Stranger's In Love

Stranger's In Love
63|CHILDHOOD FRIEND



Hai reader's happy reading yaaa


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen agar Author tambah semangat dan rajin update cerita ini yaaaaa


Visual :


Allan Arizo



Cassandra Lee Damora



.


.


.


Irene merasakan sesuatu yang hangan mendarat di keningnya, perlahan ia membuka mata. Ternyata Zean sedang mengecup keningnya.


“Sedang apa kau?” Irene mendorong dada bidang Zean.


Zean menjauh lalu menatap Irene sebal. “Mencium istriku,” sahutnya ketus.


Irene terkekeh, lalu bangun dari tidurnya.


“Mau ke mana, Irene?” Zean menahan tangan Irene.


“Sadarlah, Zean. Ini sudah pukul tujuh pagi, kita harus menghadiri rapat pukul sembilan,” ucap Irene seraya mengarahkan dagunya pada jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul tujuh.


Zean sudah mulai menyerahkan semua jadwal kerjanya selama dua minguu di Praha pada Irene. Hari ini ada jadwal rapat dengan klien baru dan juga ada kerja sama dengan rekan kerja baru yang nantinya akan sangat memberi dampak pada kenaikan saham apabila mereka berhasil menjalin kerja sama.


“Bangunlah, Zean,” Irene menarik Zean dengan susah payah.


Zean cemberut, ia masih malas sekali untuk kembali beraktivitas.


“Kalau begitu ayo mandi bersama,” Zean langsung menarik Irene menuju kamar mandi tanpa persetujuan darinya.


...***...


Irene sudah siap dengan tanktop putih yang dibalut blazer berwarna cokelat dan long pants senada serta highheels yang melingkar indah di kakinya. Begitu pun Zean yang sudah tampan dengan setelan jasnya dan masih bingung memilih warna dasi yang pas untuk setelannya.


“Ini lebih cocok,” ucap Irene memilihkah dasi untuk Zean lalu memasangkannya pada kerah baju pria itu.


Tangan Zean tergerak melingkari pinggang wanita itu sambil menatapnya.


“Senangnya punya istri seperti ini, aku jadi tidak bingung lagi dalam memilih dan memasang dasi,” goda Zean sukses membuat pipi Irene memerah.


“Selesai,” seru Irene setelah selesai memasangkan dasi.


Irene hendak menjauh, tapi Zean masih melingkarkan tangannya di pinggang Irene dan semakin menarik wanita itu dalam dekapannya. Zean lalu mencium bibir wanita itu kemudian turun dan semakin turun hingga Irene menggeliat geli.


“Hentikan, Zean,” bisik Irene tidak tahan dengan perlakuan Zean.


Zean menghentikan aksinya itu, kemudian menatap wanita itu dengan tatapan hangatnya.


“Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Irene? Aku tidak pernah bisa berhenti menciumimu seperti tadi,” ucap Zean.


Irene mengelus wajah tampan Zean lalu mengecup singkat bibir pria itu.


“Ayo, kita harus bekerja. Lanjutkan permainan ini nanti saja,” bisik Irene lalu mendahului pergi.


Zean tersenyum miring mendnegar ucapan istrinya itu, sepertinya Irene sudah mulai berani menggodanya.


Setelah sarapan mereka langsung pergi ke pertemuan rapat unruk bertemu dengan klien dan rekan kerja barunya.


Mereka tiba disebuah kantor megah dengan gedung bergaya klasik yang terlihat sangat elegan. Mereka memasuki gedung itu dan disambut oleh semua orang di sana.


“Mr dan Mrs Lorwerth,” sapa seorang.


Irene dan Zean menoleh ke empunya suara. Di depan pintu kayu sebuah ruangan berdiri seorang pria yang kira-kira berusia empat puluh tahunan.


“Mr. Arizo,” sapa Zean dan Irene hanya tersenyum karena dia tidak mengenali siapa pria itu.


“Selamat atas pernikahan kalian, ya,” ucap Mr.Arizo seraya menjabat tangan Zean lalu beralih menjabat tangan Irene.


Sepertinya Zean sangat terkenal dan popular ya, sampai-sampai Mr.Arizo pun mengenali Irene padahal Irene sendiri tidak mengenali Mr.Arizo. Dan, Irene ingat betul, Mr.Arizo ini bahkan tidak menghadiri acara pernikahan mereka.


“Maaf aku sibuk sekali sampai-sampai tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian,” ucap Mr.Arizo.


Pantas saja Irene merasa asing dengan wajah Mr.Arizo ternyata memang benar dia tidak datang ke pernikah Zean dan Irene.


"Aku mengerti kesibukanmu, Mr.Arizo," sahut Zean.


Mr.Arizo beralih menatap Irene lalu tersenyum padanya.


"Oh ya, Mrs.Lorwerth perkenalkan aku Barlyn Arizo rekan bisnis ayahnya Zean," ucapnya memperkenalkan diri.


"Senang bertemu denganmu, Mr.Arizo. Aku Irene Banner," Irene juga meperkenalkan dirinya.


Setelah itu mereka masuk ke ruang rapat dan duduk di kursi masing-masing. Hingga berjalan sekitar dua puluh lima menit presentasi dari seorang pria muda yang katanya pria itu adalah Allan Arizo, putra dari Barlyn Arizo yang tadi sempat berkenalan dengan Irene.


Jujur, Irene sendiri sangat setuju dengan konsep program bisnis yang diajukan oleh Allan. Dia mengajukan sebuah program bisnis dengan jaminan meminimalisir tingkat kerugian apabila ternyata suatu dan lain hal nantinya.


Irene menatap sekeliling dan melihat orang-orang saling berbisik seraya mengangguk setuju. Fokus Irene beralih pada Zean yang duduk di sampingnya. Zean sepertinya juga setuju dengan konsep ini.


"Program ini cukup sehat untuk keuangan perusahaan, aku setuju denganmu, Allan," ucap Zean seraya menatap MacBooknya kemudian melirik Allan yang sudah tersenyum lebar, senang karena Zean mendukung programnya.


"Aku dengar ada seorang lagi yang akan bergabung pada program ini. Apa dia tidak datang?" tanya seorang pria dengan kacamata bulat yang duduk di samping Mr.Arizo.


Allan memicingkan mata menatap semua orang yang duduk di depannya. Sepertinya dia mencari-cari sosok yang dimaksud, tapi tidak ada.


"Sepertinya dia belum datang atau mungkin tidak akan datang," jawab Allan.


Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu dan pintu terbuka menampakkan seorang wanita cantik dengan setelan jas putih yang membalut mini dressnya dengan heels kaca berwarna hitam. Penampilan wanita itu benar-benar luar biasa, dia cantik sekali.


"Maaf, aku terlambat," ucapnya lalu berjalan mendekati Allan.


Allan bergeser, dia memberi ruang untuk wanita itu berdiri di sampingnya.


"Perkenalkan aku Cassandra Lee Damora ahli waris tunggal dari Damora Diamond," ucapnya memperkenalkan diri.


Semua orang tertegun melihat kecantikan dan aura keren dari Cassandra itu. Benar-benar wanita yang luar biasa. Setelah itu rapat pun kembali berlanjut sampai sekitar dua puluh menitan akhirnya rapat itu selesai. Setelah rapat ternyata ada acara makan siang bersama. Semua orang sudah berkumpul di sebuah balroom yang didekorasi khusus untuk acara makan siang bersama ini.


"Aku merasa sangat canggung berada di antara orang-orang penting seperti ini," bisik Irene pada Zean.


Zean merangkul istrinya itu.


"Hei, kau juga orang penting, Irene. Sejak aku jatuh cinta padamu, kau sudah menjadi orang penting bagiku," bisik Zean.


Irene mencubit lengan Zean. "Ayolah, Zean. Berhenti menggodaku," omel Irene.


Zean terkekeh.


"Hei, pengantin baru!" sapa Allan yang duduk di hadapan Zean dan Irene.


"Beraninya kau muncul di hadapanku sekarang, tapi tidak muncul di acara pernikahanku," sambar Zean.


Irene nampak berpikir, sepertinya Zean dan Allan cukup dekat.


"Maaf, waktu itu aku sedang di Turki," Allan terkekeh lalu pandangannya beralih menatap Irene.


"Mrs.Lorwerth selamat ya karena sudah berhasil memenangkan hati seorang Arzean Lorwerth ini," goda Allan pada Irene.


Irene tersenyum kaku, ia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Jangan menggoda istriku, Allan," ucap Zean.


Allan tertawa. "Bercanda, sayang."


Kemudian pembicaraan pun kembali seputaran bisnis, bisnis dan bisnis sampai jam makan siang berakhir yang secara tidak langsung menutup acara pertemuan bisnis ini.


Irene dan Zean langsung kembali ke Mansion.


“Sepertinya kau dan Allan sangat dekat,” ucap Irene saat mereka memasuki Mansion.


“Iya, dia teman kecilku, Irene.” Irene hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Irene dan Zean tercengang setelah masuk ke Mansion di ruang tengah ada seorang wanita yang sedang asik berbaring di sofa sambil menonton acara televisi. Wanita itu berbaring santai seraya memasukan keripik ke mulutnya dan sesekali tertawa karena tontonan acara televisi yang lucu.


Irene merasa tidak asing dengan wanita ini, sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Irene melirik Zean untuk mengkonfirmasi ekspresi di wajah suaminya itu. Zean sama sekali tidak terlihat terkejut seperti Irene, dia nampak biasa saja.


“Sedang apa kau di sini, Cassandra Lee Damora?” tanya Zean mengambil alih remote tv lalu mengklik tombol mematikan tv itu.


Irene ingat sekarang wanita itu bernama Cassandra, wanita cantik yang menghadiri rapat tadi. Pantas saja Irene tidak melihatnya saat acara makan siang karena sepertinya wanita itu sudah pergi lebih awal dan malah datang ke Mansion ini.


Cassandra beranjak malas dengan wajah kesalnya.


“Oh, ayolah, Zean! Jangan ganggu aku, bisa tidak?” rengeknya.


Zean memutar bola mata malas. “Kenapa kamu ke mari?”


“Aku tidak mau menginap di hotel atau apartemen sendiri. Aku dengar kau tinggal di Mansion bersama istrimu,” jawab Cassandra lalu tatapannya beralih menatap Irene dengan mata berbinar.


“Oh, hai! Kau pasti Irene kan, istrinya Zean. Wahh… kau cantik sekali, senang bertemu denganmu,” Cassandra langsung memeluk Irene.


Irene hanya mematung canggung, ia pikir Cassandra tipe wanita yang jutek dan sombong saat pertama kali melihatnya. Namun, ternyata penilaiannya salah terhadap Cassandra.


“Senang bertemu denganmu juga, Cassandra,” ucap Irene lalu mereka menguraikan pelukannya.


Zean menghela napas perlahan lalu menatap dingin Cassandra. Jujur, Zean berniat bisa menghabiskan waktu berdua bersama Irene di sini, tapi ada saja pengacau datang. Cassandra adalah teman kecil Zean. Dahulu sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, Zean, Allan dan Cassandra berteman baik kala itu sampai detik ini pun pertemanan mereka masih awet walau jarang bertemu.


“Baiklah, lakukan sesukamu di sini. Anggap saja Mansion ini seperti habitatmu,” ketus Zean berlalu pergi ke kamarnya.


Cassandra tertawa geli melihat reaksi Zean yang pasrah itu, sedangkan Irene merasa tidak enak dengan sikap kasar Zean.


“Maafkan dia, ya. Aku rasa dia sudah kasar padamu,” ucap Irene.


Cassandra merangkul Irene.


“Hei, jangan pedulikan dia. Dia memang terlihat seperti itu, tapi jauh di dalam hatinya dia senang melihatku. Aku yakin dia juga menerimaku tinggal di sini,” ucap Cassandra menenagkan hati Irene.