Stranger's In Love

Stranger's In Love
18|DAMN! I NEED U MR.STRANGER



Zean membawa Irene ke penthousenya, membaringkan gadis itu di ranjang king sizenya. Zean merasa kesal melihat gadisnya menjadi tontonan di club tadi. Tidak ada yang boleh menatap Irene seperti Zean menatap gadisnya ini. Zean menautkan alisnya melihat pergerakkan Irene yang berusaha membuka gaunnya, tangan Zean bergerak mencegah Irene membuka gaunnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Zean menatap Irene yang dalam keadaan setengah sadar itu.


Irene tersenyum dan terkekeh kecil, ia menarik Zean hingga jatuh menimpanya lalu gadis itu menatap Zean. “Bukankah ini yang kita inginkan? Hihihihi” ucap Irene, sepertinya ia benar-benar mabuk.


Jujur, saat ini Zean tengah berjuang mati-matian untuk menahan dirinya agar tidak tergoda oleh gadisnya ini. Zean tidak ingin melakukan hal dibawah kesadaran Irene, ia tidak ingin menyakiti gadisnya ini. Di sisi lain, Zean sangat menginginkan Irene menjadi miliknya, sepenuhnya, seutuhnya, dan selamanya karena ia benar-benar telah jatuh terlalu dalam pada gadis itu.


“Aku menginginkannya jika kita sama-sama sadar, Irene” bisik Zean.


Irene menunduk, detik kemudian ia terisak. Bulir air mengalir membasahi pipinya, pertahanannya runtuh. Zean menarik dagu Irene agar ia bisa menatapnya, pria itu terkejut melihat mata sembab Irene, gadisnya menangis.


“Hey” Zean menyeka air mata Irene.


“Kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Zean semakin khawatir melihat Irene seperti ini.


Irene tersenyum miris menatap Zean lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


“Sstt! Jangan bertanya hal bodoh seperti itu” Irene memberi jeda pada ucapannya.


Zean hanya diam, menunggu Irene melanjutkan ucapannya.


“Tentu aku tidak baik-baik saja” Irene menyeka air matanya, Zean masih diam.


“Kau mengatakan cinta, lalu kau pergi meninggalkanku. Kau berhasil membuatku jatuh cinta, tapi kau mematahkan hatiku” lanjut Irene, dengan susah payah ia akhirnya mengatakan apa yang ia rasakan.


Zean mengepalkan tangan kuat-kuat, ia benci menjadi alasan dari tanggis gadisnya ini. Zean mengutuk setiap air mata yang keluar dari mata Irene, karena dirinya. Zean tidak menyangka sebelumnya ternyata Irene juga mencintainya.


Irene memejamkan mata sesaat, menghela napas mencoba meredam sakit di hatinya. Ia mengumpulkan sedikit sisa dari kesadarannya lalu mengecup singkat bibir Zean.


“Aku juga mencintaimu, Arzean Lorwerth” ucapnya.


Zean tersenyum, bisa ia rasakan hingga hatinya ingin menjerit bahagia hanya karena mendengar Irene mengatakan bahwa dia mencintai Zean.


Zean mencium jejak air mata yang membasahi pipi Irene lalu beralih mengecup bibir pink gadis itu dan menciumnya lembut. Irene tak mengelak, ia membalas ciuman Zean, mereka memperdalam ciumannya. Zean benar-benar panas saat ini, tangannya mulai menjalar ke punggung Irene sedangkan gadis itu sudah melingkarkan tangannya di leher Zean. Saat akhirnya Irene melepas ciumannya, ia berbisik, “Damn! I need you Mr.Stranger!”


Zean tersenyum sekilas lalu kembali mencium Irene. Tidak peduli dengan semuanya, malam ini mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Dan, satu hal yang kita tahu, mereka saling mencintai.


🍂🍂🍂


Irene terbangun oleh sinar matahari yang menyilaukan. Perlahan ia membuka mata, kepalanya sakit sekali. Mungkin karena efek mabuk semalam. Kesadaran mulai menghampirinya, ia merasa begitu hangat, rasanya seperti ada seseorang yang memeluknya. Tunggu! Apa barusan? Seperti ada seseorang yang memeluknya?


Irene mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ya! Sekarang ia mengingatnya, kemarin ia menghubungi Hans lalu pergi di club, di club Irene benar-benar mabuk dan ia menari di atas dance floor dengan Hans yang mencoba mencegahnya tapi ia tidak peduli. Lalu beberapa jam kemudian Zean datang membawanya keluar dari club sialan itu. Dan ya, Zean membawa ke penthouse ini dan semalam mereka saling menyatakan perasaan satu sama lain dan–mereka tidur bersama.


“Damn! Shit me!” Irene mengumpat menyesali apa yang sudah terjadi.


Irene melirik Zean yang tertidur nyenyak bertelanjang dada, dengan selimut hanya mencapai pinggang. Tidak bisa Irene bayangkan seperti apa di balik selimut itu. Lalu Irene beralih menatap dirinya sendiri, ia tidak mengenakan apapun. Semalam mereka benar-benar hilang kendali, mereka melakukannya, seorang Irene Banner tidur dengan pria yang baru saja bertunangan kemarin. Rasanya dunia Irene hancur seketika mengingat kejadian semalam dan kini ia melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Zean. Ya, itu artinya Zean memang sudah benar-benar bertunangan dengan Rebecca Hillton kemarin.


Irene bergegas mencari gaun yang ia kenakan semalam, namun tiba-tiba Zean menariknya kembali jatuh ke pelukannya.


“Jangan pergi meninggalkan ku, setelah kau mengatakan bahwa kau mencintaiku” bisik Zean.


Deg! Jantung Irene berpacu cepat, jadi semalam ia benar-benar mengatakan itu? Oh Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang?


“Apa yang kita lakukan ini salah, Zean” Irene mencoba meluruskan semua ini.


Irene tidak mau menjadi penghancur hubungan antara Zean dan Rebecca, tidak peduli apapun hubungan mereka, Irene hanya tidak ingin menyakiti sesama wanita.


“Irene dengar–”


“Kau sudah bertunangan, Zean. Aku ingin kita melupakan apa yang terjadi semalam, dan ini adalah terakhir kali kita bertemu. Lupakan semuanya, anggap tidak pernah terjadi apapun. Atau anggap saja jika kita tidak pernah saling mengenal” potong Irene.


Sakit, pedih yang Irene rasakan saat melontarkan kalimat itu pada Zean. Karena apa yang ia ucapan bertolak seratus delapan puluh derajat dari apa yang hatinya rasakan.


“Aku tidak akan pergi setelah membuatmu jatuh cinta, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah kau menyatakan cinta padaku” ucap Zean lalu mencium gadisnya itu.


Irene berusaha mendorong Zean agar melepas ciumannya, namun Zean malah memperdalam ciumannya, Irene tidak bisa mengelak saat akhirnya ia membalas ciuman Zean. Cinta memang seperti ini, rumit dengan segala pahit manisnya. Mereka saling mencintai di waktu yang salah.


Zean melepas ciumannya lalu menatap Irene, tangannya tergerak mengelus pipis gadis itu. Namun Irene memilih untuk memejamkan matanya, ia enggan menatap Zean.


“Buka matamu, dan tataplah aku” titah Zean, namun gadis itu masih enggan membuka matanya. Detik kemudian Zean menciumnya dan bulir air kembali menetes membasahi pipinya, Irene menangis.


“Kenapa kau seperti ini, Zean” perlahan Irene membuka matanya.


Zean tersenyum lalu menyeka air mata gadis itu. “Semua orang bisa menentukan akan menikah dengan siapa, tapi kau tidak bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa” ucap Zean lalu mencium kening gadis itu.


“Tapi–”


“Pertunanganku dengan Rebecca tidak merubah apapun. Aku mencintamu dan aku akan memperjuangkanmu, Irene Banner” potong Zean memeluk gadisnya itu.


Irene tenggelam dalam pelukkan Zean, tapi pikirannya terus menalar jauh tentang apa yang mereka lakukan ini adalah salah. Bahkan Zean adalah kesalahan tanpa nama yang ia benarkan. Apa yang akan terjadi dengan mereka? Waktu dan cinta adalah perpaduan dinding labirin yang sangat menjebak, mempermainkan rasa pada sebuah lelucon.