Stranger's In Love

Stranger's In Love
47|LOVES STORY



The Griffin Bar, Seoul 07.00 pm


Ainsley tiba di The Griffin Bar di sambut oleh pelayan yang sudah menunggunya di pintu masuk. Ainsley berjalan anggun dengan heels yang melingkar indah di kakinya, tubuhnya begitu seksi dengan balutan gaun putih selutut yang melekat sempurna di tubuhnya, gaun itu dikirimkan oleh Irene siang tadi ke apartemennya. Siang tadi, Irene meneleponnya dan mengatakan ingin makan malam bersama ibunya dan juga Zean, sebelum besok adalah hari pernikahannya. Ainsley sangat senang dan menuruti kemauan putrinya itu.


"Selamat malam, Ms. Ainsley" sambut pelayan itu ramah.


Ainsley tersenyum. "Selamat malam"


"Mari biarku tunjukkan jalanmu, Ms. Ainsley" ucap pelayan itu mengantar Ainsley memasuki The Griffin Bar.


The Griffin Bar ini merupakan salah satu restoran romantis bintang lima yang sangat terkenal di Seoul.


"Selamat datang, nona. Ini adalah malam yang indah untukmu" ucap pelayan itu lalu beranjak pergi.


Ainsley tercengang, takjub melihat betapa indahnya tempat ini. Sepertinya tempat ini sudah disewa dan didekorasi khusus. Puluhan tangkai mawar merah mengihiasi setiap sudut ruangan ini. Ada sebuah piano di sudut ruangan dekat jendela di sana juga ada seorang pianis yang sudah siap menyentuh setiap tuts-tuts dari piano itu. Dan hanya ada sebuah meja kaca besar dengan empat kursi yang terlihat begitu elegan diletakan di balkon ruangan itu, sempurna, semua terlihat begitu indah.


"Kau sudah tiba rupanya" ucap seseorang.


Deg! Ainsley terdiam, sekujur tubuhnya mendadak lemas saat mendengar suara dari seseorang yang sangat ia rindukan selama ini.


"Ainsley" panggil orang itu lembut.


Ainsley masih diam, rasanya saat ini ia masih enggan untuk melihat wajah orang itu atau bahkan berbicara dengannya. Ya orang itu adalah Daniel Ricardo, pria yang sangat ia cintai, sekaligus pria yang begitu ia benci.


Daniel melangkah lebih dekat lalu memeluk Ainsley dari belakang, Ainsley tersentak namun hanya diam dalam pelukannya. Daniel pun menunduk dan mencium pundak Ainsley sambil memejamkan mata, Daniel benar-benar merindukan wanitanya itu.


Ainsley tak bisa menggelak, ia tidak pandai berbohong. Jujur dirinya juga sangat merindukan Daniel, ia merasa nyaman dalam pelukannya saat ini. Tetapi, Ainsley tidak boleh sepayah ini, ia tidak bisa melupakan hal bodoh yang pernah Daniel lakukan di masa lalu yang begitu melukai hatinya.


"Lepaskan aku, brengsek!" pinta Ainsley lirih, ia menangis.


Tak kuat memendung kesedihan dan air mata ini. Ainsley telah kalah, hari ini ia menunjukkan sisi rapuhnya yang sudah berusaha ia tutupi selama bertahun-tahun lamanya.


Topeng cantik dengan karir dokternya terlepas malam ini, ia menangis masih dalam pelukan Daniel walau pria itu belum melihatnya tetapi suara dari isak tangis itu tak dapat ia sembunyikan.


Daniel melepas pelukannya dan Ainsley dengan segera menghapus air matanya.Lalu Ainsley bergegas pergi, namun Daniel menahannya.


Daniel menatap mata indah milik Ainsley yang selama ini sangat ia rindukan, begitu juga Ainsley yang menatap Daniel dengan penuh kerinduan sekaligus kebencian terhadapnya.


Daniel menyentuh wajah cantik wanitanya itu, sudah lama sekali ia tidak melihat wajah cantik itu.


"Ku mohon, dengarkan aku dan bicaralah padaku malam ini" pinta Daniel.


Ainsley menepis kasar tangan Daniel yang menyentuh wajahnya.


"Jangan menyentuhku!" tegas Ainsley.


"Aku tidak mau mendengar apapun darimu dan aku tidak ingin bicara padamu" Ainsley kesal lalu beranjak pergi.


"Mianhae, Ainsley" ucap Daniel menghentikan langkah Ainsley. (Mianhae adalah bahasa korea artinya maaf)


Ainsley menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Daniel.


Ainsley tersenyum tipis masih dengan rasa kekecewaannya di masa lalu. "Kau tidak pantas untuk dimaafkan, Daniel" ucapnya.


Daniel berjalan mendekati Ainsley lalu bersimpuh di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" tanya Ainsley melihat Daniel yang bersimpuh di hadapannya.


Daniel mengangkat kepalanya lalu menatap wanita itu dengan penuh ketulusan dan rasa bersalah yang ia pendam selama bertahun-tahun ini.


"Maafkan, aku" ucap Daniel meminta maaf lagi.


Ainsley menghela napas, muak mendengar kata maaf dari Daniel.


"Aku tidak pernah mencintai Carla Darbost, bahkan aku tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain dirimu, Ainsley" ucap Daniel tulus.


"Jangan bicara seperti itu setelah kau tidur dengannya dan akhirnya kita berpisah. Kau hanya berbicara omong kosong, Daniel" Ainsley memberi jeda pada ucapannya, ia berusaha menahan sesak di dadanya.


Daniel hanya diam, ia memberi Ainsley kesempatam untuk bicara.


"Kau tidak benar-benar mencintaiku, kau hanya merasa kehilangan. Bukan seperti ini cara seorang pria mencintai wanitanya, bukan seperti ini cara seorang suami menjaga rumah tangganya dan bukan seperti ini cara seorang ayah menyayangi anak-anaknya" Ainsley berhenti sebentar untuk menghela napas yang terasa semakin berat.


"Kau benar-benar payah, Daniel. Kau seorang pembohong besar dengan semua rayuan dan kata-kata manismu, kau begitu palsu, dan aku sangat, sangat, sangat membencimu. Aku membenci diriku sendiri karena telah mempercayaimu, aku mengutuk diriku karena telah mencintaimu. Jangan mengatakan omong kosong lagi, Daniel" lanjutnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ainsley tidak dapat menahan kesedihannya lagi.


Ainsley menangis di hadapan Daniel yang masih bersimpuh padanya.


Daniel memejamkan mata sesaat lalu bulir air menetes begitu saja, ia juga menangis. Sedih, kesal dan sesak rasanya melihat Ainsley menangis dan begitu membencinya. Daniel beranjak lalu berdiri di hadapan Ainsley. Kemudian tangannya tergerak untuk menyeka air mata wanitanya itu.


"Maafkan aku untuk semua sedih dan kecewamu. Aku benar-benar menyesal, setiap hari terasa semakin buruk saat aku merindukanmu. Setiap hari terasa menyesakan saat aku menyesali perbuatanku karena aku menyadari bahwa aku tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu. Dan betapa bodohnya aku karena telah kehilangan wanita yang sangat aku cintai. Aku menyesal untuk semua yang terjadi ada keluarga kecil kita, aku menyesal telah menjadi suami dan ayah yang buruk untuk keluarga ini" ucap Daniel tulus.


Daniel mengehala napas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Ku mohon, Ainsley. Malam ini saja, berikan aku kesempatan untuk memerbaiki semua walau kita mungkin tidak bisa bersama kembali. Setidaknya ku mohon, berikan malam ini untuk keluarga kecil kita. Karena aku tulus mencintaimu, aku tulus mencintai anak-anak kita dan aku menyesali kebodohanku di masa lalu" lanjut Daniel.


Ainsley menatap Daniel dengan mata sembabnya, ia mencoba mencari celah kebohongan di mata Daniel. Namun tidak, Daniel benar-benar tulus dengan ucapannya, dia tidak berbohong, dia tulus mencintai dan menyesali semuanya.


Daniel kembali bersimpuh di hadapan Ainsley sambil mengulurkan tangan kanannya.


Untuk malam ini, maukah kamu berdansa denganku?


"For tonight, would you dance with me, Mrs. Ricardo?" tanya Daniel bak pangeran yang ingin mengajak putri berdansa.


Ainsley tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya yang langsung digenggam lembut oleh Daniel lalu dia berdiri dan pianis mulai menekan setiap tuts dari pianonya yang mengeluarkan nada-nada romansa yang mengiringi setiap langkah Daniel dan Ainsley yang berdansa di ruangan itu, begitu sederhana dengan nuansa romansa yang indah malam ini.


"Sekali lagi, maafkan aku" bisik Daniel di sela-sela dansa mereka.


"Tidak akan" Ainsley masih kukuh, tetapi jujur jauh di lubuk hatinya ia mulai meluluh dengan ketulusan yang ia lihat dari Daniel malam ini.


"I know, you know, we know weren't meant each other and it's fine" ucap Daniel.


"Tetaplah seperti ini, cinta kita cinta yang unik. Kita bertemu dan sempat saling memiliki tapi akhirnya kita berpisah, dan kita tidak bisa hidup untuk menua bersama hingga akhir" ucap Ainsley.


Mereka masih terus berdansa mengikuti alunan nada romansa dari dentingan nada sang pianis.


"Aku milikmu malam ini dan aku mencintamu, Ainsley Ricardo" ucap Daniel.


"Aku juga mencintaimu, Daniel Ricardo" ucap Ainsley.


Mereka berhenti, namun sang pianis masih memainkan musik romansanya.


Daniel menyentuh wajah cantik Ainsley. "Terimakasih untuk malam yang indah ini" ucap Daniel lalu mencium wanita itu.


Daniel melingkarkan tangannya di pinggang Ainsley lalu memperdalam ciumannya. Malam ini malam yang indah, malam ini milik mereka.


Dari kejauhan tempatnya berdiri, Irene dan Gerald tersenyum bahagia melihat ayah dan ibunya bisa bersama kembali dan berdansa pada malam yang sempurna ini.


"Apa kita berhasil?" tanya Irene pada Gerald yang masih tersenyum melihat ayah dan ibunya.


Gerald mengalihkan pandangannya menatap Irene.


"Mereka masih saling mencintai, cinta memang begitu rumit, biarlah seperti ini kisah cinta setiap manusia berbeda dan pada porsinya masing-masing" jawab Gerald.


Irene tersenyum, Gerald benar. Ada banyak kisah cinta yang aneh dan unik di dunia ini. Salah satunya adalah kisah cintanya dengan Zean, kisah cinta Rebecca dan James dan kisah cinta Ainsley dan Daniel. Jangan pernah takut untuk jatuh cinta, tidak ada cinta yang menyakitkan, dan jikalaupun ada cinta yang menyakitkan, tetap saja cinta tidak pernah salah, itu hanya godaan dalam mencintai seseorang. Dan semua hanya karena waktu, jadi tunggu saja.


heyoo my lovely readers


gimana SIL episode ini?


kasi komen ya guys, dan ditunggu selalu update next epsnya hehe...