Stranger's In Love

Stranger's In Love
24|THANKS DUDE



Zean benar-benar ingin menyerah, rasanya ia sudah kalah dengan rindu yang semakin kuat dan berhasil membuat dirinya semakin kacau. Zean sudah mendatangi Alice berkali-kali, tapi Alice enggan memberitahu keberadaan Irene.


Zean menuang vodkanya ke dalam gelas kecilnya, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Entah sudah berapa lama ia menghabiskan waktu berdiam diri di penthousenya ditemani beberapa botol vodka yang memabukkan ini. Zean sudah mabuk, benar-benar mabuk. Kepalanya pusing akibat efek dari alkohol ini.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampakkan seorang gadis berambut pirang dengan pakaian seksinya, ya itu Rebecca. Rebecca berjalan mendekati Zean yang duduk setengah sadar di sofa. Rebecca menepuk-nepuk pipi Zean mencoba mengecek kesadaran pria itu.


"Hei, Zean sayang" ucapnya masih menepuk-nepuk pipi Zean. Namun pria itu hanya diam menatapnya nanar.


Rebecca tersenyum melihat kondisi Zean saat ini, mungkinkah malam ini akan berakhir menyenangkan baginya dan Zean?


Perlahan tangan Rebecca membuka satu persatu kancing kemeja Zean, pria itu masih diam dengan kepalanya yang semakin pusing. Setelah membuka kancing kemeja Zean yang kini menampakkan dada bidang dan perut sixpacknya, tangan Rebecca menjalar liar di tubuh Zean. Zean langsung menarik tangan Rebecce hingga tubuh mereka saling berdekatan lalu Zean mencium wanita itu. Rebecca membalas lembut ciuman Zean lalu mengalungkan tangannya di leher pria itu. Entah apa yang ada di pikiran Zean, pria itu benar-benar mabuk. Apa yang akan terjadi malam ini.


Sesaat mereka berhenti mencoba mengatur napas masing-masing. Rebecca tersenyum melihat wajah tampan pria mabuk di hadapannya ini. Zean mengerjapkan mata perlahan mencoba mengumpulkan kesadarannya dari pengaruh alkohol. Sedangkan Rebecca mulai membuka pakaiannya, ia benar-benar panas akibat ciuman tadi.


"Damn! I need you, Arzean Lorwerth" ucap Rebecca lalu kembali mencium Zean namun tiba-tiba Zean memalingkan wajahnya dari wanita itu.


Sedikit kesadaran sudah menghampiri Zean, ia terkejut dan langsung mendorong Rebecca saat mendapati Rebecca yang bertelanjang dada di depannya yang menampakkan indah milik wanita itu.


"Apa yang sedang kau lakukan, Bitch!" ucap Zean beranjak lalu menyambar kemejanya dan berlalu pergi meninggalkn Rebecca yang meringis di lantai.


"F*ck you asshole, Arzean Lorwerth!" teriak Rebecca, ia mengepalkan tangan kuat-kuat menahan amarahnya pada Zean. Pria itu selalu menolaknya walau dalam kondisi mabukpun Zean masih bisa menolak seorang Rebecca Hilton yang cantik dan seksi ini.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Zean memijit kepalanya yang kali ini benar-benar pusing, saat ini ia berada di apartemen Hans. Zean menceritakan apa yang terjadi beberapa detik lalu ketika tiba-tiba Rebecca datang ke penthousenya lalu masuk ke kamarnya dan bertelanjang dada di hadapannya.


"Dia hampir memperkosaku, Hans" ucap Zean serius.


Hans terkekeh geli mendengar ucapan Zean, hampir memperkosa katanya.


"Bukankah Rebecca melakukan hal yang wajar, dia kan tunanganmu, dude"


"Aku tidak mencintainya" ucap Zean santai.


Hans melotot tak percaya sambil menatap Zean mencoba mencari lelucon di mata Zean, tapi tidak ada. Zean mengatakannya dengan jujur.


"Kalau kau tidak mencintainya lalu kenapa kau bertunangan dengan Rebecca?" tanya Hans.


"Ini semua demi ibu dan karena aku tidak tahu jika wanita yang aku cintai ternyata juga mencintaiku" jawab Zean.


"Are you kidding me, dude?" Hans memberi jeda ada ucapannya. Zean hanya diam menunggu Hans melanjutkan ucapannya.


"Tidak mungkin ada wanita yang kau cintai, kau tidak pernah menceritakan wanita bahkan aku tidak pernah melihatmu dengan seorang wanita" lanjutnya.


Zean menghela napas dengan malas ia menatap Hans."Aku mencintai Irene" ucapnya.


Hans mencoba mengingat sesuatu. Ya, benar, Irene juga pernah mengatakan jika Zean mencintainya begitu juga Irene yang mencintai Zean.


"Jadi benar, kalian saling mencintai" Hans mencoba meyakinkan keraguannya.


Zean mengangguk sebagai jawaban iya, lalu ia menceritakan kejadian malam itu ketika ia membawa Irene ke penthousenya dan saat itu Irene mengatakan bahwa dia mencintai Zean.


"Oh, shit!" Hans memejamkan mata sesaat.


"Kalian saling mencintai dan saling menyakitkan di saat yang bersamaan" ucap Hans lagi.


Zean bergeming, tatapannya kosong. Rasa rindu ini kembali datang tanpa permisi dan leluasa masuk memenuhi semua ruang yang ada dalam dirinya. Zean benci ketika rindu kembali datang lalu menyiksanya dengan ingatan-ingatannya bersama Irene.


"Aku benar-benar kehilangannya. Aku ingin menyerah ketika aku tidak bisa menemukannya. Aku merindukan Irene Banner" ucap Zean, ia benar-benar sadar dengan ucapannya itu.


Hans menatap Zean yang terlihat begitu putus asa dengan hidupnya saat ini. Irene benar-benar telah mempengaruhi Zean, gadis itu berhasil membuat Zean jatuh cinta begitu dalam hingga ia menjadi kacau seperti ini saat kehilangan gadis itu.


"Dia tidak meninggalkanmu, dia hanya menghindarimu. Aku yakin dia juga merindukanmu karena dia juga tulus mencintaimu, dude" ucap Hans. Ia ingat betul makan siang bersama Irene waktu itu, gadis itu mengatakan bahwa dia mencintai Zean.


Zean mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?" tanya Zean.


Hans menghela napas perlahan, ia tidak tahan melihat Zean yang begitu kacau.


"Temui dia, Zean" ucap Hans. Zean menoleh menatap bingung ke arah Hans, apa maksudnya?


"Temui dia di Korea. Dia ada di sana tepatnya di Seoul" lanjut Hans.


Tanpa Zean sadari, ia tersenyum. Hatinya merasa tenang dan senang mendengar itu, ternyata Hans mengetahui keberadaan Irene. Kenapa tidak dari awal saja ia bertemu Hans? Sial, kenapa ia tidak menyadari jika Hans teman dekat Irene pasti mengetahui keberadaan gadisnya itu.


"Persiapkan dirimu, lalu temui dia. Jangan menemuinya dengan wajah buruk rupamu saat ini" ledek Hans.


Zean terkekeh kecil, lalu menepuk pundah Hans. "Thank's, dude" ucapnya kemudian berlalu pergi.