Stranger's In Love

Stranger's In Love
59|FORGET TO FORGET IT NOT



Hujan mulai turun, perlahan membasahi sisi kering jalanan beraspal malam ini. Irene terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Irene ingin segera bertemu Zean, pria itu harus menjelaskan semuanya. Kenapa Zean menyembunyi kebenaran ini dari Irene? Apa yang sebenarnya terjadi pada Irene? Entah mengapa Irene merasa seperti kehilangan beberapa dari ingatannya.


Irene terus melajukan mobilnya menerobos rintikan hujan yang perlahan semakin deras. Ada semacam perasaan aneh saat ia menyetir di tengah hujan seperti ini, ia merasa pernah berada dalam situasi seperti ini, dejavu rasanya.


Sebuah buggati merah yang dikendarai Hans melesat cepat menerobos hujan malam ini. Satu lintasan jalan terasa begitu panjang karena ada mobil Zean yang terus mengejar, kedua mobil itu saling mengejar dengan kecepatan penuh. Irene terus menatap spion, mendengar suara klakson mobil Zean yang tak henti-hentinya memberi kode untuk menepi.


"Hentikan mobilnya, Hans!!" pinta Irene, ia memukul-mukul lengan Hans.


"Diam !!" Hans mendorong Irene hingga kepalanya terbentur jendela mobil.


Irene tidak menyerah, ia berusaha mengabaikan sakitnya benturan di kepalanya itu dan kembali memukul Hans.


Hans benar-benar geram, Irene bisa saja mengacaukan konsentrasinya menyetir.


"Berhenti memukulku, Irene!" bentak Hans.


Irene berpikir, Hans terlalu kuat untuk menahan sakit dari pukulannyan. Detik kemudian, tanpa pikir panjang dengan sisa tenaga yang ia miliki Irene menarik setir hingga mobil Hans hilang hendali dan ......


Brak!


Bugatti merah itu akhirnya berhenti karena menabrak pembatas jalan di tepi jurang dan detik kemudian mobil itu perlahan merosot jatuh ke jurang.


Air mata tiba-tiba menetes, Irene menyetir sambil menangis. Irene membelokan setir untuk segera menepi, ia sudah tidak tahan lagi. Irene menangis sambil menelungkupkan kepala di atas setir.


Inilah sekelebat ingatan yang hilang itu, inilah yang Irene lupakan. Kecelakaan tragis buggati merah yang jatuh ke jurang itu adalah mobil yang dikendarai Hans dan Irene.


Anak yang dikandung Irene. Malam itu, di dalam mobil ia terus berdoa untuk anak dalam kandungannya. Irene sangat mengkhawatirkan keselamatan anak itu. Namun, setelah Irene melihat hasil tesnya tadi ia mulai paham dengan potongan-potongan ingatan yang kini merangkai sebuah fakta yang menyayat hatinya. Kecelakaan itu, pasti telah membuat Irene kehilangan semua yang ia miliki. Irene ingat betul, kecelakaan tragis yang sangat mengerikan itu.


Hans. Pria itu menculik Irene di hari pernikahannya, dia menyembunyikan Irene di apartemen lantai dua puluh tujuh di New Songdo City, Incheon. Kecelakaan malam itu, apa Hans selamat dari kecelakaan tragis itu? Dimana Hans saat ini?


Irene keluar dari mobil dengan sisa-sisa air matanya. Irene dapat merasakan rintikan hujan yang mengenai tubuhnya, ia menghirup udara sesak di masa-masa kelam itu. Irene berdiri lemas bersandar pada mobilnya. Bahkan kedua lututnya pun gemetar, ia nyaris berlutut tapi seseorang menangkap tubuhnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Zean?" Irene menatap seolah bertanya sedang apa dia di sini.


Zean yang mengerti dengan tatapan Irene pun langsung memeluknya.


"Maafkan, aku. Selama ini aku meminta seseorang untuk mengawasi mu, dan dia melapor jika kau sedikit aneh hari ini. Aku khawatir, sangat khawatir, jadi aku segera menyusulmu" jelas Zean.


"Aku sudah tahu... semuanya.... aku ingat sekarang. Kecelakaan itu, aku dan Hans mengalami kecelakaan di malam hari ketika hujan seperti ini. Mobil kami jatuh ke jurang dan.... aku lah penyebab dari kecelakaan itu" Irene terisak dalam pelukan Zean.


"Apa yang terjadi pada Hans? Apa dia baik-baik saja?" Irene khawatir pada temannya itu, walau Hans sudah melakukan hal yang sangat berbahaya padanya.


Tak ada respons dari Zean untuk beberapa saat. Apa ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya? Apa Irene akan baik-baik saja?


Irene menguraikan pelukannya, dengan gemetar tangannya menyetuh perut ratanya.


"Kita telah kehilangan dia, Zean. Aku tidak bisa melindunginya, aku gagal menjadi seorang ibu yang baik. Aku-"


"Ini bukan salahmu, Irene" Zean menyeka air mata Irene.


"Kenapa kau mecoba untuk menyembunyikan hal ini dariku, Zean?"


Zean diam, ia memberi Irene kesempatan untuk meluapkan isi hatinya.


"Bagaimana bisa kau hidup sendiri dengan ingatan yang begitu menyesakan ini? Seharusnya kau memberitahuku, Zean! Bahkan seharusnya kau menyalahkan ku untuk semua yang terjadi!" Irene berhenti sebentar untuk menghela napas yang terasa semakin berat.


"Bagaimana bisa kau masih tetap ingin menikah denganku? Aku sudah kehilangan semua yang aku miliki, Zean. Aku kehilangan anakku bahkan rahimku juga, aku sudah tidak sempurna lagi" Irene tidak kuat, tangisnya pecah.


Baru saja Zean hendak bicara, namun Irene mendahuluinya.


"Aku tidak ingin menikah, Zean. Kumohon, jangan menikah denganku. Aku tidak ingin kita menikah karena rasa bersalahmu atau karena kau mengasihaniku"


Zean menggeleng lalu meraih kedua tangan Irene dan menggenggamnya erat.


"Jangan bersikap seolah-olah hanya kau yang tersakiti, jangan berpikir semua ini adalah salahmu dan hanya kau yang harus bertanggung jawab untuk semua kekacauan ini. Aku juga mengalami hal sulit, aku hampir gila karena menyaksikan kecelakaan tragis malam itu. Wanita yang aku cintai harus terbaring lemas untuk waktu yang cukup panjang, bahkan dokter memberitahuku jika peluangannya sangat kecil. Aku semakin terpukul saat dokter mengatakan, anak kita tidak bisa bertahan dan kau harus dioperasi untuk pengangkatan rahimmu. Aku tidak pernah bosan menunggumu, Irene. Tak henti aku pergi ke gereja, duduk dan berdoa sepanjang hari untukmu" jelas Zean.


Air mata tak henti-hentinya mengalir, Irene sangat rapuh dengan kisah pilu ini.


"Kumohon tetaplah bersamaku. Hidup dan temani aku. Aku sudah tidak peduli dengan apapun lagi di dunia ini, aku hanya menginginkanmu, Irene. Bagaimana pun dirimu saat ini, kau masih tetap wanita yang aku cintai, kau masih sama sempurnanya seperti pertama kali aku melihatmu" Zean kembali membuka suara, membuat perasaan Irene semakin tercabik.


Irene tidak tahu, perasaanya sangat rumit. Irene mencintai Zean dan tentu dia sangat ingin bersama Zean, di sisi lain Irene juga harus memikirkan masa depannya bersama Zean. Zean adalah pewaris tunggal, sedangkan Irene sudah tidak mungkin bisa memberinya keturunan. Zean akan menjadi pria bodoh jika tetap menikahi Irene.


"Jangan bodoh, Zean" Irene mencoba menatap mata Zean dengan penuh keberanian.


"Setelah kau menutupi semua ini, apa kau pikir perasaanku masih sama?" Irene memalingkan wajahnya.


"Aku sudah tidak mencintaimu" ucapnya.


Zean bergeming, ia tahu Irene tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Bohong!" Zean menarik Irene lalu menatapnya.


"Tatap mataku dan katakan dengan sungguh-sungguh" tantang Zean.


Irene gugup, ia tahu jika dirinya tidak akan sanggup. Menatap Zean sambil berbohong, ini memang hal bodoh yang harus disesali.


Irene menatap Zean, ia mencoba untuk bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Aku sudah tidak mencintaimu, Arzean Lorwerth" ucap Irene cepat lalu memalingkan wajahnya namun dengan segera Zean menarik dagunya dan mencium wanita itu.


Irene menutup mata, ia sangat payah dalam hal ini. Zean memperdalam ciumannya, Irene bisa merasakan semua terasa masih sama, tidak ada yang berubah. Irene masih berdebar saat Zean menatapnya, Irene masih sangat ingin berada dalam pelukan Zean dan Irene masih sangat menyukai ciuman dari pria ini.


"Kau benar-benar payah soal perasaan, Ms.Banner" bisik Zean.