
Irene menatap nanar langit temaram sore itu, sambil mengelus perutnya ia berdiri di balkon. Irene tersenyum kecut, ingatan pada otaknya begitu kejam. Hanya Zean yang memenuhi isi kepalanya saat ini, sedangkan hatinya masih terasa amat sakit mengingat Zean yang akan segera menikah dengan Rebecca, bahkan wanita itu juga tengah mengandung anak dari Zean.
“Siapa sebenarnya yang kau cintai, Arzean Lorwerth?” tanya Irene pada langit.
Irene kembali tersenyum lalu menunduk menatap perutnya.
“Bodoh! Aku harus kuat untuk bisa menjadi ibu yang baik untuk anak ini nantinya” ucapnya lirih.
Tiba-tiba seseorang berdiri di sebelah Irene lalu menatap langit, itu Kim.
“Apa yang akan kau lakukan, Irene?” tanya Kim tiba-tiba.
Irene menoleh menatap Kim sekilas lalu kembali menatap langit. “Tidak ada” jawabnya.
Kim mengela napas perlahan, ia sangat khawatir dengan kondisi Irene saat ini. Bagaimana bisa Irene yang tengah mengandung anak yang entah anak siapa Kim tidak tahu, tapi Irene masih bisa bersikap santai seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.
Kim mengelus pucuk kepala Irene, lalu menatap mata indah milik gadis itu dengan tatapan serius.
“Tidak bisakah kau memberitahuku, Irene?” tanya Kim.
“Irene” panggil Kim membuyarkan pikiran Irene.
Irene menoleh dan detik kemudian air mata menetes membasahi kedua pipinya, ia sudah mencoba untuk kuat dan tegar terhadap dirinya, namun hatinya tidak kuat menahan sakit dan kekecewaan ini. Irene sangat mencintai Zean, di saat bersamaan juga ia sangat membenci Zean dan menyesali pertemuannya dengan pria itu.
Kim semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Irene, kenapa Irene tidak mau menceritakan apapun padanya?
Tangan Kim tergerak menyeka air mata Irene, sudah berkali-kali Kim meminta gadis itu untuk bercerita namun Irene masih enggan dan tangis inilah yang menjawab semua pertanyaan Kim.
“Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mengerti jika kau saat ini benar-benar rapuh” ucap Kim lalu memeluk Irene.
Irene tenggelam dalam pelukan Kim, tangisnya semakin pecah, ia kembali lemah hanya karena memikirkan Zean. Irene telah jatuh terlalu dalam pada Zean yang entah mencintainya juga atau tidak, Irene telah memberi sepenuh hatinya pada Zean yang entah menginginkan hatinya atau tidak, dan Irene telah kehilangan seluruh hidup dari dunianya yang dihancurkan Zean karena telah berhasil mematahkan hati gadis itu.
“Menangislah jika itu membuatmu lebih baik, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita lagi. Melalui air mata ini aku tahu, ada sesuatu yang sudah benar-benar mengacaukan duniamu” ucap Kim sambil mengelus kepala Irene.
Irene tak merespon apapun, yang ia lakukan hanya menangis dalam pelukkan Kim seolah ia sedang menyalurkan kesedihannya, seolah ia sedang menceritakan semuanya melalui air mata ini semoga Kim mengerti betapa hancurnya Irene saat ini. Terimakasih, Kim.