di Praha? Aku yakin dia tidak mungkin dinas perjalanan bisnis seorang diri, pasti dia pergi bersama sekretaris Nam. Lagi pula urusan bisnis dan pekerjaan sepertinya tidak efektif jika sering-sering dibicarakan lewat telepon,” curiga Irene.


Tae-O menggeleng mantap. “Menurutku wajar saja jika Mr.Nam sering menelepon, mungkin saja karena ada banyak pekerjaan yang harus dia laporkan atau mungkin ada banyak hal mendesak dan perubahan jadwal selama di Praha ini.”


Irene kembali memicingkan mata melihat dengan teliti setiap angka pada nomor telepon Mr.Nam. “Coba kau teliti lagi, Tae-O. Lihat kode nomor awalnya +852 bukankah ini nomor luar negeri?”


Tae-O membulatkan mata penuh, dia memang sangat kurang teliti. “Astaga! Aku benar-benar bodoh. Kenapa tidak terpikir olehku.”


“Coba kau lacak nomornya,” pinta Irene.


Tae-O langsung melacak posisi signal nomor itu, ternyata posisinya di Hongkong.


“Tidak mungkin. Ini jadi sangat aneh, Noona. Gerald dinas perjalanan bisnis di Praha sedangkan sekretaris pribadinya ada di Hongkong. Apa maksudnya ini?” Tae-O juga berpikir ada keanehan.


Irene terdiam, ia berpikir sejenak.


“Dua coffee latte,” ucap seorang pelayan yang datang membawa pesanan Tae-O tadi.


Pelayan itu meletakan dua coffee latte itu di atas meja.


“Terima kasih,” ucap Tae-O sambil tersenyum pada pelayan itu.


Tiba-tiba Irene menjentikkan jarinya, seperti mendapat sebuah pemikiran. “Aku tahu, mungkin saja Mr.Nam bukanlah Mr.Nam.”


Tae-O mengerutkan dahi bingung. “Maksud, Noona?”


“Sama halnya seperti pelayan tadi. Semua pelayan di sini mempunya nama bahkan memakai nametag sebagai tanda pengenal, tapi rata-rata tamu yang berkunjung hanya akan mengingat wajah dan posisinya sebagai pelayan. Aku berpikir, bisa saja Mr.Nam ini adalah orang lain yang sengaja diberi tanda pengenal sebagai Mr.Nam,” jelas Irene.


“Ah, iya. Akan kucoba meretas data karyawan perusahaannya, seperti itu hal yang mudah. Tunggu, Noona.”


Tae-O langsung berusaha meretas data perusahaan dan berhasil menemukan biodata Nam Pyu Jin. Mr.Nam ini adalah sekretaris pribadinya Gerald, Mr.Nam berkewarganegaraan asli Korea Selatan.


“Tunggu! Tunggu, dulu! Aku melihat pria ini, aku melihatnya. Mr.Nam ada di pesta acara Grand Opening itu. Berarti nomor dengan kode Negara Hongkong ini bukan nomor milik Mr.Nam,” ungkap Irene setelah melihat profil foto Nam Pyu Jin.


“Ah, aku mengerti sekarang, Noona. Sepertinya ada orang lain selain kita yang mengawasinya, maka dari itu Gerald sengaja memberi nama nomor dengan kode Negara Hongkong ini sebagai nomornya Mr.Nam, jadi ketika orang lain melihat ponselnya mereka akan mengira Gerald hanya terus mendapat panggilan masuk dari sekretaris pribadinya,” ucap Tae-O menyimpulkan.


“Apa kau bisa mengkonfirmasi orang yang memiliki nomor dengan kode Negara Hongkontg ini?” tanya Irene berharap Tae-O bisa melakukannya.’


“Tentu aku bisa, tapi aku butuh lebih banyak waktu,” jawab Tae-O.


Irene hanya mengangguk seraya meminum coffee lattenya.


“Tapi, Noona. Setelah aku cek secara menyeluruh bahkan tidak ada satu pun panggilan dari Alice. Bukankah sangat aneh jika sepasang suami istri yang sedang LDR karena perjalanan bisnis tidak saling mengabari satu sama lain? Atau, apakah kabar itu sudah tidak penting lagi ya saat seseorang sudah menikah?” tanya Tae-O dengan polosnya.


Pertanyaan Tae-O kali ini sukses membangkitkan rasa penasaran Irene yang awalnya biasa saja jadi semakin penasaran. Kalau dipikir kembali memang aneh karena belakangan ini Irene hanya bertukar kabar lewat chat, Alice sudah tidak pernah mengabarinya lagi lewat panggilan video.


“Tae-O! Coba kau lacak nomor Alice,” pinta Irene.


Tae-O langsung melacak nomor Alice. Sungguh diluar dugaan posisi nomor Alice ada di lokasi Penthousenya Gerald.


“Noona,” panggil Tae-O ragu.


Deg! Irene langsung melemas, semua pikiran negatifnya menari di memenuhi isi otaknya. Tidak! Jangan! Jangan sampai hal negatif yang dipikirkan Irene terjadi.


“Kau baik-baik saja, Noona?” tanya Tae-O khawatir melihat wajah Irene yang mendadak pucat.


Irene masih terdiam, hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, di mana dan bagaimana keadaan Alice saat ini?


“Terus awasi Gerald, beritahukan semua aktivitas dalam ponselnya padaku,” titah Irene lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Tae-O.


...***...


Irene memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia duduk lemas di bibir ranjang setelah beres mandi. Irene masih terus memikirkan Alice.


“Apa Alice baik-baik saja?” tanya Irene bermonolog dengan dirinya.


Bulir bening tiba-tiba menetes membasahi kedua pipinya, tidak sadar ia sudah menangis sejak tadi. Irene benar-benar takut jika sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Alice. Namun, rasanya begitu musthail jika Gerald bisa melakukan hal buruk pada Alice. Karena yang Irene tahu, Gerald dan Alice saling mencintai jadi tidak mungkin jika Gerald menyakiti Alice.


“Ada apa, sayang?” tanya Zean yang sudah duduk di sisinya.


Irene tidak menyadari kehadiran Zean, ia pun segera menghapus jejak air mata di wajahnya.


“Tidak ada. Aku hanya terlalu merindukanmu, Zean. Kau lama sekali meninggalkanku pergi ke Bostom,” rajuk Irene, ia berpura-pura kesal.


Zean terkekeh lalu memeluk istrinya itu seraya mengelus kepalanya. “Aku harus mengurus sesuatu yang penting di sana. Jangan kesal seperti bocah, aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat besok malam.”


“Ke mana?” tanya Irene antusias.


“Hm….. Besok kau akan tahu,” ucap Zean.


“Oke, baiklah. Kalau begitu ceritakan padaku, apa saja yang terjadi di Boston?” tanya Irene dengan mata berbinar berharap Zean mau menceritakannya.


Jauh di dalam hatinya Zean ingin sekali mengatakan sesuatu tentang ultimatum Keluarga Lorwerth yang saat ini tengah menyiksa hati dan pikirannya. Namun, masih terasa sulit sekali untuk bisa mengatakannya pada Irene.


“Zean,” panggil Irene lembut seraya mengelus wajah tampan Zean.


Zean tersenyum tipis. “Bisakah aku mengatakannya padamu, Irene?”


Irene mengangguk mantap. “Tentu bisa. Ada apa, sayang?”


Zean terdiam, ia menatap Irene nanar, rasanya ingin menangis. Pedih, sesak dan sakit sekali rasanya untuk bisa mengutarakan semuanya pada wanita yang sangat ia cintai itu.


“Aku sangat tersiksa selama di Boston, Irene.”


“Ada apa, Zean?” tanya Irene was-was.


Zean menggeleng lemas, ia mengalihkan pandangannya ke mana saja asal tidak bertemu dengan mata indah milik wanita itu.


“Zean,” panggil Irene lembut.


Zean masih diam, ia menatap ke luar balkon.


“Kau harus menatap orang yang sedang bicara denganmu, sayang,” pinta Irene lalu menangkup wajah Zean agar bisa menatap pria itu.


“Ada apa?” tanya Irene lagi.


Zean menghela napas pelan. “Aku begitu tersiksa karena merindukanmu, Irene.”


Blush!! Pipi Irene langsung merah, bisa-bisanya Zean menggodanya dengan wajah seserius ini.


“Jangan menggodaku, Zean!” Irene mencubit lengan Zean.


Zean terkekeh lalu mengecup singkat bibir Irene. “Tetaplah seperti ini, Irene. Yang aku butuhkan hanya dirimu.”


“Apa yang kau biacarakan, Zean?” tanya Irene yang merasa sepertinya Zean sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Zean menarik Irene ke dalam peluknya. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku lelah dan sangat ingin tidur denganmu.”


Irene menguraikan pelukannya lalu menatap Zean dengan serius. “Apa yang kau coba sembunyikan dariku, Zean?”


Zean beranjak dari duduknya, ia berjalan menuju balkon dan Irene mengikutinya. Mereka berdua berdiri sambil menatap indah langit malam ini. Hening untuk beberapa saat, mereka saling enggan berbicara.


“Aku ingin kita seperti malam, Irene,” ucap Zean tiba-tiba lalu memeluk Irene.


Irene hanya diam dalam pelukan Zean, ia menunggu Zean melanjutkan ucapannya itu.


“Aku ingin kita seperti malam yang tetap baik-baik saja tanpa matahari yang turut campur di dalamnya. Aku ingin kita hidup seperti malam yang hanya ada bulan dan bintang, aku ingin waktu berhenti agar kita tetap seperti malam,” lanjut Zean.


“Aku tidak mengerti, Zean,” ucap Irene masih dalam pelukan Zean.


Zean menguraikan pelukannya lalu menatap wanitanya itu.


“Jangan terlalu dipikirkan. Ayo tetap jalani seperti ini untuk hari ini saja. Besok kita akan membicarakannya lagi,” ucap Zean.


Irene benar-benar tidak mengerti. “Aku ̶ ” ucapan Irene terpotong karena Zean yang tiba-tiba menciumnya.


Zean melingkarkan tangannya dipinggang kecil Irene, begitu pun Irene yang langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Zean. Mereka asyik bercumbu menikmati malam indah di balkon dengan pemandangan kota Praha itu.