Stranger's In Love

Stranger's In Love
31|FELL IN LOVE, ALONE



Irene terpaku, menatap nanar surat dan kartu undangan di tangannya. Ia menghela napas lalu memejamkan mata sesaat dan bulir air jatuh membasahi pipinya, ia menangis. Irene mencoba berpikir dan mengumpulkan kesadarannya. Baru saja ia membaca surat keterangan dokter yang menyatakan Rebecca Hillton positif hamil dan ia juga mendapat surat undangan pernikahan Arzean Lorwerth dengan Rebecca Hillton. Saat ini juga dunia Irene berhenti berputar, pikirannya kacau, hatinya sakit tidak bisa menerima semua ini. Zean mengatakan bahwa dia mencintai Irene tapi kenapa, kenapa Zean sampai tega melakukan ini? Bagaimana bisa seorang Rebecca Hillton tengah mengandung anak Zean?


Tubuh Irene bergetar hebat, ia mencoba menahan tangisnya yang semakin pecah. Irene merobek kasar surat dan undangan itu, ia melemas tubuhnya meluruh ke lantai. Irene menyentuh dadanya yang terasa sesak dengan sesekali menyeka air matanya. Irene memejamkan mata berkali-kali mencoba untuk menyadarkan dirinya dari semua ilusi cinta yang Zean ciptakan. Rasanya Irene ingin menyerah, setiap ia mencoba untuk percaya dan tetap mencintai Zean semakin pria itu mematahkan kepercayaannya dan menyakiti hatinya. Cinta tidak semenyakitkan ini jika jatuh cinta pada orang yang tepat. Lagi dan lagi rasa benci itu muncul, entah kebencian atau cintakah yang akan memenangkan hati Irene terhadap Zean.


"You hurt me again, Arzean Lorwerth" ucapnya parau.


Irene menyeka air matanya yang terus menetes, ia tidak boleh seperti ini. Irene tidak boleh stres hanya karena memikirkan Zean, ia juga harus memikirkan anak dalam kandungannya ini. Irene menunduk menatap perut datarnya lalu menyentuh perutnya dengan lembut.


"Bisakah aku menjadi ibu yang baik untukmu?" tanya Irene sambil mengelus perutnya.


Irene mencoba berdiri, ia menatap cermin dan melihat pantulan dirinya yang sangat kacau. Irene merasa pusing, ia menyentuh kepalanya dan detik kemudian tubuhnya ambruk jatuh di lantai, ia tidak sadarkan diri.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Irene membuka matanya perlahan saat kesadaran mulai menghampirinya. Samar-samar ia melihat Kim dengan jas putihnya duduk di sebelahnya sambil memijit kepala, pria itu terlihat sedikit kacau.


"Kim" panggil Irene beranjak dari tidurnya dan membenahi posisinya menjadi duduk di samping Kim.


Kim menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti tatapan marah yang menyelipkan kekecewaan dan sebuah kesedihan.


"Siapa yang telah mengacaukan dirimu, Irene?" tanya Kim dengan mata berkaca-kaca, ia sedih.


Irene menelan ludah susah payah, ia mencoba mencerna kemana arah pembicaraan Kim.


"Apa maksudmu, Kim?" Irene seolah dibuat bingung oleh pertanyaan Kim tadi.


Kim mengepalkan tangannya lalu menghantam nakas hinggak Irene tersentak kaget.


"Kau hamil, Irene!" bentak Kim.


Irene memejamkan matanya, tanpa aba-aba air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Irene memang tidak akan bisa menyembunyikan kehamilan ini, cepat atau lambat semua akan tahu.


"Aku mencarimu untuk makan malam dan aku menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar, lalu aku memeriksamu layaknya seorang dokter pada umumnya dan betapa kagetnya aku-"


"Cukup, Kim" potong Irene.


Kim menutup wajahnya frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Irene? Hal apa lagi yang sedang dia sembunyikan?


"Katakan, Irene!" bentak Kim.


Irene hanya menunduk, ia enggan menatap mata Kim yang berkilat api emosi. Irene tahu saat ini Kim tengah kecewa dengan apa yang terjadi pada sepupunya itu.


"Tidak bisakah kau memberitahuku, Irene" Kim menatap Irene lalu menyeka air mata gadis itu.


"Irene" panggil Kim putus asa pada Irene yang terus menangis tanpa mengucapkan apapun.


Kim menarik lembut dagu Irene agar ia bisa menatapnya. Kim menatap lekat mata indah Irene yang kini sembab karena menangis.


"Can you tell me something, Irene Banner?" tanya Kim seperti berbisik.


"I can't" Irene memeluk Kim, tangisnya kembali pecah dalam pelukan Kim.


Kim membalas pelukan Irene, gadis itu memeluknya begitu erat seolah dia sedang menyalurkan kesedihannya pada Kim.


"Aku siap mendengarmu dan aku akan menunggu sampai kau mau bicara" Kim mengelus punggu gadis itu, berusaha menenangkannya.


Irene menguraikan pelukkannya lalu menatap Kim dan tersenyum tipis.


"Kim" panggilnya.


"Tolong jangan beritahu Alice dan Gerald soal ini, aku tidak mau kehilangan anak dalam kandunganku dan aku juga tidak bisa memperjuangkannya karena aku tidak akan menikah" pinta Irene.


Kim mengepalkan tangan kuat-kuat, emosi.kembali menghampirinya. Jujur ia kesal pada Irene yang enggan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi adanya.


"Kau sudah gila, Irene!" bentak Kim.


Irene hanya diam karena Kim sepertinya tidak akan memberinya kesempatan bicara.


"Menyembunyikan kehamilan tidak seperti menyembunyikan biji kedelai. Cepat atau lambat perutmu akan membesar dan semua orang pasti akan membicarakanmu dengan perut besar tanpa pernikahan" Kim mengatur napasnya yang tak terkontrol karena emosi.


"Jangan siksa dirimu, Irene. Jika dia memang pria yang baik, dia pasti akan bertanggungjawab. Kenapa cinta membuatmu sebodoh ini?" tanya Kim pada Irene yang masih diam menatap perutnya.


"Lihat aku, Irene!" perintah Kim.


Irene beralih menatap Kim.


"Siapa yang membuatmu jadi sekacau ini, Irene?" tanya Kim menatap Irene dengan tatapa serius.


Irene tersenyum lalu mengelus tangan Kim mencoba menenangkan sepupunya itu.


"Percayalah. Aku baik-baik saja karena aku mencintainya" ucap Irene.


"Cinta tidak semenyakitkan ini, Irene. Kau hanya jatuh cinta sendirian, sadarlah!" ucap Kim.


Benarkah itu? Benarkah apa yang dikatakan Kim? Cinta tidak semenyakitkan ini, Irene hanya jatuh cinta sendirian. Deg! Kim berhasil membuat jatung Irene nyaris berhenti berdetak mendengar ucapan Kim rasanya dia benar. Apa selama ini Irene jatuh cinta sendirian? Apa yang telah Zean lakukan padanya hingga Irene semenyedihkan ini?