Stranger's In Love

Stranger's In Love
68|PRAGUE CASTLE



Irene menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size seraya retentangkan tubuh melepas lelah setelah tiga jam berkutat dengan laptopnya, mengerjakan setumpuk dokumen dan membuat laporan langsung.


“Irene,” panggil seseorang.


Irene melihat ke asal suara, di ambang pintu sudah berdiri Cassandra dengan pakaian casualnya. Irene beranjak dari tidurnya, beralih duduk di bibir ranjang.


“Ada apa, Cassandra?” tanya Irene pada Cassandra yang melangkah mendekat.


“Ayo, kita jalan-jalan. Allan sudah menunggu di bawah,” ucap Cassandra dengan mata berbinar berharap Irene mau ikut dengannya.


Tadi Allan tiba-tiba mengirimi Cassadra pesan, pria itu hendak mengajaknya berkeliling Praha selagi mereka ada di sana. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, seingatnya terakhir kali mereka bertemu di Turki, satu tahun yang lalu. Waktu itu Allan menjalin kerja sama dengan pembisnis asal Turki dan menetap di sana sekitar dua tahun dan baru kembali baru-baru ini. Sedangkan Cassandra tahun lalu berlibur ke Turki mengunjungi sepupunya selama tiga bulan.


“Aku akan bersiap dan mengabari Zean dulu. Tunggulah di bawah, aku akan segera turun,” Irene memutuskan untuk ikut jalan-jalan bersama Cassandra dan Allan.


Irene sudah beres dengan pekerjaannya, jika waktunya di Praha hanya ia gunakan untuk bekerja dan tidur akan sangat disayangkan. Kebetulan juga di sini ada Cassandra dan Allan, jadi Irene pikir Zean tidak akan khawatir dan membiarkannya pergi bersama teman-temannya itu.


“Cepatlah, Irene. Aku akan menyiapkan list tujuan kita hari ini, ah senangnya pergi jalan-jalan,” ucap Cassandra lalu berlalu pergi.


Irene langsung bersiap, beberapa menit kemudian ia sudah cantik dengan pakaian casualnya. Setelah itu ia mencari ponselnya untuk mengabari Zean.


“Sayang,” ucap Irene saat sambungan itu terhubung.


Terdengar suara tawa Zean di seberang telepon.


“Ada apa? Tidak biasanya seperti ini,” Zean curiga karena dari nada suara Irene seperti dibuat-buat.


Irene tersenyum, sepertinya Zean saat peka.


“Aku akan pergi jalan-jalan dengan Cassandra dan Allan, boleh yaa?” pinta Irene.


Hening, tidak ada jawaban dari Zean. Irene menghela napas, jangan bilang Zean tidak mengijinkannya padahal ia sudah siap seperti ini.


“Zean, kumohon katakan ‘iya, boleh’ ayolah...” Irene memelas.


Zean tertawa lagi, kali ini tawanya lebih keras. Irene sampai menjauhkan ponsel dari telingannya. Lalu perlahan menempelkannya lagi, menunggu Zean bicara. Namun, Zean masih belum bicara, hanya suara tawa yang terdengar.


“Berhentilah tertawa, Zean,” Irene frustrasi.


“Iya, boleh, sayangku,” ucap Zean akhirnya.


Irene bersorak senang.


“Tapi dengan satu syarat!” ucap Zean lagi.


“Apa?” tanya Irene.


“Ingat selalu kabari aku, di mana pun dan apa pun yang kau lakukan. Mengerti?”


“Siap! Mengerti, Captain!” sahutnya lalu sambungan itu terputus.


Irene langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bergegas turun. Di bawah sudah ada Allan dan Cassandra yang menunggunya.


“Sudah siap?” tanya Allan saat Irene sampai di hadapannya.


Irene mengangguk sebagai jawaban.


“Let’s go!” seru Cassandra langsung menarik tangan Irene dan Allan tanpa persetujuan dari mereka.


Allan melajukan mobilnya mengikuti arah maps yang sudah disetel menuju ke Kastil Praha merupakan destinasi utama di Ibu Kota Republik Ceko ini. Kastil Praha terletak di terletak di atas sebuah bukit di sepanjang tepi kiri Sungai Vltava.


“Oke, kita sampai, Nona-nona,” ucap Allan memarkirkan mobilnya.


Cassandra melihat ke sekeliling, Kastil Praha masih terlihat jauh di atas sana.


“Sampai di mana, bodoh? Kita masih jauh di kaki bukit!” ucap Cassandra seraya menunjuk navigasi di maps yang belum menyatakan mereka sampai di tempat tujuan.


Allan melepas sabuk pengamannya, lalu menatap Cassandra tajam.


“Kalau kita mengikuti maps yang merekomendasikan pemberhentian di Stasiun Metro Malostranska yang terletak tepat di bawah Kastil Praha, dari sana kita harus melewati jalanan panjang lalu menaiki tangga kastil tua yang langsung menuju ke gerbang kastil. Itu akan sangat melelahkan, aku tidak mau,” jelas Allan.


Cassandra memutar bola mata malas.


“Payah sekali kau! Tidak kuat berjalan jauh ya?” sindir Cassandra.


Allan membulatkan mata penuh, kesal dengan wanita itu. “Pp-pa-yah, katamu?”


Irene menghela napas sejenak lalu menengahi kedua orang yang duduk di kursi depan itu.


“Ayolah, jangan bertengkar seperti ini,” keluh Irene.


“Jadi bagaimana jalan tengahnya? Apa ada cara lain menuju kastil tanpa harus berjalan jauh?” tanya Irene kemudian.


Hening. Tidak ada jawaban. Cassandra dan Allan sama-sama diam, mereka masih menyimpan emosi satu sama lainnya. Astaga, kenak-kanakan sekali.


“Sudahlah. Kalau begini lebih baik kita pulang saja,” putus Irene.


Irene menyerigai. “Kalau begitu ayo turun!”


Akhirnya mereka pun turun. Kata Allan ada cara lain menuju kastil tanpa harus berjalan jauh yaitu dengan menggunakan trem. Trem merupakan kereta yang memiliki rel khusus di dalam kota, berbeda dengan kereta api pada umumnya. Lintasan trem menggunakan rel tidak sama dengan kereta api. Kereta api memiliki jalur sendiri dengan rel yang berada di atas tanah. Sedangkan trem relnya ditanam di dalam tanah, sehingga dapat bersebelahan dengan mobil maupun bus.


“Kita akan naik trem jalur 22 lalu turun di pemberhentian Prazsky Hrad, kemudian kita harus berjalan sekitar lima menit untuk sampai di Courtyard Ke-2, Kastil Praha,” jelas Allan saat mereka berjalan menuju halte trem.


Irene dan Cassandra hanya mengangguk dan mengikuti Allan yang sudah seperti pemandu wisata. Tak lama kemudian mereka pun tiba di Halte Trem, mereka langsung menaiki trem yang akan membawanya ke pemberhentian Prazsky Hrad.


Setelah sampai di Prazsky Hrad mereka langsung berjalan menuju Courtyard Ke-2, Kastil Praha yang merupakan sebuah halaman memanjang di mana kita bisa melihat gereja Chapel of Holy Cross, serta sumur tua dan sebuah air mancur bergaya Baroque Style di tengah-tengah Courtyard.



“Oh my god! It’s so beautiful place!” seru Irene takjub melihat keindahan Courtyard Ke-2, Kastil Praha ini.


“Aku tidak ingin pulang! Sungguh di sini indah sekali!” tambah Cassandra yang tak kalah takjub.


“Ayo, kita berjalan lebih dalam lagi,” ucap Allan yang sudah mendahului.


Mereka berjalan-jalan menyusuri satu persatu bangunan bersejarah itu. Mereka menjumpai banyak bangunan istana yang berderet memanjang dengan gaya arsitektur baroque style. Selain istana, ada total sekitar empat gereja yang berada di kompleks Kastil Praha ini. Tak hanya itu di Kastil Praha ini juga terdapat menara, taman, dan juga golden lane. Golden lane adalah jalan kecil berbatu yang cantik karena memiliki deretan rumah mungil warna-warni.


“Allan,” panggil Cassandra menghentikan langkah mereka.


“Tolong foto aku bersama Irene,” pinta Cassandra seraya memberi ponselnya pada Allan.


Cassandra dan Irene berdiri sejajar di depan sebuah bangunan gereja yang bernama St. Vitus Cathedral. Gereja dengan arsitektur gotik ini merupakan gereja terbesar dan yang terpenting di negara ini. Terletak di dalam Kastil Praha dan terdapat makan dari banyak penguasa Bohemia dan Kaisar Romawi Suci.



“Satu, dua, tiga,” seru Allan lalu memotret dua wanita cantik yang berpose di depan gereja itu.


“Coba kulihat hasilnya,” ucap Irene berjalan mendekati Allan lalu mengambil alih ponsel milik Cassandra.


Cassandra menyusul Irene, mereka melihat hasil fotonya bersama.


“Wah, kita terlihat cantik sekali,” puji Cassandra.


“Hei! Kalian tidak cantik, tapi akulah yang berbakat mengambil gambar hingga menghasilkan foto seindah ini,” bantah Allan menyombongkan dirinya.


Irene dan Cassandra mendelit menatap Allan tajam. Tidak terima dengan ucapan Allan tadi.


“Berbakat apanya?” ketus Cassandra.


Sepertinya mereka akan berdebat lagi, Irene langsung menengahi kedua orang itu.


“Sudah! Cukup! Ayo, kita jalan lagi,” ucap Irene yang sudah mendahului, kemudian di susul Cassandra dan Allan.


Mereka melanjutkan berkeliling kastil dan sesekali mengambil gambar diri bersama-sama. Hingga sekitar tiga jam berlalu akhirnya mereka menyudahi berkeliling dan mulai mencari tempat makan yang terkenal di daerah sini. Allan sepertinya sudah menyiapkan rencana liburan dengan sangat matang karena sudah ada satu nama restoran yang akan jadi tujuan mereka.


“Oke, kita sudah sampai, Nona-nona,” ucap Allan saat mereka tiba di The Castle Pub and Restaurant yang terletak tidak jauh dari objek wisata Kastil Praha.


Mereka langsung duduk di sebuah meja di dekat jendela di luar pintu masuk. Mereka memesan 3 porsi rib eye wagyu steak dengan mushroom sauce, 2 porsi castle caesar salad yang merupakan salad khas di restoran ini, 3 porsi lemon honey cake dan satu formagio pizza, untuk minumannya mereka memesan gin dan tonik yang merupakan salah satu jenis koktail highball yang dibuat dari campuran gin dan air tonik ditambah es batu dan biasanya diberi seiris jeruk limau atau lemon untuk tambahan hiasan pada minuman ini.


“Ini benar-benar terlihat lezat,” ucap Allan saat semua hidangan mereka datang.


“Kau memang cocok jadi pemandu wisata, Allan. Semua rekomendasimu benar-benar luar biasa,” puji Irene tulus.


“Baiklah. Kuakui kali ini, semua rekomendasimu cukup baik,” ucap Cassandra sesaat setelah memasukan potongan steak ke mulutnya.


Allan melempar tatapan tajam pada Cassandra. “Bisakah kau mengatakannya dengan tulus hati, Cassandra Lee Damora?”


Cassandra melirik Allan sejenak lalu ia tersenyum dengan sangat terpaksa. “Terima kasih atas panduan wisata Anda, Mr. Allan Arizo.”


Irene terkekeh melihat tingkah Allan dan Cassandra, rasa senang sekali dirinya bisa mengenal dua orang ini. Dan semua ini berkat Zean yang beruntung bisa memiliki teman seperti Allan dan Cassandra. Oh ya, Irene teringat akan suaminya itu, ia langsung mengambil ponselnya.


“Ayo, kita berfoto untuk pamer pada Zean,” ucap Irene lalu mereka bertiga foto bersama hidangan di meja mereka dan langsung mengirimkan foto itu pada Zean.


“Lain kali kita harus pergi bersama Zean juga,” ucap Allan tiba-tiba.


Cassandra menggeleng tidak setuju.


“Tidak! Jangan! Aku tidak akan kuat melihat Zean dan Irene bersama,” ucap Cassandra cemberut.


Allan yang duduk di samping Cassandra itu pun langsung merangkul wanita itu.


“Tenang saja, kan ada aku bersammu, Ms.Damora,” goda Allan.


Cassandra spontan mendorong Allan agar menjauh darinya.


“Jangan coba-coba ya kau!” ancam Cassandra seraya menunjukkan kepalan tangan pada pria itu.


Irene hanya menggeleng heran seraya menikmati makanannya menonton pertunjungan kucing dan anjing ini.