Stranger's In Love

Stranger's In Love
19|SHE WILL LEAVE HIM



Rebecca merobek beberapa foto yang menunjukkan gambar Zean dengan seorang wanita, di foto itu sangat jelas terlihat Zean tengah menggendong seorang wanita keluar dari night club, ya wanita itu adalah Irene Banner. Dada Rebecca naik turun mencoba mengontrol emosinya lalu ia berteriak dan menjatuhkan semua benda yang tertata rapi di atas meja riasnya.


Saat ini Rebecca benar-benar kesal pada wanita yang bernama Irene Banner itu. Karena wanita itu, semalam Zean meninggalkan acara pertunangan mereka. Rebecca dan Zean memang sudah resmi bertunangan, tapi tiba-tiba saja ia merasa takut jika Zean akan berpaling pada Irene. Melihat foto-foto yang Rebecca dapat dari orang suruhannya, yang ia tugaskan untuk memata-matai Zean. Foto-foto iyu menunjukkan betapa khawatirnya Zean saat menjemput Irene di club. Jelas terlihat jika Zean memperlakukan Irene berbeda dari wanita lainnya. Sikap Zean berbeda, Irene adalah wanita spesial bagi Zean.


Rebecca memejamkan mata lalu memijit kepala frustasi.


"Sialan kau jalang, kau telah menggoda tunangan ku! Apa yang kau lakukan hingga Zean begitu peduli padamu!!" ucap Rebecca berteriak di kamarnya.


Ada banyak pria di luar sana yang dengan mudah Rebecca taklukan, tapi Zean berbeda.


Rebecca telah melakukan ribuan cara untuk mendapatkan Zean, dan sudah ribuan kali pula pria itu menolaknya. Rebecca tersenyum miris menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuh seksi dan wajah cantiknya ini tidak bisa menaklukan seorang Arzean Lorwerth.


Zean memang bukan pria biasa yang akan tergoda dan terlena hanya karena kecantikan atau tubuh wanita.


"Apa yang kau lihat dari seorang wanita? Kenapa wajah dan tubuhku ini tidak bisa menaklukanmu, Arzean Lorwerth" ucapnya pada pantulan dirinya di cerimin.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Irene pergi menemui Alice di kantornya. Ia mengetuk pintu besar yang merupakan pintu ruangan Alice, lalu memasuki ruangan itu.


"Ups! Maaf mengganggu, kalian" ucap Irene spontan.


Alice dan Gerald tengah berciuman. Alice mengalungkan kedua tangannya di leher Gerald sedangkan pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Alice. Mereka melepas ciumannya, lalu menatap Irene dengan tatapan kesal, gadis itu datang di waktu yang salah.


"Ada apa, Irene? Tumben kau datang menemuiku di kantor" Alice menyerang dengan pertanyaannya.


Irene menatap Gerald sekilas lalu beralih menatap Alice. "Ada yang ingin aku bicarakan" ucapnya.


Gerald yang mengerti dengan situasi itu pun beranjak pergi meninggalkan Alice dan Irene di ruangan itu.


"Aku juga ada hal yang ingin aku tanyakan dan hal yang harus kau jelaskan" ucap Alice yang mengetahui jika semalam adiknya itu tidak ada di rumah, Irene pergi tanpa mengabari Alice.


"Alice, aku-"


"Pergi kemana kau semalam? Dan kenapa tidak pulang? Kenapa tidak mengabariku? Kenapa tidak membalas pesanku atau mengangkat telepon dariku? Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi liar dan tidak tahu aturan. Aku memberimu kebebasan, tapi ingat untuk selalu mengabariku. Jangan membuatku khawatir, Irene. Sejauh ini, kau tidak pernah begini. Kau selalu meminta ijin, berpamitan dan ingat mengabariku dalam situasi apapun. Tapi, kemarin? Ada apa denganmu, Irene? " potong Alice, ia meluapkan kekesalan dan rasa khawatirnya pada gadis itu.


Benar saja, tadi pagi Irene sempat mengecek ponselnya ada dua puluh tujuh pesan dan enambelas panggilan tak terjawab dari Alice. Irene tahu, saat ini ia telah membuat Alice kecewa untuk yang pertama kalinya. Lalu apa yang terjadi jika Irene menceritakan kejadian semalam? Alice pasti akan sangat, sangat, sangat kecewa jika tahu bahwa semalam Irene tidur bersama Zean, pria yang sudah bertunangan itu.


Irene bergeming, ia menunduk tidak mempunyai cukup keberanian untuk menatap mata Alice.


"Tatap aku! Dan jawab aku, Irene Banner!" bentak Alice.


Alice benar-benar benci dibuat khawatir seperti ini.


Tubuh Irene bergetar ini adalah kali pertama Alice membentaknya. Sepertinya Alice benar-benar murka saat ini. Irene mengangkat kepalanya perlahan mencoba menatap mata Alice. Rasanya Irene tidak sanggup menatap ke dalam sorot mata yang penuh kekecewaan itu. Irene bisa merasakan matanya mulai terasa panas, ia memejamkan mata sejenak dan bulir air jatuh tanpa aba-aba membasahi pipinya. Gadis itu menangis, bukan karena kemurkaan Alice. Tapi karena ia telah berhasil membuat Alice kecewa, mengingat apa yang telah ia lakukan bersama Zean semalam.


"Jangan menangis, Irene! Jawab aku dengan penjelasan, bukan air mata seperti ini!" ucap Alice.


Irene bergeming. Ia mengalihkan tatapannya kemana saja asal tidak menatap Alice.


"Aku pergi ke club lalu aku mabuk dan aku memutuskan untuk tidur di apartemen. Karena aku takut kau akan memarahiku jika pulang dengan kondisi mabuk" Irene berbohong.


"Kau benar-benar membuatku khawatir. Lebih baik kau pulang dengan kondisi mabuk dari pada kau tidak pulang seperti semalam, aku benar-benar khawatir" ucap Alice.


Alice memang selalu mempercayai Irene. Apapun yang gadis itu lakukan dan apapun yang gadis itu ucapkan meski kebohongan sekalipun, Alice tetap mempercayainya.


"Alice, aku akan menurutimu. Aku ingin kembali ke rencana awal, aku akan ke Korea. Aku ingin hidup dan bekerja di sana, sesuai harapanmu dan impianku" ucap Irene.


Alice menguraikan pelukannya. Ia menautkan alis bingung. Kenapa tiba-tiba Irene membahas ini? Kenapa gadis itu tiba-tiba berubah pikiran?


"Ada apa, Irene? Kenapa tiba-tiba?" tanya Alice.


Irene tersenyum, mencoba menenangkan diri agar tidak terlihat sedih di depan Alice.


"Entahlah. Tiba-tiba aku berubah pikiran dan kembali memikirkan impianku untuk bekerja di Korea" ucapnya berbohong.


Sudah jelas ini karena Zean. Irene tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi, ia sudah bertekad untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam. Irene memutuskan untuk pergi meninggalkan Kota Boston ini, meninggalkan Zean, meninggalkan cintanya. Ia akan fokus mengobati luka di hatinya dan mengubur semua kegilaan yang pernah ia lakukan dengan Zean.


"Aku akan mengurus semua, kau bisa pergi hari ini juga" ucap Alice.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan ku di Lorwerth Corporation" Irene mengingatkan dirinya masih terikat kontrak dengan perusahaan itu.


Alice tersenyum. "Jangan khawatir, aku akan mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah fokus pada impianmu dan buat aku bangga" ucapnya.


Irene memeluk kakak angkatnya itu. Jujur, Irene sadar jika pilihannya ini salah. Lari dari Zean bukanlah hal yang mudah, pria itu pasti akan mengejarnya. Irene hanya ingin menjauh, melupakan Zean, mengubur cintanya dan kembali hidup normal seperti dulu saat sebelum mengenal seorang Arzean Lorwerth, pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Alice" panggil Irene.


"Ada apa?" ucap Irene.


Irene menatap Alice dengan tatapan serius.


"Aku ingin minta satu hal padamu" Irene menghela napas sejenak.


Alice hanya diam menunggu Irene melanjutkan ucapannya.


"Tolong rahasiakan keberadaan ku dari Mr.Lorwerth. Aku tidak ingin dia mengangguku lagi" lanjutnya.


Alice terkekeh kecil mendengar permintaan konyol adiknya itu. Tidak mungkin Arzean Lorwerth menganggun Irene, pria itu sudah bertunangan. Ya, karena itu yang Alice tahu. Di balik semua itu Alice tidak tahu jika Zean dan Irene saling mencintai.


"Jangan konyol. Arzean tidak mungkin menganggumu, atau datang malam-malam menjemputmu untuk kencan piyama. Dia sudah bertunangan, Irene" Alice terkekeh.


Irene tersenyum, memberi sedikit tawa untuk mencairkan suasana ini. Perasaannya sakit setiap memdengar pernyataan bahwa Zean telah bertunangan.


"Kau salah paham, Alice. Maksudku, aku tidak ingin dia mengangguku soal pekerjaan" sergah Irene.


Alice mengangguk sambil tersenyum.


"Tenang, Irene. Aku akan mengatasi semua ini, kau bisa pergi dengan tenang" ucap Alice memeluk Irene.


"Terimakasih, Alice"