Stranger's In Love

Stranger's In Love
11|HE TOLD ME



Zean dan Irene duduk di bangku besi taman malam itu. Zean melepas jasnya lalu menyampirkan di bahu Irene, gadis itu kedinginan.


Zean beranjak dari duduknya. "Ayo, pulang"


Irene menatap Zean dengan tatapan dingin lalu menggeleng. "Tidak, sebelum kau menjelaskan semuanya!"


Zean menghela napas dan kembali duduk di samping gadis itu.


"Menjelaskan apa?"


Irene menatap pria yang duduk di sampingnya itu dengan tatapan tajam yang menusuk.


"Untuk apa aku menjadi sekretarismu, jika kau sendiri tidak membutuhkan ku?" keluh Irene.


Zean menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum pada gadis itu.


"Aku memang tidak membutuhkan mu sebagai sekretaris, tapi aku membutuhkanmu sebagai gadisku" jawab Zean.


"Kenapa kau seperti ini padaku? Tidak bisakah kau membiarkan aku hidup normal dan berkerja sesuai dengan keinginanku!" Irene kesal, Zean benar-benar menyebalkan.


Zean tersenyum melihat wajah cantik Irene yang terlihat begitu marah padanya.


"Apa kau marah?" tanya Zean.


Dasar bodoh, pertanyaan macam apa itu? Tentu Zean, tentu Irene marah dan kesal padamu.


"Aku tidak suka, kau perlakukan seperti ini. Aku tidak suka, kau mengatakan pada siapapun bahwa aku adalah kekasihmu. Aku tidak suka, kau kurung seperti tiga hari lalu, aku sudah seperti anjing peliharaanmu. Aku juga tidak suka, saat kau hilang tanpa kabar dan meninggalkan ku begitu saja. Dan aku tidak suka-"


Ucapan Irene terhenti karena Zean menciumnya, begitu lembut. Zean benar-benar kalah untuk menahan diri, ia tidak bisa membiarkan bibir pink itu terus mengoceh sepanjang sungai nil. Zean suka saat Irene mengoceh, apa lagi jika alasan Irene mengoceh adalah Zean.


Zean melepas ciumannya, memberi Irene kesempatan bernapas. Lalu menatap Irene sambil tersenyum.


"Setelah ini, aku akan membiarkanmu bekerja sebagai sekretarisku. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai, lagi" ucap Zean.


Oh Tuhan, kenapa pria ini begitu manis.


"Apa kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Irene memastikan. Biasanya Zean selalu bersikap sesuka hatinya tanpa mempedulikan pendapat Irene, tapi tidak kali ini, Zean malah menurut dan peduli dengan perasaan Irene.


Zean mendelik. "Aku baik-baik saja, Irene"


"Ada satu hal lagi yang perlu kau jelaskan. Siapa kau sebenarnya, Mr.Lorwerth? Kenapa ada orang yang mengincarmu dan ingin membunuhmu? Lalu siapa yang menolongmu malam itu?" Irene menyerang Zean dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah beberapa hari ini mengendap dalam pikirnya.


Zean menghela napas sejenak.


"Aku adalah anak semata wayang, James bukanlah adikku" jeda Zean.


Irene menautkan alisnya, bingung. Tapi, ia memilih diam dan menunggu Zean melanjutkan ucapannya.


Irene mencerna dengan baik penjelasan Zean, apa yang diucapan Zean adalah hal serius. Bisa dikatakan, baru saja Zean membeberkan rahasia keluarganya.


"Kenapa kau memberitahuku soal ini?" tanya Irene, mengingat Zean mengatakan jika tidak ada yang tahu jika James bukanlah keturunan asli keluarga Lorwerth.


Zean beralih menatap Irene lalu menggenggam tangan gadis itu.


"Karena aku mempercayaimu dan aku mencintaimu, Irene" ucap Zean tulus.


Apa? Zean mencintai Irene? Semudah itu? Secepat itukah?


Irene menatap dalam ke sorot mata Zean, berusaha mencari-cari celah kebohongan. Namun, tidak ada, Zean benar-benar tulus dan serius dengan ucapannya.


"Mr.Lorw-"


"Sstt" Zean menempelkan telunjuknya di bibir Irene. Lalu mendekatkan kepalanya di kuping gadis itu.


"Aku tidak ingin mendengar kau memanggilku dengan 'Mr.Lorwerth' jika sampai aku mendengar itu lagi, aku akan menghukummu dengan ciuman" bisik Zean.


Deg! Irene menegang, detak jantungnya kembali perpacu cepat. Perasaan aneh itu muncul kembali, ia merasa nyaman berada di dekat Zean.


"Ayo, kita harus kembali ke Boston" ucap Zean.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Boston 23.30 pm


Irene menatap pantulan dirinya di cermin. Kedua tangannya bertumpu pada wastafel. Ia baru selesai mandi, tubuhnya terasa lengket dan begitu lelah setelah tiga puluh satu jam lima menit mengudara perjalanan dari Melbourne menuju Boston. Irene keluar dari bathroom menuju tempat favoritnya yaitu ranjang king size yang selalu siap menjadi tempat pembaringan gadis itu.


Ingatan Irene kembali memutar tentang Zean, pria yang mengatakan bahwa dia mencintai Irene ketika mereka duduk di bangku taman di Kota Melbourne malam itu. Irene tidak tahu perasaan macam apa yang sedang ia rasakan. Terkadang ia marah dan kesal pada Zean, namun terkadang ia merasa nyaman dan aman di dekat Zean. Irene sedikit risih dengan sikap Zean yang memperlakukannya seperti seorang kekasih, namun sikap Zean yang seperti itulah yang sedang menggoyahkan hatinya saat ini.


Jujur, Irene sampai detik ini pun tidak percaya dengan yang namanya cinta, apa lagi cinta pada pandang pertama, it's impossible. Baginya cinta itu tidaklah nyata, hanya fana yang menggoda dalam sesaat dan hanya akan menyisakan pahit dan sakit akibat cinta itu sendiri.


"Apa ini? Ada apa dengan ku?" ucapnya pada diri sendiri.


Ponsel Irene berdering, membuyarkan pikirannya. Ia menatap layar ponselnya, ada panggilan dari seseorang yang ia berinama 'Stranger'


"Ada apa?" tanya Irene cuek.


"Datang dan bekerjalah besok ke kantor" jawab Zean lalu menutup panggilan itu.


"Halo" ucap Irene, tak ada jawaban, Zean benar-benar mengakhiri panggilan itu.


Ada apa dengan Zean? Sikapnya berubah-ubah tak menentu, membuat Irene menjadi penasaran akan siapa sebenarnya Arzean Lorwerth itu. Pria seperti apa yang sedang ia hadapi.


"Kau adalah orang pertama yang berhasil mengacaukan pikiranku, Arzean Lorwerth" ucap Irene menatap layar ponselnya.