Stranger's In Love

Stranger's In Love
57|TWO WEEKS LATER



Dua minggu kemudian ....


Sejak Irene bangun dari tidur panjangnya di hari itu, semua orang yang berpaling dan lelah menunggu Irene selama ini pun akhirnya mereka kembali datang mengunjungi Irene untuk mengungkapkan kerinduannya pada wanita itu. Namun mereka semua menutupinya karena Zean tidak mengijinkan semua orang untuk bereaksi lebih terkait Irene yang baru sadar dari koma selama enam bulan ini.


Zean mengarang cerita bahwa Irene hanya menginap selama tiga hari di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang lemah. Irene mengingat jika dirinya sedang hamil, maka alasan inilah yang paling tepat menurut Zean untuk saat ini agar tidak terlalu membebani pikiran Irene. Zean berjanji pada dirinya sendiri suatu hari nanti dengan perlahan ketika Irene sudah mulai pulih benar, Zean akan menceritakan semuanya.


Gerald dan Alice malam itu berkunjung sekaligus berpamitan pada Irene, mereka akan menetap di Paris sesuai dengan rencana mereka sejak awal menikah. Kim dan tunangannya akan segera melangsungkan pernikahan bulan depan. Ainsley dan Daniel masih sibuk memainkan sandiwara di depan Gerald dan Irene, mereka sepakat untuk tidak melukai hati anak-anak mereka lagi. Sedangkan ayah dan ibu Zean mereka selalu memberi restu dan dukungan untuk Zean dan Irene.


Sampai sejauh ini Zean masih tetap mencintai Irene, tidak ada yang berubah. Zean memutuskan untuk segera menikahi wanitanya itu. Hari ini mereka sedang sibuk fitting baju pengantin di salah satu butik designer ternama milik Vera Wang.


Irene sudah berdiri anggun di hadapan Zean dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih susu dengan detail lace serta hiasan tangkai dan bunga kristal yang memberi sentuhan alam di gaun dengan rok organza mewah ini.


Zean tertegun, tak berpaling dan berkedip sedikit pun melihat kecantikan Irene bak seorang dewi dengan balutan gaun pengantin itu. Zean masih diam sambil menatap Irene dan belum bereaksi apapun. Sejujurnya tidak ada yang ingin Zean komentari, gaun indah itu melekat sempurna pada tubuh Irene, sangat cantik.


Irene melambai-lambaikan tangan di hadapan Zean, wanita itu cemberut. Apa Irene nampak aneh dengan gaun ini? Kenapa Zean hanya diam dan tidak bereaksi apapun?


“Apa gaun ini tidak cocok denganku?” tanya Irene.


Zean tersenyum lalu meraih kedua tangan Irene.


“I don't know why, i can't say anything. You look so beautiful, Ms. Banner” Zean mencium punggung tangan Irene.


Blush... Irene tersipu, Zean selalu bisa membuatnya tersenyum malu.


Irene berdiri bak seorang putri dengan balutan gaun pengantin putih yang menyapu lantai ditemani heels senada dan seikat bunga yang digenggamnya gemetar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, begitu sempurna dengan polesan make up pengantin yang menambah kecantikannya hari ini.


"Lihat putri kita, dia sangat cantik kan, Daniel" ucap Ainsley pada Daniel. Mereka berdiri di belakang Irene.


Irene tersenyum melihat pantulan diri Ainsley dan Daniel dari cermin itu.


“Irene” Zean khawatir menatap Irene yang tiba-tiba menyentuh kepalanya yang seolah-olah pusing.


Irene tersadar dari lamunannya, kepalanya terasa sangat pusing. Irene tidak begitu yakin dengan apa yang ia lihat tadi tapi ia sangat yakin itu berasal dari ingatannya. Apa sebelumnya Irene pernah hampir menikah? Atau apakah Irene sudah pernah menikah? Entah kenapa Irene tiba-tiba merasa asing dengan dirinya sendiri.


“Apa kau baik-baik saja?” Zean semakin khawatir karena Irene belum juga merespons apapun.


Irene meluruh namun dengan segera Zean menopang tubuhnya. Irene merasa sesak di dadanya saat ia berusaha mengingat apa yang ia lihat tadi dalam ingatannya.


“Zean” Irene menatap Zean dengan penuh harap. Zean menatapnya sebagai tanggapan.


“Apa kau percaya padaku?” tanya Irene ragu, Zean hanya mengangguk.


“Sepertinya aku pernah menggunakan gaun pengantin, dan di hari itu ada mom dan daddy di sana” Irene nampak ragu mengatakan itu.


Zean nampak berpikir, detik kemudian ia tertawa.


“Jangan bergurau di siang bolong, Irene” ucap Zean.


Irene cemberut, Zean yang peka dengan perubahan raut wajah Irene pun langsung menangkup kedua pipi wanita itu.


“Kau memang pernah menggunakan gaun pengantin, Irene” Zean mengelus pipi Irene.


“Benarkah?” Irene tidak begitu yakin.


Irene mendengus kesal. “Maksudku selain hari ini, Zean. Sebelumnya, apa aku pernah menggunakan gaun pengantin?”


Irene menatap Zean mencoba mencari jawaban dari sorot mata Zean, namun pria itu malah menghindari tatapan Irene.


Zean menatap arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Aku harus pergi, Irene. Satu jam lagi rapatku akan di mulai”


Irene bergelayut manja di lengan Zean. Rasanya baru satu jam mereka bersama kini Zean harus kembali mengurus setumpuk pekerjaan kantornya. Zean sempat mengatakan bahwa dirinya akan sangat sibuk sebelum menjelang hari pernikahan karena ia harus mengurus beberapa pekerjaan agar mereka bisa memiliki waktu luang untuk berbulan madu nanti.


“Baiklah kekasihku yang super sibuk” Irene sedikit membungkuk seolah memberi hormat pada Zean.


Zean tersenyum geli melihat tingkah Irene itu.


“Tapi maukah kau meluangkan waktu untuk mengantarku periksa kandungan besok? Atau bolehkah aku memanggil dokter pribadi jika kau tidak mau mengantarku” Irene menatap Zean dengan tatapan memohon.


Zean menghela napas lalu mengelus pucuk kepala Irene. “Jangan pergi periksa kandungan sendiri dan jangan diperiksa dokter pribadi tanpa diriku”


Irene menunduk, ini sudah kesekian kalinya Zean menolak. Irene tidak mengerti walau Zean berulang-ulang kali mengatakan hal yang sama, ini hanya masalah pekerjaan, ini karena Zean yang masih sibuk. Tapi entah kenapa, Irene merasa ada yang salah dengan kandungannya.


“Irene” panggil Zean lembut.


Irene tak merespons, ia masih menunduk memikirkan Zean yang sepertinya lebih mementingkan pekerjaan ketimbang dirinya.


“Tolong bersabar dan mengertilah, sayang” Zean menarik dagu Irene agar ia bisa menatapnya.


Mata sudah memerah, sepertinya sebentar lagi siap menumpahkan kesedihannya. Zean merasa bersalah, Zean benci ketika melihat Irene seperti ini.


“Aku hanya ingin tahu, Zean. Apakah bayi ini baik-baik saja dalam kandunganku? Apakah bayi ini tumbuh dengan sehat dalam kandunganku—”


Zean mengecup singkat bibir Irene, ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Sudah cukup bagi Zean, ia tahu jika Irene kecewa.


“Bersabarlah, Irene. Semua ini demi kau dan anak kita, kumohon bersabarlah” ucap Zean lalu memeluk wanita itu.


Irene berusaha menepis pikiran-pikiran negatifnya. Sepertinya Zean benar, Irene harus lebih bersabar. Irene tidak boleh egois, kesibukan Zean dalam mengurus pekerjaan ini adalah untuk dirinya dan anaknya di masa mendatang nanti.