Stranger's In Love

Stranger's In Love
27|MOM



Zean membuka mata perlahan lalu ia tersenyum mendapati Irene yang masih tertidur lelap dalam peluknya. Zean menatap wajah cantik Irene yang masih tertidur itu. Sekarang baru pukul enam pagi, Zean enggan untuk bangun dan menyiapkan sarapan, yang ia ingin lakukan saat ini hanyalah memandangi gadisnya itu. Masih terasa seperti mimpi baginya, ternyata perasaannya berbalas karena Irene juga mencintainya. Tangan Zean tergerak menyentuh rambut gadisnya itu, perlahan Irene membuka matanya karena merasakan ada sesuatu yang menyentuh rambutnya.


“Sedang apa kau?” tanya Irene menautkan alisnya.


“Menatapmu” jawab Zean.


Irene menepis tangan Zean yang menyentuh rambutnya, ia beranjak dari tidurnya namun Zean menarik tangannya hingga gadis itu kembali jatuh dalam pelukkan Zean.


“Lepaskan aku, Zean!” pinta Irene.


Zean mendengus. “Kenapa kau galak sekali pada pria yang kau cintai?”


“Lepaskan aku, Zean. Aku harus segera menghubungi Kim agar yang lain tidak khawatir padaku” ucap Irene.


Zean memutar bola mata malas lalu mengalihkan pandangannya dari Irene, saat ini rasanya Zean ingin menghajar pria yang bernama Kim itu. Siapa dia hingga Irene harus mengabari pria itu?


“Kau mencintaiku tapi kau memikirkan pria lain” sindir Zean.


Irene tersenyum,namun ia berusaha menyembunyikan senyumannya. Entah kenapa ia suka dengan reaksi Zean yang seperti ini, Zean tengah cemburu.


“Siapa pria itu?” tanya Zean.


Irene mengalihkan tatapannya menatap Zean. “Pria yang mana?” tanya Irene berpura-pura tidak tahu.


Zean mendengus kesal. “Pria yang bernama Kim itu” ucapnya dingin.


Irene kembali tersenyum kali ini sengaja ia perlihatan pada Zean. “Kau cemburu” tebaknya.


“Tidak” Zean mencoba menjaga imagenya dengan tetap cool di hadapan Irene, berusaha menutupi kecemburuannya yang mungkin sudah Irene sadari.


“Aahhh kau cemburu ya, Mr.Lorwerth” goda Irene menusuk-nusukkan kedua jari telunjuknya ke dada Zean.


Zean mencekal tangan Irene mencoba menghentikan aksi kekanak-kanakan Irene.


“Aku–tidak–cemburu” Zean memberi penekanan disetiap kata.


Irene terkekeh kecil, ia tahu bahwa Zean benar-benar cemburu. “Kim sepupuku” jawab Irene akhirnya.


Zean mengangguk lalu menguraikan pelukannya dan meraih ponselnya di atas nakas.


“Hubungi Kim dan katakan untuk jangan khawatir karena aku akan menjagamu dan aku akan mengantarmu pulang” titah Zean seraya menyodorkan ponselnya.


Irene beranjak berjalan menuju balkon dengan Zean yang mengikutinya di belakang. Irene menekan beberapa nomor dan langsung mengklik panggilan. Kim menjawab telepon itu lalu Irene menjelaskan semuanya. Kim sempat khawatir tetapi Irene mencoba meyakinkan dan ia mengatakan akan menemui Kim nanti dan akan menjelaskannya lagi agar Kim paham dan tidak khawatir lagi.


"Ini ponselmu, terimakasih Zean" ucap Irene mengembalikan ponsel Zean.


"Jangan berterimakasih padaku, Irene" ucap Zean menatap Irene. Zean terkejut melihat wajah Irene yang pucat. Tiba-tiba Irene menyentuh kepalanya, tubuhnya lemas bahkan gadis itu nyaris tergeletak di lantai jika Zean tidak merangkulnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zean.


Irene tidak menjawab, ia memijit kepalanya yang pusing dan tiba-tiba ia menutup mulutnya dan berlari kecil menuju bathroom. Zean mulai khawatir, dengan segera ia berjalan mengikuti Irene.


"Uuuweeekkkk!" Irene muntah, kepalanya masih terasa pusing.


Zean mengusap-usap punggung Irene, ia sangat khawatir melihat kondisi Irene saat ini. Kenapa Irene tiba-tiba seperti ini? Apa Irene masuk angin karena angin di pantai sore itu?


"Jangan mendekatiku, ini sangat menjijikan, Zean" ucap Irene memperingati Zean untuk menjauhinya.


"Halo, Dokter Ainsley. Aku membutuhkanmu" ucap Zean to the point.


"Halo, Arzean. Kebetulan aku sedang tidak bertugas ke luar negeri dan aku berada di Korea, tepatnya di Seoul" ucap Dokter Ainsley di seberang telepon.


Zean bernapas lega ternyata dokter keluarganya berada di Korea juga, jadi tidak perlu menunggu lama untuk bertemu dengannya.


"Aku sedang di Korea, dok. Tolong datang ke apartemenku" ucap Zean.


"Benarkah? Apa yang kau lakukan di sini, Arzean?" tanya Dokter Ainsley.


"Aku akan menjelaskannya nanti, tolong datang terlebih dahulu" pinta Zean sambil menatap wajah Irene yang semakin pucat.


"Baiklah" ucap Dokter Ainsley lalu memutus sambungan itu.


Zean kembali menatap Irene yang terlihat kurang sehat. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Zean untuk yang kesekian kalinya.


Irene mengangguk pelan, ia mencoba berdiri tegak namun kakinya terasa sangat lemas.


"Zean" panggil Irene lemah.


Zean menoleh merangkul gadisnya itu.


"Ada apa?"


"Rasanya aku ingin tidur saja, kepalaku pusing, sepertinya aku masuk angin dan-" ucapan Irene terhenti karena tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.


Zean mulai panik namun mencoba untuk tetap tenang, ia menggendong Irene ala bridalstyle lalu membaringkannya di ranjang.


Dua puluh menit berlalu, Dokter Ainsley datang dan langsung memeriksa Irene. Setelah memeriksa Irene, Dokter Ainsley duduk di balkon bersama Zean.


"Jadi, kau ke Korea untuk mengejar gadis yang kau cintai itu?" tanya Dokter Ainsley memastikan, setelah mendengar cerita Zean.


Zean tersenyum lalu mengangguk.


"Gadis itu sangat beruntung, aku yakin kau sangat mencintainya" puji Dokter Ainsley.


"Aku sendiri tidak menyadari jika dia sangat mempengaruhi perasaanku, aku mencintainya" ucap Zean.


Ya, Zean dan Dokter Ainsley cukup dekat. Kedekatan mereka sudah lama, sejak Rihanna mengalami kecelakaan itu dan Dokter Ainsley yang menangani dan sejak itu Zean dekat dengan Dokter Ainsley. Zean sudah menganggap Dokter Ainsley seperti ibunya sendiri.


Dokter Ainsley beranjak, ia harus segera pergi karena ada jadwal operasi. "Baiklah, aku harus pergi. Jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia stres atau kelelahan karena itu akan mempengaruhi kehamilannya" pesan Dokter Ainsley.


Zean mengangguk lalu beranjak untuk mengantar Doktee Ainsley sampai pintu depan. Jadi, Irene tengah mengandung empat minggu. Irene hamil. Zean sangat bahagia mendengar kehamilan gadisnya itu.


"Mom!" panggil Irene, ia sudah berdiri dengan berpegang pada sofa dekat pintu dengan mata yang berkaca-kaca siap menumpahkan air mata hanya dengan sekali kedip.


Dokter Ainsley menelan ludah susah payah, tubuhnya bergetar, detik kemudian air mata jatuh tanpa aba-aba membasahi pipinya. Ia berjalan mendekati Irene yang masih berdiri dengan berpegang pada sofa karena gadis itu sangat lemas tidak mampu berdiri tegak.


"Caroline" ucap Dokter Ainsley memeluk Irene.