Stranger's In Love

Stranger's In Love
82| THE PENTHOUSE



Cassandra menceritakan semuanya, satu tahun yang lalu ada sebuah pertemuan bisnis di Lee Da Museum yang melibatkan seorang klien asal Arab. Kala itu Cassandra membutuhkan seorang penerjemah bahasa Arab. Ia meminta asistennya--Ryan Masley mencari seorang penerjemah bahasa Arab yang sudah mahir agar tidak mengecewakan kliennya nanti. Dan alhasil Mr.Ryan menemukan Akhifa Naila Sabha yang ternyata adalah tunangan Allan.


Cassandra tidak menghadiri acara pertemuan di hari itu karena memang dari sebelum-sebelumnya Cassandra tidak pernah turut campur dalam urusan bisnisnya. Cassandra mempercayakan semuanya pada Ryan dan juga Gerald, selama ini Cassandra hanya menerima laporan tertulis maupun laporan langsung dari Ryan terkait bisnis yang ia jalankan. Lee Da Museum berjalan lancar sejauh ini belum pernah ada keluhan atau pun masalah yang timbul ini membuat Cassandra sama sekali tidak merasa curiga. Namun, ucapan Allan kemarin sukses membuatnya gelisah.


“Aku merasa terganggu karena ucapan Allan dan memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya. Aku langsung menghubungi Ryan untuk meminta list biodata penerjemah-penerjemah yang pernah bekerja sama dengan Lee Da Museum, tapi Ryan tidak memberikannya dengan alasan komputernya terkena virus dan dia kehilangan banyak data termasuk data penerjemah. Bukankah aneh jika masalah sebesar ini dia anggap sepele seolah tidak masalah jika data yang lainnya hilang?” tanya Cassandra pada Irene yang masih mencerna cerita wanita itu.


“Seharusnya Ryan panik dan segera melaporkannya padaku, tapi sejauh ini Ryan belum melaporkannya padaku bahkan dia baru mengatakannya saat aku meminta biodata penerjemah. Aku merasa ada keanehan di sini,” lanjut Cassandra.


“Aku merasa semakin terganggu dengan hal ini, malam itu juga aku pergi ke Museum. Aku mengobrak-abrik arsip penyimpanan dan mengecek semua komputer, tapi hasilnya nihil aku tidak menemukan apa pun. Bahkan aku merasa semakin aneh karena tidak ada data penting di arsip penyimpanan dan komputer. Lee Da Museum bukanlah bisnis kecil, seharusnya ada banyak arsip dan data klien tapi aku tidak menemukan apa pun,” Cassandra menghembuskan napas kasar, sepertinya dia mulai emosi.


“Tapi aku tidak menyangka jika Ryan Masley akan seceroboh itu, aku menemukan diska lepas di laci meja kerjanya sepertinya dia melupakan hal sepenting itu. Aku mengecek isi dari diska lepas itu, aku… aku… hiks,” Cassandra tiba-tiba menangis dan langsung memeluk Irene.


“Tenangkan dirimu, Cassandra,” ucap Irene berusaha menenangkan.


“Aku… hiks… aku menemukan biodata para penerjemah,” Cassandra terisak, sulit sekali baginya untuk melanjutkan ucapannya.


Irene mengelus punggung wanita itu, “Tenanglah, Cassandra. Tenang.”


Cassandra menguraikan pelukannya lalu menghapus jejak air di pipinya, ia menatap Irene dengan gemetar. Dari sorot matanya jelas terlihat ada rasa takut pada diri Cassandra.


“Aku mencari tahu setiap orang yang ada di daftar itu, tapi… hiks…” Cassandra kembali menangis.


Melihat reaksi Cassandra ini, Irene yakin sesuatu yang buruk mungkin terjadi dan benar selama ini Cassandra memang tidak tahu apapun tentang bisnis yang ia jalankan di balik Lee Da Museum.


“Mereka semua sudah mati, Irene. Waktu kematiannya adalah di hari mereka menghadiri undangan pertemuan dengan klien asing di Lee Da Museum. Pada 20 Februari 2020, pukul 10.00 a.m di Gedung Lee Da Museum, pertemuan dengan klien Arab, penerjemah Akhifa Naila Sabha dan waktu kematian di hari yang sama pukul 09.00 p.m karena keracunan di pesta pertunangannya. Pada 15 Mei 2020, pukul 11.00 a.m di Gedung Lee Da Museum, pertemuan dengan klien Islandia, penerjemah Jordan Guy dan waktu kematian di hari yang sama pukul 07.30 p.m karena kecelakaan tunggal yang disebabkan rem blong. Pada 30 Januari 2019, pukul 09.30 a.m di Gedung Lee Da Museum, pertemuan dengan klien Spanyol, penerjemah Annastasya Siregar dan waktu kematian di hari yang sama pukul 10.00 p.m karena kebakaran yang disebabkan kebocoran gas di rumahnya,  pada… hiks...hiks...” Cassandra tidak sanggup menceritakannya lagi.


Irene memeluk Cassandra, tidak bisa dibayangkan betapa rapuhnya Cassandra saat ini. Selama ini Cassandra benar-benar tidak tahu bisnis apa yang ia jalankan.


“Kematian mereka semua pasti sudah direncanakan, Irene. Aku yakin mereka pasti menerjemahkan rahasia bisnis yang aku sendiri tidak tahu,” ungkap Cassandra.


“Aku… hiks… Aku merasa buruk, aku wanita jahat, aku… hiks..” tangis Cassandra kian menjadi.


Irene bangkit dari duduknya, sontak itu membuat Cassandra langsung menarik Irene. Cassandra takut jika Irene pergi meninggalkannya.


“Kumohon, setelah apa yang kau dengar jangan tinggalkan aku, Irene,” pinta Cassandra.


Irene menatap Cassandra sejenak lalu menariknya untuk berdiri bersama. “Ayo! Siapkan dirimu, kita akan mencari banyak bukti di museum mu.”


“Tapi, bagaimana? Tidak arsip penting dan komputer juga sepertinya sudah di set ulang,” ucap Cassandra terdengar putus asa.


Irene menggeleng. “Aku punya seseorang yang ahli di bidang ini, jangan khawatir,” ucap Irene.


“Apa kita bisa mempercayai orang itu? Bagaimana jika--”


“Tenanglah, Cassandra. Untuk saat ini siapkan dirimu, aku akan menunggu di mobil,” ucap Irene memotong pembicaraan Cassandra.


Cassandra mengangguk kaku dan mulai mempersiapkan diri, ia terlihat sangat kacau. Sedangkan Irene bergegas menunggu di mobil.


                                                                                              ***


“Irene,” Cassandra menghentikan langkah Irene saat ia hendak memasukan kode sandi pintu kamar apartemen. Saat ini mereka ada di apartemen Tae-O.


Irene menatap Cassandra dengan senyum penuh percaya dirinya. “Jangan khawatir, Cassandra.”


Irene kembali fokus memasukan kode sandi dan detik kemudian pintu terbuka.


“Oh, Noona!” sapa Tae-O saat Irene masuk. Namun, perhatian Tae-O beralih menatap wanita di samping Irene.


“Siapa dia, Noona?” tanya Tae-O.


Irene beralih menatap Cassandra lalu memberi kode pada wanita itu agar memperkenalkan dirinya.


“Aku Cassandra Lee Damora,” ucap Cassandra memperkenalkan diri.


Tae-O membulatkan mata penuh lalu ia menarik Irene menuju balkon, meninggalkan Cassandra yang berdiri mematung di tempatnya.


“Noona, apa kau yakin membawanya kemari?” tanya Tae-O panik.


“Kita harus membantunya, Tae-O. Ternyata Cassandra selama ini memang benar tidak tahu bisnis apa yang sebenarnya dia jalankan di Lee Da Museum,” jawab Irene.


“Tapi, Noona.” rengek Tae-O. Namun, Irene sudah kembali masuk menghampiri Cassandra dan dengan terpaksa Tae-O berjalan mengikuti di belakangnya.


Irene, Cassandra dan Tae-O kini duduk bersama di ruang tengah, mereka hendak membahas sesuatu.


“Cassandra, kamu bisa menceritakan detailnya lagi sekarang terlebih berikan sedikit informasi tentang Lee Da Museum,” ucap Irene membuka topik pembicaraan.


Cassandra pun menceritakan kembali hal yang sudah sempat ia ceritakan pada Irene agar Tae-O pun mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


“Ghost! That’s so crazy!” umpat Tae-O kesal setelah mendengar semua cerita Cassandra.


“Bagaimana bisa seorang manusia melakukan hal itu,” kesal Tae-O.


“Aku sungguh tidak menyangka dibalik bisnisku ada hal semengerikan itu,” lirih Cassandra.


“Tenang, Cassandra. Dengan bantuan Tae-O kita bisa meretas data-data tersembunyi dari Lee Da Museum bahkan kita juga bisa memulihkan file-file yang telah hilang,” ucap Irene mencoba menenangkan Cassandra yang nampak ingin menangis lagi.


“Kita harus ke Lee Da Museum. Aku perlu terhubung dengan komputernya agar bisa meretas seluruh datanya,” ucap Tae-O.


Cassandra menggeleng, lalu menatap Irene dan Tae-O bergantian.


“Lee Da Museum bukanlah museum nyata. Lee Da Museum adalah museum virtual yang bisa berada di mana saja. Kita hanya membutuhkan layar dan proyektor dengan akses rahasia maka kita bisa masuk ke Lee Da Museum. Produk yang ditampilkan hanya wujud virtual dari lukisan-lukisan karya seniman terkenal, jika klien tertarik dan setuju untuk melakukan transaksi maka lukisan tersebut nantinya akan kami kirimkan ke alamat klien. Sejauh ini hanya itulah yang aku tahu, selebihnya aku tidak tahu apakah mereka benar-benar menjual lukisan yang aku kumpulkan dari seniman terkenal dengan membagi tiga puluh lima persen keuntungan atau ada hal lain yang mereka perjual belikan di balik lukisan itu,” ungkap Cassandra.


Irene mengerutkan dahi bingung, ia teringat cerita Cassandra tadi.


“Lalu bagaimana dengan diksa lepas yang kau temukan di laci meja Ryan Masley? Dan bagaimana dengan arsip yang kau cari serta komputer yang terkena virus?” tanya Irene bingung.


“Penthouse, Ryan Masley. Alasan aku sering datang ke Praha adalah Ryan Masley, asistenku. Seluruh data dan arsip Lee Da Museum dikelola di Penthouse milik Ryan di Václavské nám. Aku rutin mengunjunginya setiap tiga bulan sekali untuk sekedar mengecek keuangan per triwulan. Selama ini aku tidak pernah curiga karena bisnisku tergolong sangat lancar dan keuangan pun cukup bersih,” ucap Cassandra.


Irene dan Tae-O hanya mengangguk patuh mendengar semua penjelasan dari Cassandra. Ternya Lee Da Museum ini memang bukan bisnis biasa.


"Bagaimana pun caranya kita harus bisa meretas komputer Ryan Masley!" seru Tae-O yang kini sangat antusia.