
Hai reader's sebelumnya terimakasih sudah memilih cerita Strangers in Love sebagai salah satu daftar bacaan kalian. Jangan lupa beri like dan komen ya, happy reading :)
.
.
.
Sudah tiga hari, Irene seperti terkurung di rumah ini. Untuk apa Irene berada di Melbourne jika kehadirannya hanya untuk menempati rumah yang mewahnya hampir menyaingi manssion. Dan ya, Zean menghilang. Sudah tiga hari ini tidak ada kabar dari pria asing itu, Irene selalu mencoba untuk menghubunginya tapi pria itu tak pernah menjawab panggilannya.
Jujur, Irene sendiri tak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Yang ia rasakan saat ini adalah kesal, marah dan kecewa entah karena Zean yang memang menyebalkan atau ada perasaan rindu karena Zean yang hilang tanpa kabar.
"Nona, sudah tiga hari belakangan ini kau makan tidak teratur. Mr.Lorwerth bisa marah jika mengetahui ini" ucap Linzy seraya membawa makan siang untuk Irene yang duduk menghadap jendela besar di kamarnya.
"Dia bisa marah katamu?" Irene menoleh, menatap Linzy yang menaruh makanan di atas meja.
"Apa dia masih peduli denganku? Bahkan kau sendiri tahu kan, aku selalu mencoba menghubunginya, tapi dia tak pernah menjawab panggilanku" keluh Irene.
"Mr.Lorwerth sangat sibuk, nona. Nona harus bersabar sebagai kekasihnya-"
"Aku bukan kekasihnya, bahkan sekarang pun aku mulai merasa aku juga bukan sekretarisnya. Tapi aku adalah tahanannya, aku seperti peliharaan miliknya yang harus kau jaga, bahkan aku tidak diperbolehkan keluar dari rumah ini" potong Irene.
Irene muak, benar-benar muak dengan semuar permainan Zean. Dimana pria itu? Kenapa dia tidak menjawab telepon Irene? Menyebalkan!
"Aku muak, Linzy. Malam ini juga aku akan kembali ke Boston" putus Irene.
"Tapi Nona, Mr.Lorwerth pasti akan sangat marah jika-"
"Aku tidak peduli" potong Irene.
"Nona, tolong, jangan mempersulitku. Jika kau tidak peduli dengan Mr.Lorwerth, setidaknya tolong peduli padaku sebagai penanggung jawabmu di sini. Aku bisa saja kehilangan pekerjaanku jika kau kembali ke Boston saat ini juga, aku bahkan bisa di bunuh jika terjadi sesuatu padamu" ucap Linzy.
Irene terdiam menatap Linzy dengan wajah putus asanya, apa Zean sekejam itu?
Irene menghela napas, lalu tersenyum menatap Linzy. "Baiklah, aku menurut. Ini karena aku peduli dengan mu"
Linzy tersenyum, ternyata Irene adalah gadis yang baik dan sangat peduli.
"Terimakasih, Nona"
πππ
Linzy mengetuk pintu kamar Irene, lalu masuk setelah mendengar suara Irene yang mengijinkannya masuk. Sore ini, Irene tengah berdiri di balkon menatap langit yang sebentar lagi menghantarkan waktu pada indahnya warna langit senja temaram.
"Nona, kau harus bersiap. Aku mendapat telepon untuk memberitahumu bahwa kau harus menemui klien, ini adalah perintah Mr.Lorwerth" jelas Linzy.
Irene menoleh menatap Linzy dengan tatapan malas.
"Kenapa pria itu tidak menelponku untuk langsung memberitahuku saja?" tanya Irene.
"Mr.Lorwerth sangat sibuk saat ini, nona. Dan yang menelponku untuk memberitahumu bukanlah Mr.Lorwerth, tetapi bawahannya" jawab Linzy.
"Terserah, aku malas, tidak perduli, dan tidak mau tahu" ketus Irene.
"Bersiaplah, nona. Akan ada yang datang menjemputmu nanti, temui klien itu dan jangan mengecewakan Mr.Lorwerth" ucap Linzy.
'Tok..tok..' terdengar suara ketukan pintu, sontak Irene dan Linzy menoleh. Di depan pintu ada seorang pelayan lain yang membawa dua paperbag berukuran besar.
"Permisi, Nona" ucap pelayan itu.
"Perkenalkan, aku Anna. Aku yang akan membantumu berdandan, Nona" ucapnya lalu menyodorkan dua paperbag berukuran besar itu kepada Irene.
Irene menautkan alisnya lalu meraih dua paperbag itu, ternyata berisi sebuah dress berwarna hitam dan sepasang heels.
"Bersiaplah, Nona" ucapnya.
Irene yang enggan memberontak pun hanya diam dan menuruti semua arahan dari pelayan itu. Irene menuju bathroom untuk segera bersiap dan pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya.
"Kau terlihat sangat cantik, Nona" puji Anna.
"Jangan memujiku seperti ini, semua wanita itu cantik, Anna" Irene merendah.
Kemudian seorang pria datang menjemput Irene lalu mengarahkannya untuk segera masuk ke mobil.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, akhirnya Irene sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti taman yang sengaja didekorasi dengan indah. Gemerlap lampu tumblr menghiasi jalan utama menuju ke dalam tempat itu, di sepanjang jalan Irene mendapati mawar putih yang tergeletak begitu saja.
Tunggu, tunggu dulu, mawar putih? Ya, mawar putih adalah bunga kesukaan Irene. Lalu bagaimana bisa mawar-mawar ini dibiarkan tergeletak di sepanjang jalan?
Akhirnya Irene mengambil tangkai demi tangkai bunga mawar putih yang tergeletak di sepanjang jalan utama sambil menghitungnya.
".... 67"
"68"
"69..." hitung Irene, ia sedikit kesusahan dengan puluhan tangkai mawar yang dibawanya saat ini.
"70"
"71"
"72. Selesai" ucapnya.
Irene bingung, sangat bingung, tujuh puluh dua tangkai mawar putih berhasil ia kumpulkan. Dan di saat bersamaan, ia sudah sampai di tengah taman. Namun sepi, tak ada siapapun di sana, hanya ada hamparan rumput hijau dan pohon-pohon rindang yang ada di tempat itu dengan pencahayaan minim dari gemerlap lampu tumblr yang menghiasi sepanjang jalan Irene hingga sampai di tengah taman.
Irene bergeming lalu menatap tujuh puluh dua tangkai mawar yang berhasil ia kumpulkan, detik selanjutnya tiba-tiba seseorang menutup mata Irene dengan kedua tanganya. Irene tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" panik Irene.
Orang itu hanya diam, namun aroma parfum miliknya mampu menyadarkan Irene, orang itu adalah pria yang hampir memenuhi seluruh isi otaknya dan sukses membuatnya kesal tiga hari belakangan ini.
"Aku tahu ini kau, Zean" ucap Irene untuk pertama kalinya ia memanggil nama depan pria asing itu.
Zean tersenyum mendengar Irene yang memanggil nama depannya, kemudian Zean menyingkirkan tangannya yang menutup mata Irene. Di saat bersamaan ketik Irene membuka matanya, lampu tumblr yang di bentuk menjadi beberapa huruf menyala di tengah taman itu. Irene mulai membaca satu persatu huruf yang membentuk kalimat "I miss you"
Irene tersenyum, detik kemudian ia bisa merasakan Zean yang melingkarkan tangannya di perut Irene lalu mencium lekuk leher gadis itu.
"Aku harap, semua mawar ini bisa menebus tujuh puluh dua jam dari tiga hari waktu yang tidak bisa aku habiskan bersamamu, Irene Banner" bisik Zean.
Deg! Irene kesulitan mengontrol detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. Wajahnya memanas, pipinya memerah mendengar bisikan Zean yang menyihir dirinya saat ini. Perasaan aneh itu muncul lagi, Irene merasa nyaman di pelukan Zean, merasa senang dengan setiap hal kecil yang dilakukan Zean bahkan gadis itu menyukai setiap kata manis yang Zean ucapkan.
Susah payah Irene berusaha menyadarkan dirinya untuk menepis jauh pikiran tentang Zean, Irene tidak mudah terbuai hanya dengan sikap dan kata-kata pemanis ala badboy seperti Zean.
"Kau harus menjelaskan semuanya, Mr.Lorwerth" ucap Irene yang teringat pada kejadian malam itu saat mereka menuju ke bandara, ada mobil yang menguntit mereka dan ada dua orang pria yang hampir membunuh Zean dan satu lagi, siapa yang menyelamatkan Zean malam itu.
"Menjelaskan apa?" tanya Zean yang semakin mempererat pelukannya.
"Siapa kau sebenarnya, Mr. Lorwerth?"
.
.
.
***Hai reader's....
Dukung terus ya Author tercinta kalian ini, hehe...
Jejak Author bisa ditemukan di instagram @eldiian_
Jangan ragu untuk follow, kalian tinggal dm saja nanti Author pasti follback. Dari sana kalian bisa lihat karya-karya novel Author lainnya, salam hangat π***