
Seoul, Korea 04.25 pm.
Irene menarik dua koper besar yang ia bawa memasuki sebuah rumah di Seoul, Korea. Dengan Gerald yang berjalan santai tanpa membawa apapun mengikutinya memasuki rumah itu. Alice meminta Gerald untuk menemani Irene pergi ke Korea, karena Alice mendadak ada pertemuan bisnis di London.
"Anyong Hashimnikka, Mr.Geraldine dan Ms.Banner" sapa seorang perempuan. (ini adalah sapaan formal dalam bahasa korea)
Kemudian ada sekitar dua orang perempuan yang senyum dan sedikit menbungkuk memberi hormat kepada Irene dan Gerald. Lalu dua orang perempuan itu mengambil alih koper Irene dan membawanya ke lantai atas.
Irene tersenyum kaku lalu menatap Gerald yang terlihat seperti sudah biasa dengan sapaan seperti ini.
"Irene perkenalkan ini adalah Jung Hye Hyang, Kepala Pelayan di rumah ini" Gerald memperkenalkan wanita yang memberi sapaan tadi.
Jung Hye tersenyum ramah pada Irene, begitupun juga Irene membalas ramah.
"Saya yang akan menyiapkan semua keperluan Nona selama tinggal di Korea dan dibantu oleh dua pelayan lainnya" jelas Jung Hye.
"Nee, Gomawo, Jung Hye Hyang" ucap Irene. (bahasa informal korea yang artinya "iya, terimakasih")
Gerald menautkan alisnya menatap Irene. Jadi, Irene bisa berbahasa Korea? Gerald tidak menyangka gadis itu berbicara dalam bahasa Korea.
"Kau bisa bahasa Korea?" tanya Gerald.
Kini giliran Irene yang melempar tatapan bingung pada Gerald.
"Tentu saja, Korea adalah impianku. Sudah pasti aku mempelajari semua hal yang berbau Korea" Irene memberi jeda pada ucapannya.
"Pertanyaanmu begitu konyol, Gerald" lanjut Irene, ia terkekeh kecil.
Lalu pandangannya beralih menatap Jung Hye. "Ayo, antarkan aku ke kamarku" ucapnya.
Jung Hye mengangguk lalu menatap Gerald sekilas seolah kode berpamitan, lalu Gerald mengangguk. Kemudian Jung Hye berjalan menaiki tangga yang diikuti Irene di belakangnya.
Irene takjub melihat rumah yang mewah dan besar ini. Di lantai atas ada sekitar lima kamar, ada dua kamar yang di pintunya tergantung sebuah papan kecil yang bertuliskan hangul korea (hangul adalah angkasara atau huruf korea), irene berusaha membaca tulisan itu. Kamar utama dengan pintu yang bertuliskan "Eomma" (dalam bahasa Korea yang artinya ibu) dan kamar kedua dengan pintu yang bertuliskan nama "Kim". Irene semakin bingung, sebenarnya ini adalah rumah siapa? Dan siapa saja yang tinggal di rumah ini?
Jung Hye menyadari Irene berhenti menatap bingung pintu-pintu kamar di lantai atas ini.
"Ada apa, Nona?" tanya Jung Hye.
Irene menoleh. "Jung Hye, apa ada orang lain selain aku yang tinggal di rumah ini? Apa rumah ini penginapan atau apa?" tanya Irene.
Jung Hye tersenyum, terkekeh kecil ketika mendengar Irene yang mengira rumah ini adalah sebuah penginapan.
Irene cemberut, seperti ada yang salah dengan pertanyaannya. "Jung Hye, apa ada yang aneh dengan pertanyaanku?"
"Aniyo" Jung Hye memberi jeda pada ucapannya. (Bahasa Korea yang artinya "tidak")
Irene hanya diam menunggu Jung Hye melanjutkan ucapannya.
"Ini adalah rumah-"
"Rumahku" potong Gerald yang tiba-tiba muncul di tangga.
Gerald menatap Irene sekilas lalu beralih menatap Jung Hye.
"Jung Hye kau bisa kembali untuk menyiapkan makan malam" titah Gerald, Jung Hye mengangguk patuh lalu beranjak pergi.
"Jadi, rumah ini adalah milikmu?" tanya Irene memastikan.
"Iya"
"Lalu siapa saja yang tinggal di sini?" Irene bertanya lagi.
"Nanti kau akan tahu. Bersiaplah untuk makan malam. Kamarmu ada di ujung sana, semua koper dan barang bawaanmu sudah di kamarmu" jelas Gerald lalu beranjak pergi turun ke lantai bawah.
Irene baru saja beres mandi, ia berjalan menuju balkon. Irene mendongakkan kepala mentap indahnya temaram di langit Seoul ini. Ia tersenyum ketika semilir angin menerpa wajah cantiknya, sesaat ingatannya kembali pada Zean. Gadis itu memikirkan Zean, apa yang sedang Zean lakukan di Boston? Apa dia mencari Irene? Apa dia mengkhawatirkan Irene? Apa dia merindukan Irene?
“Damn! I miss you, Arzean Lorwerth” ucapnya tapa sadar, lalu ia menggelengkan kepala mencoba menyadarkan pikirannya.
Irene tersenyum miris memikirkan Zean, pria yang ia cintai adalah pria yang sudah bertunangan. Kenapa Irene menjadi segila ini karena menginginkan Zean. Tanpa ia sadari, perasaan ini terlalu kuat bahkan semakin kuat saat ia ingin menghilangkannya. Irene tidak bisa terus begini, ia harus bisa melupakan Zean terutama perasaan cinta yang salah ini.
Irene beranjak keluar kamar dan turun menuju ruang makan. Di ruang makan ia melihat Jung Hye dan dua pelayan yang membantunya menata meja makan dengan beraneka menu yang dominan seafood. Irene mendekat mencoba memastikan semua makanan yang dihidangkan. Ya, benar saja, semua makanannya adalah olahan seafood.
“Jung Hye” panggil Irene. Jung Hye menghentikan kesibukannya lalu mendekati Irene yang sibuk mengecek menu makanan.
“Ada apa, Nona”
Irene masih sibuk menatap semua makanan di atas meja. “Apa tidak ada menu lain selain seafood?”
“Tidak ada, Nona” jawab Jung Hye.
Irene cemberut. “Diamana Gerald?” tanya Irene, ia akan protes pada Gerald.
“Di ruang tamu, Nona”
“Anyeong” sapa pria itu pada Irene. (Anyeong adalah sapaan informal dalam bahasa Korea).
Gerald langsung menoleh mendapati Irene tersenyum dengan senyum kakunya.
“Anyeong” sahut Irene.
Irene benar-benar canggung dengan situasi ini, pria itu menyapanya dengan sangat ramah. Irene mulai melupakan tujuannya mencari Gerald yaitu untuk protes masalah menu makan malam. Tidak baik rasanya menunjukkan protes dihadapan orang yang belum ia kenal.
“Ada apa, Irene?” tanya Gerald.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan jika makan malam sudah siap” ucap Irene dengan alasannya, lalu ia beranjak pergi namun Gerald menarik tangannya.
Irene melempar tatapan bingung, kenapa Gerald tidak membiarkannya pergi?
“Irene perkenalkan ini adalah Dokter Kim Tae Young” Gerald memperkenalkan pria itu.
“Perkenalkan aku, Dokter Kim Tae Young. Kau bisa memanggilku Kim” ucap Kim memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya.
Irene menjabat tangan Kim sambil tersenyum ramah. “Anyeong, Kim. Aku Irene Banner” ucap Irene.
“Jadi, kau menyuruhku pulang cepat hanya untuk makan malam bersama?” tanya pria itu pada Gerald.
Gerald tersenyum lalu mengangguk, Irene menatapnya dengan bingung.
"Makan malam ini penting sebagai sambutan, karena mulai saat ini Irene akan tinggal di rumah ini bersama mu dan eomma" jawab Gerald.
Kim membulatkan mata penuh, ia terkejut. Sedangkan Irene nampak berpikir, kenapa Kim bisa tinggal di rumah ini yang katanya ini adalah rumah Gerald dan siapa itu eomma.
"Kenapa, Gerald?" tanya Kim.
"Irene adalah adiknya Alice. Alice tidak bisa membiarkan Irene hidup sendiri di Seoul ini, jadi aku dan Alice memutuskan untuk membiarkannya tinggal di sini" jelas Gerald.
"Sebelumnya aku ingin bertanya" Irene memberi jeda pada ucapannya.
Gerald dan Kim hanya diam menunggu Irene melanjutkan ucapannya.
"Apa hubunganmu dengan Kim dan siapa itu eomma?" lanjut Irene.
"Kim adalah sepupu jauhku, dan kamar dengan pintu yang bertuliskan eomma itu adalah kamar ibunya Kim. Tapi, Ibunya Kim sedang tugas di luar kota untuk beberapa bulan ke depan" jawab Gerald.
Irene mengangguk paham.
"Jadi, kapan kita akan makan? Aku sudah sangat lapar" ucap Kim.
"Ayo" Gerald mendahului langkah menuju ruang makan.
Mereka makan dengan tenang, Kim dan Gerald sangat menikmati hidangan seafood itu namun ada yang aneh dengan Irene. Irene sama sekali belum menyentuh makanannya.
Gerald yang menyadari itu langsung menaruh beberapa tempura udang dan steak tuna di piring gadis itu.
"Ayo makan" titah Gerald.
Irene menelan ludah susah payah, tangannya gemetar memotong steak tuna lalu memasukannya ke dalam mulut. Ia mencoba untuk menikmati makanannya. Namun, tiba-tiba dadanya terasa sesak, napasnya tak teratur. Irene menyentuk dadanya yang sesak, lalu membuka mulut untuk membantu pernapasannya. Gerald dan Kim panik melihat Irene yang tiba-tiba sesak napas seperti ini.
"Ada apa denganmu, Irene" tanya Gerald yang beranjak mendekat.
Kim pun beranjak. "Sepertinya dia alergi terhadap seafood" ucapnya lalu tanpa ragu Kim menggendong Irene ala bridalatyle membawanya ke kamar untuk ditindak lanjuti.
Kim membaringkan Irene yang masih berjuang mengatur napasnya. Kim mulai mengelurkan peralatan medisnya dan segera memberi penangan pada gadis itu.
Tiga puluh menit kemudian. Keadaan Irene membaik, ia sempat pingsan setelah mendapat suntikan dari Kim. Irene yang masih terbaring mencoba membenahi posisinya menjadi duduk. Ia melihat Gerald dan Kim yang duduk di sofa menunggunya sadar.
"Kau sudah sadar?" tanya Kim yang menyadari pergerakan Irene.
Gerald menoleh lalu beranjak dan langsung memeluk Irene, begitu erat. Kim yang melihat itu langsung kebingungan, siapa Irene? Kenapa Gerald begitu khawatir pada gadis itu.
"I'm sorry, Caroline" ucap Gerald.
Deg! Jantung Irene terasa berhenti berdetak saat itu juga karena mendengar Gerld memanggilnya dengan nama Caroline. Nama yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah ia dengan, nama yang benar-benar tidak ingin ia dengar kembali.
"Maafkan aku. Aku hampir membunuhmu, hanya dengan makanan seafood aku bisa membuktikan jika kau adalah adikku, Caroline Ricardo" ucap Gerald masih memeluk Irene.
Irene tak bisa mengelak, hatinya juga amat sangat merindukan seorang Geraldine Ricardo bahkan sejak pertama kali bertemu Gerald ketika makan malam bersama Alice, Irene benar-benar ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ia merindukan kakaknya itu. Ya, benar. Irene tidak hilang ingatan, ia hanya berpura-pura.
"Aku benci harus terus bersandiwara. Tapi, aku sangat merindukanmu, Geraldine" ucap Irene detik kemudian tangis kerinduannya pecah masih dalam pelukan Gerald.
Sejak pertama kali melihat Irene ketika makan malam bersama Alice. Gerald sangat yakin jika ia tidak mungkin salah mengira bahwa Irene adalah Caroline. Caroline adiknya yang hilang sejak malam itu, adiknya yang sangat ia rindukan.
Kim yang melihat drama itu dengan tatapan bingung, apa yang sedang terjadi antara Gerald dan Irene?