Stranger's In Love

Stranger's In Love
69|TWO MEN



“Apa kau berpikir Allan menyukaiku?” tanya Cassandra tiba-tiba, ia teringat sikap Allan terkadang tidak seperti seorang teman pada umumnya. Saat ini mereka sedang menonton televisi di ruang tengah sambil menanti kedatangan Zean.


Irene nampak berpikir lalu menatap Cassandra sejenak kemudian fokusnya kembali menatap layar televisi.


“Hm... Aku juga berpikir, apa Allan menyukaimu? Atau, apa kau yang justru menyukai Allan? Atau, apa mungkin kalian saling menyukai?” goda Irene.


Cassandra langsung melempar bantal sofa pada Irene. “Jangan menggodaku, Irene!”


Irene terkekeh, ia menentralkan diri sejenak.


“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” tanya Irene serius.


“Entahlah. Aku merasa ada perasaan aneh yang muncul, entah karena sikap Allan padaku atau karena diriku sendiri,” jawab Cassandra seraya memijit kepalanya.


“Ah, tapi tidak mungkin Allan menyukaiku. Dan, lebih tidak mungkin lagi jika aku yang menyukainya, apa lagi sampai kami benar-benar saling menyukai satu sama lainnya. Bisa gila aku,” ucapnya lalu menggeleng kuat-kuat menepis segala hipotesis yang baru saja ia katakan.


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Cassandra,” ucap Irene beranjak dari duduknya saat melihat Zean muncul dari balik pintu.


“Kau sudah datang,” Irene langsung berhambur ke pelukan Zean.


Cassandra yang melihat adegan itu langsung menutup wajahnya dengan bantal sofa, rasanya muak sekali menonton keromantisan hubungan rumah tangga seseorang.


“Bagaimana jalan-jalanmu hari ini?” tanya Zean menguraikan pelukannya.


Irene tersenyum dengan mata berbinar ia langsung menceritakan semua yang ia lakukan tadi bersama Cassandra dan Allan. Zean senang mendengar cerita liburan Irene yang sepertinya membuat wanita itu jadi sangat bahagia dan menikmati harinya di Praha.


“Aku ikut senang untukmu,” Zean mengelus pucuk kepala Irene.


“Terima kasih, Zean berkatmu aku jadi sesenang ini. Lain kali ayo kita pergi bersama,” Irene bergelayut manja di lengan Zean.


“Apa kau sudah makan? Kalau belum aku akan memasak untukmu,” ucap Irene kemudian.


Zean menggeleng.


“Aku sudah makan malam di luar tadi. Aku pulang untuk berpamitan denganmu,” ucap Zean membuat tangan Irene melemas.


Irene cemberut, kenapa Zean harus kembali ke Boston sih. Menyebalkan sekali.


“Setelah urusan di sana selesai, aku akan langsung kembali. Mungkin hanya memakan waktu dua sampai tiga hari, aku berjanji,” ucap Zean mengelus wajah cantik Irene.


Irene mengangguk dengan terpaksa. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, Irene tidak bisa menghalangi Zean.


“Cepatlah kembali, Zean,” pinta Irene.


“Iya.”


Kini fokus Zean beralih menatap Cassandra yang masih pada posisinya.


“Cassandra,” panggil Zean. Cassandra langsung menjatuhkan bantal sofa itu lalu menatap Zean sebagai tanggapan.


“Tolong jaga Irene selagi aku pergi. Jika kau mendadak ada urusan bisnis, kau bisa mengajak Irene ikut bersamamu,” pesan Zean pada Cassandra. Selama ada Cassandra setidaknya Zean tidak terlalu khawatir meninggalkan Irene di Praha.


“Tanpa kau beritahu pun aku pasti akan menjaga Irene dan mengajaknya ke mana pun aku pergi,” sinis Cassandra.


Zean menghela napas sejenak.


“Satu hal lagi. Kau harus belajar jadi wanita yang lemah lembut, berhentilah sinis dan berteriak pada orang lain dan jangan buat kekacauan apa pun terlebih jangan menyeret istriku ke dalam masalahmu,” tegas Zean.


Cassandra memutar bola mata malas. “Aku akan menjaganya dengan caraku, bukan dengan ocehan panjangmu yang tidak berguna ini,” sahutnya lalu beranjak dan naik ke lantai atas.


Irene melirik Zean sejenak lalu tertawa kecil.


“Jangan pikirkan dia. Dia agak sensitif hari ini,” ucap Irene yang memahami sikap kasar Cassandra. Setelah lebih jauh mengenal Cassandra, Irene perlahan mulai memahami watak keras pada diri Cassandra yang sesungguhnya hanya cangkang yang menipu.


“Aku bahkan sudah mengenalnya bertahun-tahun, Irene. Dia tidak hanya senstif hari ini, dia bahkan sensitif sejak pertama kali aku mengenalnya,” ungkap Zean.


Irene hanya tertawa mendengar itu, kemudian ia mengantar Zean ke luar. Zean harus segera ke bandara untuk mengejar penerbangannya yang tinggal sekitar satu jam lagi.


“Hati-hati, Zean,” ucap Irene saat mereka tiba di depan mobil Zean yang sudah ada supir pribadi menanti siap untuk menghantarnya.


Zean mendekatkan wajahnya dengan Irene hingga menghapus jarak di antara kedua, Zean mencium lembut bibir wanita itu. Irene membalas ciuman Zean lalu mengalungan tangannya di leher pria itu. Mereka bercumbu untuk beberapa saat.


Tiba-tiba Irene teringat jam keberangkatan Zean, ia tidak ingin pria itu ketinggalan pesawat nantinya. Irene mendorong dada Zean dan kembali membuat jarak di antara mereka.


“Ada apa?” tanya Zean yang kurang puas dengan waktu berdua mereka.


“Kau harus segera pergi, Zean. Jangan sampai kau terlambat,” ucap Irene khawatir.


Zean menyunggingkan seulas senyum lalu menyentuh wajah cantik Irene.


“Aku selalu saja merasa kekurangan waktu saat sedang bersamamu,” ucap Zean seperti enggan pergi.


“Selesaikan urusanmu dan cepatlah kembali, sayang,” ucap Irene lalu mengecup pipi Zean.


Zean memerah, ia tersipu mendadak mendapat ciuman di pipinya. Zean mendekatkan wajahnya dengan Irene. “Aku mencintaimu, Mrs.Lorwerth,” bisik Zean.


“Aku juga mencintaimu, Mr.Lorwerth.”


...***...


Irene terbangun dengan sinar mentari yang leluasa masuk dari celah gordennya. Ia membuka mata perlahan melihat di sisi ranjangnya kosong, biasanya ada Zean yang masih tetidur lelap dengan wajah tampannya dan rambut berantakannya yang seperti singa.


“Belum ada dua puluh empat jam berlalu, tapi aku sudah sangat merindukanmu, Zean,” Irene bermonolog dengan seluruh rasa rindu yang ia miliki saat ini.


Irene melirik jam di atas nakas yang menunjukan pukul enam pagi, ia beranjak bangun hendak pergi jogging di sekitaran Mansion. Beberapa menit kemudian Irene sudah siap dengan tanktop sport dan legging sport hitamnya serta sepatu sport warna putih yang memang dari awal sudah tersedia di wall in closet di kamar besar ini.


“Cassandra, ayo kita jogging!” seru Irene mengetuk pintu kamar Cassandra.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka menampakan Cassandra yang ternyata sudah siap karena kemarin mereka sudah janjian untuk jogging pagi di sekitaran Mansion.


“Ayo, Irene.”


Irene dan Cassandra berlari di sepanjang jalan dengan pepohonan rindang yang melingkari Mansion megah ini, mereka berlari sambil mendengarkan musik dari earpodsnya. Jogging di pagi hari ini dapat memberi banyak manfaat di antarnya, meningkatkan energi, membakar lebih banyak lemak, mencegah stres hingga baik untuk kesehatan jantung dan lain-lain.


Beberapa menit berlari akhirnya mereka berhenti juga, mereka mengatur napas sejenak setelah sekian lama berlari ternyata cukup menguras banyak tenaga.


“Huh... lelah sekali,” keluh Cassandra.


“Benar-benar melelahkan,” tambah Irene.


Udara pagi di sekitaran Mansion ini benar-benar masih murni dan begitu asri, udara segar yang sangat baik untuk pernapasan. Setelah cukup beristirahat, mereka memutuskan untuk kembali ke Mansion karena hari ini Cassandra harus ke sebuah acara peresmian hotel milik temannya. Cassandra juga mengajak Irene untuk ikut dengannya ketimbang harus berdiam diri sendiri di Mansion.


“Bersiaplah, Irene. Waktu kita hanya satu jam untuk tampil cantik ke acara itu,” pesan Cassandra.


Irene mengangguk patuh. “Oke, siap Bu Boss!”


Mereka pun bersiap diri masing-masing dan tak lama kemudian mereka sudah cantik dengan balutan gaun indah dan heels kaca yang melekat sempurna di kaki putihnya.



Mereka langsung menuju sebuah hotel yang alamatnya sudah di kirimkan oleh teman Cassandra itu. Dan, tak lama kemudian mereka tiba di sebuah hotel mewah bernama Cosmopolitan Hotel dengan desain bangunan bergaya baroque yang jadi ciri khas Praha. Mereka langsung di smabut oleh pelayan menuju ke Ballroom tempat di mana pesta itu dirayakan.


“Sebelah sini, Nona-nona. Ikuti saya,” sambut pelayan yang menghantar mereka menuju Ballroom.


Irene dan Cassandra menatap takjub ke sekeliling melihat interior indah yang super mewah ini. Dengan desain interior bergaya maksimalis yang mampu memberikan kesan ceria dan ramai. Selain itu, Hotel adalah sejenis sanctuary, soal interior terutama tingkat kenyamanan harus menjadi perhatian utama. Lalu, fasilitas, hal-hal apa saja yang dapat tersedia dan mendukung kenyamanan para tamu hotel.


“Dilihat dari desain bangunan dan selera interiornya sepertinya temanmu seseorang yang sangat berkelas ya,” ungkap Irene saat mereka masih berjalan menuju Ballroom.


“Kau benar sekali, Irene. Dia adalah pembisnis tampan dengan ide dan modal bisnis yang gila-gilaan sampai terkadang dia harus memalsukan identitas atau meminjam identitas orang lain untuk membangun bisnisnya, eh,” Cassandra spontan menutup mulutnya, sepertinya dia baru saja membeberkan rahasia temannya tanpa sengaja.


Irene terkekeh dengan tingkah Cassandra itu. “Sudahlah, tidak apa. Aku akan menjaga rahasia ini untukmu.”


“Hehehe… terima kasih, Irene.”


Sebentar lagi mereka akan tiba di depan pintu besar yang merupakan pintu ruangan Ballroom tempat pesta itu. Dari kejauhan Irene memicingkan matanya, di depan pintu itu ada dua orang pria dengan pakaian jas rapi yang berjaga, Irene merasa familiar dengan kedua wajah pria itu. Irene berpikir keras, mencoba mengingat-ingat di mana kira-kira ia pernah bertemu dengan dua orang pria itu.


Tiba-tiba langkah Irene berhenti saat ia berhasil mengingat wajah dua orang pria yang berjaga di depan pintu. Tubuh Irene mendadak gemetar, deru napasnya tak menentu, ia ketakutan. Seketika ingatan masa lalu yang kelam dan juga mengerikan itu kembali memenuhi seluruh ruang di otaknya. Seolah membuka jahitan luka lama yang kini dikoyak habis hanya dengan melihat dua orang pria itu, Irene merasa seperti akan di buru lagi.