
Hai my lovely reader's....
Happy new year💖
Semoga di tahun baru ini Author jadi lebih semangat update ceirta yaa
Jangan lupa untuk selalu dukung Author melalui vote, like dan komen, terima kasih
.
.
.
Tiba-tiba langkah Irene berhenti saat ia berhasil mengingat wajah dua orang pria yang berjaga di depan pintu. Tubuh Irene mendadak gemetar, deru napasnya tak menentu, ia ketakutan. Seketika ingatan masa lalu yang kelam dan juga mengerikan itu kembali memenuhi seluruh ruang di otaknya. Seolah membuka jahitan luka lama yang kini dikoyak habis hanya dengan melihat dua orang pria itu, Irene merasa seperti akan diburu lagi.
Seorang gadis berjalan perlahan menuju gang sempit mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mata gadis itu menerawang jauh menyapu seisi jalan di gang sempit itu. Ia gemetar hebat, matanya membulat dan tangannya menutup mulut tak percaya, syok melihat dua orang pria tergeletak tak berdaya berlumuran darah, sedangkan empat pria lainnya berdiri dengan pistol yang mereka genggam masing-masing.
Salah satu dari keempat pria itu menyadari kehadiran gadis yang berdiri mematung di depan gang, gadis itu berdiri gemetar menatap ke arahnya.
"Hey! Ada seseorang di sana" ucap pria yang menyadari kehadiran gadis itu sambil menunjuk pistol ke arah gadis itu.
'Oh tidak! Mereka melihatku!!' batin gadis itu menjerit.
Gadis itu semakin gemetar, matanya mulai berkaca-kaca ia benar-benar ketakutan setengah mati. Pikirannya kosong namun kakinya mulai melangkah berlari menjauh dari gang sempit itu.
Irene ingat sekarang, dua pria yang berjaga di depan pintu Ballroom itu. Itu adalah pria botak dan pria dengan bekas luka di dagu dan ada dua pria lainnya. Di malam yang mengerikan itu keempat pria itu berlari memburu Irene yang merupakan seorang gadis kecil yang tidak sengaja menyaksikan pertumpahan darah di gang sempit itu.
“Irene!” panggil Cassandra khawatir saat menyadari perubahan ekspresi di wajah wanita itu.
“Irene, kau baik-baik saja?” tanya Cassandra semakin khawatir sepertinya Irene tidak fokus, ia terlihat seperti orang yang ketakutan.
“Irene!” panggil Cassandra lagi.
Irene menghembuskan napas panjang, ia melemas lalu memejamkan mata sejenak.
Pelayan yang menghantar mereka pun jadi ikut khawatir. “Apa Anda baik-baik saja, Nona?”
Irene mengangguk lemah. “Sudah, sudah, tidak apa.”
“Sepertinya kau tidak enak badan. Sebaiknya kita pulang saja,” ucap Cassandra tiba-tiba dan mulai memapah Irene untuk pergi. Namun, Irene menahannya.
“Tidak, jangan pulang. Ayo, kita masuk dulu dan temui temanmu untuk mengucapkan selamat atas grand opening hotel ini,” ucap Irene.
Bagaimana pun juga Irene harus masuk ke sana, ia harus mencari tahu siapa yang menyelenggarakan pesta ini, siapa pemilik hotel ini dan siapa sebenarnya bos dari empat orang pria yang mengejarnya malam itu.
“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Cassandra ragu.
“Aku baik-baik saja, Cassandra.”
Kemudian mereka pun memasuki ruangan Ballrom. Di dalam ruangan itu benar-benar seperti surga yang tersembunyi. Dekorasi dengan nuansa serba putih yang elegant dan super mewah mendominasi ruangan ini. Dengan makanan dan minuman berkelas serta pelayanan dengan standar internasional yang memanjakan para tamu undangan. Siapa pun akan betah berada di tengah-tengah pesta ini.
Irene mengedarkan pandangan menyapu seisi ruangan, ia melihat banyak sekali orang berjas hitam rapi yang menjaga ruangan ini. Irene merasa penjagaan di sini sangat ketat dan sepertinya orang-orang yang bertugas adalah orang yang telah dilatih khusus atau mungkin orang-orang yang terlatih dalam suatu organisasi khusus. Apa mungkin ada seseorang atau tamu yang sangat penting di sini?
“Di mana dia ya?” gumam Cassandra yang sibuk mencari-cari seseorang. Sepertinya dia mencari temannya itu untuk mengucapkan selamat.
“Wah, sepertinya temanmu itu orang penting, ya. Apa mungkin dia seorang politikus? Atau jangan-jangan anak presiden, haha…” canda Irene mencoba mencari tahu latar belakang teman Cassandra tanpa harus bertanya serius karena nantinya Cassandra mungkin akan curiga.
Cassandra terkekeh mendengar itu. “Bukan, bukan. Tapi, ku akui dia ini pria tampan yang mapan dan juga pembisnis handal. Sayang sekali dia sudah punya kekasih sejak lama dan baru baru ini menikah. Rasa ingin menikung sangat tinggi, tapi aku hanya remahan wafer. Hahaha…”
Irene ikut tertawa mendengar perkataan Cassandra. “Lucu sekali candaanmu.”
“Ah, itu dia!” ucap Cassandra seraya menunjuk seorang pria tampan yang berdiri di tengah kerumuman beberapa orang yang sepertinya sedang asik berbincang.
Irene mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang di tunjukkan Cassandra. Saat bersamaan juga pria yang di tunjuk Cassandra itu menatap ke arah mereka lalu pria itu tersenyum ramah dan perlahan berjalan mendekati Irene dan Cassandra.
“Aku merindukanmu,” ucap pria itu saat tiba di hadapan Irene dan Cassandra, ia pun langsung memeluk Irene.
“Geraldine, kau mengenal Irene?” tanyanya kaget.
Gerald yang masih memeluk Irene itu pun hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Irene membeku dalam pelukan Gerald. Irene sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam otaknya tentang Gerald. Kalau teman yang dibicarakan Cassandra tadi adalah Gerald, itu berarti dialah pemilik hotel ini dan bos dari empat pria yang hampir membunuh Irene di masa lalunya itu adalah Gerald juga yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
“Tidak mungkin Gerald,” lirih Irene dalam hati.
Gerald menguraikan pelukannya lalu menatap Irene dengan penuh kerinduan. “Bagaimana kabarmu?”
Irene menatap Gerald was-was sebelum menjawab pertanyaan pria itu, Irene jadi teringat dengan Alice. Apa Alice baik-baik saja setelah menikah dengan Gerald.
“Bagaimana kabar Alice?” Irene balik bertanya, ia khawatir dengan Alice.
Gerald tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Irene.
“Hei, kau seharusnya menjawab pertanyaanku atau balik menanyakan kabar kakakmu ini. Tapi kau malah balik bertanya kabar Alice. Sebenarnya aku atau Alice sih kakak kandungmu?” ungkap Gerald cemberut.
Irene merasa Gerald sangat tenang dan sama sekali tidak terlihat menakutkan seperti Gerald yang ada dalam pikiran Irene saat ini. Apa mungkin kecurigaan Irene salah? Lagi pula Irene tidak mempunyai bukti apa pun. Dan, bisa sajakan dua orang pria yang berjaga di depan pintu Ballrom itu dulunya bekerja dengan seseorang yang jahat kemudian pensiun dan beralih bekerja dengan Gerald. Itu bisa saja terjadi, Irene tidak boleh gegabah menyimpulkan suatu hal yang belum tentu benar hanya berdasarkan pemikiran dan kecurigaannya.
“Kenapa aku harus bertanya kabarmu sedangkan kau sudah ada di depan mataku, Gerald,” ucap Irene dengan senyum yang dibuat-buat. Ia harus bisa mencairkan suasana, ia tiak boleh terlihat tengang dengan rasa takutnya itu.
“Ah, kau memang adikku yang manis.”
Cassandra yang sedari tadi bingung menonton dua orang di depannya ini pun mulai angkat bicara.
“Tunggu, tunggu dulu. Adik, Alice, apa yang kalian bicarakan? Oh, ayolah, hanya aku yang tidak mengerti di sini,” keluh Cassandra cemberut.
Gerald menatap Cassandra sambil tersenyum.
“Irene ini adalah adik kandungku dan Alice itu adalah istriku. Ternyata kau tidak begitu mengenalku, kira-kira sejauh mana kau mengenalku, Ms.Damora?” Gerald masih tersenyum.
Sedangkan Cassandra tersipu malu melihat pria tampan di hapannya ini tersenyum manis padanya. Di sisi lain, Irene justru merasa ada yang aneh dengan senyuman dan kata-kata terakhir yang dilontarkan oleh Gerald. ‘Kira-kira sejauh mana kau mengenalku, Ms.Damora.’
“Ah, maaf, Mr.Ricardo. Aku bahkan belum oernah bertemu dengan istrimu, hehe..” sahut Cassandra.
“Tidak apa. Lain kali aku akan memperkenalkannya pada yang lain juga,” ucap Gerald.
Irene semakin merasa aneh, kenapa Gerald tidak mengenalkan Alice pada rekan bisnisnya yang di sini? Setahu Irene, Gerald selalu membawa Alice ke setiap acara peresmian atau pertemuan penting, tapi kenapa kali ini Alice tidak ikut?
“Memangnya kenapa Alice tidak ikut?” tanya Irene berusaha mencari tahu.
“Dia sedang hamil, Irene. Aku tidka bisa membiarkan istriku yang tengah hamil pergi ke sana ke mari,” sahut Gerald.
“Wah… kau benar-benar pria yang manis, Mr.Ricardo,” puji Cassandra.
Hamil? Benarkah Alice hamil? Aneh, Irene bahkan tidak mendengar kabar kehamilan dari Alice. Bahkan belakang ini mereka sudah tidak pernah saling menelepon, mereka hanya sering berkirim pesan saja.
“Selamat untukmu, Gerald. Itu berarti sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah,” Irene memberi selamat pada Gerald dengan mata berbinarnya.
“Dan, itu berarti sebentar lagi kau juga kana menjadi seorang tante. Hahaha….” Tawa Gerald.
Tidak ada yang aneh dari ekspresi dan cara bicara Gerald, tapi tetap saja Irene masih meragukan pria itu. Irene sangat yakin ada sesuatu yang mungkin disembunyikan Gerald darinya.
“Lain kali aku dan Zean akan mengunjungimu, Gerald,” ucap Irene.
Gerald langsung mengangguk mantap. “Aku sangat menantikan momen itu. Aku tunggu kedatangan kalian, Mr. and Mrs. Lorwerth.”
Kemudian mereka berbaur dengan semua orang yang ada di pesta itu, menikmati makanan dan minuman juga suasana pesta yang meriah. Hingga beberapa jam kemudian pesta pun berakhir.
“Hati-hati di jalan, Irene. Maaf tidak bisa mengantarmu dan Cassandra karena aku masih harus menyapa tamu undangan yang hendak pergi satu persatu,” ucap Gerald saat Irene dan Cassandra hendak berpamitan.
“Sampai bertemu lagi, Gerald,” Irene mengecup pipi kakaknya itu.
“Terima kasih atas undangannya, Mr.Ricardo,” pamit Cassandra.
Lalu Irene dan Cassandra keluar dari Ballroom dan langsung menuju mobil mereka yang terparkir rapi di parkiran khusus VVIP. Saat mereka semakin dekat dengan mobil tiba-tiba Irene melihat ada setitik cahaya berwarna merah di dada sebelah kiri Cassandra, cahaya itu terlihat seperti laser yang biasanya berasal dari senapan sniper. Irene menyadari ada seseorang telah menargetkan tembakan pada Cassandra. Irene langsung panik menatap sekeliling, di atas sebuah gedung tinggi terlihat ada seseorang dengan senapan sniper yang sepertinya sedang menargetkan Cassandra. Tanpa ragu Irene langsung menarik Cassandra dan mereka berdua ambruk bersamaan dengan cairan merah kental yang mengalir akibat tembakan dari senapan sniper itu.